
Areef tampak tengah berjemur di taman belakang kediaman utama. Menyambut sinar pagi dengan rasa bahagia. Beberapa hari terakhir kegiatannya hanya sebatas berjemur dan membaca.
Seseorang masuk ke taman belakang dan menghampiri Areef. "Ayah," panggilnya. Areef terdiam sejenak sebelum akhirnya membalikkan badan ke belakang dan menatap seorang perempuan di hadapannya.
Areef tak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa detik, memandangi perempuan di hadapannya dengan baik. Barangkali matanya terlanjur rabun hingga ia salah mengenali.
"Ayah, ini aku." Perempuan itu lebih mendekat ke hadapan Areef. Menundukkan kepalanya dan memberi salam. Secara refleks, Areef menyentuh kepalanya pelan dan meminta perempuan itu untuk mengangkat kepalanya.
"Rossie, benarkah ini kamu?" tanya Areef seolah masih tak percaya bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Putri kandungnya yang pergi sepuluh tahun lalu.
Areef meraba wajah Rossie yang tampak menua, jelas sekali bahwa anak perempuannya telah melalui banyak hal. Areef bukannya tak tahu apa saja yang dialami putrinya, melainkan ia lebih memilih untuk tidak ikut campur.
Areef tampak menghela napasnya panjang dan meminta Rossie untuk duduk di kursi taman. Mata Rossie menerawang jauh ke sekitar taman yang jauh lebih berbeda dibanding sepuluh tahun yang lalu.
"Ada banyak hal yang berubah, Rossie."
Rossie menoleh, menatap Areef yang setengah terpejam sambil bersandar. "Aku dengar Ayah baru saja menjalani serangkaian pengobatan, apa benar?" tanyanya yang membuat mata Areef membuka sempurna.
Areef tak menjawab pertanyaan Rossie itu, ia lebih memilih memejamkan matanya kembali dan menikmati terpaan sinar matahari. Rossie tampak menghela napas beberapa kali.
Meremat ujung kelinan bajunya, Rossie menahan tangis. "Beberapa waktu lalu, Arsen mengunjungiku di Inggris," kata Rossie lagi setelah beberapa detik menelan salivanya susah payah.
Areef masih bergeming. Rossie makin putus asa, ia merasa keputusannya untuk pulang adalah hal yang salah. Sebulir bening jatuh ke pipinya, isaknya terdengar oleh Areef.
Melihat itu, Areef jadi mengiba. Ia bangkit dan mengulurkan sebuah sapa tangan. "Kita bicara di dalam," katanya kemudian.
Rossie menatap Areef dengan nanar. "Bisakah aku mendapatkan kesempatan lagi?" tanyanya penuh harap. Matanya tampak lebih berkaca-kaca, Areef mengalihkan pandangannya. Rossie selalu bisa menarik simpati orang.
"Masuklah lebih dulu, segalanya bisa dibicarakan." Areef berjalan masuk dengan sedikit tertatih. Seorang pelayan datang memberinya air.
__ADS_1
Setelah itu, Rossie duduk tepat di sofa sebelah kanan tempat duduk Areef. Menunduk dalam, isakan Rossie masih terdengar. "Apa yang membuatmu berani datang ke rumahku, Rossie?" tanya Areef tak ingin berbasa-basi.
Mendengar nada bicara Areef yang begitu lugas, Rossie cukup terkejut dan tak mengira. Tampaknya ia harus lebih berusaha lagi. Areef memandangnya dengan tatapan tak terbaca.
"Apa lagi yang kau inginkan kali ini?" tanya Areef lagi, kali ini tanpa memandang Rossie. Jika Areef boleh jujur, ia sebenarnya merindukan Rossie. Tetapi saat mengingat tingkah laku Rossie dan Arthur sepuluh tahun lalu, kepalanya mendadak jadi keruh.
The hurts are still there but it's bearable at the moment. [Sakitnya masih ada, tapi saat ini masih bisa ditanggung.]
"Aku ... Aku ingin meminta maaf padamu dan Arsen, Ayah." Kepala Rossie makin tertunduk dalam, berharap dengan itu Areef akan lunak dan memaafkannya.
Areef melengos. "Terlambat, Rossie. Kau seharusnya meminta maaf sepuluh tahun lalu. Sekarang permintaan maaf itu tak lebih dari sebuah alasan agar kau bisa kembali ke kehidupan Arsen," ucap Areef telak.
Rossie terdiam. Memang benar, dan ia juga sedikit merasa bersalah akan hal itu. Areef beranjak. "Kembalilah, Rossie. Aku tidak menerima kehadiranmu di sini," usirnya halus.
Rossie langsung menegak. "Aku masih anakmu, Yah!" sentak Rossie, merasa terhina dengan sikap Areef yang seakan-akan tak pernah mengenalnya.
Areef menatap Rossie dengan tajam. "Sejak sepuluh tahun lalu, aku hanya memiliki cucu," kata Areef lalu menunjuk ke arah pintu utama, memerintah Rossie untuk keluar.
Areef memijit tulang di antara kedua keningnya. "Anthony, tolong hubungi Arsen, beri tahu dia untuk berhati-hati," titahnya pada Anthony yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya.
***
Nadira membuka matanya perlahan saat ia rasakan sebuah sentuhan menggelitik punggungnya. "Good Morning, Honey." Arsen tersenyum hangat sambil memainkan anak rambut Nadira.
"Morning too, sejak kapan kamu bangun? Dan jam berapa ini?" tanya Nadira begitu kesadarannya terkumpul sempurna.
Arsen mengangkat tubuh kemudian mengulurkan tangan melewati tubuh Nadira dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
"Jam tujuh pagi," gumamnya sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Nadira. Perempuan itu mengangguk kecil dan hendak beranjak.
__ADS_1
Namun, Arsen menahan lengannya dan kembali menariknya ke dalam selimut. "Kita masih punya cukup waktu," kata Arsen.
"For?" tanya Nadira bingung. Alih-alih menjawab, Arsen justru menyurukkan wajahnya ke leher Nadira, menghirup kuat aroma yang Nadira miliki.
Nadira tergelitik. "Mas bukannya punya jadwal meeting hari ini?" Nadira mengingatkan, membuat Arsen tiba-tiba menggeram tak suka.
Mengangkat kepalanya, Arsen menatap Nadira dengan tatapan penuh sayang. "Masih ada dua jam lagi sebelum rapatnya dimulai," sangkal Arsen masih merasa enggan untuk beranjak dari kehangatan yang mereka miliki.
Nadira menggeleng pelan. "Presdir harus tepat waktu agar menjadi contoh bagi yang lain," katanya seraya mendorong Arsen untuk bangkit dari posisi berbaringnya.
Dengan malas, Arsen berguling menjauh dan keluar dari balik selimut. Selama beberapa detik, ia kembali menatap Nadira dengan bibir mengerucut. Nadira terkekeh, lalu ikut bangkit dari tidurnya.
Setelah mengenakan bathrobe putih miliknya, Arsen menyempatkan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan singkat pada rambut Nadira sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi.
Lalu, sambil menunggu Arsen selesai mandi. Nadira merapikan tempat tidurnya dan berjalan ke walk in closet untuk menyiapkan pakaiannya. Tepat setelah itu, Nadira dapat mendengar ponsel Arsen berdering.
Baru saja ia hendak memanggil Arsen, pria itu sudah berdiri di belakangnya. "Eh, kaget aku ... Ini, ada call. Belum aku jawab, kok."
"Kenapa gak dijawab? Jawab aja, Sayang."
"Enggak, takutnya penting," kata Nadira lalu memberikan ponsel itu kepada Arsen.
Menatap layar ponselnya, kening Arsen sedikit berkerut. "Anthony?" gumamnya lalu menekan tombol answer.
"Ya, halo, Anthony. Ada apa? Kakek baik-baik saja, kan?" tanya Arsen begitu panggilan tersambung.
Selama beberapa detik mendengarkan penjelasan Anthony di seberang telepon, kening Arsen semakin mengerut dalam. Nadira bahkan melihat urat rahangnya mengetat.
"Baik, aku mengerti. Aku tahu apa yang harus kulakukan," ucapnya lalu memutus sambungan telepon.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Nadira penasaran. Arsen menoleh.
"Anthony," jawabnya sambil melempar ponselnya ke atas kasur. "Aku harus ke kantor sekarang, ada urusan penting."