
...🍁🍁🍁...
... ...
“Astaga Naya lo ngaret.” Terdengar suara kesal di seberang sana “Sudah jam berapa ini, gue udah dari tadi siap.” Lanjutnya lagi, dia adalah Anaira yang sejak tadi misuh-misuh tak karuan, bolak balik menghubungi Kanaya tanpa henti.
“Ya elah baru kali ini gue ngaret Ra, lo yang sering ngaret B aja gue,” ujar Kanaya walaupun sedikit kesal dengan tingkah Anaira, tapi tak bisa mengelak kali ini dirinya emang telat tak seperti biasanya.
“Ini tuh beda Naya sayang! Kalo gue yang telat itu wajar, karena udah biasa.”
“Eehh ... Mana ada hal seperti itu, kalo gue telat ya lo harus maklumin juga dong.”
“Gak bisa, nanti lo terbiasa telat juga kek gua.”
“Sadar lo ama kebiasaan busuk lo.”
“Ya iy ... Eh! Sialan lo. Udah ah lo di mana sekarang?”
“Di jalan, bentar lagi sampai.”
“Jadi, kenapa lo telat,” tanya Anaira lagi di seberang sana.
“Ya ampun Anaira ....” kesal Kanaya pada Anaira yang masih mempersalahkan keterlambatannya. “Gue kesiangan puas lo!” lanjut Kanaya dengan geram akan sahabatnya itu.
“Kesiangan? Yakin lo? Biasa ....” ucapan Anaira terhenti ketika sambungan teleponnya dimatikan secara sepihak oleh Kanaya.
“Gila di matiin,” umpat Anaira sambil memungut tas selempang nya yang ada di kasur lalu bergegas keluar kamar.
“Pagi Pah, Mah!” sapa Anaira pada orang tuanya yang berbeda di teras, Papahnya yang sedang baca koran sambil menyeruput kopi, sedangkan Mamah Anaira sedang menyiram tanaman kesayangannya.
“Udah menjelang siang ini ra,” ujar Bagas, Papahnya Anaira tanpa sedikit pun berpaling dari menatap koran yang di bacanya.
“Kan sudah tadi pas sarapan kamu ngucapin selamat pagi, kaya gak ketemu aja,” ujar Juwita Mamahnya Anaira menggelengkan kepalanya tanpa berhenti dari kegiatan nyiram tanaman.
Anaira pun mencabikan bibirnya lucu. “Ya kan Ira ngucapin berapa kali gak masalah kan pah.”
Anaira mengerjapkan matanya lucu ke arah Papahnya yang asik baca koran itu.
“Ih ... Papah liat Anaira dong,” ujarnya dengan nada manja
“Iya Ira, gak papa berapa kali pun tapi tahu waktu,” ujar bagas sambil menatap muka putrinya. “itu kenapa muka kamu masam gitu, terus di kasih liat ke Papah lagi.” Lanjut bagas sambil mengedikan bahu lalu menyeruput kopi nya.
__ADS_1
“Kopinya jadi ikutan masam habis liatin kamu Ra.” Bagas berujar dengan ekspresi seperti orang kemasaman yang di tunjuk ke Anaira.
“Papah iih, muka Anaira yang lucu, imut, gemesin ini di bilang masam,” kesalnya lalu duduk di kursi sebelah ayahnya.
“Imut dari mananya?” tanya Juwita dengan nada jahilnya.
“Mamah!” pekiknya kesal.
“Jadi jalan-jalan sama Kanaya?” tanya bagas. “lebih tepatnya menghamburkan uang Papah.” Lanjut bagas dengan lirihan yang masih bisa didengar oleh Anaira.
“iihh Papah, jadi lah Ira udah siap gini,” kesal Anaira yang begitu menjengkelkan. “lagian yah Pah, Papah tuh tajir tujuh turunan jadi gak mungkin habis harta Papah hanya karena Ira shopping,” paparnya Anaira menjelaskan.
“Tajir tujuh turunan dari mana ck ... ck ... ck ....” Bagas berdecak mendengar apa yang di paparkan putri bungsunya itu.
“Ya elah papah doa kali pah, semoga aja.” Perkataan Anaira itu hanya di balas anggukan singkat oleh sang papah.
“Raffa mana pah?” tanya Anaira pada sang Papah “wah, jangan-jangan masih molor tu bocah, pantes gak ikut sarapan tadi pagi,” tuduh Anaira yang tak mendasar.
“Pake Abang sayang! Raffa lagi nyuci motor, habis senam pagi dia,” ujar Juwita yang hampir selesai dengan kegiatannya.
Kanaya hanya ber oh ria merespon ucapan sang Mamah, sambil memandangi kakaknya yang asik mencuci motor kesayangan itu
“Uy bang, gak ngapel lo?” tanya Anaira sambil nyengir.
“Pacar dimanjain, giliran adik sendiri dinistain,” gerutu Anaira karena sang kakak lebih milih pacar dari pada dirinya padahal aslinya mah enggak, Anaira aja yang cemburuan.
“Makanya cari pacar, biar gak gangguin abangmu terus,” ujar bagas pada putrinya yang jomblo itu.
“Nanti dicari pah, belum ada yang tepat.”
“Belum ada yang tepat apa, kamu aja yang ke asikan pacaran sama handphone.” Anaira yang baru saja ingin mengeluarkan ponselnya pun urung, mendengar perkataan Papahnya dan ia hanya bisa menampilkan cengiran bodoh yang khas.
“Tuh Kanaya Dateng,” ujar Juwita kala netra nya menangkap kehadiran Kanaya yang sedang menuju teras rumah tempat berkumpul keluarga sahabatnya itu.
“Pagi Om, tante!” sapa Anaira dengan riang.
“Menjelang siang,” ujar Bagas yang tak di indah kan oleh Kanaya yang sedang polonga-polongo ke dalam rumah seperti mencari sesuatu, Juwita yang melihat suaminya di kacangin oleh Kanaya pun terkikik geli.
“Pantas pada jomblo kelakuan sama pada minus,” ujar Bagas lumyan nyaring tapi malah dikacangin oleh kedua remaja itu, akhirnya Bagas pun kembali membaca koran dan tak ingin memperdulikan kedua bocah itu.
“Nyariin siapa lo?” tanya Anaira yang yang paham dengan gelagat sahabatnya itu, merasa dirinya ditanyai Kanaya pun menoleh ke arah Anaira dengan ekspresi nyengir tak jelas.
__ADS_1
“Kak Raffa mana?” tanya Anaira dengan polosnya.
“Sial gak ada jaim-jaim nya lo nanyanya.”
“Ck, jawab kek dulu baru ngedumel.”
Anaira pun memutar bola matanya males. “Tuh nyuci motor, kenapa?”
Kanaya pun menoleh ke arah yang ditunjukkan Anaira, tanpa menjawab pertanyaan Anaira.
“Kak Raffa!” seru Kanaya kepada Abang dari sahabatnya itu, sang empunya nama pun memejamkan mata ketika dirinya dipanggil oleh sahabat adiknya itu.
“I LOVE YOU!!”
Sontak orang tua Anaira pun menoleh ke arah Kanaya lalu menoleh ke arah putri mereka yang sedang menggigit bibirnya karena malu mempunyai sahabat yang benar-benar minus akhlak, merasa dirinya ditatap oleh kedua orang tua nya.
Dirinya pun membuka suara. “Bukan sahabat Ira.”
Raffa yang sudah menebak apa yang akan diteriakan oleh Kanaya pun membuka matanya, lalu mendelik ke arah Kanaya. Walaupun sedikit jauh Raffa masih bisa melihat bagaimana ekspresi Kanaya yang sedang menggunakan poppy eyes, dan dirinya hanya bergedik ngeri membayangkan bagaimana jika ia saat ini berada di dekat gadis itu.
“Kak Raffa balas dong.”
“Ogah!!”
“Cuih, mentang-mentang udah punya cewek lupa main ama kita, iya gak Ra?” tanya Kanaya pada Anaira yang dibalas anggukan mantap olehnya.
“Makanya kalian ....”
“Udah Nay, kita berangkat.” Anaira pun menarik tangan Kanaya sebelum mendapat ceramah dari Bagas. Ucapan Bagas yang terhenti karena ulah putrinya itu hanya menggelengkan kepala, lalu kembali menyeruput kopi menatap kepergian kedua gadis laknat itu.
Sebelum itu Kanaya pun kembali berteriak. “Kak Raffa kiss bye dulu, emuach.”
“Gue terima, nanti gue kasih ke yang membutuhkan.” Mendengarkan penuturan Raffa Kanaya hanya bisa mengerucutkan bibirnya gemas.
“Jangan lupa cari pacar yah hahaha,” teriak Raffa diiringi gelak tawa olehnya.
...🍁🍁🍁...
... ...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏