
...🍁🍁🍁...
... ...
“Ughh ... Kenyang gue!” Anaira menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit karena sudah penuh terisi makanan dan minuman.
“Gak heran, kalo gak kenyang malah panik gue.” Anaira mendengus pelan mendengar penuturan Kanaya yang kelewatan santai. “Ya udah gas ketempat selanjutnya,” lanjut Kanaya dengan sumringah dan semangat.
Anaira yang masih duduk terlihat menatap Kanaya sambil nyengir tak jelas, seakan paham dengan maksud tatapan sahabatnya itu. Dirinya menyipitkan mata sebentar lalu menghembuskan nafas jengah.
“Tu muka bisa biasa aja gak.” Anaira masih menatap Kanaya, dengan tatapan yang semakin menjengkelkan menurut Kanaya. “Iya, iya gue yang bayar!” Lalu Kanaya melenggang pergi meninggalkan Anaira yang sedang tersenyum girang.
“Berangkat ke mall, yee ...” girang Anaira setelah mendudukkan pantatnya di kursi penumpang mobil, dengan Kanaya yang sudah duduk enteng di sebelahnya.
Mobil pun kini pergi meninggalkan area parkiran, dan menuju jalan raya yang ramai. Karena hari minggu sehingga banyak kendaraan roda empat maupun roda dua berlalu lalang, tentu untuk menikmati weekend bersama keluarga ataupun kekasih.
.... . ....
... ...
“Lo di mall sekarang?” tanya seorang gadis di seberang telepon sana.
“Iya ...” jawab gadis itu ketus, yang sedikit kesal dengan si penelepon itu rupanya.
“Kok gak ngajak gue sih.”
“Eehh, gue ngajak lo ya kemarin malam.”
“Gak ada tuh.”
“Jangan pura-pura lupa lo,” sarkas gadis itu semakin kesal.
“Hehee ... Gak jadi tadi gue.”
“Nyenyenye.”
“Dih!”
“Kenapa gak jadi?”
“Nyuci motor katanya!” Gadis itu ingin terbahak mendengar penuturan dari temannya dari seberang telepon sana.
__ADS_1
“Rasain tuh, sapa suruh ngabain gue.” Dirinya kini terkikik geli.
“Gue nyusul nih.”
“Gak usah lah, udah mau pulang gue soalnya bosen.”
“Ye elah, padahal ...”
Prang
Belum sempat temannya itu menyelesaikan ucapannya, kini handphone gadis itu sepertinya tak berbekas lagi. Pasalnya handphone itu terlempar ke lantai dasar mall, setelah di tabrak dua orang gadis remaja yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
Setelah beberapa detik terdiam, gadis itu langsung berlari ke arah tangga darurat untuk memeriksa handphone yang terjatuh dari lantai tiga mall tersebut. Dua gadis yang menabraknya tadi pun ikut berlari mengejar, karena ingin meminta maaf dan berniat mengganti handphone tersebut.
Terlihat ada beberapa orang yang mengerumuni handphone yang baru terjatuh tersebut, mungkin heran siapa yang menjatuhkan ponsel mahal itu dengan mudahnya. Gadis itu pun bergegas menuju kerumunan orang itu, dan memungut handphone yang tak berbekas lagi.
“Handphone mbaknya?” tanya salah seorang yang ada di kerumunan.
“Iya ...” jawab gadis itu sedikit lesu sambil menatap ponsel yang hancur ditangannya itu. “Padahal baru kemarin lusa beli.”
“Lain kali hati-hati mbak, masih untung gak mbaknya yang jatuh,” ujar orang tersebut lagi, yang dibalas anggukan lemas dari gadis itu.
Kini kerumunan pun bubur, orang-orang tadi pergi meninggalkan gadis tersebut untuk melakukan apa yang menjadi tujuan mereka datang ke mall ini.
“Maaf kak, aku yang nabrak kakak tadi. Ayo kak kita beli, aku gantiin handphone kakak. Sekali lagi aku minta maaf,” ujar gadis itu dengan mimik wajah penuh rasa bersalah.
Dirinya itu lama menatap gadis yang ada didepannya itu, seperti pernah melihat tapi dimana. Memori otaknya berputar untuk mengingat-ingat siapa gadis tersebut, sampai ia mengingatkan dimana melihat gadis itu, lebih tepatnya foto gadis itu.
“kak!” panggil gadis itu lagi.
“Eh iya, kenapa?”
“Maaf kak, aku gak sengaja menabrak kakak tadi, sampai ponsel kakak terlempar. Maaf kak!” ujar gadis itu mengulangi ucapan tadi.
“Gak papa hee ... Santai aja gak terlalu berharga kok, dan juga udah biasa.” Seketika setelah sadar dari lamunan muka yang tadi agak kusut langsung sumringah kembali. Lalu iya berjalan dengan begitu senang ke arah tong sampai, dan membuang bangkai handphone itu dengan inteng.
“Aku gantiin kak ayo kita ke counter handphone.” Panik gadis itu setelah melihat aksinya tadi.
Sedangkan temannya satu lagi hanya melongo dengan mulut sedikit terbuka, karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Pasalnya ia tau betul itu handphone keluaran terbaru, dan tentu mahal.
“Eehhh ... Gak usah santai aja, aku beli kok nanti.”
“Gak bisa gitu kak, aku harus tanggung jawab,” ujar gadis itu mantap walaupun ia tau, itu menguras uang jajannya selama hampir 3 bulan. Handphone itu seharga 35 juta, sedang uang bulanan Cuma 15 juta perbulan.
__ADS_1
“Gak usah, tapi karena kamu maksa baut tanggung jawab oke. Tapi, gak gantiin handphone aku itu, cukup temani aku jalan hari ini. Soalnya aku sendirian dari tadi, sahabat aku gak mau diajak tadi malam,” ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya kala menceritakan kesepiannya.
“Beneran kak, gak papa?” Gadis itu tampak ragu.
“Iya bener, jadi pertama-tama kalian temenin aku beli handphone dulu,” ujarnya meyakinkan gadis tersebut. “Ehh, kita kenalan dulu lah, biar tambah akrab,” lanjut dengan senyuman penuh kegirangan.
“Namaku Rayna!” ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Yap dia adalah kakak satu-satunya seorang Erlangga.
“Kanaya!” ujar gadis itu menyambut uluran tangan Rayna. Lalu berganti kepada Anaira.
“Ya udah ayok.” Rayna berjalan terlebih dahulu untuk menuju counter handphone lalu diiringi oleh Kanaya dan Anaira.
Sesampainya di counter handphone, mereka langsung melihat jejeran handphone yang ada di sana. Merasa tak cocok Rayna bertanya kesalah satu penjaga, apakah ada handphone keluaran terbaru.
“Yang keluaran terbaru mana?”
“Sebentar.” Lalu petugas itu meletakkan satu handphone dengan merek terkenal yang baru dirilis.
“Oke, ini aja tolong pasangan kartu selulernya juga,” ujarnya pasalnya kartu seluler yang lama juga ikut terbuang. Sudah berapa kali dirinya gonta ganti nomor ponsel, bersama handphone dalam tahun ini. Intinya kalo handphonenya ganti kartu selulernya juga ganti, begitu prinsip Rayna.
“Totalnya 38 juta,” ujar petugas tersebut. Tanpa basa-basi Rayna langsung mengeluarkan blackcard andalannya.
“Buset, blackcard coy,” ujar Anaira dengan mata yang siap keluar dari tempatnya. Sedangkan Kanaya tak berkedip dibuatnya.
“Kalo gue punya pun gak di izinin buat bawa oleh bokap,” ujar Anaira yang dibalas anggukan setuju oleh Kanaya.
“Kalian mau handphone baru?” tawar Rayna ketika berbalik, dan melihat keterdiaman kedua gadis tersebut.
Kanaya menggelengkan kepalanya bahwa dia tidak mau, tapi sahabatnya yang disampingnya itu berancang-ancang untuk menjawab iya. Melihat hal itu Kanaya bergegas membungkam mulut Anaira dengan satu tangan.
“Enggak kak, makasih.” Kanaya tersenyum kaku ke arah Rayna, sedang Anaira melotot kan matanya ke arah Kanaya, kapan lagi dapet handphone baru secara gratis keluar terbaru lagi, pikirnya.
“Yakin?” tanya Rayna untuk meyakinkan karena melihat tingkah kedua gadis tersebut.
“Iya yakin kak!” jawab Kanaya dengan yakin.
“Ya uda kalo gitu, yak ketoko baju.” Rayna pun melenggang pergi dari counter handphone dengan diiringi perdebatan kedua gadis tersebut.
...🍁🍁🍁...
... ...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏