Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 36


__ADS_3

Usai dari ruangan Arsen, Nadira kembali menekuri pekerjaannya sebagai akuntan. Menganalisi alur kas perusahaan, membuat laporan laba rugi, investasi. Tugasnya bertambah setiap harinya, menunjukkan kesungguhan dan dedikasinya dalam pekerjaan.


Selesai membuat satu laporan, ia lanjut kembali memeriksa laporan yang lain, memastikan semua laporan balance. Apabila ada laporan yang ganjil, ia akan memeriksa ulang dan memuat kembali bersama pihak terkait. Tugasnya begitu setiap tahun, hingga Nadira sendiri dijuluki pegawai multi-talent, semua hal bisa dilakukannya.


Perusahaan juga begitu mengapresiasi kinerja Nadira dengan memberikan bonus dan tunjangan yang layak. Harrington Group, selain terkenal akan industri properti dan real estate juga terkenal karena apresiasi terhadap pegawai yang tinggi.


"Nad, udah acc belum sama Presdir?" suara Luna menghentikan jemarinya sesaat. Gadis itu menoleh, Luna sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.


Nadira melepas kacamatanya dan mengambil sebuah map dari laci mejanya. "Untuk yang lainnya Pak Arsen udah setuju, dokumennya belum ditandatangani, sih. Beliau bilang, fine tapi konsep yang kita usung terlalu sederhana. Tapi tadi Pak Arsen udah kasih contoh konsepnya, kok. Gue juga udah bikin draft kasarnya, tinggal Lo ketik ulang dan revisi aja," jelas Nadira.


Luna menerima map itu, membacanya sekilas lalu mengangguk singkat. "Oke, thanks, ya! Btw, makan siang nanti tunggu Gue, ya. Gue ada sesuatu yang mau ditanyain."


"Tanya apa? Sekarang aja kali, Luna."


"Nanti aja, biar lebih santai."


Setelah itu, Luna kembali ke ruangannya, meninggalkan sebuah tanda tanya besar dalam benak Nadira.


***


Kantin kantor, jam makan siang. Suasana kantin siang itu cukup ramai. Harrington Group memiliki kantin yang menyajikan makan siang berbagai menu. Mulai dari makanan rumahan sampai fast food, semuanya tersedia.


Sudah 15 menit sejak mereka memesan makanan, tetapi Nadira sama sekali belum menyentuh makanannya. Yang ia lakukan hanya mengaduk-aduk sup iga sapi itu tanpa niat memakannya.


Padahal di depannya, Luna sudah menghabiskan sebuah roti burger ukuran besar dan secangkir cola dingin.


"Dimakan dong, Nad, masa cuma diaduk-aduk kayak gitu," tegur Luna. Nadira menggeleng, alih-alih memakannya, gadis itu justru mendorong nampan makannya menjauh.


"Gak selera, Luna," cicit Nadira. Biasanya ia paling menyukai makanan di kantin karena rasa makanannya yang enak.

__ADS_1


Jujur saja, Luna jadi merasa tak tega sekarang. Tadinya, Luna berniat untuk bertanya soal hubungan Nadira dan Arsen. Tapi sepertinya ia urungkan niat itu karena Nadira murung sejak tadi. Luna tak mungkin bisa menanyakan hal seserius itu di saat Nadira tengah larut dalam kedukaannya.


Luna baru teringat saat mengecek kalender tadi. Dan ia mengutuk dirinya sendiri yang lupa akan hari kematian orangtua Nadira.


"Say something, Nad, please ... Gue bingung kalau Lo diam murung kayak gini, masih mending Lo nangis darah sekalian tapi habis itu udahan sedihnya daripada Lo tahan-tahan kayak gini," ujar Luna turut merasa sedih.


Nadira menggeleng lemah. "Gue gak terlalu sedih, Lun. Gue cuma merasa, ternyata rasa kehilangan orang bisa sesakit ini, ya? Gue masih gak menyangka ... "


"Lo gak pernah sendirian, Nad. Ada Gue," sela Luna cepat. "Gue memang gak pernah merasa kehilangan, tapi Gue mengerti perasaan Lo. Kadang, punya orangtua juga belum tentu baik," sambungnya lagi.


"Lo gak boleh ngomong gitu, Nad. Se-strict apapun orang tua Lo, mereka tetap orang yang wajib Lo hormati. Lo harus banyak bersyukur mereka masih ada. Karena, kalau mereka udah gak ada, jangankan mau peluk atau cerita, lihat wajah mereka aja Lo gak akan bisa. Jangan sampai nanti Lo nyesel sendiri," marah Nadira.


Luna tersenyum. "Gue tahu Lo bakal ngomel kayak gini. Gue lebih suka kalau Lo ngomel dan marah-marah kayak sekarang daripada diam kayak tadi," candanya diselingi tawa kecil.


"Ish, Luna! Orang lagi galau juga," Nadira mencebik.


"Galau? Galau kenapa, sih? Kayak Ibu-ibu yang gak dikasih perhatian aja," candanya lagi. Luna meminum habis colanya.


"Hai gadis-gadis," suara seseorang menyentak keduanya. Baik Luna maupun Nadira seketika menoleh. "Om Bara?!" pekik keduanya hampir bersamaan.


Pria yang dipanggil Bara itu pun tersenyum. Lalu duduk di antara keduanya. "Apa kabar kalian berdua?" sapanya hangat sambil memberikan dua kotak cokelat kepada Nadira dan Luna.


"Buat Lo berdua, tenang aja, staff yang lain juga dapet, kok." Luna dan Nadira menerima kotak cokelat itu dengan berbinar.


Bara merupakan manajer umum, Nadira dan Luna sudah mengenalnya sejak mereka berdua masuk ke perusahaan ini. Sifatnya yang ramah dan murah senyum itu membuat beberapa staff menyukainya.


"Baik banget dong," jawab Luna sumringah. "Lo kok baru balik sekarang sih, Bar?" tanyanya kemudian.


"Iya gara-gara Lo pergi dinas, Gue jadi harus gantiin Lo jadi spokesperson," tambah Nadira. Mendengar keluhan dua gadis di hadapannya, Bara terkekeh pelan.

__ADS_1


"Sorry, deh, ladies. Gini deh, gimana nanti kalau Gue traktir? Hitung-hitung ganti rugi buat kalian, deh," ajaknya. Padahal ia tak berhutang apa-apa, ajakannya itu hanyalah sebuah cara untuk menunjukkan kebaikannya.


Luna langsung menggangguk menyetujuinya. Namun, Nadira tampak terdiam beberapa saat. "Kenapa, Nad?" tanya Bara.


Nadira menggeleng. "Kayaknya Gue gak bisa, deh. Lo berdua aja," tolaknya halus. Bara tampak kecewa, tapi sedetik kemudian ia tersenyum singkat.


"Oke gak apa-apa. Next time aja berarti, ya." Bara tampaknya belum menyerah. Sebenarnya, sudah sejak lama ia mengagumi Nadira. Berbagai kesempatan telah dibuatnya untuk mendekati gadis itu. Namun, semuanya sia-sia, Nadira tidak semudah itu dibujuk atau diajak keluar.


Ketiganya tampak asik bercengkrama. Apalagi Luna, ia terus bercerita panjang lebar. Sisa jam makan siang itu, Nadira gunakan untuk mendengarkan Luna. Sesekali Nadira dan Bara terkekeh geli dengan cerita Luna.


Di saat yang bersamaan, Arsen memerhatikan interaksi ketiganya dari layar pemantau cctv. Ia menggeram marah saat ia dapati Bara yang mencuri lihat pada Nadira.


"Galen!" panggilnya keras.


"Ya, Tuan. Anda butuh sesuatu?"


"Siapa laki-laki ini? Kenapa aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?" tanyanya seraya menunjukkan rekaman cctv pada Galen.


"Itu manajer umum, Tuan. Namanya Bara Gunawan. Bara ditugaskan ke luar kota sebulan yang lalu, hari ini baru kembali," jelas Galen singkat.


"Lalu, apa hubungannya dengan istriku?" tanyanya lagi dengan menekankan kata istriku, seolah ingin menunjukkan bahwa Nadira adalah istrinya walaupun tak ada satu pun karyawan perusahaan yang tahu.


"Maaf, Tuan, untuk hal itu saya kurang tahu. Tapi seharusnya mereka hanya teman kerja biasa, sejauh yang saya tahu, Nyonya tak memiliki hubungan asmara dengan siapapun di perusahaan ini," terangnya agar Arsen puas dan agar pria itu tidak tercabik oleh rasa cemburunya.


Arsen tampak mengangguk singkat. "Perlukah saya panggil Nyonya untuk memastikannya, Tuan?" tanya Galen lagi. Sebab ia melihat Arsen yang tampaknya belum puas.


"Tidak usah, akan aku tanyakan sendiri di rumah. Kembalilah bekerja!"


Setelah itu Galen kembali ke ruangannya, menyelesaikan semua pekerjaannya. Arsen masih terduduk di sana, bertanya-tanya dalam hati. Keningnya berkerut dalam tanda ia diliputi rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


'Tatapan pria ini sedikit tidak biasa, bukan?'


__ADS_2