Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Bab 38 Enggan


__ADS_3

"Na itu, pasti ada udang di balik tepung terigu," tutur Alan lagi yang membenarkan semuanya. Meski Akia terkenal baik di kampung. Tidak bisa di pastikan juga akan baik di kota yang keras ini jika sudah di iming-imingi uang.


"Tapi Bang_?" Fatimah tetap tak sampai hati membiarkan Akia seorang diri.


"Udah sana tidur, udah malem ni, besok harus kerja. Biarin saja dia mencari jalannya sendiri di luaran sana!" Perintah Alan tak mau ambil pusing.


"Iya Bang," jawab Fatimah. Meski tetap saja Fatimah merasa jahat, kasihan dan khawatir akan keselamatan Akia ditengah malam begini.


Lain halnya dengan Akia, Ia berjalan menyelusuri jalan setapak di daerah kompleks itu. Perasaan bingung ingin tidur malam membuatnya resah, ditambah angin terasa sangat dingin menyesapi kulit-kulitnya. Ia mengusap-usap kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Lalu memilih berhenti dan duduk bersender disebuah pohon sambil memangku tas pakaiannya.


"Kemana aku harus pergi, aku kan gak punya uang," tukas Akia bicara sendiri. Perasaan merinding juga sebenarnya tengah menguasainya hingga buliran bening jatuh membasahi pipinya.


Namun pada kenyataannya takdir sudah membuatnya terbuang. Bahkan tak ada satu pun orang yang memahami kondisi itu. Padahal tubuhnya begitu lelah dan ingin beristirahat. Namun tak tempat yang bisa di jadikan tempat rebahan hingga tak sadar Akia terlelap di bawah pohon itu.


Sedang Denan sendiri nampak merebahkan tubuhnya yang juga tak kalah terasa sangat lelah setelah seharian penuh mencari Akia yang diculik Ceran, ditambah lagi tuntutan Rama yang selalu membuatnya tertekan.


Malam yang panjang itu, tak Sedetik pun Ia bisa memejamkan mata hingga suara kokoh ayam membuatnya membangunkan diri lebih awal. Rasa ngantuk sebenarnya membuatnya masih menguap, tapi tidak bisa tidur sama sekali meski di paksakan.


Setelah bangkit dari ranjang, Denan pun memutuskan pergi kekamar mandi dan membersihkan diri lalu melaksanakan sholat subuh, itulah kebiasaanya. walaupun ia arogan, angkuh dan dingin namun sholat tetap menjadi prioritasnya sebagai umat muslim.

__ADS_1


Tak ada yang tau, kebiasaan yang Ia lakukan termasuk orang tuanya sendiri. Denan sendiri menjadi tertutup, Ia sangat malas bercerita masalah pribadinya ke siapa pun kecuali Revan sahabatnya. Itu pun tak mungkin Ia ceritakan semua khawatir Revan juga punya niat untuk mengkhianatinya.


Namun sejauh ini, Denan belum melihat itu. Pasalnya tidak ada satupun rahasia yang bocor sampai saat ini. Revan juga melakukan tugasnya dengan sangat baik tanpa perlu diragukan lagi dedikasinya di kantor yang selalu membuat Denan merasa puas.


Setelah selesai berpakaian kantor, Denan pun turun kebawah dan melihat Yuni sedang membantu dua asisten rumah tangga tengah menyiapkan sarapan. Kesibukan itu akan terus terlihat setiap pagi hari tanpa ada jeda sama sekali.


"Den, masih pagi begini mau kemana nak?" Tanya Yuni dengan suara lembutnya. Perempuqman paruh baya itu masih menata beberapa lauk pauk yang disodorkan bibi di atas penampan. Yuni memang lebih suka, Ia sendiri yang menata makanan yang akan disediakan untuk keluarga karena Ia tahu seleranya berbeda dengan orang lain.


"Ke kantor Ma." Jawaban dingin selalu menjadi kebiasaan yang keluar dari mulut Denan. Tak ada senyum sedikit pun yang menghiasi sudut bibirnya.


"Ayo sarapan lebih dulu!" Ajak Yuni tak ingin tentunya Denan kelaparan nanti. Yuni pun menarik kursi yang hendak di duduki Denan.


Denan memegang Sederan kursi dari belakang, lalu memperhatikan menu makanan yang berupa-rupa itu. Setiap hari di hadapan makanan banyak,entah kenapa nafsu makan Denan seperti hilang saat Rama menepuk pundaknya dari belakang.


"Denan, tunggu!" Panggil Rama sebelum pergi, guna menahan anak lelakinya itu.


"Aku lagi males bicara Pa," timbal Denan yang menoleh sejenak Lalu pergi dan tak perduli lagi.


"Dasar anak manja, pembangkang dan gak ada sopan santunnya sama orang tua selalu saja menghindar kalau diajak ngomong," gerutu Rama. Ia pun mendarat kan bokongnya di kursi lalu membuka piring yang telengkup.

__ADS_1


Dengan telaten, Yuni melayani Rama untuk mengambilkan nasi dan beberapa lauk dan sayur.


"Jangan terlalu keras Pa, untuk memaksa Denan menikah cepat," tutur Yuni. Ia juga mengambil sarapan sendiri untuknya.


"Aku lakukan ini juga demi masa depannya Ma," jawab Rama yang mengunyah makanan yang baru saja dilahapnya. Pada dasarnya Rama ingin Denan tahu keputusannya adalah yang terbaik.


"Iya, tapi bagaimana kalau gadis itu benar-benar tidak bisa memberikan anak laki-laki, apa Papa akan memisahkan mereka?" Tanya Yuni. Sebenarnya Ia tak bisa membayangkan kesedihan Denan nantinya jika dipisahkan dengan istrinya.


"Ma, itu urusan Papa, Mama lebih baik diam saja, Aku tidak mungkin membuat Denan yang keras kepala itu menderita," jelas Rama acuh tak acuh. Ia tak mau ambil pusing masalah itu yang penting adalah bagaimana Denan mau secepatnya menikah saat ini. Karena menyuruh Denan cepat menikah bukanlah perkara mudah.


"Iya Pa, tapi apa Papa yakin kalau gadis OG itu pilihan yang tepat?" Tanya Yuni lagi meminta pertimbangan.


"Status bukanlah masalah bagi Papa, tapi bagaimana cara anak itu bisa membuat Denan menjadi lebih baik atau lebih buruk nantinya, itu poin pentingnya, Ma." Rama pun melihat jam tanganya. "Papa, harus pergi sekarang Ma, Kerena Papa akan pergi ke anak cabang Perusahaan kita di Bekasi sebelum siang." Rama pun meneguk satu gelas susu sampai tandas.


"Hati-hati di jalan Pa!" Pesan Yuni setelah mengantar Rama keambang pintu dan menyalami pria yang sudah 26 tahun itu mendampinginya. Bersyukur Rama selalu setia untuk tidak mencari kesenangan diluar. Dimana Yuni sangat yakin kalau pilihannya tidak salah jika Rama adalah pria yang terbaik.


"Iya Ma," jawab Rama setelah mencium kening Yuni.


Am pun membukakan pintu untuk Rama, lalu membungkuk pada Yuni dan setelah itu masuk kemobil sebagai sopir untuk mengantar tuannya yang tak lupa selalu diiringan dua buah mobil dibelakangnya.

__ADS_1


Yuni menghela nafas setelah melihat Mobil suaminya itu menghilang. "Semoga kamu tidak akan menyakiti anak kita ya Pa karena hanya Denan yang Mama punya dan kebahagian Denan sangat berarti. Mama tidak akan pernah sanggup melihat anak itu menderita sedikit pun."


Sebagai Ibu was-was itu pasti, Ia tidak akan tega melihat putranya merasa tertekan apa lagi menderita. Pasalnya pernikahan adalah hal yang sensitif karena melibatkan banyak pihak yang bisa jadi akan sangat mudah menimbulkan perkara antar keluarga besar. Sebab gadis pilihan Denan juga punya keluarga yang juga pasti sangat menyayanginya. Jadi mana mungkin mereka terima jika Anak mereka disia-siakan suaminya.


__ADS_2