
...🍁🍁🍁...
... ...
Sudah 5 hari sejak kejadian perkelahiannya dengan Olivia di kantin waktu itu, akan tetapi tidak membuat perubahan yang signifikan di dalam kesehariannya di sekolah. Mungkin ada beberapa hal yang terkadang mengganggu telinga saat suara-suara itu keluar dari orang-orang yang bencinya, akan tapi hal itu tidak dihiraukan oleh Kanaya.
Saat ini Kanaya tengah berjalan sendirian di koridor sekolah untuk menuju kelasnya, mungkin sebentar lagi bell masuk kelas juga akan berbunyi dan memulai kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Untuk sahabatnya yang heboh waktu tidak menemukan Kanaya setelah keluar dari ruang BK beberapa hari lalu, mungkin sudah nangkring di mejanya sekarang ini.
Iya, kata Anaira dia cukup heboh ketika tidak menemukan Kanaya di kelas setelah dirinya keluar dari ruangan panas itu, Anaira berencana akan mengobati luka sahabatnya itu karena ia tak percaya dengan Erlangga dapat melakukannya dengan benar. Karena wajah gadis itu terlihat panik, Aldi pun memberitahu Anaira kalo sahabat kesayangannya itu sudah di bawa Erlangga ke rumah sakit, yang lebih tepatnya ke dokter kulit untuk merawat dan mengobati luka Kanaya. Mendengar hal itu Anaira pun bernafas dengan lega.
Katanya babu tapi kek orang punya hubungan aja.
Munafik, koar-koar ngasih tau gak suka anak motor, eeh tau-taunya punya hubungan dengan anak motor.
Enak kali ya jilat ludah sendiri.
Cantik sih, pintar juga, tapi sana sini mau.
Dikasih apaan Angga ama tu cewek, biar mau ama dia.
Cueh, babu yang macarin majikan sendiri, rendahan emang.
Mudahan gosip dia pacaran ama Angga gak bener deh.
Masih ada muka si ***** masuk sekolah.
Udah pasti jual diri sama si Angga, makanya Angga mau belain dia.
Kurang lebih seperti itu desas-desus yang tak mendasar menyapa gendang telinganya, itu terdengar ketika orang-orang yang tak suka dengannya berpapasan di koridor. Selama 5 hari ini iya mendengar cemoohan itu, panas sih tapi terlalu mager untuk menyumpal mulut-mulut sampah itu.
“Kanayaaa!!” teriak Anaira heboh ketika melihat Kanaya berada di ambang pintu.
Kanaya merotasikan matanya. “Siapa yang manggil gue? Kok gak ada orangnya.”
“Ck, gak lucu tau gak.” Anaira berjalan ke arah Kanaya dengan decakan kesal khasnya.
“Ada ape?”
Mendapat pertanyaan itu, Anaira langsung menampilkan senyuman terindahnya lalu mengerjapkan matanya lucu.
“Ada maunya ni anak, iyakan?” tebak Kanaya sambil menunjuk ke arah Anaira. “Mau ape lo?”
“Nyontek skuy, kelupaan ngerjain PR tadi malam,” ujar Anaira dengan cengiran bodohnya.
“Sejak kapan lo ngerjain PR, kalo sudah ngerjain di rumah pun dari hasil contekan lo ama gue. Nih!”
“Makasih Naya cantik,” puji Anaira lalu melenggang pergi setelah mencium pipi Kanaya.
__ADS_1
Kanaya pun mengusap pipinya dengan kasar. “Mikisih Niyi cintik. Woy, pipi gue gak suci lagi yak gara-gara lo.”
“Damai-damai,” ujarnya yang melihat Kanaya tak santai berjalan ke arahnya.
Pagi ini pun sama seperti pagi-pagi sebelumnya yaitu moodnya hancur ketika menginjakkan kaki di sekolah ini, setelah sampai di mejanya ia pun menelungkupkan wajah di atas meja dengan tangan sebagai bantalan.
“Kenapa Nay?” tanya Anaira ketika ada gelagat tak biasa di sampingnya itu.
Mendengar pertanyaan itu Kanaya memalingkan wajahnya ke arah lain untuk membelakangi Anaira. “Gak papa, lo fokus nulis aja.”
“Omongan mereka gak ada yang benar nay, lo lawan lah,” sewot Anaira yang lelah melihat sahabatnya diinjak-injak, dan Kanaya malah membiarkannya.
“Nanti ... Kalo udah mood.”
“Ck, gue aduin entar sama anak-anak NightWolf.”
“Gak usah bawa-bawa mereka, gua bisa sendiri.”
“Kapan? Tahun depan?”
“Kalo mager gue ilang.”
“Serah lo dah, intinya gue selalu ada buat lo.”
“Hmm.”
“Gak ke kantin Nay?” tanya Anaira yang sepertinya masih mengerjakan PR tadi pagi, karena PR-nya akan dikumpulkan di jam kedua setelah istirahat pertama.
“Gak, lo?”
“Nanti deh, Kalo ini selesai tinggal dikit lagi.”
“Kantin,” ajak seseorang yang memiliki suara datar itu, dia adalah Erlangga.
Kanaya tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Erlangga, dan sepertinya juga tampak acuh dan tak peduli.
“Sakit?” tanya cowok tampan itu lagi, sambil menaruh punggung tangannya di dahi Kanaya, dan langsung di tepis kasar oleh gadis itu. “Enggak panas.”
“Ngga kita duluan yak,” ujar Aldi yang langsung dibalas anggukan singkat oleh Erlangga.
“Mie ayam 2.”
Aldi tampak bingung sejenak sebelum mendapat kedipan dari Refdy, yang dapat dipahami Aldi langsung.
Kanaya yang paham pun bedecak kesal. “Ck, lo ke kantin aja gue mager.”
__ADS_1
“Gak, di sini!” final Erlangga tak mau dibantah, Kanaya pun hanya bisa menenggelamkan kepalanya semakin dalam diantara kedua tangannya.
Tak seberapa lama makanan yang diperintahkan Erlangga untuk dibawakan ke kelas pun datang, dengan Aldi yang membawa 2 buah mangkok mie, serta Refdy yang membawa 2 buah air mineral botol.
“Silahkan dinikmati Tuan dan dan Nyonya,” ujar Refdy dengan gurauan untuk memecahkan keheningan dua insan yang tak mengeluarkan sepatah katapun dari tadi.
Aldi melihat keberadaan Anaira sedang tergesa-gesa menulis yang berada di belakang Erlangga, iya berdehem singkat dan Anaira pun menatapnya dan paham dengan isyarat yang diberikan Aldi. Anaira pun semakin kelimpungan dibuatnya, tak berapa detik akhirnya Anaira selesai menulis PR yang diconteknya dari Kanaya.
“Huft!” ujar Anaira menghela nafasnya lega lalu menyusul Aldi dan juga Refdy yang terlebih dahulu keluar dari dalam kelas.
Kini hanya ada Erlangga dan juga Kanaya yang berbeda di dalam kelas, untuk murid-murid yang biasa menghabiskan waktu di kelas dengan jajanan kecil di suruh keluar dari tadi oleh anak-anak NightWolf. Karena tak mau babak belur atau hanya tertinggal badan tanpa nyawa, lebih baik keluar dari pada berada di dalam kelas.
“Makan,” titah Erlangga agak lembut. “gue suapin.”
“Kenyang,” jawab Kanaya singkat.
“Lo kenapa?” tanya Erlangga selembut mungkin.
“Kenapa apanya?” tanya Kanaya balik yang masih betah menelungkupkan wajah.
“Kasih tau atau gue yang cari tau sendiri.”
Kanaya pun mengangkat wajahnya. “Lo bisa pergi.”
“Kasih tau!”
“Ck, lo bisa diam gak sih, gue bilang gak ada ya gak ada, gue pengen istirahat.”
“Lo capek?”
Kanaya memutar bola matanya jengah “Menurut lo? Kalo gak capek ngapain gue istirahat,” sewot Kanaya tak santai.
“Oke, hari Minggu ini lo gak papa gak ke basecamp.”
Kanaya mengangkat satu alisnya bertanda bingung. “Maksud lo?”
“Lo libur, lagian anak-anak ada acara?”
Kanaya hanya membentuk mulutnya dengan hurup o bulat, tanda mengerti.
Dalam hatinya ia bersorak gembira.
...🍁🍁🍁...
... ...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏