Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 10


__ADS_3

Nadira mengucek matanya pelan saat suara bel pintu apartemennya terdengar nyaring. Dengan malas ia bangun, gerutuannya terdengar sebelum ia beranjak membuka pintu. Siapakah gerangan yang mengganggu paginya di akhir pekan pula?


Lalu, sebelah tangannya ia gunakan untuk meraih handle pintu dan membuka kuncinya. Saat pintu terbuka, seseorang yang bertubuh kekar menghadang pintunya. Dalam sekali tatap saja ia tahu siapa yang tengah berdiri itu. "Pak Arsen!" jeritnya langsung menutup pintunya kembali dengan keras.


Hal itu membuat Arsen serta merta terkejut. Maafkan Nadira jika bersikap tak sopan, pasalnya ia pun terkejut dengan kehadiran Arsen yang tiba-tiba, ditambah gadis itu belum mengenakan hijabnya dan hanya mengenakan piyama.


Ia pikir yang mengetuk pintu adalah ibu laundry yang tiap akhir pekan akan mengambil pakaian Nadira untuk dicuci atau juga Luna yang kadangkala bertandang tak kenal waktu. Sehingga ia tak langsung mengenakan hijabnya.


Dengan cepat dan gugup ia ke kamar mandi, mencuci wajah dan gosok gigi sekenanya. Setelah itu mengganti pakaiannya dan tak lupa mengenakan hijab langsung yang biasa dipakainya saat membersihkan rumah. Tak ada riasan atau apapun yang menghias wajahnya.


Kemudian ia kembali membuka pintu dengan gugup. Pria itu masih berdiri di sana sambil menelepon, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana denimnya. Ia menoleh begitu melihat Nadira di pintu sedang menatapnya.


"Maaf, Pak! Ada perlu apa, ya?" tanya Nadira cepat begitu Arsen berdiri di hadapannya. Namun, bukannya menjawab, Arsen justru menelisik Nadira dari atas ke bawah. Sangat berbeda, pikir Arsen.


Saat di kantor, Nadira selalu memakai setelan terbaiknya dan selalu memerhatikan penampilannya. Sedangkan Nadira yang ia lihat sekarang, hanya mengenakan kaus lengan panjang dan celana model kulot beserta hijab bergo. Namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya, meski sekarang wajahnya polos tanpa polesan make up.

__ADS_1


"Boleh saya masuk?" tanya Arsen meminta izin. Untuk sepersekian detik Nadira mematung. Matanya membulat sempurna. Namun akhirnya ia pun membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Arsen untuk masuk ke dalam apartemennya yang sederhana.


Ia meminta Arsen untuk duduk di sofa panjang sementara ia membuatkan kopi. Dengan elegan, Arsen duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan sebuah televisi.


Di seberangnya ada pantry, tempat di mana Nadira tengah menjerang air. Di sampingnya ada sebuah kulkas dua pintu yang diduga Arsen tempat untuk menyimpan bahan makanan.


Tepat di belakang pantry yang terhalang sekat dari kayu, di sana kamar mandi dan closet berada. Tidak terlalu luas memang, bagi Arsen ruangan ini lebih seperti ruangan pembantunya. Namun bagi Nadira, inilah tempat ternyamannya usai pulang bekerja.


"Silahkan diminum, Pak, hati-hati masih panas," ucap Nadira seraya meletakkan secangkir kopi yang uapnya mengepul hingga ke hadapan Arsen. Arsen tergugah, ia meraih cangkir kopi itu dan menghirup aromanya kuat. Arsen menyukainya.


Arsen tampak merogoh saku jaketnya, semenit kemudian ia meletakkan sebuah tab di meja. Nadira terbelalak. Astaga tab-ku! Pantas saja tidak ada, mungkinkah tertinggal di kantor semalam?


"Tertinggal di ruangan saya," ujar Arsen membenarkan dugaan Nadira.


Nadira meraih tab itu lalu diletakkannya di nakas depan televisi. "Ah, saya pasti terlupa, Pak. Terima kasih sudah mengembalikannya. Tapi seharusnya Pak Arsen tidak perlu sampai mengantarkannya ke sini," ucap Nadira tak enak hati sekaligus malu!

__ADS_1


Karena kecerobohannya, ia harus menghadapi bos dinginnya sendirian pagi ini. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Arsen berdeham pelan sebelum bicara. "Sebenarnya, saya ke sini bukan hanya untuk itu. Saya butuh bantuanmu," kata Arsen langsung pada intinya.


Nadira mengernyit, "Pak Arsen butuh bantuan saya?" Nadira ingin memastikan bahwa pendengarannya tak salah. Arsen mengangguk sebagai jawaban.


"Saya ingin mengecek lokasi pembangunan, namun Galen sedang ada urusan, sedangkan yang lain, saya kurang percaya," jelasnya. Nadira tahu ke mana pembicaraan itu mengarah.


"Oh, maksudnya Pak Arsen ingin saya menemani Anda ke sana untuk mengecek area itu juga?" Arsen mengangguk. Nadira menjentikkan jarinya tiap ia merasa dapat ide bagus.


Kesempatan baik, pikir Nadira. Dengan begitu, pekerjaannya jadi lebih mudah dan cepat selesai. Dengan langsung melihat area pembangunan yang direncanakan akan dibangun Mega Proyek itu, Nadira jadi lebih mudah untuk memastikan anggaran yang harus dikeluarkan perusahaan. Agar nantinya lebih mudah baginya untuk bernegosiasi dengan para pemegang saham tanpa ada kekeliruan. Cerdik!


"Tentu bisa, tapi... Pak Arsen mau tidak menunggu saya bersiap sebentar?" Pertanyaan Nadira itu membuat Arsen menimbang-nimbang.


Ia tak bisa menunggu dan tak mau menunggu apalagi menunggu seorang perempuan bersiap, seharusnya dirinyalah yang ditunggu. Namun pada akhirnya ia menggangguk juga.

__ADS_1


Siang itu keduanya meluncur ke pinggiran kota untuk mengecek langsung area proyek.


__ADS_2