
...🍁🍁🍁...
... ...
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi dua orang remaja yang masih berseragam sekolah lengkap sampai di basement rumah sakit. Perjalanan mereka diiringi dengan keheningan oleh keduanya, yang satu dingin dan yang satunya lagi begitu enggan untuk membuka mulut dan memulai percakapan.
Erlangga pun turun dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil lainnya untuk gadis yang berada di sebelahnya tadi. Romantis sekali jika mereka adalah sepasang kekasih, tapi sungguh disayangkan yang menganggap kekasih hanya sebelah pihak saja.
Erlangga pun manautkan tangannya ke jari-jari kecil milik Kanaya untuk membawanya ke lobby rumah sakit. tentu saja tangan mungil itu sekuat tenaga memberontak minta dilepaskan, hanya saja tenaga Erlangga tak sebanding dengan tenaga Kanaya.
Kedatangan mereka disambut senyum ramah dari resepsionis yang bertugas, bahkan resepsionis itu tidak mengedipkan matanya ketika Erlangga bejalan ke arahnya, siapa yang akan memalingkan wajah dan menolak pesona dari blasteran surga itu. Kecuali Kanaya tentu saja.
“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis kepada Erlangga yang memandangnya datar.
“Dokter kulit!” jawab Erlangga dengan suara yang tak kalah datar dari pandangannya.
“Apakah sudah membuat janji?”
Mendapat pertanyaan itu Erlangga langsung menatap tajam kearah resepsionis itu, jelas basa-basi ini akan sangat membuang-buang waktu. Ketika resepsionis lain melihat kejadian itu, bergegas ia mengambil tugas temannya dan berbicara dihadapan Erlangga.
“Maaf pak Erlangga, dia magang 2 minggu yang lalu jadi tidak tahu. Apa bapak ingin bertemu dengan Dr. Julia? Sekarang beliau ada diruangannya, bapak bisa ke sana langsung dan saya akan menghubungi beliau kalo bapak datang.” Akhirnya resepsionis itu pun bernafas lega setelah Erlangga langsung pergi menuju ruangan Dokter kulit itu, walaupun tubuhnya masih bergetar hebat.
“Kenapa mbak? Kelihatannya mbak sangat takut dengan dia,” tanya resepsionis yang mendapat tatapan tajam dari Erlangga tadi, yang tampak bingung dengan situasi sekarang.
Resepsionis itupun memandangnya lekat. “Kamu jangan macam-macam sama dia itu, walaupun kelihatannya masih remaja semua orang tahu bagaimana kekuatannya itu, terutama di rumah sakit ini. Kalau di luar pun kamu harus hati-hati dengan dia, kamu pasti tak asing dengan geng motor bengis NightWolf kan? Dia adalah ketuanya.”
Resepsionis itu pun melototkan matanya, sampai-sampai mata itu hampir keluar dari tempatnya. “Terus maksud mbak terutama rumah sakit ini, apa?”
“Kau tau rumah sakit Mahessa ini adalah bisnis milik keluarga Mahessa dibidang kesahatan, yang berarti nama rumah sakit ini diambil dari nama marga. Nah, sedangkan dia adalah putra tunggal keluarga Mahessa yaitu tuan muda Erlangga Gunawan Mahessa, yang akan menjadi pewaris kekayaan keluarga besar Mahessa. Dia sebulan sekali datang kesini untuk urusan-urusan yang ditanganinya, karena setau aku di usianya yang dibilang cukup muda sudah mengelola rumah sakit ini, dan beberapa rumah sakit lainnya yang menjurus dibidang kesehatan.”
“Pantas kamu begitu formal, sampai harus memanggil cowok semuda dan seganteng itu dengan sebutan Bapak.”
Kedua resepsionis itu pun terdiam memikirkan betapa hebatnya keluarga itu, dan betapa pintarnya Erlangga yang sudah diberi kepercayaan mengelola bisnis keluarga. Dengan mengetahui bagaimana keluarga tersebut, maka akan membuat mereka berhati-hati dalam melakukan tindakan di rumah sakit ini.
Tok, tok, tok
Dr. Julia selaku dokter kulit di rumah sakit Mahessa ini, membuka pintu ruangannya dan menampakkan kedua Remaja yang sangat serasi itu jika disandingkan.
“Hai, Angga! Masuk-masuk,” sapa Dr. Julia ramah. “Ada keperluan apa?”
Tanpa basa-basi Dr. Julia langsung To the point, karena dirinya tau seperti apa karakter seorang Erlangga.
Erlangga pun menarik tangan Kanaya dan membawanya ke hadapannya, Dr. Julia yang tampak mengerutkan keningnya karena bingung. Seakan paham dengan tatapan sang dokter Erlangga pun memberi tahu.
__ADS_1
“Obati, jangan sampai ada bekas.” Erlangga pun keluar meninggalkan dua perempuan beda profesi itu.
Dr. Julia yang paham pun tersenyum ke arah Kanaya yang tampak kikuk di tempatnya. Ia pun membalas senyuman ramah itu dengan senyuman yang ramah juga, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
.... . ....
... ...
Setelah mengantar Kanaya pulang ke rumahnya dengan selamat sehabis dari rumah sakit, tentu saja Erlangga tak langsung pulang. Kini ia pun berada di basecamp bersama dengan anggota NightWolf lengkap yang tengah berkumpul di ruang utama.
“Jadi, minggu depan ini sepakat?” tanya Aldi.
“Ya elah, kita yang sepakat, mereka belum tentu,” ujar Rio menimpali.
“Iya yah, ya udah telpon Aks,” titah Aldi pada Aksa dengan wajah songong.
“Ihh gak sabar ketemu Masya and the Bear.” Jingga terkikik geli kala mengingat sesuatu yang terlintas di otaknya yang minim itu.
Tuut ... Panggilan terhubung ...
“Woi bro!” sapa seseorang diujung telepon sana.
“Apa kabar nih?”
“Baik, lo?
“Gue? Selalu baik lah, kapan gak baiknya. Ada apa nih nelpon?”
“Biasa, bisa gak?”
“Widih, bisa lah gue mah. Anak-anak pasti seneng nih.”
“Oke.”
“Itu aja? Datar banget, pantes gak bisa dapetin gebetan.”
“Gak ada hubungannya, bye!”
“dasar kul ....”
Sambungan telepon pun di mati secara sepihak oleh Aksa, males untuk dengerin bacotan tak bermutu katanya.
__ADS_1
“Gimana?” tanya Refdy kali ini.
“Oke!” Jawabnya singkat.
Seluruh anggota NightWolf pun besorak gembira mendengar kabar yang diberikan oleh Aksa, jarang-jarangkan. Aksa pun menghubungi salah satu nomor lagi, untuk mengabarkan hal yang sama seperti tadi.
“Ngga!” panggil Azka pada sang ketua, merasa namanya dipanggil Erlangga pun mangangkat kepalanya. “perlu iuran gak?”
Erlangga tampak berpikir lalu memandang satu-satu anggotanya, termasuk tim inti. “Yang mau aja.”
Azka pun manganggukkan kepalanya tanda paham, dan bersiap untuk memberi tahu yang lain.
“lah, ini gorengan pada kemana?” tanya Refdy yang baru memakan 2 buah gorengan yang ada di piring yang kini kosong tepat dihadapannya. “Pasti si Jingga jing.”
“Aduh kebelet, ke toilet dulu deh.” Jingga yang merasa akan ada binatang yang akan menerkam dirinya, ia pun bergegas ke toilet untuk menghindari amukan si buaya darat itu.
“Jingga ... Gorengan lo sikat semua, mau lari kemana lo hah!” teriak Refdy yang mengejar Jingga yang sudah berada diambang pintu toilet.
Merasa dirinya aman Jingga pun tertawa sambil meledak Refdy. “Mau boker gue, mau nemenin lo. Atau mau cebokin?”
“Awas lo yah!”
Bamp
Suara pintu toilet terdengar nyaring membentur tiang pintu ketika dibanting kuat oleh Jingga, demi menghindari buaya darat yang suka main kasar itu.
“Wah berani lo yah, gue tunggu lo sampai keluar.”
“Tungguin aja, soalnya toilet ini sudah berbeda.”
Refdy lupa kalau toilet itu telah dibersihkan oleh Kanaya, tentu saja hal itu gak masalah buat Jingga karena sudah tidak berbau yang tidak sedap lagi. Tiba-tiba ide pun muncul di otaknya.
“Jing, sandi handphone lo masih sama kan?” tanya Refdy, Jingga yang peka pun bergegas keluar dari toilet untuk mengamankan handphonenya yang tergeletak diatas meja di ruang utama. Refdy pun segera mengunci pergerakan Jingga “Nah ini dia ....”
...🍁🍁🍁...
... ...
Typo Bertebaran 🙏🙏
__ADS_1