
Nadira terlihat asyik dengan kegiatan barunya, menyiram tanaman di kebun belakang kediaman utama. Ada berbagai macam bunga yang menyegarkan mata bagi Nadira. Dengan dibantu dua orang asisten rumah tangga, Nadira memetik bunga-bunga di kebun untuk dipajangnya di dalam vas.
Areef membiarkan Nadira melakukan hal yang disukainya, termasuk menyiram tanamannya, memangkas daun serta memetik beberapa bunga-bunga. Areef harap dengan itu, Nadira bisa sedikit melupakan luka hatinya.
Areef tersenyum saat Nadira bersenandung kecil, menata bunga yang dipetiknya ke dalam vas. Seisi ruang tamu kembali berwarna-warni oleh hiasan bunga Nadira. Tak ia sangka Nadira juga bisa menghias bunga.
"Cantik," puji Areef, semburat merah merona timbul menghias wajah cantik Nadira.
"Terima kasih, Kakek, sudah mengijinkan Nadira tinggal di sini untuk sementara," kata Nadira getir saat mengingat kembali pertengkarannya dengan Arsen.
Sudah dua hari ia tinggal di kediaman utama sejak pertengkarannya tempo hari dengan Arsen. Dua hari pula ia meradang, ternyata sulit juga untuk melupakan amarah dan ego. Sebenarnya kemarin Arsen datang untuk meminta maaf padanya, tapi ia menolak untuk menemui lelaki yang berstatus suaminya itu. Ia bersyukur karena Areef tidak memihak Arsen dan tidak memaksanya untuk memaafkan Arsen.
Bagaimana pun sangat sakit bagi Nadira ketika Arsen menuduhnya menggoda Bara. Padahal tidak sekali pun ada laki-laki yang menyentuhnya. Tidak ada seorang lelaki pun yang dapat membuat Nadira jadi segamang ini menghadapi perasannya sendiri.
"Jangan terlalu sungkan, Nak. Kamu juga bagian dari keluarga ini, jika ada apapun katakan saja pada Kakek. Jika kamu tidak betah tinggal di sini, Kakek bisa memberimu sebuah unit agar kamu lebih leluasa—"
"Tidak, Kakek! Nadira suka, kok, tinggal di sini. Lagipula Nadira juga punya satu unit apartemen dekat Ibukota. Mungkin besok Nadira akan pindah ke unit."
"Kakek tidak memintamu pergi. Kakek bilang, jika kamu tidak betah kamu boleh untuk tinggal di manapun yang kamu mau, Nak."
"Nadira mengerti, Kakek."
Keduanya lalu berjalan ke ruang tengah yang lebih nyaman. Seorang asisten rumah tangga datang membawakan dua cangkir kopi dan camilan ringan. Keduanya mengambil duduk, memposisikan diri dengan nyaman.
"Nadira, cucuku ... " panggil Areef pelan. Nadira yang semula menunduk jadi mendongakkan kepalanya, menatap Areef yang tengah bersandar di sofa.
Wajahnya terlihat lelah, beberapa bagian tubuhnya tampak keriput. Beberapa helai rambutnya sudah memutih. Namun sama sekali tidak melunturkan kesan karismatik yang dimilikinya.
"Kakek ingin menceritakan sesuatu padamu, tentang masa lalu Arsen yang telah mengubahnya menjadi Arsen yang sekarang."
***
Arsen memandangi layar laptopnya tanpa minat. Meski pergerakan saham perusahaannya terus meningkat, tapi sepertinya hal itu tak terlalu membuatnya senang.
Galen masuk dengan diiringi ketukan di pintu. "Tuan, client dari Italy sudah datang, beliau menunggu Anda di ruang VVIP sekarang." Galen mengingatkan jadwal padat Arsen hari itu.
Arsen hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. "Ya, kamu boleh keluar."
Setelah Galen undur diri. Arsen menarik dirinya dengan enggan, membetulkan jas yang dipakainya. Pikirannya mengembara entah ke mana. Terbang jauh ke suatu tempat.
'Sebenarnya apalagi yang harus kulakukan agar kamu bisa memaafkanku, Nadira?' racaunya tak jelas.
__ADS_1
Banyak usaha telah dilakukan oleh Arsen, termasuk meminta maaf, mengirimi gadis itu bunga, memberi hadiah, mengajaknya jalan-jalan. Namun, Arsen merasa semua usahanya sia-sia saja. Karena gadis itu masih menunjukkan sikap defensif-nya terhadap Arsen.
Arsen berjalan gontai ke ruang VVIP, menemui client-nya. Meski enggan, tanggung jawab tak bisa diacuhkan begitu saja.
***
"Nad, Lo kenapa sih? Udah berapa hari Gue lihat murung terus, what happens, uh?" tanya Luna saat keduanya bertemu di salah satu Kafe dekat kantor mereka. "Lo juga ambil cuti dadakan gitu aja, kenapa?" tanyanya lagi.
Nadira menghela napas, meneguk sedikit kopinya sebelum menjawab pertanyaan Luna. "Gue gak tahu harus ceritain masalah Gue atau nggak sama Lo. Tapi kayaknya Gue mau resign deh, Lun."
"Resign? Kenapa? Lo udah gak nyaman? Atau jangan-jangan ... Bara?" tebak Luna. Nadira mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Bukan cuma itu aja, sih. Gue juga mau cari lingkungan kerja baru, bosen juga ada di satu tempat selama bertahun-tahun. Ada saatnya kita butuh lingkungan baru, Lun supaya kita bisa lebih berkembang," ujar Nadira serius.
Luna mendecih pelan. "Iya, deh yang mau keluar comfort zone. Terus, setelah resign, apa rencana Lo, Nad?"
"Hm, soal itu masih Gue pikirin, sih."
"Jadi, Lo minta Gue keluar kantor cuma mau kasih tau Gue kalau Lo mau resign doang?"
Nadira terkekeh. "Gue sekalian mau minta tolong kasihin surat resign Gue ini ke Bu HRD." Nadira menyerahkan sebuah map yang berisi surat pengunduran dirinya.
"Ah, buat apa? Gak usah gimmick gitu ah, lagipula gak akan ada bedanya, kok, Luna. Gue juga lagi males aja ketemu seseorang," jawab Nadira sedikit tertunduk. Membuat Luna bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sahabatnya itu.
"Oke, deh, terserah Lo aja. Btw, kalau Lo resign terus siapa dong yang handle proyek itu nanti?"
Nadira mengedikkan bahu pelan. "Yang lebih berhak dan mumpuni pastinya."
Setelah itu, Luna kembali ke kantor. "Barang-barang Lo gimana, Nad?" tanyanya sebelum keluar dari Kafe.
"Lo bisa kirim ke apartemen baru Gue gak? Nanti Gue kirim alamatnya." Luna mengangguk lali melanjutkan langkahnya.
Nadira menghabiskan sisa kopinya lalu kembali pulang ke apartemen barunya untuk mengurus segala keperluannya. Ia melirik arlojinya sekilas lalu bergumam. "Sudah waktunya memulai hidup baru, Nadira."
***
Arsen membanting sebuah berkas di tangannya hingga kertas-kertas berserakan di lantai. "Kenapa? Kenapaaa?!" raungnya keras.
Galen menatapnya kasihan. Belum pernah ia melihat Tuannya sebegitu frustasinya hanya karena membaca surat pengunduran diri.
Usai dari rapatnya dengan client dari Italy itu, kepala personalia memberitahunya bahwa salah seorang karyawannya mengundurkan diri dan orang itu adalah Nadira. Fakta itu sontak langsung membuat Arsen murka.
__ADS_1
Ia mencengkeram kerah kemeja Galen kuat. "Kenapa Galen? Kenapa kau membiarkan istriku mengundurkan diri? Kau merasa sangat hebat sekarang?" desisnya penuh kemarahan.
Galen terbatuk. "Tidak, Tuan ... uhuk!"
Arsen melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan mendorong Galen kasar, membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang. Arsen menatapnya penuh sorot kemarahan dan tanda tanya penuh.
"Sebaiknya beri aku sebuah penjelasan yang masuk akal jika kau tak mau kukirim ke Kamp Pelatihan," katanya penuh penekanan membuat Galen menunduk takut.
"Kepala personalia memberikan surat pengunduruan diri itu kepada saya, Tuan. Awalnya saya juga tidak tahu sampai Tuan membacanya tadi," jelasnya lugas.
"Siapa yang mengantarkan surat resign itu? Apakah Nadira langsung?"
"Bukan, Tuan. Luna yang mengantarkan surat pengunduran diri itu, sepertinya atas permintaan Nyonya." Arsen mengibaskan tangannya, menyuruh Galen untuk keluar.
Dengan segera Galen undur dari ruangan Presdir yang seperti kapal pecah itu.
"Galen," panggil Arsen lagi. Galen yang hendak menarik pintu keluar kembali menoleh.
"Ya, Tuan? Ada perintah?" tanyanya langsung menebak.
"Cari tahu tentangnya. Tinggal di mana istriku sekarang dan hal lainnya. Pimpinan bilang Nadira sudah meninggalkan kediaman utama, aku takut dia tidak tinggal di unit yang kubelikan untuknya."
"Baik, Tuan."
Arsen kembali duduk di kursinya. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Nadira? Apa lagi yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku padamu?" gumamnya menerawang jauh ke luar gedung.
Arsen tak pernah melewati hal sesulit seperti membujuk seorang perempuan yang marah.
***
Hai teman-teman pembaca setia "Cinta Sejati Sang Pewaris"
Arsen sedang bingung nih. Menurut teman-teman hal apa yang harus dilakukan Arsen agar Nadira memaafkannya?
Tinggalkan jawaban dan sarannya di komentar, ya.
Jangan lupa like, follow and subscribe, ya. Author sangat menanti dan menghargai dukungan dari teman-teman sekalian.
With Love,
— HK
__ADS_1