
Tap ... Tap ... Tap ...
Dengan kekesalan memuncak, Nadira menjejaki lantai marmer itu dengan langkah besar-besar. Usai mendapat bukti berupa rekaman CCTV, ia semakin yakin untuk membalas perbuatan orang itu.
Dihiraukannya tatapan aneh dan heran para staff marketing yang sedang bekerja. Di sampingnya, Luna tak kalah kesalnya. "Si Kiara ini benar-benar tebal muka, ya. Dikasih hati malah gak tahu diri," ocehnya sambil terus berjalan di koridor.
Brak! Nadira mendorong paksa pintu ruangan staff khusus divisi marketing itu sambil berteriak lantang. "Kiara!" seseorang yang dipanggil dengan begitu keras sampai berjingkat kaget. Tak terkecuali staff lain yang memandang Nadira heran sambil bertanya-tanya.
"Ka-kalian? Ada ... Ada perlu apa ke sini? Kenapa kalian kelihatan marah?" gugup Kiara. Pura-pura tak tahu. Hamna berdecih.
"Masih aja menyangkal," sinis Hamna seraya menatap Kiara tajam, membuat sosok Kiara beringsut mundur. Seketika divisi marketing jadi ramai orang yang penasaran. Tak biasanya ada keributan seperti ini.
Nadira mengambil ponselnya dan menunjukkan tangkapan layar foto dirinya dan Pak Arsen yang menjadi trending topic di kantor dua hari ini. Jika Luna tidak memberitahunya semalam, entah sampai kapan berita itu akan jadi topik paling panas.
"Perbuatan siapa ini kalau bukan Lo?" tanya Hamna langsung pada intinya.
Namun, alih-alih menjawab, Kiara justru mengejek Hamna. "Astaga, ternyata Nadira juga punya skandal sama Presdir kita?" katanya seolah-olah terkejut.
"Cukup Kiara! Selama ini Nadira diam bukannya gak tahu kelakuan busuk Lo! Nadira diam karena dia benci berdebat sama manusia kayak Lo ini, Kiara." Luna bersungut marah. Sudah lama ia memendam kekesalan terhadap Kiara.
"Dan, Lo tahu gak sih, apa yang udah Lo perbuat ini udah melewati batas toleransi seseorang! Lo bukan cuma memfitnah Nadira, tapi juga menuduh perempuan baik-baik dengan keji!" lanjut Luna lagi sambil menunjuk wajah Kiara marah.
Perempuan yang usianya masih muda itu berangsur mundur. "Ap-apa sih? Gue gak mengerti maksud Lo, Luna. Lagipula itu kan skandalnya Nadira kenapa malah Lo yang marah-marah sama Gue?" kilahnya.
"Itu karena Nadira terlalu mulia untuk menghadapi perempuan tebal muka kayak Lo, Kiara!"
"Cukup, Luna. Mau Lo marah-marah kayak gimana pun, nih orang memang dasarnya gak tahu salah. Jangan biarin energi Lo terbuang sia-sia," ucap Nadira mengusap pundak Luna memintanya untuk mundur.
"Kiara, Gue gak tahu apa masalah Lo sama Gue. Selama ini Gue udah berusaha abai dan bahkan gak peduli sama semua hinaan Lo. Tapi kali ini cukup, Lo udah mengusik ketenangan hidup Gue. Dan Gue cuma mau menunjukkan ini sama Lo" Nadira memutar ulang rekaman CCTV itu.
Yang sontak membuat Kiara terdiam seribu bahasa, ia bersusah payah menelan salivanya, merasa takut. Kok dia bisa sih dapat rekaman itu?
__ADS_1
"Coba Lo bilang kalau sampai Presdir tahu ada orang yang menguntitnya dan merusak reputasinya, apa yang bisa beliau lakukan selain pemecatan?" tanya Nadira sambil tersenyum.
"Itu ... Itu pasti bohong! Itu pasti cuma editan!" jeritnya masih tak menyangka.
Lalu, beberapa staff keamanan masuk bersama dengan Galen. "Biar saya lihat," Galen merebut ponsel yang dipegang Nadira.
"Ini rekaman asli," katanya lalu kembali menyerahkan ponsel itu kepada Nadira. "Jadi, Kiara. Bagaimana caramu mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini?" Galen bertanya yang membuat Kiara makin tersudut.
Kini, perempuan berusia 24 tahun itu terduduk lemah di mejanya. Karirnya telah hancur. Tak ada yang bisa membantunya setelah ini. Mengundurkan diri dengan baik adalah satu-satunya cara agar ia tak terlalu malu.
Nadira dan Luna saling pandang. "Tiap manusia akan mendapat balasan yang setimpal untuk setiap perbuatannya," kata Luna puas.
"Semuanya silahkan kembali bekerja! Kecuali Nadira, ke ruangan Presdir sekarang." Semua orang yang tadi mengintip diam-diam akhirnya kembali kepada rutinitasnya masing-masing.
"Nad? Gimana nih?"
"Gak apa-apa, Lo balik kerja dulu, Lun. Paling juga Gue kena peringatan doang, gak usah khawatir."
"Oke, deh. Tapi kabari Gue kalau ada apa-apa, ya. Jangan lupa!"
***
Di ruangan pribadinya, Arsen tampak sedang melepas perban yang membelit tubuhnya. Suara pintu yang terbuka menghentikan kegiatannya untuk sejenak. "Siapa?" teriaknya keras.
Nadira yang baru saja masuk kaget, karena tak ada siapapun di sana. "Siapa?" tanya Arsen lagi. "Ini saya, Pak. Pak Arsen di mana?" jawab Nadira masih mengelilingi ruang yang tampak luas itu.
Arsen membuka pintu. Pintu itu persis seperti tembok yang bercat putih. Berkamuflase. "Astaghfirullah!" kaget Nadira saat tiba-tiba tangannya ditarik paksa.
"Pak Arsen! Bikin kaget saya tahu!" protesnya tak suka. Nadira menatap Arsen dari atas sampai bawah. "Kenapa? Tidak pernah lihat, ya?" goda Arsen, Nadira langsung memalingkan wajahnya malu.
"Ini, tolong oleskan," ucap Arsen kemudian sambil menyodorkan sebuah krim oles kepada Nadira.
__ADS_1
"Hah? Pak Arsen manggil saya ke sini cuma buat oles-oles ini?" tanya Nadira tak percaya. Arsen memiringkan kepalanya sambil berkacak pinggang.
"Iya, kamu pikir untuk apa? Saya tidak bisa meraih luka di bagian punggung ini," katanya sambil duduk. Ia menunjukkan luka yang harus diolesi krim oleh Nadira.
Perempuan itu hanya bisa menarik napas panjang. Lalu mulai mengolesi bahu hingga punggung Arsen. "Saya kira Pak Arsen mau marah-marah," cicit Nadira.
Arsen meliriknya sekilas. "Untuk apa saya memarahimu? Kamu membuat kesalahan?" Nadira menggeleng kuat. "Bikin gaduh kantor aja, sih, sedikit."
"Oh? Kegaduhan apa yang kamu buat?"
"Masa Pak Arsen gak tahu?" Nadira bertanya balik. Kini ia berganti membalut luka Arsen dengan perban yang baru. Arsen menggeleng sebagai jawabannya.
Gak mungkin Pak Arsen gak tahu. Dia pasti cuma pura-pura. Hmph! Kalau benar-benar gak tahu kenapa asisten kesayangannya tadi ikut campur? Diam-diam Nadira tersenyum kecil.
"Kenapa diam?"
"Gak ada apa-apa, sudah selesai. Lain kali, kalau terluka istirahat aja Pak di rumah. Jangan memaksakan diri begini," Nadira mulai mengoceh sambil merapikan kembali penampilan Arsen.
"Kamu yang memaksa saya. Istri sendiri terkena masalah, mana mungkin saya berdiam di rumah?"
Apa maksudnya, sih?! Tadi bukannya bilang gak tahu? Manusia ini benar-benar gak bisa ditebak!
"Kamu masih ada pekerjaan, kan?" Nadira mengangguk. "Kalau begitu selesaikan pekerjaanmu di ruangan ini. Jangan pergi sebelum saya kembali," ucapnya lagi.
"Tapi ... " Nadira tak melanjutkan ucapannya. Mengingat temperamen Arsen yang kerap marah saat dibantah memaksa Nadira untuk patuh. Jika di rumah, Nadira pasti akan mendebatnya sampai akhir, tetapi ini di kantor. Lebih baik menurutinya dibanding membantah dan terjadi hal-hal tak diinginkan.
"Baik," kata Nadira pada akhirnya. Ia lantas duduk di kursi yang sebelumnya disiapkan Arsen.
Arsen menatapnya sebentar lalu beranjak hendak membuka pintu. "Tunggu, Pak." Arsen urung membuka pintu.
"Sebelumnya, terima kasih sudah membantu. Tapi saya harap lain kali Pak Arsen tidak melakukannya untuk saya. Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri."
__ADS_1
"Terserah padamu. Yang jelas, saya tak akan diam saja jika orang lain mengganggumu." Setelah itu Arsen menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Nadira seorang diri di ruangan yang luas itu.
Gadis itu menarik napas panjang, ia sandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Tolong kembalikan hari-hari tenangku ... "