
...🍁🍁🍁...
“Pagi Om!”
Adiwijaya hanya berdehem singkat menanggapi sapaan dari yang katanya pacar dari putrinya itu, tanpa memperdulikan Erlangga, ia terus melanjutkan kegiatan mencuci motor kesayangannya itu.
Tidak ada pembicaraan antar keduanya sampai beberapa menit lamanya. Erlangga pun berjongkok untuk memperhatikan Adiwijaya yang sedang membersihkan bagian bawah motor, merasa ada pergerakan di sampingnya Papah dari Kanaya itu pun menoleh ke arah yang katanya pacar dari putrinya.
Adiwijaya tampak menyeringai melihat wajah datar itu sangat serius memperhatikan kegiatannya, Adiwijaya pun kembali melanjutkan kegiatan yang dikerjakannya kembali tanpa sepatah katapun. Sampai sebuah suara memecahkan ke hening-an yang ada di sana.
“Eehh Nak Angga sini minum dulu sambil nunggu Om selesai memoles selingkuhannya itu.” Alana sedikit berteriak untuk memperjelas sindirannya
“Bentar Tente!”
Beriringan dengan sahutan Erlangga, Adiwijaya menoleh ke arah istrinya itu dengan wajah memelas. Kenapa tega sekali istrinya ini mengatakan dirinya itu selingkuh dengan motor, kecintaannya dalam dunia motor jelas berbeda.
Asal tahu saja Adiwijaya adalah penggila motor sejak masih remaja, dan itu tidak berubah sampai sekarang. Bahkan saking gilanya dengan motor sampai lupa waktu dan lupa segalanya. Tak jarang saat Alana minta di temani ke supermarket untuk belanja bulanan, harus bersabar ketika suaminya itu sedang berurusan dengan motornya. Beberapa kali Alana memilih naik taksi untuk pergi belanja bulanan saking lamanya Adiwijaya berkutat dengan jagoan besinya itu.
Beberapa kali Alana ingin menjual motornya itu tapi urung karena kasihan dengan sang suami, yang mungkin akan sakit apabila hal itu terjadi. Maka tercetuslah nama selingkuhan untuk motor kesayangan Adiwijaya itu, tapi itu lebih baik dibanding sang suami selingkuh dengan wanita kurang belayan di luar sana.
Adiwijaya berdiri lalu menyodorkan busa pembersih ke arah Erlangga, yang di sodorkan pun menerimanya dengan santai. Setelah busa itu di terima Adiwijaya pun melangkah pergi meninggalkan Erlangga untuk mendatangi istri yang sudah duduk di kursi yang ada di teras belakang itu.
“Lanjutakan! Jangan sampai ada yang lecet,” perintah Adiwijaya mengiringi langkah kepergiannya.
Hal itu sangat mudah bagi Erlangga mengingat seberapa gilanya Ia dalam dunia perotomatifan, dengan keahliannya tak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan tugas dari Adiwijaya. Dan selesai dalam waktu 30 menit.
Adiwijaya tampak mengangkat alisnya melihat Erlangga sudah membereskan alat-alat pencuci itu. “Sudah selesai?”
“Sudah Om” Jawab Erlangga.
Adiwijaya pun melihat hasil kerja dari pacar putrinya itu, dan hal itu menimbulkan ekspresi kagum yang tercetak di wajahnya. Bagaimana tidak motor kesayangannya itu tampak bersih bahkan sampai bagian dalam motor itu tanpa mengenai bagian-bagian yang sensitif, mengingat motor ini adalah motor klasik.
Adiwijaya bertanya. “Kau menyukai motor klasik?”
Erlangga pun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Papah sang gadis. Dari sana lah pembicaraan mereka seputar motor terus berlanjut hingga sore, dan hal itu mampu membuat Alana menggelengkan kepalanya.
Flashback off
__ADS_1
Suara dentingan sendok serta garpu tampak menggema beradu dengan piring, tanpa ada sepatah kata pun. Kedua orang tua Kanaya terlihat begitu menikmati sarapan pagi ini tanpa terganggu sama sekali, berbeda terbalik dengan Kanaya yang wajah nya di tekuk semenjak kedatangan cowok yang ada di sampingnya itu.
Sedangkan cowok itu, kalian bisa menebaknya tidak ada sama sekali rasa bersalah atau terganggu yang tercetak di wajahnya, Erlangga sangat menikmati sarapan pagi ini dengan sesekali diiringi seringaian bahagia.
Beberapa menit berlalu, keluarga kecil dengan satu orang asing yang baru hari ini bergabung sudah menyelesaikan sarapan mereka. Erlangga yang baru saja selesai melap bibirnya dengan santai membuka suara. “Saya mau minta izin Om!”
Adiwijaya dengan tampang tak kalah santainya itu pun hanya menjawab singkat. “Izin apa?”
“Mau ngajak Kanaya Sanmori.”
“Kemana?”
“Puncak.”
“Kapan?”
“2 minggu lagi.”
“Oke.”
“What!!” Teriak Kanaya kaget sambil melotot kan matanya tak percaya. “segampang itu Papah ngizinin?”
“Apa salahnya sayang?” ujar Adiwijaya menatap putrinya lembut.
Adiwijaya beranjak dari kursinya lalu membiarkan sang istri memasangkan dasi di balik kerah bajunya, dan bersiap untuk berangkat bekerja. “Papah tau, dia bertanggung jawab.”
Erlangga yang mendengar pujian dari Adiwijaya pun tersenyum singkat nyaris tak terlihat. Berbanding terbalik dengan Kanaya yang sudah kesal setengah mati.
“Papah di beri makan apa sih sama Angga?” kesal Kanaya.
“Huuss ... emang Papah mu di pelet, ngomong suka ngawur.” Alana tampak terkekeh mendengar ujaran sang putri.
“Papah berangkat dulu,” pamit Adiwijaya.
Erlangga dan Kanaya pun beranjak dari kursi mereka untuk bersalaman dengan Adiwijaya.
“Papah ....” rengek Kanaya.
“Dia dapat di percaya sayang, buktinya dia lebih dulu izin ke Papah dari pada kamu kan? Papah juga yakin kamu masih belum tahu,” ujar Adiwijaya seraya mengusap surai putrinya lembut diiringi kecupan singkat di dahi untuk sang putri, yang di balas anggukan menggemaskan dari Kanaya.
Sebenarnya Adiwijaya tampak ragu, tapi dia harus percaya dan melihat apakah lelaki muda itu dapat dipercaya dan bertanggung jawab atau malah sebaliknya. Setidaknya sang putri bisa mendapatkan laki-laki yang dapat melindunginya dalam keadaan apapun, dan ia harus percaya laki-laki yang mengatakan dirinya sebagai pacar putrinya itu dapat melakukan itu serta memenuhi kreterianya.
__ADS_1
Sekarang giliran Erlangga yang menyalimi Adiwijaya sambil ber-terimakasih atas izin yang di berikan. “Terimakasih.”
“Ya, jaga putri saya jangan sampai kenapa-napa. Awas kamu jika terjadi sesuatu pada putri saya,” bentak Adiwijaya tampak garang. Alana pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami.
Mereka berempat pun pergi ke teras depan untuk mengantar Adiwijaya berangkat kerja, sekaligus Erlangga dan Kanaya yang juga akan pergi ke sekolah. Setelah mobil Adiwijaya perlahan menghilang dari pandangan mereka Erlangga bersuara untuk berpamitan dengan Bunda dari gadisnya.
“Kami berangkat Tante.” Usai berpamitan Erlangga pun mendatangi Moge kesayangannya itu, yang mana mulai hari ini jok belakangnya tidak akan kosong lagi baik berangkat atau pulang sekolah, akan Erlangga pastikan itu.
“Pamit ya Bunda,” pamit Kanaya sedikit lesu.
Alana pun tersenyum ke arah putri semata wayangnya itu. “Iya sayang, jangan lesu gitu dong nanti cantiknya hilang. Entar Angga berpaling dari kamu gimana?”
Kanaya yang mendapat pernyataan sekaligus pertanyaan dari Alana hanya memutar bola matanya malas, ia pun bergegas berpaling dan menyusul Erlangga yang sudah stay cool di atas jagoan besinya.
“Hati-hati loh sayang!” ujar Alana sedikit berteriak.
Kanaya yang lagi-lagi mendengar teriakan Bunda Alana pun hanya bisa menulikan telinganya tanpa menyahut sedikit pun, sebelum sebuah suara terdengar dan hal itu berhasil membuatnya ingin terbahak.
“Iya tante!”
Percaya lah friend bukan itu maksud Bunda Kanaya. Walaupun begitu ya kali Kanaya akan tertawa kan, stay kalem dong. Bagaimana kalau Erlangga tau ya, pasti malu dia tapi ya sudah lah Kanaya juga tidak mau si brengsek itu tau maksud Bundanya, tambah besar kepala nanti tu orang, pikir Kanaya.
Kini Erlangga pun mulai menjalankan motor sportnya untuk membelah ramainya jalanan kota Jakarta pagi ini, Erlangga yang baru menyadari sesuatu pun sedikit gusar. Pasalnya cewek yang ada di belakangnya saat ini tidak berpegangan pada dirinya, bukan karena Erlangga gusar gara-gara tidak di peluk oleh si cewek seperti yang ada di novel-novel yang Kanaya maupun kalian baca. Tapi karena Kanaya sibuk menutupi pahanya yang ter-ekspost oleh angin yang menerpa roknya.
Erlangga pun ikut memegangi roknya itu agar tidak nakal gara-gara angin, tapi sayangnya tangannya di tepis kasar oleh Kanaya. Setelah berada di jalanan agak sepi Erlangga pun menepikan motornya, Kanaya pun tampak bingung seraya turun dari moge yang kelewat tinggi itu.
Setelah Erlangga turun, ia pun melepas jaket kebanggaan nya yang berlogo NightWolf kan. “Lo kenapa sih suka bangat pake rok mini kek gini.”
Kanaya pun tampak kesal mendengar hal itu, apa-apaan ngatur cara berpakaian nya.
“Terserah gue lah, rok-rok gue ini!” sewot Kanaya.
“Tapi gue gak suka berbagi!!” ujar Erlangga yang tampak menekan setiap katanya, diiringi dirinya yang memasangkan jaket ke pinggang Kanaya lalu mengikat lengan jaket itu tepat di depan perut ramping Kanaya.
Blusshh!! Kanaya yakin saat ini dirinya sedang ngeblush dengan pipi merah seperti kepiting rebus.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Typo Bertebaran🙏🙏