
Cukup sebentar mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, Denan pun tiba dikantornya pukul tujuh. Hari ini sepertinya perasaan Denan tidak baik-baik saja. Wajahnya tampak terlihat sangat dingin dan sorot matanya tajam.
Ya, seperti yang mereka ketahui Kali ini pasti akan ada tumbal lagi yang akan dipecat tiba-tiba oleh Denan. Semua pegawai yang melihat pemuda itu melintas lekas langsung menunduk takut. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sepatah katapun.
Denan yang mengetahui ketakutan itu berpura-pura tidak tahu. "Revan sudah datang?" Tanya Denan pada sekretarisnya tanpa basa-basi dan tegas.
"Su- sudah Pak," jawab Anita gugup sambil gemetar.
"Kalau begitu suruh keruangan sekarang, Cepat!" Ucapnya tidak sabar.
"Ba- baik Pak."
Doar!
Lagi mereka tercekat saat Denan keruangan sambil membanting pintu dengan kasar. Lalu menarik kursi untuk mengambil posisi duduk mengetuk-ngetuk kan jarinya dimeja.
Anita yang khawatir Denan memaharinya segera menelpon Revan yang masih entah ada dimana dia sendiri tidak tahu.
(Kenapa Nit?") Tanya Revan setelah telpon tersambung.
"E... itu Pak, maaf tolong segera kembali. Pak Denan menunggu Bapak di ruangannya."
Revan yang mengerti maksud Ania langsung memutus sambungan dan bergegas keruangan Bosnya itu. Ia sudah mengira akan terjadi badai kalau Denan sudah memanggilnya seperti itu. Dimana semua akan membuat kacau seisi kantor.
Dengan langkah cepat, pemuda yang tergesa-gesa itu sudah sampai di depan pintu. Biasanya Revan masuk tanpa permisi, tapi kali ini Ia harus berhati-hati.
Tok! Tok! Tok!
Revan mengetuk pintu saat berada diambang pintu.
"Masuk!" Jawab Denan sambil berteriak. Benar saja nada suara pria itu memekik nyaring.
"Ada apa Bos?" Tanya Revan, setelah mendorong pintu yang berukiran kembang mawar di depannya.
Tak menjawab, Denan memutar bola matanya dengan sinis ke arah Revan. Todongan yang sangat menusuk.
"Apa kau mengantarnya semalam?" Tanya Denan kemudian setelah beberapa detik.
Revan mengerutkan dahi tak mengerti. Jadi soal itu Denan marah tanpa angin. "Iya Bos, emang kenapa?"
__ADS_1
Denan pun terlihat berpikir sejenak, sambil sesekali menatap Revan kembali. Tak ada sedikit pun senyum yang terbit diwajahnya. Sangat dingin dan beku.
"Suruh semua pegawai, Stap jajaran dan semua OB dan OG berkumpul, aku ingin melihat seprofesional apa kerja mereka!" Perintah Denan lirih beralih ke masalah lain.
"Baik Bos, akan saya laksanakan," jawab Revan.
Pemuda itu pun keluar dan memberi himbauan pada semua orang agar segera berkumpul. Alan dan Fatimah yang baru saja datang pun langsung ikut berbaur.
Revan sudah memperhatikannya, tapi memilih diam, karena tak ingin mereka mendapat masalah hingga Denan keluar dari ruangannya.
Denan berdiri didepan Mereka dengan raut wajah menakutkan, membuat semuanya lagi-lagi di haruskan menunduk kan kepala.
"Siapa yang terlambat?" Teriak Denan yang mengeraskan suara sambil mengaitkan kedua tangannya dibelakang punggung.
Tidak mendapat jawaban, Denan mengedarkan semua pandangannya kebagian jajaran tertinggi di kantornya, Nampaknya mereka memang datang tepat waktu. Lalu berpindah kebagian Stap.
"Apa mereka datang terlambat?" Tanya Denan menatap Alan dan Fatimah, kedua kakak beradik itu langsung terlihat gusar.
"Tidak Bos," jawab Revan yang kasihan melihat mereka. Sebenarnya semua sudah tahu akhlak kedua anak itu yang selalu hampir terlambat, tapi mereka memilih ikut bungkam apa lagi mendengar Revan sudah menutupi aibnya.
Denan pun kembali mengalihkan pandangan kebagian OB dan OG.
Semua yang ada disana saling melempar pandang, karena tak ada satu orang yang tahu keberadaan Akia.
"Kemana dia? Apa dia Belum datang?" Tanya Denan lagi kesal tidak ada yang menjawab satu pun.
Namun dari kesukuan orang itu, akhirnya ada perempuan yang angkat bicara. "Mungkin tidak Bos, sebab dia selalu datang lebih awal dari kami," jawab wanita itu.
"Anak itu, selalu saja menghilang tanpa kabar atau dia kembali mengulangi kesalahannya dengan terlambat datang." Denan menggerutu seorang diri. Setelah berpikir lama, Denan pun membubarkan semuanya.
"Kalian boleh kembali bekerja, dan ingat tidak ada yang boleh main-main disini karena tujuan kalian adalah bekerja!"
"Baik Bos," jawab mereka kompak.
Setelah semua pergi, Denan pun menyetop Alan dan Fatimah yang baru saja memutar tubuh hendak keruangan kerja mereka. " Tunggu!"
Alan dan Fatimah cukup terkejut akan itu, tapi mereka berusaha memasang muka manis.
" Habislah kita," desis Alan ditelinga sang adik.
__ADS_1
Denan mengamati keduanya secara bergantian, Ia curiga dengan kedua anak itu karena mereka yang paling dekat dengan Akia."Kalian pasti tau kan dimana Akia?" Tanya Denan menelisik.
"Oh... Ee..enggak Bos, enggak ya Bang?" tukas Fatimah pada Alan yang ketakutan dan gugup.
"Bukanya kalian satu kontrakan kata Revan? Bagaimana mungkin tidak tahu?" Bentak Denan lagi seraya mendelik.
"I- Iya, tapi sekarang enggak," timbal Alan lagi yang menyahuti ucapan Denan.
"Apa maksudnya, bicara yang jelas," Jengah Denan kesal.
"Iya Lan, Fat, semalam kan aku mengantar Akia dikontrakkan kalian, bagaimana mungkin kalian tidak tahu?" Tanya Revan mulai khawatir. Ada kejanggalan di balik ucapan keduanya.
"I- iya, Ibu kontrakan saya semalam marah besar sama Akia, karena dia udah dua malam pulang malam. Ibu itu pikir Akia kerja jadi penghibur malam," Jelas Fatimah yang akhirnya mengakui kejadian sebenarnya.
"Lalu?" Denan ingin tahu lebih jauh.
"Ka- kami sudah menjelaskan semuanya kalau itu tidak benar, tapi Ibu kost kami tetap tidak percaya," sambung Alan pula.
"Tidak usah berbelit-belit, terus dimana Akia sekarang?" Tanya Denan yang tiba-tiba mencengkram kerah baju Alan emosi.
"E.. e... itu semalam dia diusir Bos," jawab Alan agak takut.
"Apa...?" Denan lagi-lagi terkejut. "Lalu kemana dia pergi?" Sambung Denan lagi.
"Maaf Bos, sungguh ka- Kami tidak tahu Bos," jawab Fatimah tak ingin Alan di apa-apain.
Denan terpaksa melepas kerah Alan dengan kasar.
"Kenapa kalian biarkan dia pergi, Bodoh. Teman macam apa kalian ini?" Sentak Denan lagi yang geram akan tindakan kefuanyam
"Ya, ka- karena Ibu itu meminta Akia pergi malam itu juga," jawab Alan.
"Sialan, awas saja kalau sampai terjadi sesuatu sama Akia, aku akan bikin perhitungan dengan Ibu kost itu," gerutu Denan sudah dikuasai emosi memuncak. Tidak tahu mengapa Ia tidak menyukai perilaku demikian terhadap gadis itu.
Pusing dengan hilangnya Akia, Denan pun kembali mengamuk sesuka hati.
"Dasar tidak berguna, setidaknya bantu dia cari tempat tinggal dulu!" Kecam Denan lagi masih tak habis pikir pada Alan dan Fatimah.
"Sudahlah Bos, kasihan mereka. Mungkin ada alasan mengapa mereka tidak bisa membantu," ujar Revan menenangka.
__ADS_1
"Ck, Ayo cari dia sekarang Van!" Ajak Denan yang melangkah lebih dulu di susul Revan.