Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 61


__ADS_3

Malamnya, Arsen tak bisa tidur nyenyak, meskipun ia tahu bahwa Nadira sudah lebih membaik sekarang. Terbukti dari suara dengkurannya yang halus, selama beberapa saat ia memandangi wajah tenang istrinya dengan senyum tipis.


"Aku tidak tahu kapan pastinya aku suka memandangi wajahmu yang sedang tertidur seperti ini," gumam Arsen pelan. Jari telunjuknya menyusuri wajah Nadira dari kening, pipi, hidung hingga ke bibir ranum itu.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat, Arsen memilih merebahkan dirinya di sisi Nadira. Meraih kedekatan yang entah sejak kapan ia rindukan.


"What happen?"


Arsen tersentak saat Nadira bertanya padanya. Pria itu menoleh, menatap Nadira yang baru saja terbangun. Matanya yang jernih menatap Arsen sambil tersenyum lembut.


"Nothing," jawab Arsen disertai kekehan kecil. Membalik tubuhnya menghadap samping dan memandang Nadira dengan menopang kepalanya menggunakan sebelah tangan.


Bibir ranumnya mengerucut. "Bohong, jangan bohong. Sesuatu terjadi, kan?" tanya Nadira menatap langit-langit kamar. Pada tengah malam seperti ini seharusnya lampu kamar dimatikan, tetapi, berhubung Nadira memiliki nyctophobia, Arsen tetap menyalakan lampunya agar terang.


Arsen terdiam sejenak, memikirkan alasan yang tepat untuk mengalihkan pembicaraan. "Look at me," katanya setelah beberapa detik, mengambil alih dagu Nadira agar menatapnya sempurna.


"Aku punya satu kabar bagus, mau dengar?" tanyanya. Nadira memicing sejenak, mengira kabar apa yang hendak diungkap pria di samping tubuhnya.


"Apa?" tanya Nadira pada akhirnya. Arsen tersenyum dan membenarkan posisi hadap sampingnya menjadi berbaring sempurna. Tangan kanannya meraih jemari Nadira dan menggenggamnya lembut.


"Bara akan menjalani sidangnya dua hari lagi, Kakek memberitahuku tadi sore."


"Benarkah? Itu bagus! Aku ingin ikut ke—"


"Tidak bisa!" sentak Arsen memotong ucapan Nadira cepat. Mereka bersitatap selama beberapa saat.


"Kenapa?"


"Kamu harus memulihkan dirimu dengan baik." Arsen menatap Nadira serius, memperingatkannya untuk tidak membantahnya. Nadira hanya terdiam dan kembali menatap langit-langit ruang rawatnya. Pelan-pelan ia menarik tangannya dari genggaman Arsen, merasa kecewa.


"Aku tahu kamu pasti ingin sekali melihat Bara divonis hukuman berat, tapi perhatikan kembali kesehatanmu, Sayang," jelas Arsen lebih lembut sembari meraih jemari Nadira kembali, kali ini membawanya untuk dikecup singkat.


"Kamu lupa? Aku berjanji mengajakmu liburan akhir tahun ini sebelum kamu aktif menyusun tesis." Arsen mengingatkan janjinya dan juga jadwal tetap Nadira setelah tahun berganti.

__ADS_1


Sejenak, Nadira tampak berpikir. "Kamu gak tahu rasanya," lirih Nadira. "Aku ... Aku merasa bahwa hari itu adalah hari terakhirku," katanya tercekat. Mengingat kembali peristiwa itu, bahunya bergetar hebat. Bulir-bulir air mata kembali membanjiri pipinya.


Arsen berbalik, sebelah tangannya ia gunakan untuk menyeka linangan air mata Nadira. "Aku ... Aku," raung Nadira, dadanya bergerak naik turun.


Arsen tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluknya. "Aku tahu, aku tahu rasanya. Pasti berat bagimu. Tapi, Sayang. Dibanding dengan mengingat kesedihan itu, lebih baik untuk berusaha melupakannya. Kamu sudah aman, aku ada bersamamu."


Meski Arsen menenangkannya dan mengusap pucuk kepalanya lembut, tangis Nadira tetap saja terasa menyayat bagi Arsen. "Sudah, jangan menangis lagi," bujuk Arsen lagi, kali ini dengan menangkup kedua pipinya.


"Don't cry, kita bicarakan, oke?" Nadira mengangguk, meski isaknya belum reda, ia menyetujui Arsen untuk berbicara. Dari pertengkaran mereka sebelumnya, Nadira belajar untuk mendengarkan dan berbicara.


Apapun jenis masalahnya. Akan selalu ada titik temu untuk setiap permasalahan jika mereka berkenan duduk diam dan saling merangkul kata untuk memahami. Meski tak semua masalah akan selesai dengan cakap-cakap, setidaknya Nadira telah belajar untuk mendengarkan baru menyimpulkan.


Arsen tersenyum menatapnya. "Pulihkan dirimu dengan baik, jika kamu sudah membaik, kamu boleh ikut," kata Arsen pada akhirnya. "Kembalilah tidur, ini sudah malam."


Arsen membantu Nadira merebahkan diri dan membantunya untuk kembali lelap. Suara detak jam dinding menjadi pengiring keduanya untuk terbang ke alam mimpi.


***


Sesampainya di depan pintu ruang rawat Nadira, ketiga perempuan itu tampak saling pandang. "Ih ayo, Lun! Penasaran banget nih Gue, mau mastiin beritanya," desak Inaya tak sabar.


"Iya, Lun, cepet ketuk, berat juga tahu nih seserahan," timpal Sisca yang nampak keberatan menumpu sekeranjang buah di tangannya.


"Iya, iya, sabar dong! Lo berdua ini, ya." Tangan Luna terulur mengetuk pintu, namun urung sebab Anthony lebih dulu membuka pintu. Ketiga perempuan itu tampak terkesiap.


"Maaf, Nona-nona ini siapa, ya?" tanya Anthony sopan. Kepala Luna sedikit menunduk saat bersinggungan dengan Anthony.


"Saya Luna, ini Sisca dan Inaya, kami mau menjenguk Nadira, Tuan," kata Luna sambil bergantian menunjuk Sisca dan Inaya.


Anthony tampak mengingat. "Ah, kamu yang dirawat bersama Nyonya Muda, ya. Silahkan, silahkan masuk. Nyonya baru saja selesai minum obat." Anthony menggeser tubuhnya ke samping untuk mempersilahkan ketiga perempuan itu untuk masuk.


Dari tempat duduknya, Nadira tampak terkejut dengan kehadiran tiga perempuan itu. Di sisinya, Arsen sedang membantunya mengoleskan gel penghilang bekas luka di bagian tangan.


"Kalian ... Luna." Nadira memandangi Luna dengan sorot mata bingung dan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Seluruh kota sudah tahu," kata Arsen seolah menjawab kebingungan Nadira. Perempuan itu sontak menoleh dan menganga tak percaya.


Sedangkan Sisca dan Inaya merenda senyumnya, merasa segan dengan kehadiran Arsen di sana. Sisca tampak meletakkan keranjang buahnya di atas nakas.


"Sudah selesai, aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik, ya, Anthony akan di sini untuk menemani kamu." Sebelum pergi, Arsen menyempatkan diri untuk mengecup pucuk kepala Nadira yang tertutupi hijab, membuat perempuan itu menegak sempurna.


Kemudian, ia berjalan ke luar dengan sedikit tersenyum pada ketiga perempuan itu. "Pagi," sapanya yang langsung membuat ketiga perempuan itu membelak tak yakin.


Sepeninggal Arsen, ketiga perempuan itu langsung menghambur ke arah Nadira. "Nad, sumpah! Demi apa Lo?!" serbu Inaya heboh.


"Beneran Presdir kan itu? Presdir kita?!" Inaya tampak tak percaya dengan mengerjapkan matanya berkali-kali. Sedangkan Luna tampak terkekeh mendengar nada tak percaya kedua teman dekatnya itu.


Nadira menatap ketiga temannya bergantian. Seakan tak percaya dengan kehadiran mereka. "Kok kalian bisa tahu?" tanyanya. Luna mengangkat bahu, memilih duduk diam di antara mereka.


"Oh My God!" pekik Inaya keras. "Lo beneran gak tahu, Nad? Nama Lo jadi trending topic di kantor!" serunya antusias.


"Iya, iya. Sampai jadi headline juga, lho!" timpal Sisca. "Gue bener-bener masih gak nyangka, sih. Pantas aja waktu di kantor, Pak Arsen sering manggil Lo."


"Ceritain dong awal kalian ketemu, sama Presdir itu gimana, sih? Kok kayaknya beda banget, tadi juga sempat-sempatnya kiss," Inaya terkekeh geli.


"Nay! Lo frontal banget!" tegur Sisca.


Lalu, keempat perempuan itu bercengkrama dengan asyiknya. Nadira tanpa malu-malu lagi menceritakan bagian pertemuannya yang tak terduga. Inaya dan Sisca menyimak dengan antusias, sesekali menimpali cerita Nadira dengan candaan-candaan kecil.


Berbeda dengan Inaya dan Sisca yang baru mengetahui fakta pernikahan Nadira. Luna justru dengan santainya memakan buah-buahan yang tadi dibawa Sisca.


"Jadi, the final chapter Nadira bukan independent woman lagi dong, tapi Istri Presdir," ledek Inaya dengan kerlingan mata.


Sisca tak mau kalah, ia memberi Nadira senyum jahil. "Jadi, gimana rasanya jadi Istri Presdir?" tanyanya.


"Nothing much," jawab Nadira enteng.


Luna berdeham, mengambil alih atensi mereka seketika padanya. "Kalian kayak gak tahu Nadira aja," cetusnya.

__ADS_1


__ADS_2