
... 🍁🍁🍁...
... ...
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam akhirnya Erlangga dan Kanaya sampai di kediaman keluarga Adiwijaya, ketika Kanaya ingin memasuki rumah tanpa memperdulikan Erlangga yang masih di atas motor. Seorang satpam yang melakukan shift malam pun memanggil Kanaya, karena merasa namanya dipanggil tentu saja langkah Kanaya terhenti dan menoleh ke arah satpam itu.
“Non Kanaya!” Satpam itu memanggil nama Kanaya sambil berlari kecil ke arahnya, karena jarak pagar atau pos satpam sedikit jauh dari teras rumah tersebut.
“Ada apa mang Ucup?” tanya Kanaya
“Bunda non titip pesan, katanya kalo non pulang sama teman laki-laki nya, suruh temannya itu ikut non masuk juga,” terang mang Ucup panjang lebar
“Ngapain mama nyuruh Erlangga mampir sih,” gerutu Kanaya kesal. “biar dia pulang aja lah mang, gak usah peduliin pesan mama.” Lanjut Kanaya memberi tahu mang Ucup.
“Ya udah kalau gitu non, saya balik ke pos dulu,” pamit mang Ucup yang di balas anggukan oleh Kanaya.
“Ngapain lo masih di sini? Pulang sana.” Kanaya mengusir Erlangga pergi, karena melihat cowok itu melepas helm dan turun dari motor.
“Gue disuruh mampir,” sahut Erlangga enteng.
“Gak ada lo pulang aja.”
“Gue denger yang lo omongin sama satpam lo, jadi gak usah bohong.”
“Gue gak bohong, tapi gue yang gak mau lo mampir.”
“Itu kan lo, bukan nyokap lo.”
“Lo nyebelin banget sih, pulang sana.”
“Gue gak mau.”
“Astaga Erlangga mau gue tonjok lo.”
“Tonjok kalo berani, bibir gue kering sih sekarang.”
“anj***”
“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya bunda Kanaya yang baru membuka pintu rumah di susul papahnya, tentu saja mereka terusik oleh suara ribut-ribut dari luar belum lagi hafal dengan suara orang yang sedang ribut adalah putrinya. Akhirnya mereka memutuskan keluar untuk menjenguk apa yang sedang terjadi.
“eehhh ... Mantu bunda, sini Angga masuk,” ujar bunda Kanaya mempersilahkan Erlangga masuk.
What menantu? beo Kanaya dalam hati.
“Ada apa ma?” tanya Adiwijaya.
“Anak kamu tuh, sukanya ngajak ribut orang mulu,” omel bunda, lagi-lagi dirinya yang disalahin.
Sesampainya di ruang tamu, Erlangga duduk di salah satu sofa yang ada di sana, lalu di susul oleh Papahnya Kanaya. Sedangkan Kanaya berlalu ke lantai atas untuk ganti baju tentunya, sedangkan Alana membuat kan teh untuk mereka, karena para asisten di rumah tersebut tidak menginap jadi Alana sendiri yang membuat kan minuman tersebut.
__ADS_1
“Naya, kalau sudah ganti baju turun yah sayang,” titah Alana yang melihat Kanaya sedang menaiki anak tangga dengan menghantak-hentak kan kaki seperti anak kecil yang sedang Kesal, hal itu di saksikan oleh Erlangga.
Di ruang tamu setelah Alana selesai membuat teh dan menaruhnya di atas meja, ia pun ikut bergabung dengan suami dan juga pacar dari putrinya itu, sepertinya belum ada pembicaraan di antara keduanya.
“Jadi, kamu pacar dari putri saya?” tanya Adiwijaya dengan nada dingin.
“Betul, saya pacar dari putri anda,” jawab Erlangga dengan tegas, tanpa ada kegugupan dalam diri Erlangga, sehingga mampu membuat Adiwijaya tertarik.
“Kamu serius atau hanya sekedar main-main dengan putri saya?”
“Tentu saya serius! jika tidak, mana mungkin sekarang saya berada di hadapan anda.”
“Sepertinya kamu cukup percaya diri dengan ucapan mu.”
“Saya sangat menyayangi putri anda.”
“Saya tidak ingin melihat anak saya terluka dan sampai menitikkan air mata, jika saya lihat kamu menyakiti putri saya, maka kau tanggung akibatnya.”
“Saya tidak akan pernah menyakiti Kanaya, karena dirinya sangat berharga dibanding nyawa saya sendiri.”
“Baiklah, kamu datang lah Minggu depan, untuk memberi tahu jawaban apakah saya setuju kamu berpacaran dengan putri saya atau tidak,” finis Adiwijaya setelah percakapan yang cukup serius itu.
Sudah anaknya tidak setuju dan keras kepala, masa bokapnya juga tidak setuju, apes banget kan Erlangga. Emang tak mudah menaklukkan hati bakop sama anaknya, yang gampang cuman bundanya.
“Belum pulang juga lo,” cetus Kanaya yang baru saja menuruni anak tangga.
“Kamu esok jadi jalan sama Anaira?” tanya Adiwijaya pada putri semata wayangnya itu
Kanaya mengangguk. “Jadi pah.”
Pantes bokapnya Kanaya nyuruh gue datang minggu depan bukan besok, ternyata Kanaya mau pergi batin Erlangga.
Walaupun ia tak suka melarang Kanaya, malah ia sedikit membebaskan putrinya itu. Dan ia percaya dengan putrinya, gak bakal aneh-aneh dan macam-macam, tapi keselamatan harus diutamakan maka dari itu Adiwijaya harus tau jadwal-jadwal putrinya.
“Om, Tante, saya pamit dulu, dan sudah larut juga sepertinya Om dan Tante juga mau istirahat,” pamit Erlangga kepada kedua orang tua Kanaya.
“Ya iyalah orang mau istirahat, lo aja yang gak tau malu bertamu hampir tengah malam.”
“Kanaya, kan mama yang nyuruh mampir tadi,” tegur Alana memberi pengertian kepada putrinya yang selalu bikin kesal itu.
“Ya udah Erlangga pamit, om, Tante.” Erlangga pun berjalan ke arah pintu untuk pulang lebih tepatnya ke basecamp.
“Antarin sana gih,” suruh Bunda kepada Kanaya.
“Ogah.”
“Kanaya ....”
“iya ... Iya ....”
__ADS_1
“Sekalian kunci pintunya ya sayang.”
Kanaya pun berjalan mengiringi langkah Erlangga yang sedang menuju pintu, sesampainya di teras dengan sabar Kanaya menunggu si brengsek itu pergi dari rumahnya.
“Btw, ngomongin apa lo sama orang tua gue?” tanya Kanaya yang di balas seringaian oleh Erlangga.
“Lo mau tau? Nih.” Dengan santainya Erlangga menunjuk pipi kanannya.
“Idih gak mau gue.”
“Terserah.”
“Ya udah sana pergi.”
“Gue pamit, sampai jumpa besok pacar,” ujar Erlangga sambil melajukan motornya sebelum ia mendengar pekikan nyaring dari bibir Kanaya.
“Gue bukan pacar lo,” pekik Kanaya nyaring yang masih bisa di dengar oleh Erlangga, padahal deru mesin motor Erlangga cukup nyaring tapi masih bisa mendengar suara Kanaya bayangin aja seberapa nyaring suara Kanaya.
“Kok lama Ngga?” tanya Aldi setelah Erlangga sampai di basecamp dan bergabung dengan tim inti.
Bukannya menjawab Erlangga malah misuh-misuh seperti seorang yang lagi kasmaran, belum lagi senyum yang ditampilkan itu menyeramkan. Tentu saja itu membuat orang yang melihat bergidik ngeri, habis melenyapkan siapa bos mereka dalam perjalanan pulang pikir mereka.
“Ngga, lo kenapa?” tanya Refdy yang ngeri sendiri melihat komuk Erlangga.
“Gak papa, lo gak perlu tau,” tukas Erlangga datar.
“Ya elah bos, kalo gak mau ngasih tau, ekspresi lo di kondisikan dong,” ujar Refdy kesal dia nanya baik-baik di balas dingin oleh Erlangga.
“Udah ah lupain, mending kita karaoke an,” ujar Jingga menimpali.
“Siapa yang nyanyi?” Tanya Aldi.
“gue.”
“Bisa nyanyi lo emang lo?”
“Bisa lah, apa yang gue gak bisa.”
“Ya elah paling juga lagu dangdut.” ujar Refdy yang ikut menimpali, yang di balas cengiran oleh Jingga.
...🍁🍁🍁...
... ...
Typo Bertebaran 🙏🙏
__ADS_1