Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Bab 43 Ingat


__ADS_3

usai mendengar pernyataan Pak Rama, Denan dan Akia sepertinya sangat membutuhkan obrolan serius karena ini menyangkut masa depan mereka.


"Apa kamu yakin mau menikah denganku? Kamu tahu kan resikonya jika tidak bisa melahirkan anak laki-laki?"


"Iya aku sangat tahu, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak punya pilihan lain," jawab Akia.


"Oke, ku harap kau tidak menyesali keputusanmu itu," pungkas Denan.


Cukup singkat perbincangan itu mereka pun berkemas, karena harus berangkat hari itu juga. Mobil iring-iringan milik keluarga Rama menempuh perjalanan yang sangat melelahkan tentunya hingga sampai dirumah sakit malam hari.


Sesuai perjanjian, Dartam akan di operasi seusai menjadi wali nikah untuk Akia. Kedua sejoli itu langsung dinikahkan dirumah sakit itu juga dihadapan Pak Dartam.


Setelah keduanya syah, Pak Dartam pun segera di bawa keruangan operasi atas permintaan Rama. Semua biaya Pak Rama yang menanggungnya, Uang sebanyak itu baginya hanyalah masalah kecil.


Setelah Operasi selesai dan keadaan Dartam semakin membaik, Akia mengajak Denan ke taman rekreasi yang dulu menjadi tempat mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Gladys yang juga diajak Revan ikut sangat senang saat menemani Akia dan Denan di taman. Mereka seperti sedang melakukan liburan menyenangkan.


Denan mengedarkan pandangannya, Tiba-tiba Ia terbersit bayangan yang dulu pernah terjadi dengan nya dengan Akia di taman itu sewaktu kecil.


"Aduh, kepala ku sakit," keluh Denan.


"Den, kenapa Den?" tanya Akia panik.


"Tempat ini, mengapa aku merasa sangat mengenalnya?" tukas Denan.


Akia pun menggenggam kedua tangan Denan dan menatap mata pria itu dengan lekat.


"Tentu saja, ini tempat dimana kita sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama," jawab Akia sembari tersenyum.


"Benarkah? Apa aku sungguh sudah mengenalmu sebelumnya?" Tanya Denan yang masih belum mengingat apa pun.


"Iya, aku tidak bohong. Kamu lihat ini?" Akia menunjukkan kalung yang menggantung di lehernya.


"Wah berarti kalian memang ditakdirkan jadi jodoh Bos," sahut Revan yang mendengar dan menggodanya.


"Iya, sahabat jadi pasangan ya ternyata," tambah Gladys.

__ADS_1


Lama mengenali kalung itu dan berpikir keras, ingatan Denan masih belum sepenuhnya kentara. Ya, Ia masih sulit untuk ingat semuanya. Hanya ada bayangan sekilas saja saat terakhir Perpisahannya dengan seorang gadis kecil sebelum pergi ke kota tapi Ia masih ragu.


"Iya, sepertinya aku sudah mengenalmu sebelumnya, tapi aku butuh waktu buat yakin," tukas Denan lagi di iringi gelak tawa Revan dan Gladys.


"Ciye... jodoh jadi sahabat ni, ceritanya ya kan?'"


"Iya dong, itu suatu anugerah bukan," tukas Akia bangga sembari memeluk Denan yang masih bingung.


Lain halnya dengan Vivia, Ia yang memperhatikan mereka merasa iri melihat Akia yang mendapatkan pasangan sempurna seperti Denan yang tampan dan kaya.


Ini gak adil, aku tidak mungkin membiarkan Akia bahagia seorang diri. Tanpa memikirkan aku...


Malam itu adalah malam yang paling panjang bagi pasangan pengantin baru. Dimana keluarga Denan memutuskan menginap di hotel tak jauh dari rumah sakit.


Rasa malu juga kikuk menjadi berbaur jadi satu. Sebab merekA akan melakukan ritual malam pertama.


"K- Ki apa kamu siap melewati malam ini?" Tanya Denan. Mereka duduk bersebelahan dimana ranjang itu sangat besar dan luas. Tentu bisa bebas jika hendak bergulat semalam suntuk.


"Hehehe... malu Den. Besok aja ya, aku belum siap jadinya ni," melas Akia.


Lama saling senyum-senyum dan bingung. Denan yang sudah tidak sabar menyambar bibir Akia. Peraduan yang sakral tentunya. Sungguh Akia panas dingin di manja pria yang satu itu hingga Ia harus merasakan robekan surgawi nya yang menyakitkan karena ke ganasan Denan.


beberapa bulan terakhir sejak kejadian itu, bagi Denan dan Akia amat sangat melelahkan. Selain bertempur setiap malam, mereka juga harus mondar- mandir Jakarta-Palembang di pedalaman terpencil untuk perawatan Dartam.


Bahkan selama satu minggu berjalan menikah, mereka belum pernah melewatkan makam indah mereka walau sekedar hanya melakukan pemanasan karena Akia selalu merintih kesakitan.


Seperti Pagi itu Denan masih nikmat merebahkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Akia hendak membantu Yuni dan beberapa ART untuk memasak.


"Ki... ," Panggil Yuni yang sedang memotong buncis.


"Iya Ma," timpal Akia yang melakukan hal yang sama.


"Denan itu dingin dan kaku, kamu harus merayunya lebih dulu ya," lirih Yuni yang tak ingin didengar oleh Beberapa ART.


"Maksud Mama?" Akia menatap bingung.

__ADS_1


"Kalian kan sudah nikah selama seminggu jadi service terus dia supaya cepet hamil ," tukas Yuni.


Akia terdiam saat mendengar ucapan Yuni. Bagaimana bisa dia gak cepet hamil sedangkan Denan selalu memaksa menyentuhnya setiap kesempatan.


"Hehehe... iya Ka."


"Bagus, Kamu harus pandai merayunya ya? karena masa depan kalian ada padamu, kamu ingatkan ucapan Papa." Yuni mengingatkan keinginan Rama akan anak laki-laki dari rahimnya.


"Baik Ma," jawab Akia seraya tersenyum memaksa.


Lama dalam hening, Yuni bicara lagi. "Akia, mungkin Denan akan lebih mencintai mu kalau dia tahu kamu adalah sahabat kecilnya dulu," ulas Yuni kemudian dengan tatapan yang terlihat sedih.


"Maksud Mama?" Akia merasa sedikit bingung sambil melanjutkan memotong buncis yang seabrek itu. Mereka memasak dalam jumlah banyak setiap hari untuk semua si isi rumah mewah.


"Waktu kami baru tiba di kota ini, Denan mengalami kecelakaan. Dan karena Kecelakaan itu telah membuatnya hilang ingatan." Yuni akhirnya membuka kebenaranya tentang keadaan Denan sebenarnya.


"Pantas saja Denan tak ingat dengan ku Ma," timpal Akia yang sedikit terkejut mendengar cerita Yuni.


"Iya, Ia hanya mengingat sesuatu yang terjadi pada dirinya setelah kecelakaan itu, tolong bantu dia ya," ungkap Yuni lagi.


"Iya Ma, Akia akan coba?" tukas Akia.


Sedangkan Denan bangun dan membuka beberapa laci untuk mencari bolpoin guna menandatangi beberapa berkas yang dibawa Revan... " Dimana bolpoin disini, kenapa tidak ada?" gerutu Denan bicara sendiri.


Sesaat Ia terpanah dengan sebuah kotak yang sudah usang di laci paling bawah. Laci itu memang tidak pernah membuatnya tertarik untuk membuka sedikit pun. Tapi entah mengapa tangannya ter ulur membuka laci itu tanpa disadarinya. Denan membuka kotak itu karena penasaran akan isinya.


Dengan hati-hati Denan membukanya karena takut terkejut, namun tiba-tiba tawa nya meledak saat melihat isi didalamnya.


"Jepitan, jepitan milik siapa ini? Masih ada rambutnya lagi, gak mungkin kan ini pemilik pelayan, atau milik Mama, nampaknya jepitan ini hanya jepitan murahan?" Oceh nya bertanya sendiri.


Denan pun mendaratkan bokongnya ditepi ranjang sambil memperhatikan jepitan itu untuk berusaha mengingat-ingat siapa pemilik nya.


Tiba-tiba serangan sakit kepala membuncah di kepalanya, Hingga Ia tak sadarkan diri diatas ranjang.


Setelah selesai berkutat di dapur Akia kembali ke kamar, dan memikirkan ucapan Yuni. "Merayu, merayu bagaimana? Aku kan gak bisa merayu, bukan kah tanpa merayu pun anaknya mengigitku tiap malam," gumam Akia seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2