
...🍁🍁🍁...
... ...
Suasana kantin saat istirahat pertama ini begitu ramai seperti biasanya, ada sebagian murid yang masih memesan makanan serta minuman mereka, atau malah sudah ada yang menyantapnya dengan duduk manis di meja mereka masing-masing. Ada yang sedang memperhatikan dan ada juga berusaha mengabaikan apa yang terjadi di salah satu meja yang ada di sana.
Beda halnya dengan seorang gadis yang sedang duduk di salah satu meja yang ada di kantin tersebut, dengan menghadapi dua buah mangkok mie ayam. Bukan, bukan karena gadis itu rakus, bukan karena dia ingin makan banyak, bahkan bukan pula karena dia ingin menaikkan berat badan, akan tetapi karena firasat buruknya benar-benar terjadi.
“lo punya tangan!” ketus gadis itu yang tak lain dan tak bukan seorang Kanaya Amellia Putri.
“Gue tau” Erlangga menjawabnya dengan enteng tanpa mempedulikan raut wajah Kanaya yang sedang kesal.
“Ya gunain dengan baik,” ujar Kanaya semangkin geram dengan cowok so-cool yang aslinya brengsek, tepat berada di samping nya itu.
“Udah” ucapnya datar sambil menunjukkan tangannya yang sedang memainkan handphone, entah apa yang sedang ia lakukan di handphone pribadinya itu.
“Kalo gitu lo makan sendiri, gak usah minta suapin” kesal Kanaya masih berusaha sabar menghadapi Erlangga yang begitu menyebalkan menurut Kanaya.
“lo gak liat apa mulut gue” ujar Erlangga sambil memajukan wajah ke arah Kanaya dan memperlihatkan luka-luka yang ada di sekitaran sana.
Aksi Erlangga tersebut berhasil membuat Kanaya terdiam sejenak, serta membuat murid-murid yang sedang memperhatikan mereka melotot tak percaya. Bagi kaum perempuan tentu saja histeris melihat hal itu, tapi mereka tidak berani mengeluarkan suara yang nyaring.
Hal itu malah membuat Kanaya semakin kesal, karena dilihat oleh murid-murid yang lain. Seketika Kanaya mendorong Erlangga untuk sedikit menjauh, dan berusaha terlihat biasa saja walaupun sebenarnya dia salting.
“itu kan mulut lo yang luka, gak dengan tangan lo!”
“Tangan gue sakit,”
“Tapi masih bisa di gunain gak perlu harus di suapin segala!”
“lo gak liat gue lagi apa?”
“Gak usah makan kalo gitu,”
“Suapin aja kenapa sih!” suara yang keluar dari mulut Erlangga naik satu oktaf, itu tandanya ia sudah mulai kesal.
“lo kok nyebelin banget sih,” sungut Kanaya semakin kesal, ingin rasanya saat ini ia menendang meja yang ada di hadapannya ini. Tapi sayang ada ke empat sahabat Erlangga dan seorang sahabat Kanaya yang sedang makan di sana, walaupun mereka tidak bisa menyantap makanan mereka dengan hikmat, di karena kan fokus mereka selalu teralih kan oleh perkelahian dua orang keras kepala itu.
__ADS_1
“Suapin aja kenapa sih,” titah Erlangga dengan wajah nya yang kembali enteng dan songong itu.
“Gak punya otak ya lo, ini di kantin, malu bego!”
“Berarti kalo gak di kantin gak malu?”
“Gila lo ya!”
“Kenapa?” Kini Erlangga pun beralih menatap Kanaya dengan intens sambil menaruh handphone ke dalam saku bajunya yang sedari tadi di otak-atik, “atau ....”
“Oke, gue ngalah,” setelah perdebatan panjang itu akhirnya Kanaya pun ngalah, itu di sebabkan oleh tatapan dan perkataan Erlangga yang sangat Kanaya pahami. Dengan geramnya Kanaya pun berkata “puas lo!”
“lo cantik kalo lagi marah, tapi lebih cantik kalo lo nurut sama gue,” ucap Erlangga entah itu kalimat pujian atau mungkin kalimat penekanan kalau seorang Erlangga tidak menyukai orang yang tidak penurut. Akan tetapi kalimat itu berhasil membuat Kanaya bullshing walau tak terlalu nampak, tapi jelas untuk di lihat oleh Erlangga dan ia pun tersenyum tipis, walaupun senyuman itu hampir tak terlihat saat menyaksikan wajah dari seorang Kanaya yang keras kepala.
“Eekkhhmm” Kanaya berdehem singkat untuk menetralkan detak jantung yang berpacu cepat serta deru nafas yang tidak stabil.
“Uuhuk, uhuk, uhuk”
“byuurr, uhuk, ukuh”
Suara itu berasal dari dua orang absurd yang harusnya tiga orang, tapi karena satunya sakit sehingga menjadi dua orang saja.
Tidak di sangka, sahabat mereka yang begitu dingin, kaku, dan tidak pernah terlihat dengan seorang wanita selain Maminya dan kakaknya, punya cara tersendiri dalam merayu wanita.
“iiisss Refdy kamu jorok,” dumel Afnan yang makanan nya habis terciprat semburan air dari mulut Refdy. Dengan rajuknya Afnan pun berkata “Afnan gak mau makan lagi, kecuali di pesanin ulang,”
“tau lo Ref, jorok banget,” dengus Anaira yang makanannya juga bernasib sama seperti makanan milik Afnan. “gue juga samaan kaya Afnan, pesanin ulang!” lanjut Anaira kesal.
“Gue juga!” Suara itu berasal dari Aksa, yang juga makanan mengalami nasib sama.
“lo juga Aksa?” tanya Refdy yang di balas anggukan oleh Aksa
“Sial banget gue,” gerutu Refdy pelan, lalu bertanya kepada mereka dengan mimik wajah yang menyedihkan “yang bayar bukan gue kan?”
“Gue” sahut Erlangga membuat Refdy bernafas lega.
Dengan ogah-ogahan dan malu yang sudah berada di ubun-ubun, Kanaya pun mulai menyuapi Erlangga sampai mie ayam di mangkok itu habis tak tersisa. Itu pun setelah Kanaya memesan ulang mie ayamnya, kerena pada dasarnya makanan yang ada di atas meja tersebut semua terkena semburan dari mulut Refdy.
__ADS_1
Untung suasana hati Erlangga lagi senang, sehingga Refdy aman kali ini. Kalo tidak mungkin sudah babak belur si Refdy karena semburan itu sedikit mengenai wajah Erlangga.
Saat Kanaya memakan mie ayam yang tinggal separo bell masuk pun berbunyi, seketika itupun ia berhenti dari kegiatan makanya. Ketika Kanaya hendak berdiri Erlangga pun melarangnya dan menyuruh Kanaya untuk menghabiskan mie ayam tersebut.
“Tapi bell masuk ....”
“Tenang ada gue” ucap Erlangga memotong ucapan Kanaya ketika ingin membantah.
Dengan terpaksa Kanaya pun kembali melahap mie ayamnya, walaupun dengan perasaan yang sedikit tidak tenang. Sedangkan untuk yang lain berjalan menuju ke kelas menyisakan mereka berdua, dan beberapa murid yang belum menyelesaikan makanan mereka.
“Ooo iya entar malam gue jemput” lontar Erlangga dengan santai, setelah di kantin tinggal mereka berdua dan beberapa pengurus kantin.
“Kemana?”
“basecamp!”
“Ngapain?” tanya Kanaya sambil memicingkan matanya
“lo tenang aja, gak bakal gue apa-apain kok,”
“Gue gak di izinin keluar malam,” tolak Kanaya sekenanya.
“Gue yang izinin nanti ke orang tua lo,”
“gila lo, gak mau gue!” sentak Kanaya tak terima.
“Mau, gak mau ya lo harus mau, lagian keputusan ada di tangan gue, lo gak berhak untuk berpendapat,” ucap Erlangga dengan nada dingin yang menusuk.
“Dasar cowok brengsek!” pekik Kanaya dengan kesalnya.
“Terserah lo mau manggil gue apaan!” ucap Erlangga di iringi seringai penuh kepuasan.
... ...
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏