Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 22


__ADS_3

Pukul 12 siang, para karyawan Harrington Group yang lain sudah meninggalkan meja menuju kantin, mengisi perut dan bersantai sejenak. Namun berbeda dengan yang Nadira masih berkutat dengan pekerjaannya. Seolah ingin melunasi hutang pekerjaannya segera.


"Nyonya Nadira," panggil seseorang yang membuat Nadira langsung menghentikan aktifitasnya seketika. Perempuan berhijab putih itu menoleh.


"Pak Galen? Ada apa? Ada laporan yang salah, ya?" Nadira berdiri dari duduknya. Namun Galen hanya mengulum senyumnya tipis.


"Tidak ada, Nyonya. Sudah jam makan siang, Tuan sudah menunggu di atas," ujar Galen menjelaskan kehadirannya.


"Ha? Kenapa Pak Arsen menunggu saya?" Nadira masih belum mengerti maksud Galen.


"Nyonya silakan langsung ke atas saja. Makanan sudah disajikan sejak tadi tapi Tuan bersikeras ingin menunggu," jelasnya lagi seraya berharap Nadira paham maksudnya. Jika tidak, Presdirnya itu akan marah-marah dan bermuka masam sampai sore.


"Baik, terima kasih, ya. Oh satu lagi, Pak Galen tolong jangan panggil saya Nyonya, itu terdengar kurang nyaman. Apalagi ini di kantor, takutnya ada yang dengar, saya tidak mau orang-orang tahu."


"Baik, Nyo- Bu Nadira. Silakan, jika ada perlu bisa panggil saya." Setelahnya Galen pergi dari sana, turut mengisi perut seperti karyawan yang lainnya.


Sesampainya di depan ruangan Arsen. Nadira langsung membuka pintu. Di sana ia dapati Arsen sudah duduk santai sambil bersandar, sedangkan di meja sudah tersaji aneka makanan. Dan semuanya adalah makanan favorit Nadira.


"Pak Arsen memanggil saya?"


Arsen menoleh, ia berdiri menghampiri Nadira yang masih mematung.


"Sudah waktunya makan siang, dari mana saja kamu?" Arsen balik bertanya.


"Eh, saya masih ada pekerjaan tadi, Pak. Ada apa?"


"Masih bertanya ada apa? Saya sudah lapar sejak tadi, Nadira!"


"Kalau Pak Arsen lapar kenapa tidak makan dari tadi?" Nadira bertanya heran.


"Apa lagi? Tentu saja menunggu kamu menghidangkan makanan!"

__ADS_1


"Menunggu saya menghidangkan makanan?"


"Ya, bukannya itu tugas istri?" tukas Arsen sukses membuat mata Nadira membulat sempurna.


'Bilang saja mau dilayani kenapa harus berbelit-belit?' batin Nadira.


"Oh, kenapa Pak Arsen tidak bilang dari tadi, ayo saya sajikan," ucap Nadira seraya menyiapkan piring. Arsen pun duduk, sesekali ia berdeham menghilangkan kecanggungan yang entah kapan muncul.


Tak disangka perempuan itu langsung menghidangkan makanan untuknya, ia kira setidaknya mereka akan berdebat selama beberapa menit sebelum makan.


"Pak Arsen suka makanan western juga?" Arsen menggumam sebagai jawaban.


"Mana piringmu?" Arsen bertanya sebab ia tak melihat piring Nadira.


"Ah, saya akan makan nanti saja, Pak," jawab Nadira sekenanya. Arsen mengernyit.


"Tidak bisa, makan sekarang."


Diam-diam Arsen tersenyum. 'Makan siang pertama, seterusnya akan begini Nadira, pelan-pelan saja, waktu kita masih panjang' ujarnya dalam hati sambil sesekali mencuri pandang.


Setelah merapikan kembali meja, Nadira hendak kembali ke mejanya, namun ditahan oleh Arsen. "Tunggu," panggil Arsen sambil memegang lengan Nadira.


"Eh? Pak Arsen butuh sesuatu?" tanya Nadira, kepalanya mendongak menatap Arsen yang jauh lebih tinggi darinya.


Arsen berdeham lalu berujar. "Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat, nanti malam kita harus ke kediaman utama."


"Kediaman utama?" Nadira mengulang.


"Iya, rumah Kakek."


"Oh, rumah Pimpinan, ya?"

__ADS_1


Arsen menjentik kening Nadira pelan, menimbulkan jerit gaduh dari gadis itu.


"Kamu jangan memanggil Kakek dengan Pimpinan lagi, sekarang kamu adalah cucu menantunya," Arsen menjelaskan status Nadira sekarang.


"Ah, baik. Akan saya selesaikan pekerjaan saya secepat mungkin. Sekarang, boleh saya kembali bekerja, Pak?" Nadira tersenyum singkat.


Arsen mengangguk, "satu lagi Nadira," Arsen masih belum melepaskan tangan Nadira.


"Tolong buatkan saya kopi"


"Baik, tapi, Pak"


"Apa lagi?"


"Pak Arsen belum melepaskan tangan saya," Nadira berbisik.


"Oh, sorry. Ka-kamu bisa pergi sekarang," gugup Arsen, ia langsung pergi ke mejanya, berpura-pura sibuk. Benar-benar malu.


Nadira terkekeh pelan lalu pergi dari ruangan Arsen. Beberapa kali ia memandangi lengan yang tadi dipegang Arsen, tiba-tiba wajahnya bersemu merah karena malu.


Luna yang kebetulan melihat Nadira keluar dari ruangan Arsen pun tak tahan untuk bertanya.


"Nad? Lo kenapa? Lo sakit, ya, muka Lo sampe memerah gitu," kata Luna seraya menyentuh dahi Nadira guna memeriksa suhu sahabatnya itu.


Nadira mundur mendadak. "Eh, Luna! Kaget Gue,"


"Kenapa, sih?"


"Gak, gak ada, Gue balik kerja dulu, ya!" tanpa memedulikan tatapan khawatir Luna. Nadira langsung pergi dari lantai atas, kembali ke ruangannya.


Luna mematung, menatap punggung Nadira yang masuk ke dalam lift. "Dia kenapa, sih? Hari ini aneh banget kayak orang yang baru nikah aja, cetus Luna asal. Setelah bayang Nadira tak terlihat lagi Luna pun bergegas masuk ke ruangan Arsen untuk meminta tanda tangan persetujuan atasannya itu.

__ADS_1


Di sudut yang tak terlihat, seorang perempuan berpenampilan modis menyeringai menatap layar ponselnya. "Kena Lo, Nadira. Kali ini kita lihat sehebat apa Lo mengatasi masalah yang akan Gue buat ini," ujarnya tersenyum sinis lalu menghilang di kegelapan.


__ADS_2