
...🍁🍁🍁...
... ...
“Sshhh ....” Kanaya meringis pelan kala cairan alkohol yang berada di atas kapas, menyentuh permukaan kulitnya yang penuh luka bekas cakaran.
Saat ini Erlangga dan juga Kanaya berada di UKS, mereka hanya berdua saja di dalam sana setelah Erlangga berhasil menyuruh PMR yang sedang bertugas keluar. Ia pun mengambil kotak P3K, dan mengobati Kanaya dengan telaten.
“Sakit?” tanya Erlangga sambil mengurangi tekanan kapas pada kulit putih Kanaya.
Kanaya hanya diam tak menjawab, ia hanya memperhatikan wajah Erlangga yang begitu serius dan penuh kelembutan. Berbanding terbalik saat mereka ada di kantin, dengan tega ia menampar Olivia yang notabenenya adalah seorang perempuan. Dan sekarang dirinya hanya berdua saja di ruangan ini, takut tentu saja, apakah dirinya akan bernasib sama dengan Olivia jika terus bersama lelaki kejam di hadapannya itu.
“Nanti kita ke rumah sakit, untuk obatin luka lo biar gak menimbulkan bekas.”
Kanaya malingkan wajah, mengingat betapa bengisnya cowok itu. Untuk mengusir pun ia terlalu takut, jadi hanya bisa sabar menunggu cowok itu pergi dengan sendirinya.
Selama dirinya sekolah di SMA ini, ia tak pernah sekacau ini paling jika berkelahi pun hanya sebatas adu mulut, dan itu tak sampai diseret ke ruang BK. Sekarang setelah kenal cowok beradal seperti Erlangga, semua berubah dari yang mengejak atau membullynya walaupun tak terlalu parah. Kata mereka sekeras apapun Kanaya membela diri selama Erlangga berada dipihak mereka maka akan sia-sia, mereka merasa Erlangga berada dipihak mereka setelah Kanaya jadi asisten ketua geng motor itu dan menganggapnya sepagai babu.
Dengan kecantikan dan kepintaran dan manjadi Idola para cowok di sekolah, tentu saja banyak yang iri terhadap Kanaya. Apalagi kaum perempuan begitu iri hati atas ke populeran Kanaya, dan mereka bahagia setelah dirinya dinobatkan sebagai babu, karena membuat kesalahan fatal terhadap Erlangga.
Sebelum ke jadian ini, ada beberapa murid dengan berani menyuruhnya macam-macam dari membelikan jajanan, minuman, sampai menyuruhnya menggantikan posisi seorang yang sedang piket kelas. Tentu saja Kanaya menolak, dan sekitar 2 kali dia mengiyakan permintaan itu dengan meyakinkan dirinya ia hanya sedang membantu.
Hal-hal yang dilakukan para murid-murid itu dilaur sepengetahuan Erlangga, sehingga mengira Kanaya baik-baik saja. Bayangkan saja jika Erlangga tahu pasti dibikin kacau sekolah ini.
Erlangga hendak memegang dagu Kanaya, karena ingin mengobati luka yang ada di bagian lehernya. Sebelum hal itu terjadi Kanaya menarik diri “Lo bisa pergi.”
Erlangga terdiam sebentar, lalu melanjutkan kegiatan yang akan dilakukannya tanpa memperdulikan ucapan Kanaya. “Angga pliss, lo pergi dari sini. Gue ingin sendiri, gue harap lo bisa ngertiin gue kali ini.”
“Gue gak bisa ninggalin lo,” ujar Erlangga menatap Kanaya datar.
“Gue perlu ruang Angga, pliss!”
Atas permohonan Kanaya yang begitu sungguh-sungguh, Erlangga pun pergi meninggalkan Kanaya yang menatap nanar kepergiannya.
“Ini mudah, gue bisa laluin ini,” gumam Kanaya pada dirinya sendiri, sedikit trauma jika harus berdekatan dengan orang berdarah dingin macam Erlangga.
__ADS_1
“Widih, hebat juga si bos, baru sebentar sekolah di sini udah masuk BK aja,” ujar Refdy setelah melihat Erlangga dan Kanaya memasuki kelas sehabis dari ruang BK
“Mentang-mentang belum masuk BK lo Ref, bantar lagi masuk keruangan panas itu lo,” ujar Aldi menimpali omongan Refdy
“Eettss ... Doa itu yang baik-baik dong,” sewot Refdy ketika sayup-sayup mendengar doa dari kalimat yang dilontarkan Aldi. “Paling juga Jingga yang selanjutnya bakal masuk BK.”
“Ck, gue anak baik ya, jarang masuk BK,” kata Jingga sedikit datar, pasalnya ia sedang fokus dengan ponsel.
“Ndasmu!” umpat Refdy kepada Jingga yang berlagak jadi anak baik. Jingga kan teman yang setia untuk menemaninya masuk ruangan yang akan membuat telinga panas.
“Mau kemana Ngga?” tanya Aldi kala melihat Erlangga mengambil tasnya yang ada di atas meja.
“Ke rumah sakit,” Jawab Erlangga datar.
“Ngapain? Lo juga Nay?” tanya Aldi pada Kanaya yang juga menyomot tasnya, Kanaya hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan pertanyaan Aldi.
Karena paham mereka tak banyak bertanya lagi. Masalah izin tentu saja mudah bagi Erlangga, dan pasti ia mendapatkannya.
“Hati-hati Kanaya, kamu akan baik-baik aja sama Angga, Angga baik kok orangnya.”
Sepeninggal Erlangga dan Kanaya ketiga semprol itu tampak diam sebentar memikirkan sang ketua dengan gadis yang baru dikenalnya, lebih tepatnya Refdy dan Aldi soalnya Jingga diam karena berbalas pesan dengan seseorang.
“Sepertinya Angga suka sama Kanaya,” ujar Aldi memulai percakapan.
“Iya, tapi gimana kalo tiba-tiba cinta pertamanya itu muncul?” tanya Refdy bingung pasalnya iya tau betul sesetia apa Erlangga. “Bisa saja Kanaya akan ditinggalkan.”
“Yap, dia yang nanya dia yang jawab.” Aldi menggelengkan kepalanya. “Soalnya dia sendiri sih begitu, ada yang lebih baik yang lama ditinggalkan,” sindir Aldi menohok.
“Enak aja gue setia woy,”
“Preett!”
“Iya gak Jing?” tanya Refdy pada Jingga yang masih asik sendiri, Refdi mengerutkan dahinya bingung. “ngapain lo? Dari tadi hp mulu gak biasanya.”
__ADS_1
“Ooo ... Lagi chatingan sama cewek waktu itu,” ujar Aldi yang mengintip handphone Jingga dari belakang.
“Serius? Siapa namanya?”
“Namanya Luna cantik kek orangnya.” Jingga mendilik ketika mendengar pujian sahabatnya itu, jangan sampai mereka merebut Luna darinya.
“Sini, sini, sini gue minta nomornya.” Baru Refdy ingin merampas handphone Jingga guru mapel pun datang untuk mengejar. Dengan cemberut Refdy pun ke meja yang ditempatinya, karena gagal untuk menjalankan aksinya.
Ketika di parkiran Erlangga tampak berpikir membawa Kanaya ke rumah sakit menaiki motor sport itu, Erlangga pun menelpon salah satu pagawai di rumahnya untuk membawakan mobil ke sekolah.
“5 menit!” titah Erlangga tak mau di bantah, bayangin aja kek gimana cepatnya mobil melesat. Karena apabila telat, dan tak sesuai dengan apa yang diinginkan tuan muda meraka pasti akan dihukum berat.
“Tunggu 5 menit, nanti mobil gue datang,” ujar Erlangga sambil menggenggam tangan Kanaya, dan membawanya ke area pohon di dekat parkiran untuk berteduh.
“Kenapa gak pakai motor aja?” tanya Kanaya.
“Panas.”
“Gak papa kali.”
“Nanti luka lu kering.”
“lah, malah baguskan.”
Erlangga tak menanggapi lagi apa yang diucapkan gadis yang berada disampingnya itu.
Sesuai dengan apa yang diperintahkan, mobil itu pun sampai tepat waktu di sekolah. Bergegas Erlangga membukakan pintu untuk Kanaya, percayalah Kanaya adalah perempuan pertama yang dibukakan pintu oleh Erlangga setelah Mama dan Kakaknya tentu saja. Ketiga jadinya yak, ya kan maksudnya pertama yang tidak memiliki ikatan darah.
Dengan kecepatan sedang, Mobil mewah keluaran terbaru itu pun melesat pergi meninggalkan area sekolah. Untuk membelah keramaian kota Jakarta yang sudah mulai terasa panas, karena pagi yang akan berganti siang.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
... ...
Typo Bertebaran 🙏🙏