Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Ep 25 Di restoran


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


... ...


“Pak Uus jalan,” ucap Anaira menyuruh supir pribadi Kanaya untuk menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Anaira, setalah berhasil menyeret Kanaya yang pagi-pagi di hari libur ini sudah bikin malu.


“Main tarik aja lo,” geram Kanaya pada sahabatnya itu.


“Kelamaan, udah lo telat masa mau berlama-lama di rumah gue, semakin sedikit waktu hangout kita hari ini,” omel Anaira.


“Nyenyenyee ....”


Anaira pun mendilik ke arah Kanaya, sebalum rasa penasaran tentang keterlambatan Kanaya datang menyerang otaknya kembali.


Anaira berdehem singkat sebelum menanyakan apa yang ada di benaknya itu, agar Kanaya tak merasa kesal karena pertanyaan yang ditanyakan sama saat mereka telponan tadi.


“Ehem, nay!”


“Hmm.”


“Kenapa lo telat kali ini? masa iya lo bagadang baca novel ketika esok harinya lo ada janji ama gue, gak mungkin kan? Gue tau kebiasaan lo kalo ada janji pasti tidur cepat apalagi janjinya ama gue,” cerocos Anaira panjang lebar sambil memicingkan matanya ke arah Kanaya.


Kanaya hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, ketika kecurigaan sahabatnya yang paling pengertian akan dirinya itu muncul.


“Gak ada duanya pokoknya lo Ra, paling ngerti gue banget sampai-sampai gue sulit menyimpan rahasia dari lo.”


Anaira mengibaskan rambutnya bangga “Anaira gitu loh.”


“Tapi sekarang gue laper,” lontar Kanaya sambil memegang perutnya yang tek terisi apapun karena tak sempat sarapan ketika ingin berangkat tadi.


“Apa hubungannya ama laper?” tanya Anaira dengan tampang bodohnya.


“Lo bego apa gimana? Gue telat gini mana sempat sarapan belum lagi lo sibuk hubungin gue tanpa henti.” Kanaya pun mendengus kesal akan pertanyaan bodoh sahabatnya itu.


Anaira nyengir tak jelas “Hehee ... Sorry.”


“Sorry, sorry!” Kesal Anaira “sekarang kita mampir di restoran tempat biasa, nanti gue ceritain di sana.” Lanjutnya yang dibalas anggukan dari Anaira.


“Pak, tempat biasa,” ujar Kanaya kepada supir pribadinya itu.


Lalu, mobil pun melaju ke tempat untuk mereka memanjakan lidah dan perutnya di pagi menjelang siang ini.


Sesampainya mereka di restoran tersebut, Kanaya dan Anaira  pun masuk ke dalam. Sebelum itu tentu Pak Uus juga disuruh Kanaya untuk makan, tapi beda tempat sama mereka gak mungkin Pak Uus nimburung sama dua gadis remaja, belum lagi kedua gadis itu ingin bergosip riya.


Mereka pun duduk di meja yang tersedia di sana, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan yang menggugah selera mereka yang membuat perut semakin keroncongan.

__ADS_1


“Gila lo, banyak banget yang lo pesan, itu laper atau gimana.” Kanaya tercengang ketika telinganya mendengar pesanan yang di pesan oleh sahabatnya itu, belum lagi semua pesanannya berkalori tinggi.


Anaira hanya mengerucutkan bibirnya dan tertunduk lesu ketika tersadar dengan ucapan Kanaya, yang mengatakan bahwa dirinya itu tak hanya sekedar lapar.


“Gagal sudah program diet gue,” gumam Anaira yang masih bisa didengar.


Kanaya yang mendengar gumaman sahabatnya itu, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak, sejak kapan sehabatny itu melakukan program diet pikirnya.


“Makanya kalo mau diet, pesan makanan jangan banyak-banyak.”


“Mau gimana nama juga kebablasan, biar lah sudah.”


“huft ... Kebablasan dari mananya.” Sekuat tenaga Kanaya menahan gelak tawanya, mendengar alasan konyol Anaira.


“Udah ah, ceritain yang tadi,” ujar Anaira mengalihkan pembicaraan.


“Cerita yang mana?”


“Jangan pura-pura lupa lo nay.”


“iya, iya, iya gue ceritain.”


Kanaya mengatur nafasnya agar tenang, karena masih dalam keadaan menahan tawa. Lalu, dirinya mulai menceritakan alasan kenapa bangun kesiangan, sambil menunggu pesanan mereka datang.


“Jadi kemarin malam gue ke basecampnya anak-anak NightWolf itu.”


Melihat reaksi sahabatnya yang berlebihan itu mata Kanaya pun melotot ke arah Anaira, padahal baru satu kalimat sudah seperti itu hebohnya.


“Lo ....” geram Kanaya pada sahabatnya itu.


“Sorry!” Dengan tampang tanpa dosanya itu, dan dengan cengerin khas yang ditunjukkan, Kanaya hanya bisa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


“Silahkan dilanjutkan ceritanya,” papar Anaira enteng, dengan sabar Kanaya pun mulai melanjutkan cerita yang sempat tertunda.


“Nah ... Gue sampai rumah hampir jam 11 malam, berhubung Erlangga mampir dirumah tentu gue tidurnya jam 12 malam,” terang Kanaya santai lalu menyeruput minuman yang terlebih dahulu sampai ke meja mereka.


“Tunggu, tunggu! Kan lo gak di izinin keluar malam?” tanya Anaira, yang sedari tadi ingin ditanyakan tapi malah lupa.


“Hmm ... Iya gue gak dizinin kalo gue yang izin sendiri.”


“Jadi maksud lo Angga yang minta izin sama orang tua lo?”


“yaps ... Arghh!” erang Kanaya tampak kesal. “dia ngaku pacar gue, anjirr!” umpatnya pelan.


Anaira hampir saja menyemburkan minuman yang baru di seruputnya, kala mendengar penuturan Kanaya.

__ADS_1


“Angga suka sama lo?” pertanyaan bodoh menurut Kanaya berhasil lolos dari bibir sexsi Anaira.


“Gila lo!” umpat Kanaya sedikit kesal.


“terus? Maksudnya apa coba ngaku-ngaku jadi pacar lo di depan Bokap, nyokap lo?”


“Udah jelas ini cara dia balas dendam atas kejadian waktu itu, dengan cara mepermainkan gue.”


“Masa iya mempermainkan lo sampai melibatkan orang tua?”


“Entah lah, gue gak bisa nebak pemikiran lelaki brengsek itu.”


Anaira hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kanaya, sedikit ada rasa ragu kalau tindakan Erlangga hanya sebatas balas dendam.


Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing sebelum sebuah suara membuyarkan lamunan mereka, ternyata itu suara pelayan yang mengantar makanan pesanan mereka.


“Ke basecamp malam-malam ngapain?” tanya Anaira membuka suara sambil melahap makanan lezat yang ada dihadapannya, Entah kenapa pertanyaan itu terdengar ambigu di telinga Kanaya.


“Gila lo!” umpat Kanaya.


“What? Apa yang salah dengan pertanyaan gue?”


“Gak ada, mereka party doang,” sungut Kanaya berusaha menetralkan ucapannya, akibat pikiran aneh yang bersarang di kepalanya.


“Party?”


“Iya party buat ngerayain kemenangan mereka, katanya.”


“Ooo iya, kan mereka menang berkelahi yak,” ujar Anaira menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Apa hebatnya berkelahi, sampai-sampai kemenangannya pun dibanggain dan dirayakan,” gerutu Kanaya sambil menggelengkan kepala, Anaira yang mendengar gerutuan sahabatnya itu hanya bisa terdiam.


Anaira tahu bahwa gadis cantik didepannya itu yang didapuk sebagai sahabatnya, tidak menyukai jenis geng motor, yang bisanya hanya tauran dan membuat kerusuhan. Geng seperti itu tidak memiliki manfaat terhadap orang lain, seperti itulah kira-kira yang ada dalam pikiran sahabatnya itu seperti yang ia baca di novel katanya.


“Sepertinya ....” Ucapan Anaira terpotong kala Kanaya menyuruhnya berhenti untuk membahas hal itu lagi, dan mereka pun melanjutkan menikmati makanan dengan berbagai cerita, dan penuh sanda gurau.


Jujur ada sesuatu yang bersarang dalam benak Anaira, tapi karena Kanaya tak ingin membahasnya dan sepertinya Kanaya akan kesal ketika ia bahas itu. Lebih baik ia pendam, dan biar waktu yang menjawabnya.


 


...🍁🍁🍁...


... ...


Typo Bertebaran 🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2