
...🍁🍁🍁...
... ...
Lah kok?
“Eehh, maksudnya suka seenaknya gimana?” tanya Rayna bingung.
Kanaya gelegepan. “Enggak kok kak, enggak.”
“Tapi ....”
“Udah lupain aja kak.” Kanaya memotong ucapan Rayna, dan mengalihkan pembicaraan agar Rayna tidak membahas hal itu lagi. “Sekarang kakak nih, kakak udah kuliah kan pasti?”
“Kok kamu tau?”
“Tau aja, soalnya keliatan dari gelagat kakak.”
“Oo ya, aku kelihatan tua yak?”
Uhkk
Spontan Kanaya terbatuk mendengar pertanyaan dari Rayna. Padahal bukan itu maksud Kanaya, bagaimana mau bilang kelihatan tua orang cantik begitu.
“Aah, gak gitu kak. Maksud Kanaya kelihatan dari segi perilaku, dewasa aja gitu pembawaannya,” sela Kanaya sambil menggaru tengkuknya yang tak gatal.
“Betul kah?”
“Betul kak! Iya kan ra?” Kanaya menyenggol lengan Anaira, yang sedari tadi asik menyantap hidangan yang ada di meja.
“Betul tuh, apalagi kakak udah bawa blackcard kan.”
Kanaya yang mendengar lontaran dari sahabatnya itu langsung menoleh ke arah Anaira, dan geram ketika melihatnya begitu enteng menyantap makanan tersebut tanpa beban.
“Aaww sshh” ringis Anaira kala mendapat cubitan maut di perutnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Kanaya.
Anaira yang sadar pun nyengir tak jelas ke arah Rayna, serta Kanaya.
“Bukan gitu maksudnya kak. Eh, intinya gitu lah. Gimana yak itu lo kak, eehh paham ya maksudnya? Aah, lupain lah.”
Kanaya hanya bisa menepuk jidatnya, akibat kelakuan sehabatnya itu. Karena dirinya tau, yang ada di otak Anaira saat ini adalah makan, makan dan makan.
Sedangkan Rayna hanya tertawa kecil melihat kelakuan keduanya, lucu sekali pikirnya. Hari ini begitu sangat menyenangkan menurut Rayna, dan itu disebabkan ia kenal dengan kedua orang bobrok yang ada di hadapannya itu.
“Masalah blackcard, gue udah diizinin bawa pas seusia kalian.”
“Berarti bener, perkiraan Kanaya kalo sekarang kakak udah kuliah?” tanya Kanaya di sela-sela kegiatannya dalam menyantap makanan.
Rayna menganggukkan kepalanya antusias. “Benar, lain kali kita jalan bareng lagi yak. Seru banget tau gak sih.”
“Oke kak, kalo kakak gak sibuk langsung hubungi kami aja kak.” Dengan ke antusiasan yang sama Kanaya mengiyakan dengan begitu semangat.
“oke kalo gitu.”
__ADS_1
Setelah itu mereka pun melanjutkan acara makan siang yang kelewatan itu dengan hikmat. Sesekali diiringi pebicaraan, canda dan tawa mereka bertiga.
.... . ....
“Kanaya!” seru Refdy
Bugh
“Buset, gue kira karena ape lo nyuruh gue manggil Kanaya.”
“Widih gercep juga nih nelam. kalo hati gue yang dilempar, gercep juga gak nangkepnya?” ujar Jingga menggombali Kanaya diiringi kedipan nakal darinya.
Tadi ceritanya, ketika Kanaya baru memasuki gerbang. Erlangga menyuruh Refdy untuk memanggil Kanaya, ketika Kanaya sudah berada di dekat mereka yang ingin melewati parkiran.
Dan ternyata, tanpa aba-aba Erlangga langsung melemparkan tas nya kearah Kanaya. Dengan keterkejutan, Kanaya pun dengan sigap menangkap tas tersebut.
“Nelam apaan njir?” ujar Aldi bingung.
“Lo liat muka Kanaya juga bingung tuh.” Kali ini ujar Refdy, sambil menunjuk ke arah Kanaya yang sedang menunjukkan ekspresi kebingungan.
“Nenek lam ....”
Ucapan Jingga terhenti ketika mendengar teriakkan Kanaya. “Maksud lo apaan, ngelempar ginian ke arah gue?”
“Buset, salah tangkap gue,” umpat Refdy ketika mengira Kanaya bingung dengan panggilan Jingga, dan ternyata itu salah.
“Kanaya jangan teriak pagi-pagi, entar tenggorokan kamu sakit. Iya kan sa?” ujar Afnan yang melemparkan pertanyaan kepada Aksa, sedangkan Aksa tampak acuh dan melanjutkan kegiatannya pagi ini yaitu membaca buku.
“Udah gue bilang, nenek lampir,” sela Jingga yang menatap Kanaya dengan horor.
Refdy menganggukkan kepalanya dengan tatapan sama seperti tatapan Jingga ke arah Kanaya. “Entah kenapa gue setuju apa kata Jingga. hanya saja bedanya, yang ini versi cantik.”
“Itu tas, bukan ginian. Cantik-cantik bego,” ledek Erlangga seraya menggelengkan kepalanya.
“Apa lo bilang?” sentak Kanaya.
Erlangga menaikkan satu alisnya. “Sana ke kelas lo, bawain tas gue.”
“Lo ....”
“Lo asisten gue.”
“Awas lo yah.” Kanaya pun berlalu meninggalkan gerombolan anak-anak nakal menurutnya, dengan perasaan dongkol yang menyelimuti hatinya di pagi hari ini.
“Topi gue, Jingga.” Dengan begonya juga dirinya malah lupa menyomot topi di dalam tas, padahal hari ini hari senin. Akibat niat bikin kesal orang pagi-pagi, kena batunya deh dia, iya gak guys.
Seketika Jingga menoleh ke Arah Erlangga. “Gue?”
Pertanyaan bodoh menurut Erlangga, ia pun memutar bola matanya jengah, diiringi decakan khasnya. Dengan ogah-ogahan Jingga pun turun dari atas motor, menuju kelas untuk mengambil topi Erlangga yang ada di dalam tas.
__ADS_1
“Rasain lo hahaha,” ujar Aldi meledek Jingga, yang berjalan gontai seperti orang tidak semangat untuk hidup.
“Mampus awowok ... Siapa yang nyuruh gombalin Kanaya pagi-pagi.” Rafdy tertawa terpingkal-pingkal kala mengingat dimana kesalahan sahabatnya itu.
“Kelapangan!” ajak Aksa datar, ketika bell sekolah sudah berbunyi.
Semua yang berada di parkiran pun, bergegas kelapangan untuk mengikuti upacara bendera, yang sebagian besar meraka adalah anak-anak NightWolf. Dan sebagaian kecil adalah murid-murid yang baru datang.
Brukkh
“Maaf gak sengaja.”
“Lo sengaja yah?” ujar Olivia sambil mencengkram pundak gadis yang menumpahkan jus buah ke sepatunya.
Dengan berani gadis tersebut melepaskan cengkraman Olivia, dan menyentaknya dengan kasar.
“Gue, udah bilang gak sengaja ya kak,” bantah Kanaya, yap betul gadis yang dihadapi oleh Olivia adalah Kanaya.
“Ya sekarang lo minta Maaf!” bentak Meta salah satu antek-antek Olivia ke arah Kanaya.
“Gue minta maaf.” Kanaya mengalah untuk kali ini, bukan kerana dirinya merasa salah, hanya saja malas untuk ribut. Walaupun dirinya malu dibentak di depan umum.
Sekarang jam istirahat pertama, sudah dapat ditebak di mana kericuhan itu terjadi, tentu saja di kantin. Padahal orang-orang yang melihat awal kejadian tersebut tahu, kalau itu bukan kesalahan Kanaya. Hanya saja Olivia dan kedua curutnya itu yang ingin mencari perkara.
“Kok, kaya gak ikhlas gitu sih!” seloroh Chia, antek-antek Olivia satunya lagi. “dia gak ikhlas Via.”
“Supaya terlihat ikhlas gimana yak Chia? Lo punya saran gak?” ujar Olivia menyeringai.
Chia tampak berpikir. “Gue tau, suruh aja dia buat lapin sepatu lo yang kotor, karena ulahnya.”
“Dengar gak lo? Lakukan sekarang!” santak Olivia.
Baru Kanaya ingin membantah ucapan Olivia, terdengar suara geprakan meja di ujung sana.
Brakkhh
“Lo mau ribut heh?” desis Anaira nyaring, sambil berjalan ke arah kejadian. “Kalo mau ribut, bilang langsung. Dasar cupu!”
Suasana kantin semakin mencekam, setelah keterlibatan Anaira yang membela Kanaya.
“Tau lo, kalo mau ribut bilang. Gak usah dengan cara kotor kek gini.” Semua orang tampak terdiam ketika mendengar ucapan Kanaya, sudah beda cerita jika Kanaya tak ingin mengalah lagi. “Lo kira gue gak tau, elo yang sengaja nabrak gue heh.”
Kanaya maju satu langkah ke Arah Olivia.
Byurr ....
...🍁🍁🍁...
... ...
__ADS_1
Typo Bertebaran 🙏🙏