Cinta Kakak Sepupu

Cinta Kakak Sepupu
part 45


__ADS_3

Tia pun naik ke atas motornya Davin, Delia dan juga Julia pun masuk ke dalam mobil di susul oleh Key, Mereka keluar dari sekolah beriringan tidak lupa mereka juga berpamitan pada kang Jodi.


-----


Awalnya Davin membawa motornya dengan kecepatan sedang karna kondisi jalanan yang memang sedang ramainya.


Saat di sebuah perempatan tiba tiba lampunya berwarna merah membuat Davin mengerem mendadak.


"Apaan si lo Dav, ngerem nya pelan pelan dong" ucap Tia kesal dengan memukul bahu Davin.


"Au sakit sapu lidi, lagian ini tuh lampunya tiba tiba merah ya udah gwe ngerem gitu" ucap Davin.


"Apa'an jangan alasan lah lu" Ucap Tia makin kesal.


Karna Tia melihat timer agar para pengendara memperhatikan kecepatan motornya, namun di otak Davin sedang ada ide ide jahil nya untuk menjahili Tia.


"Apaan si gwe gak alesan" bohong Davin.


Namun Tia hanya diam tak memperdulikan Davin Lagi, setelah lampu menjadi hijau Davin pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang, namun saat jalanan mulai sepi Davin meningkatkan kecepatan motornya membuat Tia ketakutan.


"Davin pelanan bawa motornya" teriak Tia sambil memukul bahu Davin berkali kali.


"*Apa? lo bilang apa T*i?" Davin pun berteriak pula pura pura tidak mendengar.


"Otak otak pelanan bawa motornya" teriak Tia namun Davin pun semakin melajukan motornya dengan kecepatan lebih tinggi pula.


Karna merasa takut Tia pun memeluk pinggang Davin dan menyembunyikan wajahnya di punggung Davin, dia tak berani melihat ke jalanan karna Davin yang membawa motornya dengan kecepatan tinggi.


Saat Davin menyadari bahwa Tia yang bergetar karna merasa takut Davin memelankan motornya.


"Tia?" panggil Davin, namun tak ada respon dari Tia membuatnya khawatir.


"Tia hei kamu tidak tidur kan?" tanya Davin.


"Diam lo otak otak" ketus Tia membuat Davin tersenyum.


Tak terasa Davin pun sampai di depan rumah nya Tia, karna Tia masih menyembunyikan wajahnya di punggung Davin hingga dia tidak menyadari bahwa dia sudah ada si depan gerbang rumahnya.


"E sapu lidi? lo masih betah peluk gwe? takut lo kebawa angin?" kata aDavin meledek.

__ADS_1


Tia pun mengangkat wajahnya dan melihat sekelilingnya dan ternyata sudah berada si depan rumahnya, sontak Tia pun melepaskan pelukan nya dari pinggang Davin.


Davin melihat wajah Tia yang terlihat sedikit pucat.


"Wajah lo pucat, lo sakit?" tanya Davin saat Tia sudah berdiri dan hendak masuk.


"Gak" ketus Tia pada Davin dan hendak masuk ke dalam.


"Tia tunggu" Davin menghentikan langkah Tia.


"Iya kenapa?" tanya nya dan membalikkan badannya menghadap Davin.


"Lu pucat" katanya lagi melihat wajah Tia.


"Iya, karna lo bawa motornya ngebut, gwe trauma di bonceng pake motor" ucapnya dengan suara yang sedikit meninggi.


"Kenapa?" tanya Davin menatap wajah Tia lekat.


"Karna dulu gwe pernah kecelakaan pas dibonceng dan membuat saudari kembar gwe meninggal akibat kecelakaan itu" ucap Tia dengan wajah menunduk.


"Sorry gwe gak tau masalah itu" ucap Davin merasa bersalah.


"Emang ceritanya kea gimana kok saudari lo bisa ninggal si" tanya Davin yang penasaran.


"Dulu gwe sama saudari kembar gwe dan uncle gwe lagi jalan jalan pake motor, dan kebetulan uncle gwe juga pembalap, dan gwe sama saudari gwe penasaran gimana rasanya kalau bawa motor itu dengan kecepatan tinggi "


"awalnya uncle gwe nolak buat bawa kami ngebut ngebutan, tapi karna desakan gwe dan Tea ahirnya uncle gwe nyerah, dan uncle gwe pun ngjak gwe ngebut kea dia bawa motor pas balap, tiba tiba ada mobil box di depan dan uncle gwe gak bisa ngelak dan ahirnya kita tabrakan"


"Tea kepental sampe 10 meter dan kepalanya terbentur sampai berdarah, helm yang di pake nya terlepas sedangkan aku berhasil selamat karna luka yang tidak parah"


"Tea meninggal saat dibawa ke rumah sakit karna pendarahan di kepalanya, dan saat itulah gwe takut naik motor lagi dan selalu teringat kejadian di mana gwe kehilangan saudari gwe" Dan tak di sadarinya Tia pun menangis mengingat kejadian itu.


"Sorry ti, gwe gak tau kalau lo pernah mengalami kejadian seperti itu" ucap Davin merasa bersalah pada Tia.


"Gak papa ko Dav" ucap Tia sambil menyeka air matanya.


"trus tadi kenapa lo mau pulang bareng gwe kalau lu trauma" ucap Davin.


"Oh astaga otak otak lo gak pekaan apa **** sih" ucap Tia kesal pada Davin.

__ADS_1


"Kan gwe tanya Ti"


"Ya dari pada gwe nunggu sampe sore, sendirian di sekolah, ya mending nebeng sama lo, walau kepaksa juga" kata Tia.


"Ya udah deh, gwe masuk dulu" ucap Tia dan berbalik badan meninggalkan Davin.


"Lah main masuk aja si sapu lidi" ucap Davin melihat Tia meninggalkannya.


"Tapi gwe merasa bersalah juga si bawa Tia ngebut sampe mukanya pucat gitu, kasian gwe sama lo Ti" lirih Davin, setelah melihat Tia masuk ke dalam rumahnya Davin pun melajukan motornya meninggalkan rumah Tia.


Disisi lain......


Erza serta orang tuanya dan Viona sudah berada di bandara dan menynggu pesawatnya untuk take off.


"Honey, pokoknya selama aku gak disini kamu jangan bermain dengan wanita lain ok" ucap dengan menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya menatap mata Erza.


Erza yang mendengar Viona juga menatap Viona dengan pandangan saling menatap lurus dan tersenyum karna Viona sudah mulai terlihat sedikit posesif padanya dan tentu itu membuatnya merasa senang.


"tentu saja Baby, kamu jangan mengkhawatirkan itu" ucap Erza mengelus kepala Viona dan Viona pun menggandeng tangan Erza.


kedua orang tua mereka hanya melihat tingkah mereka yang merasa berat untuk berpisah terlebih lagi dengan Viona yang sudah lama tinggal si rumah Erza.


Namun bagaimanapun Viona harus tetap kembali pulang dan Erza pun akan sibuk untuk mengurus urusan kantor dan kuliahnya.


.


.


.


Di lain tempat Delia sedang latihan boxing bersama dengan Julia, namun Julia lebih dulu beristirahat karna sudah merasa lelah, namun beda dengan Delia, dia masih terus memukul samsak nya hingga keringat bercucuran membasahi kaos yang iya kenakan.


....Buk...buk.... suara pukulan Delia.


"Lebih baik tangan gwe sakit dari pada hati gwe (Buk..buk)" batin Delia sambil memukul samsak di depannya.


"kenapa? kenapa gwe gak bisa move on dari dia? (Buk...buk). tapi dia cepet banget cari yang lain lagi (buk..buk)"


"Tuhan dada gwe sesek banget (buk..buk)" batinnya dengan melayangkan tinju terakhirnya dan langsung duduk di atas matras samping Julia dengan nafas yang ngos ngossan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2