Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Bab 41 Salah Tingkah


__ADS_3

Akia yang masih memakai handuk kecil pun langsung panik dibuatnya. Denan yang tak sengaja Melihat kejadian itu turut sedikit terkejut terpaksa memutar tubuhnya untuk kembali keluar.


"Astaga, apa yang kulakukan," ucap Denan sambil menghela nafas kasar. Ia menyandarkan punggung nya di daun pintu yang Ia tutup lagi.


Akia sendiri hanya menggigit jari menahan malu, atas tindakan Denan tadi yang sangat amat ceroboh. Tentu Denan berpikir macam-macam tentang dirinya sekarang. Dimana pemuda itu melihatnya dengan jelas pasalnya handuk itu tak menutupi seluruh lekuk tubuh.


Lama dalam pemikiran masing-masing. Akia mendengar Denan memanggilnya. Mungkin ada sesuatu yang tidak ingin Denan sampaikan sehingga pria itu belum pergi.


"Ki, buka pintunya sedikit biar aku kasihin bajunya!"


Perempuan itu mengusap dadanya. Rupanya itu tujuan Denan tadi. Karena Ia memang tak memiliki baju ganti.


"I- iya, sebentar," jawab Akia gugup. Lalu melangkah kearah pintu dan membuka sedikit celah.


"Kenapa sih gak nunggu dikamar mandi aja, pakek cari ke lemari emangnya aku menyimpan baju cewek?" gerutu Denan sambil menyodorkan beberapa pakaian ditangannya pada Akia. Jangan di tanya bola mata Denan melengos jauh entah kemana.


Sadar melakukan kesalahan Akia pun tertunduk. "I- iya maaf, ku pikir disini ada baju yang bisa kupakai," jawab Akia polos.


Gadis itu kembali menutup pintu setelah menerima pakaian yang di berikan pemuda tersebut.


"Cepat, aku tunggu dibawah!" Pungkas Denan lagi yang terburu-buru pergi menjauhi tempat tersebut. Dimana untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


"oke iya!" Sahut Akia yang menelisik punggung Denan sudah menghilang. Tak ingi n memikirkan hal yang aneh, Akia pun mengganti pakaian yang menurutnta sangat nyaman.


Sesaat Ia pun teringat lagi akan ucapan Vivia tadi pagi. Rasa khawatir keselamatan sang Ayah tentu dipertaruhkan dalam ruangan rumah sakit.


"Ya Allah, bagaimana ya keadaan Ayah sekarang? Dimana aku bisa mendapatkan Uang sebanyak itu?" Gumam Akiaseorang diri. Ia pun selesai menaikan res sleting gaun berwarna merah jambu selutut yang dipakainya. Karena menurutnya Baju itu lebih baik dari beberapa gaun lainnya.


Akia beralih menyisir rambut yang tergeletak didepan cermin, Ia yakin pasti sisir itu sering dipakai oleh Denan. Sebab sangat mustahil Denan membawa perempuan lain masuk kesana karena sikapnya super cuek pada para gadis.


Tak lama otak Akia berputar lagi mengingat ucapan Rama semalam padanya sembari mendaratkan bokong tidak terlalu berisi itu di kursi tepat depan cermin.

__ADS_1


"Jadi benar Denan Bos ku itu adalah Denan sahabat ku, jika ini kutanyakan padanya, mungkinkah Denan akan mengingat aku?" Tanya Akia seorang diri. Ia jadi teringat soal kalung yang di berikan Denan beberapa waktu silam masih melingkar di lehernya.


Dulu Denan terus memakainya tanpa pernah melepas, namun tak di duga Denan malah dengan suka rela memberikan benda tersebut.


"Denan aku kangen," Ucap Akia, tanpa sadar buliran air matanya luruh tak tertahan hingga panggilan keras mengagetkannya.


"Akia...!" Teriak Denan yang kembali berada di depan pintu kamar Akia.


Akia yang tahu harus apa segera bangkit dan membuka pintu untuk Denan.


"Iya Bos," jawabnya usai berhadapan. Keduanya membulatkan mata saat wajah Akia hampir saja mengenai wajah Denan yang berdiri tepat didepannya hingga tatapan keduanya pun bertemu.


Entah mengapa, Denan selalu merasa kalau kecantian Akia yang tampak make-up pun mampu membuatnya terhipnotis.


Ehemz... Ehemz... .


Denan merasa canggung dan salah tingkah, akibat jantungnya seakan berdetak cepat saat begitu dekat dengan gadis itu. Seperti ada sesuatu yang berbeda, dan itu adalah perasaan nyaman.


"Kenapa Bos?" Tanya Akia yang juga berusaha mengalihkan perasaan aneh yang juga tiba-tiba timbul dihatinya tak jauh dari Denan tadi.


Akia sendiri tak menolak dan mengikuti langkah cepat Denan.


Sesampainya di depan teran, Revan segera membuka pintu mobil untuk Denan dan Akia. Kedua orang itu masuk di jok bagian belakang yang di sopir oleh Revan.


"Van, hari ini kita tidak usah kembali ke kantor, aku mau kita pergi ke butik untuk fitting!" Tentu saja perkataan itu bak petir di siang bolong


"Ha, Fitting, Fitting apa Bos?" Tanya Akia yang selalu dibuat Denan terkejut mendadak.


"Baju pengantin," singkat Denan.


Bola mata syahdu itu jadi seperti terpelanting. "Apa, Bos, maaf jujur saja apa Bos A- akan_?" Ucapan Akia tergantung cukup lamanya kapan.

__ADS_1


"Iya... bener tegas Denan tanpak menoleh dan fokus kedepan.


"Sip Bos... asyik ni pasti," timbal Revan yang senyum-senyum sendiri Melihat keduanya dari kaca spion depan.


"Maksudnya, Bos mau menikahi Akia?" tanya Akia yang ingin memastikan dan menatap wajah Denan dengan dekat. Denan sontak menoleh, dan lagi-lagi hampir saja bersentuhan. Hingga tatapan keduanya kembali bertemu.


Degupan kencang langsung membuncah dikedua dada Denan dan Akia semakin besar. "Iya, iya biasa aja dong!" sindir Revan di iringi gelak tawa bahagia.


Akia pun langsung membenarkan posisi duduknya dan sedikit menahan merasa malu.


Dug!


Tendangan kaki Denan mengayun di jok tempat duduk Revan itu.


"Fokus saja menyetir, jangan kepo melulu dong!" Gertak Denan sedikit kesal. Siapa juga yang tak marah jika kondisi tegang itu malah di anggap lelucon.


"Iya, iya gitu aja sewot, Bos," rutuk Revan lirih. Mulai fokus mengemudi lagi. Tiba-tiba beberapa mobil mengejutkan mereka hingga mengerem mendadak.


"AstaufiruLlah, ada apa sih ini?" Oceh Denan yang membuat kepalanya kebcedot dikursi Revan. Lumayan keras tentunya hasil benturan itu.


"Kenapa lagi Bos?" Tanya Akia yang langsung panik. Takut orang-oramg itu berbahaya untuk mereka.


Denan tak sempat menjawab saat Mereka orang-orang iyu turun dari mobil dan mereka mengenal wajah orang-orang itu. Beberapa orang terlihat mengetuk pintu mobil mereka. Terpaksa Denan membukan nya, namun tanpa permisi mereka langsung menarik paksa Denan dan Akia untuk pindah kemobil lain.


"Ayo Tuan, Nona, ada sesuatu yang harus kalian lakukan ini perintah Bos," tukas Seseorang diantara mereka.


"Ya, tapi gak usah didorong-dorong juga kali, aku bisa jalan sendiri!" sentak Denan dengan nada meninggi. Tentu Ia tak terima cecunguk itu berlaku kasar padanya.


Ia pun menepis tangan mereka ketika di lihatnya, mereka hendak memegangi Akia.


"Jangan macem-macem ya, atau ku patahkan tanganmu sekarang juga," hardik Denan masih sangat geram.

__ADS_1


Revan sendiri hanya mematung karena tak dapat mencegah Denan dan Akia yang dibawa. Pasalnya Ia tahu itu pasti suruhan Rama untuk membahas masalah hubungan mereka.


"Aduh, maaf Bos. Sepertinya kalian memang harus menikah deh. Lebih cepat dari seharusnya," gumam Revan seorang diri.


__ADS_2