Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil
35 Sarapan Bersama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


... ...


“Kok lo polos banget sih Afnan?” tanya Arya heran entah kepada siapa, sedangkan disisi lain Aksa sedang memberi pengertian terhadap cowok polos itu. “Kapan dewasanya.”


“Lo heran sama Afnan, lo sendiri gak sadar diri,” cetus Zefano pada sahabatnya itu.


“Gue kenapa?”


“Malah nanya, lo sadar gak di sini tempat hiburan untuk melepas sebentar segala penat yang ada. Lah elo malah menambah beban, kesini malah belajar heran gue ama lu.” Zefano kesal sendiri oleh kebiasaan sahabatnya itu. Memang semua sahabatnya tidak ada yang normal, disaat semua orang malas dan tidak suka belajar, sahabatnya malah kecanduan belajar.


“Gue belajar biar masa depan gue cerah, gak kaya lo!”


“Anjir, tau apa lo? Lagian gue udah kaya, masa depan gue cerah.”


“Alah, beban lo.” Arya tak dapat berkutik dengan lontaran Zefano, walaupun terlihat santai ia adalah pewaris tunggal dalam keluarganya. Sudah dipastikan bahwa Zefano juga sudah masuk dalam dunia dewasa, karena mesti perlahan untuk beradaptasi dengan yang namanya perkantoran.


“Ck!!” decak Zefano sedikit kesal tapi malas meladeni Arya yang mengatainya beban. “sanmori skuy!”


Mendengar ajakan Zefano, Roy mengangkat sebelah alisnya. “Kapan?”


“Hmm ... Gimana kalau 2 minggu lagi?”


“Gimana?” tanya Roy pada yang lain.


“Gue sih oke, gimana Ngga?” tanya Aldi pada Erlangga yang mendapat jawaban setuju darinya.


“Puncakkan? Seperti biasa?” tanya Refdy


“Yoi, lagian baru 2 kali pas kita kumpul semua kepuncak,” ujar Zefano menjawab pertanyaan dari Refdy.


 


.... . ....


 


Awal pekan yang lumayan memberi semangat bagi seorang pelajar sepertinya, itu terbukti dari penampilan maupun kebutuhan sekolahnm sudah terta rapi dan siap dari pukul 6.30 tadi pagi. Saat ini seorang Kanaya Amelia putri sedang menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan, dan sarapan bersama orang-orang yang disayanginya.


“Pagi Bunda, Pah!” sapa Kanaya sumringah ke arah kedua orang tuanya sambil mencium kedua pipi mereka. “Sarapan apa hari ini?”


Bunda menyahut dari arah pentry sambil membawa sarapan pagi ini. “Pagi juga sayang, sarapan kesukaan kamu.”


“Wow, Omelet Nasi Goreng Keju,” pekik Kanaya heboh Lalu mengerucutkan bibirnya lucu setelahnya. “Yah bunda, gagal diet deh Naya.”


“Heh, sejak kapan ada diet-dietan, udang kurus gitu mau jadi lidi kamu?” ujar Adiwijaya sambil mentertawakan putri semata wayang itu.

__ADS_1


“Iihh Papah kaya gak tau anak muda aja,  kan putri kita ini sudah punya pacar wajar kalau harus memperhatikan penampilan.”


Spontan Kanaya tersedak air putih yang diminumnya setelah mendengar penuturan sang bunda yang kelewat santai. “Sejak kapan Naya bilang punya pacar?”


Alana yang gemas akan putrinya itu pun berkata, “Gak usah di tutup-tutupin sayang, Bunda sama Papah kamu setuju kok.”


“Setuju apaan sih Bun,” ujar Kanaya pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Alana.


“Maaf Teh mengganggu.” Salah seorang pembantu keluarga Kanaya memberhentikan pembicaraan yang mengejek Kanaya pagi ini.


“Iya Ada apa Bi?” tanya Alana


“Ada tamu diluar.”


“Siapa?”


“Sepertinya taman Neng Kanaya.”


“Ira yah?” ujar Kanaya ikut bertanya.


“Bukan Neng Anaira, soalnya cowok.”


“Cowok? Siapa?” Saat Kanaya bertanya siapa tamu cowok di pagi-pagi buta ini. Tiba-tiba Alana berdiri dari duduknya lalu menyuruh Bi Siti untuk ke pentry mengambil Omelet yang sepertinya itu Omelet Nasi Goreng Keju jatah kedua Kanaya. Sedangkan Alana melenggang keluar dari ruang makan.


“Tamu Mama ya Pah? Kok, anak SMA.”


“What? Gak ....”


“Sini menentu bunda duduk di sebelah Kanaya, belum sarapankan? Sarapan dulu yuk.”


“Pagi Om!” sapa Erlangga Ramah pada Adiwijaya yang dibalas deheman singkat olehnya. Selanjutnya Erlangga menatap Kanaya yang sedang melototkan matanya, tak percaya ke arah Erlangga. melihat hal itu, ia pun menyungingkan sudut bibir sekilas.


“Syukur kamu datang Angga, soalnya tante bikin sarapan kelebihan satu.”


Mendengar penuturan sang Bunda, Kanaya pun lantas melayangkan protesnya tanda tak terima. “Kelebihan apanya, itu kan jatah Kanaya.”


“Bukannya kamu bilang tadi lagi diet?”


“Bunda ih, kan tadi cuman bercanda.”


“Bercanda toh, ya udah besok-besok bunda buat-in lebih banyak. Sekarang omeletnya buat Angga dulu yak,” bujuk Alana pada Kanaya yang masih betah dengan wajah masamnya itu. “Senyum dong, nanti cantiknya hilang loh.”


Kanaya pun menampilkan senyum palsunya ke arah Alana, yang mendapat gelengan kepala dari Adiwijaya.


Semua orang yang ada di ruang makan tersebut pun memulai kembali sarapan di pagi senin, termasuk juga Erlangga yang kali ini menjadi bagian dari mereka.


“Biasanya geng motormu mengadakan acara apa?” ujar Adiwijaya memulai percakapan.

__ADS_1


Ayolah kenapa sang Ayah juga meminati suatu perkumpulan yang Kanaya benci, hal itu berhasil membuat Kanaya semakin dongkol pada pagi ini.


“Banyak Om, termasuk penggalangan Dana untuk korban bencana alam, orang miskin dan anak-anak panti Asuhan.”


“Lumayan positif yah, gue kira lo tau nya tawuran doang,” ujar Kanaya mencibir cowok yang ada di sampingnya itu.


“Makanya kamu gak boleh menilai seseorang dari covernya aja,” kata sang bunda ikut menimbrung.


“Bunda apaan si, malah bela-in,” sewot Kanaya.


“Yang Bunda kamu bilang itu bener Nay.” Bahkan sang Papah mun membela si brengsek sialan itu. Oh ayolah, kenapa hobi Papahnya sama dengan cowok mesum itu pikir Kanaya. Dan mereka mulai akrab setelah kunjungan Erlangga minggu lalu, yang entah kapan.


 


Flashback on


Sebuah motor sport memasuki pekarangan rumah keluarga Adiwijaya putra. Terlihat lelaki gagah dengan pakai-an casual, antara blazer Hoodie serta kois hitam polos sebagai daleman, berpadu dengan celana jeans  hitam selutut. sedang melepas helm Fullface nya.


“Pagi tante!” sapa Erlangga ramah pada Alana.


“Pagi juga, nak Angga. Duduk dulu sayang,” ujar Alana menunjuk kursi yang ada di sampingnya yang dibatasi oleh meja kecil. Tanpa pikir panjang Erlangga pun mendudukkan dirinya pada kursi yang dimaksud Alana tadi.


“Om nya mana tante?” tanya Erlangga


“Wah, langsung cari suami tante ini? Gak nanya-in Kanaya?”


Erlangga pun memandang ke arah Alana dengan tatapan tanda tanya, Alana pun tersenyum puas akan reaksi yang diperlihatkan oleh erlangga.


“Kanaya ada di kamar, paling lagi baca novel dia. Mungkin gak akan keluar kamar kecuali kalau lagi lapar tuh anak. Kamu mau jenguk Kanaya di kamarnya?”


Mendapat pertanyaan tersebut Erlangga pun menggelengkan kepalanya, seperti niat awalnya dirinya datang kesini untuk memenuhi perintah dari Papah dari Kanaya.


“Yaudah kalo gitu, suami tante ada di halaman belakang sedang mendandani motor kesayangannya. Samperin guh, nanti tante bikinin jus, tante ke dapur dulu.”


Erlangga terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya, ternyata Papah dari seseorang yang membenci para peminat motor penyuka motor juga. Erlangga pun beranjak dari tempat duduknya setelah Alana masuk ke dalam rumah, dan ia pun menuju ke tempat yang diarahkan oleh wanita paruh baya yang terlihat awet muda itu.


Sesampainya di tempat yang di tunjukan Alana, terlihat seorang lelaki paruh baya yang masih tampak gagah sedang melap santai motor klasik. Ternyata selera seorang Adiwijaya tidak jauh berbeda dengan dirinya, Erlangga pun menyapa Papah dari Kanaya itu setelah berada dihadpannya.


“Pagi Om!”


 


...🍁🍁🍁...


... ...


Typo Bertebaran🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2