Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Ep 19 Menjemput Kanaya


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


... ...


“Kanaya tuh!” Aldi menunjuk Kanaya yang saat ini sedang berada di depan gerbang SMA Harapan Bangsa. Karena bell pulang sekolah sudah berbunyi, dan Kanaya menunggu jemputan untuk pulang.


“Gak lo anter gitu Ngga?” celatuk Aldi setelah nya.


“Tau lo, kalo suka cewek tuh kudu di rayu dengan kalimat-kalimat romantis,” ucap Refdy memberi wajangan pada sahabat kakunya itu. “atau lo mau gue ajarin dan bimbing gitu,” lanjut Refdy dengan antusias.


“Gak perlu!” jawab Erlangga seadanya.


“Ya ... jomblo aja terus lo,” cibir Aldi.


“Apa enaknya jomblo yak?” tanya Refdy pada diri sendiri.


“Putusin semua pacar lo, biar tau rasanya”


“Enak bener ngomong, lo aja gak bakal mau mutusin semua pacar lo”


“Lah gue gak kepo ya yang namanya jomblo, dan lagi asrama gue masih banyak ruang-ruang kosong” Ucup Aldi dengan songong nya.


Erlangga yang dari tadi mendengar kan perdebatan konyol itu, langsung memutar kunci kontaknya dan menyalakan mesin motornya, lalu berlalu meninggalkan kedua orang tersebut diiringi Aksa bersama Afnan.


“Ya elah gara-gara lo di tinggal bos,” omel Aldi


“Lah kok gue?”


“Ya elo!”


“Sinting lo,” umpat Refdy


“Elo tuh!”


“Sama berarti,”


“bego” ucap mereka bersamaan diiringi tawa keduanya.


 


.... . ....


... ...


Malam ini suasana kamar yang penuh dengan nuansa biru putih, seorang gadis yang kita kenal bernama Kanaya sedang membaca novelnya di kasur Queensize nya. Langsung memberhentikan kegiatan membacanya, kala suara teriakan khas bundanya dari lantai bawah.

__ADS_1


“Kanaya, Kanaya!”


“Iya mah sebentar,” Kanaya pun bergegas menuruni anak tangga lalu menuju ruang tamu.


“Ada apa?” tanya Kanaya setelah sampai di hadapan bundanya.


“Kok kamu gak bilang sih ke bunda kalo pacar kamu mau berkunjung,”


“Hah? Pacar? Naya gak punya pacar bun,”


“Aahh kamu, udah gak bilang terus mau bohongi bunda pula, lihat Erlangga sudah nunggu kamu siap-siap sana gih”


“Hah!?” kaget Kanaya setelah mendengar nama cowok cabul itu di sebut kan. Lalu bergegas Kanaya menoleh ke arah kursi yang ada di ruang tersebut, benar saja seorang Erlangga tengah duduk santai di sana.


“lo ....” Kanaya ingin memaki tapi urung karena ada sang bunda ada disana, Erlangga pun menyeringai puas.


Awas lo brengsek ancam Kanaya dalam hati.


“Kamu kamar sana siap-siap sana,” titah Alana pada putri semata wayangnya itu, hal itu membuat kegiatan adu tatapan sengit antar Erlangga Kanaya terputus.


“Siap-siap kemana bun?” tanya Kanaya bingung sambil menyeringit kan dahi.


“Kan katanya kalian mau pergi, gimana sih kamu nay,”


“Pergi kamana?”


“Sambil nunggu, tante buatkan teh yah?” Alana pun ingin berdiri sebelum sebuah suara yang sopan menghentikannya.


“Gak perlu repot-repot Tante, lagian kayanya Kanaya gak bakal lama,” tutur Erlangga sangat sopan.


“Gak repot kok Tante,”


“Benar Tante gak perlu,” tolak Erlangga lagi dengan halus.


“Ya udah kalau kamu gak mau, nama panggilan kamu tadi Angga kan ya nak?” tanya Alana yang di bales anggukan kecil dari Erlangga. “kalo gitu tante panggil Angga aja ya supaya lebih akrab,” lanjut Alana diiringi senyuman yang tercetak jelas di wajah nya.


Tak berselang lama Kanaya pun turun dengan tampilan apa ada nya, dengan celana jeans serta baju kaus putih yang ditutupi dengan jaket kulit warna hitam. Makeup yang terlihat natural nyaris seperti tanpa makeup, rabut yang di ikat tinggi ke atas sangat cocok jika di sandingkan dengan penampilan Erlangga malam ini.


Erlangga yang melihat itu hampir tak mengedipkan matanya, pasalnya Kanaya versi tersebut tak pernah iya temui. Ia sangat suka dengan tampilan apa adanya gadis itu.


“Ya ampun Kanaya, dress kamu ke mana sampai memakai baju kaya gitu,” omel Alana setelah melihat penampilan putrinya, yang jauh dari kata feminim.


“Udah di bakar,” jawab Kanaya dengan entengnya.


“Ganti sana,” titah Alana kesal

__ADS_1


“Gak mau!”


“Kanaya ....” ucap Alana ingin menegur putri keras kepala nya itu.


“Gak papa kok tan, Kanaya udah cantik kok” ucap Erlangga memotong teguran yang ingin di layangkan Alana kepada Kanaya.


Kanaya yang mendapat pujian yang di lontarkan Erlangga tepat di depan bundanya, seketika memalingkan wajahnya. Sudah di pastikan wajahnya saat ini seperti kepiting rebus, Kanaya berhasil di buat malu oleh Erlangga.


“Ya udah kalo gitu, kalian jalan takutnya nanti malam,” ujar Alana sambil menggiring mereka keluar rumah “Jam 10 anak bunda harus di antar pulang yah Angga,”


“Baik bunda, kalo gitu kita pamit dulu ya bunda,” pamit Erlangga pada Alana, diiringi Kanaya yang juga berpamitan dengan muka di tekuk. Sudah di pastikan umpat, cacian, makian, serta sumpah serapah di layangkan nya dalam hati untuk Erlangga.


“Kok mukanya di tekuk gitu, senyum dong anak bunda,” ujar Alana yang langsung mendapat hadiah senyuman palsu dari putrinya.


“Naik sayang!” titah Erlangga dengan embel-embel sayang yang terdengar kaku di telinga Kanaya. “pegangan sayang!” lanjut Erlangga setelah Kanaya naik ke atas motor sport milik Erlangga.


Sanyang, sayang! Sanyang pala mu batin Kanaya memaki Erlangga.


“Kalau gak bisa bilang sayang gak usah, gak enak di dengar,” Kanaya memutar bola matanya males.


“Nanti dibiasain,” ucap Erlangga datar


“Gak perlu, jijik gue,”


“Dah sayang, hati-hati dijalan,” ucap Alana sambil melihat kepergiaan Kanaya yang untuk pertama kalinya dengan seorang lelaki. Yang Alana kira putrinya itu pergi untuk kencan padahal ke basecamp untuk party perayaan kemenangan NightWolf, yah masih bisa di hitung kencan lah.


Dengan karakter seorang Kanaya, tentu perjalan malam ini tidak lah menyenangkan, pasalnya ia harus tahan dengan panasnya hujaman-hujaman yang keluar dari mulut Kanaya dan masuk ke telinga Erlangga. Belum lagi ocehan itu begitu nyaring untung Erlangga pale helm sehingga suara yang terdengar seperti suara normal pada umumnya, tapi tetap saja panas kalau harus mendengar ocehan tersebut.


“Berisik! Bisa diam gak sih,” lontar Erlangga kesal yang sedari tadi mendengar ocehan-ocehan Kanaya.


“Itu akibatnya seenak jidat ngaku-ngaku pacar gue di hadapan nyokap gue, dasar cowok gak tau malu!” Maki Kanaya dengan ke kesalan yang sedari tadi belum juga mereda.


“Mau gue turunin di sini lo?”


“Ya turunin, gue bisa panggil taksi buat pulang,” balas Kanaya enteng.


“sial!” umpatnya pelan, kalo di laksanain bisa hancur reputasinya di hadapan Alana bundanya Kanaya saat melihat putrinya pulang naik taksi. Dan tentu saja Erlangga bukan cowok yang tidak bertanggung jawab.


“Diam sayang,” rayu Erlangga yang membuat Kanaya terdiam sejenak.


 


...🍁🍁🍁...


... ...

__ADS_1


Typo Bertebaran 🙏🙏🙏


__ADS_2