Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 33


__ADS_3

Sebuah tempat terpencil di Moskow, Rusia. Sudah 6 hari Arsen melakukan pengintaian terhadap orang-orang dari organisasi hitam dan kelompok gangster bawah tanah. Mereka cukup berhati-hati dan waspada seperti yang dikatakan Galen. Namun bukan berarti jejak mereka tak bisa Arsen temukan.


"Bagaimana, Zack?" Ia bertanya pada seorang pemuda yang tengah fokus dengan laptop dan seperangkat peralatan.


Pemuda itu tampak bangkit dan menunjukkan laptop dan earphone miliknya kepada Arsen. "Tuan, aku sudah meretas ponsel mereka. Ini riwayat dan rekamannya," katanya menerangkan.


Zack merupakan hacker top yang sudah bekerja di bawah bimbingan Arsen selama bertahun-tahun. Termasuk orang kepercayaannya, seperti Galen.


Arsen membaca riwayat transaksi dan rekaman telepon yang berhasil diretas Zack itu dengan seksama. "Kerja bagus, kita bergerak sekarang."


Yang Arsen maksud dengan 'kita' bukanlah dirinya dan Zack. Melainkan dengan tim pemburunya. 2 orang penembak jitu. 3 orang ahli bela diri dan dirinya sendiri. Dan 20 tentara bayaran terlatih.


"Setelah memasuki gedung itu, kalian berdua berpencar pergi ke sisi gedung dan pantau pergerakan mereka, katakan padaku apa yang sedang mereka lakukan. Zack, kau awasi dari sini. Kalian bertiga ikut aku untuk menghalang tujuan mereka. Sisanya akan mengepung di luar. Kalian mengerti?"


Ke 25 orang itu mengangguk secara serentak. "Baik, Kapten!" seru mereka hampir bersamaan.


"Jumlah kita memang sedikit, tapi aku percaya seperti sebelumnya kita bisa melakukan ini. Hati-hati, dari pengamatanku, mereka menyewa 3 atau 4 pembunuh bayaran dan penembak ahli. Apapun yang terjadi, jangan menyerang dari jarak dekat," instruksi Arsen untuk terakhir kalinya.


"Satu lagi, jangan menembak mati, lumpuhkan saja, aku ingin menyerahkan mereka ke penjara agar mereka merasakan penderitaan yang sesungguhnya," pekik Arsen lalu bangkit dari duduknya.


Kemudian mereka semua bergerak sesuai perintah Arsen. Dengan kehati-hatian tinggi, mereka langsung menyerang, menyergap dan melumpuhkan lawan dalam sekali hadap.


Seusai memastikan kesemua anak buahnya mengalahkan para penjaga dan menyandera pembunuh bayaran di luar gedung itu. Arsen masuk dengan gagahnya. Bunyi gebrakan pintu yang kuat mengangetkan dua orang yang berada dalam ruangan.

__ADS_1


Kedua orang itu menatap Arsenio bergantian. Saling pandang dengan gugup. "Bagaimana dia tahu?" bisik Swarovski dalam bahasa Rusia. Pria disampingnya menggeleng lemah. Ia juga tak tahu jika Agen Ar yang ditakuti itu bisa berada di sini.


"Tidak penting dari mana aku tahu, yang terpenting ... Time's Up!" kata Arsen dalam bahasa Rusia.


"K-kau! Bagaimana bisa?"


"Kenapa aku tak bisa?" balas Arsen sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan tersenyum mengejek. Keduanya terpekik, lalu menodongkan pistol bersamaan kepada Arsen.


"Habislah kau, Ar ... Oh, bukan, aku harusnya memanggilmu dengan Tuan Muda Harrington. Hari ini akan kubalas dendamku dengan baik," desis Viktor merasa marah.


Viktor sangat membenci Arsen. 6 bulan yang lalu Arsenio menyelinap ke dalam pangkalannya dan mencuri data-data penting miliknya juga menggagalkan transaksi ilegal bernilai ratusan juta. Dalam hal itu, Viktor merasa sangat kesal. Ia merasa dikhianati, ditipu dan dirugikan. Untuk itu, saat Arsenio berdiri di hadapannya, ia benar-benar marah.


"Harrington? Oh ... Ini adalah agen terhebat yang mereka banggakan itu? Wah, wah, wah, tak disangka ternyata dari keluarga bangsawan," sambung Swarovski mengejek.


Arsen berdecak dan memandang pistol yang ditodongkan kepadanya dengan tatapan meremehkan. "Ck, ck, ck ... GSH-18, semi otomatis, peluru kaliber 9mm, kecepatan peluru 535m/s ... Pertanyaanku, apakah kau pantas menggunakannya?"


"Sialan!" maki Swarovski, ia juga menarik pelatuknya, tapi, sama seperti Viktor. Pistol yang digenggamnya itu juga kosong.


"Satu lawan satu jika kalian berani," tantang Arsen. Keduanya melempar pistol kosong itu, melepas jubah kebanggaan mereka dan memasang ancang-ancang menyerang.


Lalu, perkelahian dua lawan satu itu berlangsung sengit. Viktor dan Swarovski tampak kewalahan, napasnya terengah. Dahi berpeluh, cairan merah merembes dari pelipis. Buku jari mereka sudah terluka memerah.


Arsen menyeka peluh di dahinya. Meregangkan tangannya yang terasa kebas. Harus diakui Viktor dan Swarovski adalah lawannya yang seimbang. Perut bagian kirinya bahkan terasa nyeri akibat tendangan Swarovski.

__ADS_1


"Aku tidak akan kalah olehmu," desis Viktor kembali bangkit. Dalam kemarahannya yang memuncak, ia menyerang Arsen secara brutal. Begitu pula Swarovski. Seolah dengan hantaman berkali-kali, Arsen bisa dihabisi keduanya.


Namun, Arsen tidaklah selemah yang mereka kira. Meski dalam kewalahannya menghadapi serangan Viktor dan Swarovski, Arsen masih sanggup bertahan, menangkis serangan mereka, mengelak dan menyerang saat ada kesempatan. Hingga 30 menit kemudian, keduanya benar-benar kalah telak oleh pukulan Arsen.


Wajah penuh lebam dengan memar serius di beberapa bagian tubuh. Keduanya meringis kesakitan. "Tenang saja, kalian masih memiliki waktu untuk memulihkan diri di dalam jeruji besi," kata Arsen sambil mengenakan kembali jaket kulitnya.


Ia menyeka bekas merah di dahi dan sekitar mulutnya dengan tangan lalu pergi dari sana secara diam-diam. Seusai Arsen pergi bersama timnya. Sekelompok polisi setempat dan para tentara yang tadi mengiringinya datang dan meringkus semuanya.


Arsen bernapas lega. Dari atas rooftop, ia menyaksikan sendiri segerombolan orang itu dibawa pergi. Zack menghampirinya dan memberinya sebotol air minum. "Sangat memukau, Tuan," puji Zack di tepi Arsen.


"Ini yang terakhir kalinya, Zack. Kuharap ke depannya aku tak harus melakukan hal ini lagi. Aku sudah lelah," gumam Arsen. Sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Lalu, bagaimana dengan kami di kamp, Tuan?" Zack bertanya, ada nada tak rela di dalamnya.


"Berlatihlah seperti biasa, aku akan tetap membutuhkan kalian di masa depan. Tapi, aku benar-benar tak ingin terlibat dalam hal-hal seperti sekarang."


Zack mengangguk. Ia sudah mengerti harus melakukan apa. "Baik, Tuan. Semoga Tuan selalu bahagia. Jangan khawatir serahkan urusan di kamp kepadaku. Kapanpun Tuan membutuhkan kami, kami akan langsung datang dan melaksanakan perintah Tuan."


"Hm, kau kembalilah bersama mereka. Aku bisa sendiri," balas Arsen dengan mengibaskan tangannya. Memerintah Zack dan yang lainnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah itu, Arsen kembali ke hotel, membersihkan dan membalut semua lukanya sendiri. Langit Moskow kian sore, Arsen menatap keemasan langit yang tertutup gedung-gedung tinggi dari jendela kamarnya.


"Sedang apa kamu di sana?" lirihnya. Ia membuka ponselnya, dipandanginya layar pipih itu. Sejenak berpikir, haruskah ia menelepon Nadira?

__ADS_1


Ia terus menimbang-nimbang ponselnya. Layar itu kini menampilkan wajah Nadira yang tengah tersenyum. Foto yang sempat Arsen ambil diam-diam. Arsen tersenyum memandangi wajah istrinya yang cantik.


"Perasaan apa ini, Nadira? Kenapa aku sangat ingin menemuimu?" gumamnya. Perasaan itu kian membuncah dalam dadanya, bersamaan dengan denyut nyeri yang merayapi tubuh.


__ADS_2