
Ceklek!
Ia memberanikan diri membuka pintu dan melihat Denan tengah tertidur diatas ranjang.
Akia memperhatikan Denan yang tertidur ngawur sampai Kakinya tergantung dibawah lantai.
"Dasar, tidur apa pingsan Bos!" Sungut Akia melipatkan tangan di dada.
Akia pun membulatkan mata, saat melihat jepitan rambut ditangan Denan.
"Ha, inikan jepitan milik ku, berarti Denan benar-benar menyimpannya," jengah Akia sembari meraih benda murahan itu.
"Den, Denan!" panggil Akia kemudian. Ia takut terjadi sesuatu pada Denan.
Akia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Denan untuk memeriksa nafas Denan. Namun tiba-tiba tangan Denan membekap tubuhnya hingga Ia terkejut.
Cup!
Denan mendaratkan kecupan dibibir Akia hingga Akia terkejut dua kali. Akia yang gugup pun berusaha melepaskan diri dari dekapan Denan. Tapi Denan menahannya.
"Mau kemana sahabatku? Bukan, bukan, tapi istriku," desis Denan tersenyum manis. Senyuman maut yang meluluh lantahkan hati Akia.
"Apa, kamu sudah ingat sama aku?" Tanya Akia terkejut.
Denan mengangguk.
"Aku sangat merindukan mu," lirih Denan lagi.
"Kalau begitu ini luar biasa Denan." Akia berucap spontan dengan polos tanpa malu pada Denan.
"Hm, aku pasti akan semakin gencar merusak milikmu itu kalau begini?" Ucap Denan menyeringai liar.
"Iya, bukan kah setiap malam itu terjadi. Apa kamu Amnesia masa kini?" Tanya Akia dengan yakin tanpa melepas tatapan.
Denan tersenyum simpul, Lalu merebahkan tubuh Akia disampingnya. "O ya dimana kalung yang ku berikan selama ini?" Tanya Denan yang berusaha mengalihkan pembicaraan dan ganti mengambil posisi duduk. Tujuannya Ia mengusap pipi Akia lebih lepas.
Akia pun melakukan hal yang sama dan menunjukkan kalung yang tergantung dilehernya.
__ADS_1
"Aku selalu memakainya, apa kau akan mengambilnya hari ini, padahal aku sangat menyayanginta?" Tanya Akia yang menatap lekat wajah Denan sambil memasang wajah manyun. Dan bibir itu jadi kian menggoda Denan.
Denan menggeleng, lalu menggenggam tangan Akia erat-erat. "Pakai saja, simpan itu untukku!" Pinta Denan. "Kenapa kamu mau menikah dengan ku?" Tanya Denan balik. "Apa kamu terpaksa melakukannya karena Papa mengobati biaya Ayah Dartam?" Seloroh Denan lagi.
"Henlm tidak, aku melakukannya karena kau adalah Cinta Pertama ku," jelas Akia tersenyum.
"Ha?" Denan ternganga mendengar ucapan Akia yang setelah sekian lama akhirnya hari ini Akia mengakuinya. Rupanya wanita itu sudah memiliki perasaan padanya sampai detik ini.
"Iya, aku menyukai mu sejak dulu, sejak kita masih sekolah menengah pertama." Akia menggaruk pelipisnya mengakui perasaan yang sudah lama disimpannya adalah hal paling memalukan tapi apa boleh buat toh Denan telah menjadi suaminya sekarang.
Denan pun menyeringai, bola matanya menjelajah setiap garis wajah Akia.
"Ternyata kamu bandel juga sampai menyukai ku sejak dulu. Apa itu sampai sekarang, bagaimana bisa, katakan padaku? Apa kau menjauhi semua pria yang menyukaimu?"
Akia menggeleng kecil
"Ya bisalah, gak ada ruang untuk ku buat mereka karena aku menyukai ketampanan dan senyum mu saja." Akia bertingkah polos sedikit merasa canggung dan tersipu mali.
"Apa kau juga menyukai ku sebelum tahu aku adalah Denan sahabat mu?" Denan menatap serius dan butuh sebuah penjelasan.
"Tidak, tapi aku juga menyukai senyum Bos ku yang Songong itu?" Jelas Akia lagi cengengesan.
Denan mencoba menggodanya sambil menggelitik Akia.
"Hahaha... Aw Denan, geli!" teriak Akia tak dapat menahan tawa. "Apa maksudnya bicara begitu? Aku setia kok pada Denan sahabat ku," timbalnya kemudian.
Denan menghentikan perbuatannya setelah mendengar penjelasan Akia. "Masak? Bukannya tadi kamu mengagumi senyum Bosmu itu, biar ku hajar saja dia ya?"
"Hehehe... Ayo lakukan. Aku ingin melihat dia sengsara ditanganmu," jawab Akia yang balas gurauannya.
"Aduh!"
"Kenapa Den?"
"Setelah di pikir-pikir aku jadi takut di penjara. Ya udah deh aku mau percaya saja sama kamu, toh kamu juga suka nya cuma sama aku kan?"" Desis Denan yang kembali menerbitkan senyum mautnya.
Sesaat setelah menatap Akia, Denan pun beranjak dari tempat duduk.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Akia yang menahan lengan Denan.
"Apa kau tidak mau meminta hak mu lagi?" Seloroh Denan.
Denan menoleh kearah Akia dan menatap dengan pandangan getir sembari menghela nafas kasar.
"Ha, aku tidak mau melakukannya, perih," tolak Akia.
"Ya sudah aku juga tidak mau, menjijikan," sambung Denan lagi.
Akia sedikit kaget, lalu ikut berdiri didepan Denan.
"Kenapa? Apa karena aku bukan orang kaya? Atau aku tidak cantik, tidak seksi kayak Zazhia model mu itu? Atau kamu malu kalau mengakui aku sebagai istri mu karena aku bekerja jadi OG di kantor mu? Kasih tahu alasannya aku akan memakluminya kok?" Pertanyaan Beruntun yang diberikan Akia kembali membuat Denan menghela nafas.
"Bukan itu!" sentak Denan kesal lalu melepaskan tangan Akia yang masih menggenggamnya dengan kasar .
"Lalu apa? kamu menyesal menikahi ku... hig... hig...." Akia langsung menangis sesenggukan. Entah mengapa Ia jadi manja dan mudah menangis saat Denan membentaknya. Padahal Denan sering membentaknya saat bekerja di kantor.
pletak!
Sentilan jari Denan mendarat di keningnya.
"Aduh sakit," keluh Akia mengusap keningnya yang sebenarnya tidaklah terlalu sakit Sambil masih menangis.
"Dasar Bodoh!" desis Denan. Kedua tangannya masuk ke kedua jaketnya dengan cool.
"Ia aku memang bodoh," sungut Akia yang berubah cemberut.
"Sejak kapan kau belajar manja, apa ada yang mengajari mu? Kau berusaha merayu ku kan?" Tukas Denan mendelik.
"Tidak, ini kemauan ku," elak Akia. Padahal Ia melakukan itu atas permintaan Yuni.
"Sudahlah, aku tidak akan menyentuh mu sedikit pun mulai sekarang!" Ketus Denan. Ia pun meninggalkan Akia yang masih terlihat manyun.
Akia tak mencegahnya lagi setelah mendapatkan penolakan mentah dari Denan. Sebenarnya Ia menyembunyikan rasa malu melakukan itu.
Tapi demi keinginan Rama dan Yuni yang sudah menyelamat kan Ayahnya, Maka Akia berusaha menggodanya terus menerus.
__ADS_1
Namun candaaan pagi itu membuat Denan malah benar-benar marah padanya.
Akia mendudukkan kembali bokongnya ditepi ranjang lalu memukul-mukul keningnya dengan tangan. "Dasar bodoh! memalukan, Bisa-bisa nya kamu menolak lebih dulu Akia. Apa kamu tidak malu diakan Bos mu, Bos mu yang kaya raya dan Songong pasti sangat marahlah. mana mau dia menikahi gadis miskin dan jelek kayak kamu. Aduh gak tau ah pusing. Tapi kenapa dia bilang menjijikan tadi. Apa donatku tidak menggoda hingga Ia bosan." Akia merutuki dirinya sendiri menyesal telah belajar menggoda Denan yang sebenarnya bukanlah sifat lahiriahnya sebagai kaum wanita.