
Akia pun terbangun dari tidurnya dibawah pohon, Terpaan sinar matahari menyorot langsung ke wajahnya lewat celah-celah dedaunan. Masih menyisakan sedikit embun berkabut yang sudah hampir hilang.
"Euh.... Segarnya!" Akia menggeliat membuka kedua bola matanya sambil merentangkan kedua tangan keatas sampai pada waktunya Akia menyadari jika dirinya ditempat yang sangat asing.
"Astaga, dimana aku?" Baru tahu ternyata masih tertidur dibawah pohon tempat terakhir nya beristirahat semalam.
"Ya ampun, kenapa aku sampai ketiduran disini sih? Bagaimana jika ada orang jahat. Kenapa kamu sangat ceroboh si Ki, mungkin efek kelelahan kemaren," gerutunya lagi seorang diri.
Akia lagi-lagi menepuk jidatnya saat ingat Ia sudah kesiangan untuk ke kantor. "Habislah aku sama Bos Songong itu."
Akia pun bergegas memegang tas ranselnya buru-buru. Namun baru saja hendak melangkah, Ia dikagetkan dengan getaran ponsel disaku baju seragam OG yang masih melekat di badannya.
"Vivia, ada apa ya?" Gumam Akia setelah melihat layar ponselnya. Akia yang ingin mendengar kabar orang kampung pun langsung menggeser tombol hijau. Suara nyaring Vivian langsung mengagetkannya.
("Woy, cewek kampung, lama amat ngangkatnya sih?") Teriak Vivia.
"Pelan-pelan dong ngomongnya, gendang telingaku bisa pecah, Vi," balas Akia.
("Bodo' amat, aku nelpon kamu mau kasih tahu kalau Ayah masuk rumah sakit tadi pagi)" Celetuk Vivia.
"A- apa Vi, Ayah sakit?" Akia ter gagap membulatkan matanya.
("Iya, Ayah kena serangan jantung dan harus dioperasi, cepat kirim Uang sekarang!") Teriak Vivia lagi dengan mudahnya
"Ta- tapi aku belum punya Uang Vi."
("Aku gak mau tahu, kamu harus kirim uang Lima puluh juta sekarang)" Sentak Vivia lagi.
"Lima puluh juta, Uang dari mana Vi?" ucap Akia gelimpungan.
("Gak tau itu urusan mu, pokoknya kamu harus kirim Uang paling lambat besok, atau kamu mau kehilangan Ayah") Ketus Vivia tak perduli lalu mematikan sambungan ponsel.
"Vi, Vivia tunggu!" Akia berusaha masih ingin berbicara tapi sudah terputus. " Ya Allah, bagaimana ini? Dari mana coba aku dapat uang sebanyak itu," oceh Akia sangat bingung. Tidak punya arah tujuan untuk meminta pertolongan. Sebab Ia juga belum memiliki banyak kenalan. Pinjam pada sahabatnya apa lagi. Mereka seolah tak perduli dengan keadaannya.
Setelah lama berpikir, Ia pun memutuskan untuk pergi ke kantor terlebih dahulu sambil mencari cara agar mendapatkan solusi terbaik. Siapa juga yang tak khawatir akan kondisi sang Ayah. Pasti Ia akan di buat tak bisa bernafas tenang memikirkannya.
Tak berapa lama dari arah lain, Mobil sport milik Denan melintasi tempat itu dan syukurnya lagi Revan melihat.
__ADS_1
"Eh, itu bukannya Akia Bos!" Tunjuk Revan yang sangat amat mengenali pakaian Akia yang belum ganti sama sekali sejak kemaren. Rasa penasaran itu mengundang Denan untuk ikut melihat kearah sama.
"Iya benar itu Akia, ayo cepat berhenti!" Titah Denan.
Mereka pun turun menghampiri Akia yang terlihat berderai air mata pilu. Sudah pasti karena meratapi nasibnya yang sangat malang. Semalaman luntang lantung tanpa arah tujuan.
"Akia.... !" panggil Revan dari arah belakang punggungnya membuat gadis itu menoleh.
"Bos Denan, Pak Revan?" Ucap Akia setelah tahu wajah pemanggilnya.
Tanpa basa basi Denan menghampirinya. "Ayo ikut...!" Ajak Denan yang langsung menggandeng tangan Akia.
"Kemana Bos?" Tanya Akia bingung.
Denan tak menjawab dan langsung memaksa Akia masuk ke jok belakang bersama dia. Revan yang bertugas mengemudi kembali melajukan mobilnya ke arah lain.
"Kemana Bos!" Tanya Revan yang melihat raut muka Denan masih terlihat cemas dan menegang tanpa melepas pegangannya pada tangan Akia.
"Ke rumah Pribadi ku saja," jawab Denan dingin. Ia lebih memilik bungkam karena Revan tahu pasti suasana hatinya belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala.
Revan yang harus melaksakan tugasnya segera membawa mereka Ke tempat yang diminta Denan.
"Cepat pesankan Beberapa pakaian wanita!" Perintahnya sebelum pergi. Revan yang mulai faham pun mengangguki nya dengan cepat . Ia tau Denan memang benar-benar sudah menaruh hati pada Akia.
Setelah masuk, Denan mengajak Akia masuk kesebuah kamar dan Meminta Akia masuk ruangan mini tempat mandi.
"Mau ngapain Bos?" Tanya Akia sedikit panik.
"Tenang saja, aku gak akan apa-apain kamu kok, cepat mandi, sejak kemaren kamu belum mandi dan berganti pakaian. Sadar tidak bau tubuhmu menyiksaku sejak tadi!" Jengah Denan datar.
"Ow, kirain ngapain Bos. Kan aku jadi berpikir yang tidak-tidak?" Ucap Akia polos.
Denan menyungging senyum kecil, sedikit terhibur dengan kekonyolan Akia.
"Dasar Bodoh, kamu pikir Aku mata keranjang seperti Ceran ha?" Desis Denan lirih tapi jelas Akia mendengarnya.
"Hehehe, ya bukan gitu Bos," sungut Akia cengegesan.
__ADS_1
"Sudah sana mandi, hidungku bisa pecah oleh bauk tubuhmu itu!" Tukas Denan lagi sembari mengipas-ngipas indra penciumannya dengan tangan.
"Iya l, iya," jawab Akia manyun. Ia pun melangkah masuk dan menutup pintu rapat-rapat, takut Denan membohonginya.
"Dasar OG," celetuk Denan berkaca pinggang setelah Akia aman. Namun senyum manis seutas terbit membiasi wajahnya yang tampan.
"Bos!" Panggilnya kembali mengintip.
"Apa...?" Tanya Denan tak mengerti. Kenapa Akia selalu merepotkan hidupnya setiap saat.
"Boleh minta handuk, aku sudah terlanjur ni," Lirihnya malu-malu.
Lagi-lagi Denan tercekat. "Astaga, dasar OG, kenapa gak bawa sekalian tadi?" Oceh nya ngedumel. Denan beranjak menuju lemari dan mengambil handuk yang biasa Ia pakai.
"Ni...," ketusnya sambil membuang muka ke arah lain. Tak ingin matanya terzolimi.
"Kecil amat Bos?" protes Akia lagi
"Adanya cuma itu, gak ada yang lain," sentak Denan kesal.
"Iya, iya Bos," timbal Akia kembali manyun dan langsung menutup pintu yang terbuka sedikit itu.
"Dasar ngeselin!" Denan memutuskan kelantai bawah untuk mengambil pesanannya tadi.
"Mana barang yang ku pesan?" Tanya Denan pada Revan.
"Sebentar lagi nyampek Bos, tu dia mobilnya!" Tunjuk Revan kearah mobil yang baru tiba terlihat dari kaca tembus pandang.
wanita itu pun turun membawa berbagai macam model pakaian. "Ini adalah beberapa baju terbaik dan tidak ada yang punya, Nona Akia adalah satu-satunya pemilik model baju seperti ini Bos," tukasnya.
"Bagus, kau paham mau ku," jawab Denan cengengesan. Denan pun kembali masuk dengan semua pakaian itu.
Akia sendiri sudah selesai dengan aktivitasnya, Ia segera mengendap keluar saat dirasa Denan tak ada di ruangan itu. "Bagus, pergi juga Bos Songong itu," gumamnya senyum-senyum sendiri.
Akia yang hanya menggunakan handuk kecil itu pun segera menuju ke lemari. Namun Ia terkejut kembali, saat Denan masuk tampak mengetuk pintu terlebih dahulu.
**********
__ADS_1
Tolong kasih Vote dong, like dan komen nya, kalau sudah mampir ke cerita ku... Terima kasih.....!!!