
...🍁🍁🍁...
... ...
Setelah perjalanan yang cukup lama dengan diiringi ocehan-ocehan yang keluar dari bibir tipis bervolume milik Kanaya, akhirnya motor sport itu berhenti di parkiran basecamp dari NightWolf.
“Udah sampai, jangan ngomel mulu!” ujar Erlangga pada Kanaya yang sepanjang jalanan selalu mengomel.
“Ngapain sih ke basecamp malam-malam gini?” tanya Kanaya dengan nada kesal.
“Kan udah gue bilang lo tenang aja, gak bakal gue apa-apain.”
“Apa-apain pala lo! Jangan-jangan lo nyuruh gue bersihin basecamp lagi?”
“Terserah gua.”
“Gila lo ya malam-malam gini, nyuruh gue bersihin ini gedung seenak jidat!” kesal Kanaya apalagi Saat memikirkan seberapa luas rumah yang di sebut basecamp itu, dan harus membersihkan nya malam-malam hari, tentu kekesalan kanaya semakin bertambah.
“Ck, gak usah protes, lo ikut aja gak setega itu gue nyuruh pacar gue bersihin ni basecamp,” seloroh Erlangga dengan tampang santainya itu.
“nyenyenye ... Pacaran sana ama monyet, gue mah ogah sama lo,” cibir Kanaya.
Setelah Erlangga membuka pintu basecamp, Kanaya sedikit terkejut dengan keadaan yang ada di dalam, pasalnya di sana sedeng ramai sekali. Musik yang lumayan nyaring mengisi seluruh ruangan tersebut bahkan lampu disko juga tak ketinggalan, kini tempat itu di isi oleh anggota dari NightWolf. Sebagian mereka ada yang main kartu, ada yang main billiard, ada yang hanya sekedar minum sambil bercanda, dan ada juga yang sedang berjoget ria.
Kanaya yang kini masih mematung di ambang pintu akhirnya diseret oleh Erlangga untuk masuk ke dalam, Kanaya pun terkejut dan berusaha mengikuti langkah leber dari cowok yang menyeretnya tanpa aba-aba.
“Itu Angga.” Tunjuk Aldi pada lelaki yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Widih ... Bawa cewek si bos! Pantas lama,” lontar Refdy sambil mengejek.
“Nenek lampir!” pekik Jingga “ngapain di sini?” lanjutnya lagi sambil bertanya. Dan pertanyaan tersebut tak diindahkan oleh Kanaya.
“Hai, Kanaya!” sapa Afnan yang duduk enteng di dekat Aksa, sedang Aksa masih fokus dengan bukunya. Ke mana-mana dan dimana pun bahkan di tempat ramai pun, Aksa masih betah dengan bukunya.
“Hai!” sapa Kanaya balik
“Sini!” titah Erlangga sambil menepuk-nepuk kursi yang kosong tepat di sampingnya.
“Gue ....” ucapan Kanaya tersebut terpotong kala ingin menolak untuk duduk di samping Erlangga, tapi urung saat melihat tatapan Erlangga yang sangat mudah dimengerti oleh Kanaya.
Setelah Kanaya duduk di samping Erlangga, ia pun menyuruh salah satu anggotanya untuk mengambil minuman bersoda, karena semua minuman yang ada di atas meja di depannya itu adalah minuman beralkohol.
“Pengertian banget si Angga, sampai meminta di sediain minuman bersoda untuk Kanaya,” ejek Refdy pada sahabatnya itu.
__ADS_1
“Roman-romanya gak lama lagi kita bakal punya bu bos,” sambung Aldi.
“Yoi, kita tunggu aja hari jadi nya,” ujar Refdy dengan tampang tengil nya.
“Ada apa sih? Gue gak paham apa yang kalian maksud.” Jingga bertanya dengan mimik wajah kebingungan.
“yaahhh, Ketinggalan berita lo,” tawa Refdy mengejek Jingga yang selalu terupdate itu ketinggalan berita.
“Siapa suruh gak masuk.” Sama dengan Refdy, Aldi pun juga mentertawakan Jingga.
“Gue nanya baik-baik, malah diketawain.” Jingga pun mencabikan bibirnya yang sedikit Kesal dengan sahabat sengkleknya itu.
“Nanti lo tau sendiri ya gak, Al?” ujar Refdy dibales anggukan santai dari nya.
Kanaya yang dari tadi sudah dibuat kesal oleh Erlangga, kini semakin dibuat kesal olehnya setelah sampai di basecamp. Itu dikarenakan sifat sewenang-wenang dari Erlangga, dari tadi Kanaya tak di biarkan duduk tenang di tempatnya, memantikan korek apa lah untuk Erlangga menyalakan rokoknya, bahkan disuruh mijetin. Kurang ajar Banget cowok brengsek itu pikir Kanaya, ingin rasanya Kanaya jauh dari Erlangga cabul itu tapi gak bisa.
Dengan ke kesalahan yang sudah di ubun-ubun Kanaya pun berdiri, dan hal itu mengandung perhatian tim inti.
“Mau kemana?” tanya Erlangga
“Toilet.”
“Ngapain?”
“Emang kenapa dengan otak kamu nay?” itu adalah ucapan polos yang keluar dari mulut Afnan.
“Otaknya kepanasan sampai mendidih,” ketus Kanaya lalu melenggang pergi menuju toilet, jelas Kanaya tau seluk beluk basecamp itu walaupun baru sekali pernah ke sana, kan Kanaya ke sana karena di suruh bersih-bersih. Dan Kanaya yakin setelah party ini pasti yang di suruh dia.
“Kanaya marah ya sama Afnan?” tanya pada sahabatnya dengan nata yang berkaca-kaca.
“Enggak kok, cuman Afnan salah situasi aja nanya nya,” jelas Aldi pada Afnan berharap cowok itu mengerti.
“Gitu ya Aksa?” tanyanya pada Aksa, yang dibalas dehaman singkat dari atas. “baik lah,” gumamnya yang masih bisa di dengar oleh orang yang berada di samping nya.
Dilain sisi tepatnya di toilet, Kanaya yang baru saja membasuh muka nya di wastafel, mengerang lumyan keras syukur gak sampai kedengaran keluar. Seandainya lebih nyaring daru itu juga gak akan di dengar oleh penghuni yang ada diluar, soal suara musik DJ yang lumayan nyarin.
“Aarrgghhh ... Angga brengsek,” umpatnya, lalu setelahnya ia terdiam. Saat ia sedang asyik berada dalam lamunannya, entah kenapa dengan lancangnya memori tentang bagaimana Erlangga mengakui dirinya sebagai pacar di hadapan bunda nya. Terlintas di otak kecil itu dan Kanaya pun di buat misuh-misuh oleh nya, setelah sadar Kanaya pun memukul-mukul kecil kepalanya.
“Iiihh, mikirin apa sih gue.” Setelah berucap untuk menyadarkan dirinya, Kanaya pun keluar dari toilet dengan menarik nafas pelan lalu menghembuskannya karena harus bergabung dengan Erlangga, yang selalu membuat mood nya hancur.
“Kenapa lama?” tanya Erlangga setelah Kanaya duduk di sampingnya.
“Terserah gue mau lama atau enggak, bukan urusan lo!” ketus Kanaya.
__ADS_1
“Padahal gue nanya baik-baik.”
“Gak ada baiknya yang keluar dari mulut lo.”
“Salah gue nanya?”
“Iya salah.”
“Atau mau gue, publis hubungan baru kita?” ancam Erlangga yang menbisikan tepat di samping telinganya, seketika Kanaya meremang oleh hembusan nafas Erlangga yang mengenai telinga.
Sudah di pastikan wajah Kanaya memerah oleh kelakuan cabuk Erlangga, Erlangga senyum menyeringai melihat reaksi yang di tunjuk oleh Kanaya. Baru saja Erlangga ingin membuka suara, mulutnya nya langsung di dekap oleh Kanaya dengan sigap.
“Jangan ngade-ngade lo?” ucap Kanaya yang tak ketinggalan polototan khas dari matanya.
“Erlangga sedikit berubah setelah kenal Kanaya, sedikit mencair sikapnya tak sedingin dulu, walaupun itu hanya di tunjukkan untuk Kanaya” ujar Refdy yang betah melihat intraksi Erlangga dan Kanaya.
“Bagus berarti, ada pengaruh positif yang di berikan oleh Kanaya,” sahut Aldi.
“Gue harap Angga bisa move on dari cinta masa kecilnya yang sampai sekarang belum dia temukan” ujar Refdy. Aksa yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum kecil dibuatnya.
“Gue sih setuju aja kalau bos sama Kanaya, walaupun Kanaya kaya nenek lampir,” seloroh Jingga dengan santainya sambil memakan cemilannya.
“Yee, gak ada yang minta pendapat lo,” ucap Refdy dan Aldi berbarengan sambil melimpari Jingga dengan cemilan di atas meja.
“Salah mulu gua,” keluh Jingga.
“Ikut gue,” ujar Erlangga pada Kanaya yang sudah berdiri di tempat duduknya.
“Kemana?”
“Udah ikut aja.”
“Tapi ....”
Dengan tanpa aba-aba Erlangga langsung menyeret Kanaya untuk mengikutinya, hobi banget kayanya main serat-serat orang.
Sedangkan sahabat Erlangga dibuat menganga oleh kepergian mereka yang tiba-tiba, Mau ke mana? pikir mereka.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏