Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Bab 45 Pengakuan


__ADS_3

Pagi itu, Keluarga besar Rama Wijaya kedatangan tamu mengejutkan. Libano wijaya kakek dari Denan Al Fatan telah pulang dari luar negeri setelah sekian lama betah di sana. Ia sudah sangat merindukan anak dan cucunya itu sehingga memutuskan mengalah.


Tentu saja kedatangan beliau yang sangat mendarat mengejutkan seisi rumah langsung membungkuk memberikan hormat pada Sang Kakek. Termasuk Rama dan Yuni tidak tertinggal Denan dan Akia.


"Den, siapa dia. Kenapa aku baru melihatnya?" Lirih Akia yang menyenggol lengan Denan.


"Itu Kakek ku, Kakek Libano Ki," Desis Denan yang balas sangat pelan. Takut Kakak melihat dan memprotes karena dianggap kurang ajar.


Benar saja, Sang Kakek menatap lekat kearah Akia, saat melintasi keduanya dengan tatapan mengerikan.


"Selamat datang Papa!" Sapa Rama yang langsung menyambut tangan sang Ayah diikuti oleh Yuni.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Sang Kakek membuka suara.


"Alhamdulilah baik Pa," timpal Rama.


"Apa dia menantu mu?" Tanya Kakek yang melihat kembali kearah Akia. Gadis polos dan lugu yang berpenampilan apa adanya. Tidak ada basic modis sama sekali. Apa lagi wajah Akia hanya di lapisi bedak tipis dan lipstik yang sama sekali tidak kentara.


"Benar Pa, Denan telah memilihnya sendiri," jawab Rama tersenyum kecil. Khawatir tidak membuat Kakek Libano puas.


"Kenapa tidak mengundang ku, Bodoh!" Amuk Kakek memukul Pantat Rama dengan tongkatnya.


Semua orang membulatkan matanya terkejut akan perbuatan Sang Kakek yang langsung memukul pria berkedudukan tinggi baik di rumah maupun di kantor itu.


"Mengapa pernikahan ini terkesan buru-buru, apa tidak ada pesta?" Sanggah Kakek lagi melotot marah. Bagaimana mungkin cucu kesayangan nya anak konglomerat itu menikah sekali seumur hidup tidak di buatkan Pesta yang paling mewah. Agar seluruh dunia menyaksikannya sendiri dengan mata terbuka.


"Maaf Pa, Rencana nya kami akan membuat pesta setelah Papa datang," timpal Yuni kemudian membela diri atas kekeliruan mereka.


"Bagus, aku mau lihat, seberapa mewah pesta Cucu ku ini di selenggarakan. Atau aku akan menghukum kalian," ancam Kakek pada Rama dan Yuni. Pria tua itu kemudian beralih menatap Akia dengan lekat.


"Ndok sini!' Kakek melambaikan tangan kearah Akia.


"A- aku_?" Akia nampak gugup dibuatnya. Ia menoleh kesana kesini dengan perasaan bingung.


"Iya, Kamu sini!" Ulang Kakek Libano lagi.

__ADS_1


Akia pun mendekat perlahan, tubuhnya terasa gemeteran. Bahkan kakinya hampir tak kuat melangkah " Kenapa Kek?" tanya Akia sambil menunduk.


Kakek Libano mengangkat dagu Akia agar menatapnya. "OKE, GADIS YANG Cantik alami," tutur Kakek seraya tersenyum mengamati seluruh tubuh Akia.


"Apa yang membuat mu suka dengan Denan, cantik?" Tanya Kakek Libano dengan nada selembut sutra. Siapa sangka pria bangkotan itu pandai manis juga apa lagi itu pada seorang wanita yang biasa saja.


"E... Ka- Karena baik Kek," timpal Akia pelan. Gugup dan ragu itu yang di tangkap Kakek Libano.


Bukannya marah yang Ada pria tuan itu terbahak-bahak


"Hahaha... baik dari mana kamu melihatnya, dia itu keras kepala seperti Ayahnya," jengah Kakek terkekeh menunjukkan jejeran gigi palsunya.


"I- iya Kakek benar dia itu galak dan suka menghukum kayak Kakek tapi pada dasarnya baik kok." Akia tiba-tiba berucap polos tanpa takut.l menyadari ucapannya.


"Hahaha... aku suka cucu seperti mu, berarti kau bisa membela suami mu meski banyak kekurangan ya. Dan berani lagi kau menyamakan dia denganku. Bagus, itu adalah sebuah kejujuran yang luar biasa!" Kakek Libano kembali tertawa membuat semua yang ada diruangan itu saling melempar pandang termasuk Am dan Revan.


"Hehe... Itu karena Kakek mengancam Papa dan Mama tadi. Sedang kebiasaan itu sering di perlakukan Denan padaku. Sedikit, sedikit, mengancam sesuka hati. Dia pikir siapa dia suka mengatur hidup orang lain," sambung Akia lagi sedikit mencebik kan bibir ke arah Denan.


Pernyataan itu membuat Kakek terdiam, lalu tersenyum pada cucu kesayangannya yang hanya mematung. Ia tak berani membela dirinya sendiri.


"Iya dong Kek, tapi Kakek harus kasih penjelasan dulu ke aku soal kebenaran yang di ucapkan Mama dan Papa," tukas Denan yang akhirnya melangkah mendekat.


"Mereka mengatakan apa?" Tanya Kakek Libano.


Denan memijat tengkuknya sejenak untuk mengingat kembali ucapan Papa Rama tempo hari. ".. itu apa benar Kakek mau istri ku melahirkan anak laki-laki?"


Kakek Libano sedikit tercengang dan mengerutkan dahi yang sudah tampak banyak keriputnya.


"Siapa yang bilang?" Delik Kakek Libano. Ia kembali menodong bola mata sipitnya itu pada Rama dan Yuni. Seolah tahu tujuan keduanya.


"Siapa lagi kalau bukan Papa, anak kesayangan Kakek yang selalu suka mengatur. Benar kata Akia, Papa cerminan dari Kakak dan aku cerminan dari Papa. Tapi sebisa mungkin aku ingin yang terbaik untuk anak-anakku kelak.


"Dasar Bocah, turuti saja," ulas Kakek kemudian memukul betis Denan.


"Aw, sakit Kek. Kalian sama saja sangat suka menyiksa ku?" Sungut Denan sembari mengusap-usap kakinya.

__ADS_1


"Maksud mu menyiksa bagaimana?" Tanya Kakek heran.


"Sudah Pa, jangan dengar kata Denan. Bukan begitu maksudku," sela Rama mencoba menerangkan.


"Diam, jelaskan Denan!" Titah Kakek tak habis pikir.


"Kata Papa, aku harus menceraikan istri ku kalau istriku tidak bisa melahirkan anak laki-laki, apa itu benar Kek?" Kali ini Denan nekat bertanya sendiri.


Bug!


Kini Tongkat Kakek kembali mendarat di pantat Denan.


"Kakek sakit," kelu Denan memegang pantatnya lagi.


"Emangnya Kakek mu ini gila, anak itu rahasia Tuhan, mana boleh kita memilih laki-laki atau perempuan," Sentak Kakek dengan mata mendelik.


"Apa?" Denan melebarkan bola matanya. "Jadi Kakek gak meminta itu?" wajah Denan langsung membias seketika.


"Tanya aja pada Papamu, apa maksudnya bilang begitu?" Titah Kakek yang menumpukan kedua tangannya ke tongkat.


"Jadi Papa bohong sama Denan?" Tanya Denan yang beralih menatap Rama meminta kejujuran pria paruh baya itu.


"Iya itu supaya kamu bisa move- on Denan," timpal Rama yang akhirnya mengaku.


"Papa, apa maksudnya?" Dengkus Denan lagi tak percaya. "Aku hampir mati memikirkan ini, bisa-bisa Papa begitu?" Imbuh Denan lagi cukup kesal.


"Ya biarin, Agar kamu cepat menikah kan?" Timpal Rama lagi.


"Tapi Papa membuat aku dan Akia tertekan Pa. Kami sampai berpikir pernikahan ini akan segera berakhir."


"Itu cuma gertakan untuk Akia kok Den, supaya cepat ngasih momongan," sambung Rama lagi menjelaskan.


"Maksudnya Pa?" Timpal Yuni bingung yang juga turut tertipu akan drama Rama suaminya.


"Itu akal-akakan Papa, untuk membuktikan ketulusan Cinta Akia pada Denan saja Ma," jelas Rama.

__ADS_1


"Astaga Papa," Jengah Denan tak percaya.


__ADS_2