Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
Bab 42 Sambungan Telpon


__ADS_3

Revan juga sebenarnya kelihatan sedikit bingung, tapi akhirnya Ia memutuskan mengikuti beberapa mobil yang membawa Denan dan Akia kemana pun perginya, agar merasa aman juga sudah memastikan sendiri.


Setibanya di sebuah Hotel, Denan dan Akia segera dibawa menemui Rama yang sudah menunggunya seorang diri tengah berdiri mengaitkan kedua tangannya dibelakang punggung.


"Ada apa lagi Pa?" Tanya Denan yang geram dengan perlakuan Rama karena selalu melakukan melakukan sesuatu sesuka hati. Tidak perduli jika harus menekan hidupnya.


Rama berbalik dan menatap kearah Denan. Lalu melangkah mendekat pada Akia yang tertunduk takut. Pasti akan ada masalah yang ingin di dengarnya begitu pikir Akia.


"Dimana orang tua mu?" Tanya Rama pada Akia dengan nada penuh penekanan.


Akia pun meleguk salivanya, lalu menjawab apa yang memang Ia tahu. "Dikampung Pak," jawab Akia yang belum berani mengangkat kepala.


"Kampung? Jadi kamu tinggal di kampung? Dimana itu?" Tanya Pak Rama lagi kedua kali.


"Pedalaman Kota palembang, Pak. Saya tinggal di sana sejak kecil, dan saya merasa pernah kenal sebelumnya dengan Bapak. Maaf, jika saya salah," tukas Akia lagi. Ia sangat yakin Rama adalah orang tua sahabatnya yaitu Denan.


"Oya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Selidik Rama, terus melontarkan pertanyaan.


"Iya pak, bukankah beberapa tahun lalu Bapak pernah tinggal disan sebelum akhirnya pergi ke kota ini," jawab Akia yang masih saja menunduk.


Rama mulai penasaran, Ia yang memang berasal dari sana pun jadi ingin tahu tentang kehidupan Akia. "Siapa orang tua mu?"


"Dartam dan Ratih," jawab Akia singkat.


Setelah lama berpikir, hati Rama mulai membenarkan pernyataan Akia tentang kejujuran gadis itu. "Ow, jadi kamu Akia anak Dartam yang sering merantau ke kalimantan itu rupanya," tebak Rama seraya tersenyum.


"Benar Pak, jadi Bapak sudah ingat?" Barulah Akia berani mengangkat kepala menatap Rama.


"Telpon Ayah mu aku mau bicara?" Pinta Rama kemudian.


Lama berpikir, Akia meragu untuk melakukannya. "Tapi Ayah sedang sakit Pak, apa dia bisa di ajak bicara?" Wajah yang tadi tegang kini berubah mendung hingga tetesan hujan mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


"Sakit apa?" Rama tak kunjung selesai ingin mendapat kan semua jawaban atas pertanyaannya itu.


"Gak tau , Pa. Kata saudara ku serangan jantung," jawab Akia tampak sangat sedih. Ingin sekali pulang namun belum punya uang sama sekali. Dimana Ia juga butuh dana untuk operasi sang Ayah.


"Tunggu dulu!" Potong Denan yang jadi bingung dan aneh ada yang tak lazim. " Pa, apa Papa mengenal keluarganya? Benar, kita juga dulunya berasal dari kampung?"

__ADS_1


Rama hanya menatap tajam ke arah Denan dan tak menjawab lalu kembali fokus pada Akia semakin menambah ruwet benak Denan. Bukan karena tak ingin memberi tahu, tujuan Rama adalah agar Denan tidak terkejut karena Amnesia yang di deritanya belum di nyatakan pulih.


"Telpon saja!" Titah Pak Rama lagi karena belum melihat niat Akia.


Dengan tangan bergetar, Akia pun merogoh ponsel bututnya dari saku baju lalu menelpon melalui nomer ponsel milik Vivia.


"Laundspeaker!" Pinta Pak Rama lagi.


Akia pun menurut untuk membesarkan volume yang agak gemerek, dimana suara Vivia langsung menggelegar dengan kasar.


("Halo, kenapa? Apa kamu sudah dapat Uangnya? Kita butuh dengan segera, Ki?")


Akia menelan liur tak enak, mendengar ucapan Vivia yang diketahui banyak pasang mata.


"Sa- sabar Vi, aku sedang cari pinjaman," jawab Akia asal.


("Kamu ini gimana sih, Ayah butuh uang untuk operasi secepatnya, kamu mau terjadi sesuatu sama Ayah ha, jika mengulur-ulur waktu?") Timpal Vivia sinis.


("Iya Ki, Ibu capek ngerawat Ayah mu, dia jadi sakit-sakit setelah kamu pergi ke Jakarta, kamu juga belum pernah kirim Uang ke kampung,") sahut Ratih yang ikut nimbrung.


"Maaf Bu, aku kan belum sebulan disini jadi aku belum mendapat gajih," lirih Akia terpaksa menebalkan muka untuk menjawab.


"Aku akan beri kalian Uang, jika aku bisa berbicara dengan Pak Dartam," tukas Rama tegas dan mantap.


("Lo, ini siapa Ki?") Tanya Ratih yang bersi tegang dengan Vivia.


"Saya adalah Rama, Bos tempat Akia bekerja," jawab Rama lagim


("Ow Pak Rama, ada perlu apa Pak sama suami saya?") Tanya Ratih yang tiba-tiba suaranya terdengar melembut. Pasti Vivia langsung menyerahkan ponsel itu hingga beralih ke sang Ibu.


"Lakukan saja, bisa!" Timbal Rama singkat. Karena Ia paling tidak suka berbasa-basi


("Oya iya tunggu sebentar saya kasih kan dulu ke suami saya,") tukas Ratih kemudian.


Sesaat kemudian, Mereka mendengar suara lemah milik Ayah Akia, yang artinya Ratih dan Vivia tidaklah berbohong sama sekali.


("Halo, Ki, ndok gimana kabar kamu nak?")

__ADS_1


Rama yang mengerti membiarkan Akia berbicara untuk melepas kangen.


"Ayah, apa Ayah baik-baik saja?" tanya Akia yang langsung merespon suara yang selalu dirindukannya itu. Wajahnya berubah ceria walaupun air matanya terus berlinang.


("Gak usah pikirkan Ayah nak, Ayah gak mau kamu sedih, Ayah juga ikhlas kalau Sewaktu-waktu Allah memanggil Ayah, kamu baik-baik di sana ya,") tutur Dartam untuk menenangkan putrinya itu.


"Kenapa Ayah bicara begitu, aku akan cari uang kok buat berobat Ayah walaupun aku harus melakukan apa pun untuk mendapatkannya," jawab Akia terus berderai air mata.


("Tidak nak, Ayah tidak ingin kau menjual harga diri, demi Ayah, karena Ayah tidak akan memaaf kanmu jika sampai itu terjadi,") sahut Dartam lagi.


"Putri mu tidak akan menjual diri Pak Dartam!" Sahut Rama.


("Lo ini siapa?") Tanya Dartam yang terdengar sangat lemah.


"Aku Rama tetangga mu dulu?" Jawab Rama.


("Iyakah, Pak Rama yang sukses itu ya. Yang dulu bekerja sebagai pegawai magang?") Tanya Dartam di balik suaranya yang nampak terkejut.


"Iya, kamu benar itu aku."


("Alhamdulilah, putri ku bertemu dengan mu rupa nya, Pak, saya titip Akia ya!") Pinta Dartam.


"Saya akan jaga anak mu jika kamu mau menjadi wali nikah Akia!" Tukas Pak Rama.


("Apa Pak, nikah?") Mengejutkan itu pasti.


"Iya, saya ingin menjodohkan mereka?"


("Bapak tidak sedang bercanda?") Pak Dartam belum sepenuh nya percaya.


"Tidak Pak, dia akan saya nikahkan dengan Denan sahabat kecilnya," yakin Rama.


Denan kaget dan merasa pusing seraya memegang kepalanya terbersit bayangan saat Ia dan Akia bermain di Taman rekreasi ketika mendengar ucapan Rama barusan.


("Apa Akia setuju?") Pak Dartam meragukan hal itu, karena seperti mimpi.


"Tentu Pak. Mana mungkin saya nikahkan mereka jika bukan karena mereka saling mencintai bukan," jawab Rama lagi sambil melirik Akia.

__ADS_1


("Kalau begitu saya akan menyetujui mereka, walau pun kondisi saya tidak baik saat ini,) jawab Dartam senang.


"Hari ini, Kami akan datang dan menikahkan mereka disana," jelas Rama lagi tersenyum membuat keduanya tersentak kaget.


__ADS_2