Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 38


__ADS_3

Beberapa jam sebelum perayaan ulang tahun perusahaan. Nadira sudah sibuk bersiap, ia harus ada di sana 2 jam sebelum acara dimulai. Nadira sudah berjanji pada tim acara untuk membantu mereka. Bersamaan dengan itu, Arsen baru saja selesai olahraga dari gym pribadinya.


"Kamu sudah bersiap?" tanya Arsen sambil menyeka peluh di dahinya. Tiba-tiba muncul keinginan untuk menjahili Nadira. Ia mendekati Nadira perlahan, menatap pantulan perempuan itu dari cermin.


"Iya, soalnya saya harus ada di sana dua jam sebelumnya. Tenang aja, saya udah siapin semuanya ... Pak! Jangan dekat-dekat ih!" Nadira sontak menyingkir.


Arsen terkekeh geli. "Satu pelukan saja, Nadira," rengek Arsen pura-pura manja. Ia kembali mendekati Nadira, mengikis jarak antara mereka.


"Jangan berani dekat-dekat! Maju satu langkah lagi, awas aja!" ancam Nadira yang sepertinya sudah tahu akal bulus Arsen.


Lelaki itu berdecak pelan. "Dasar pelit!"


Nadira kembali memoles wajahnya dengan lipstik berwarna nude, melengkapi penampilannya.


Arsen memicing. 'Dia tampak sangat cantik dengan gaun itu, entah akan berapa banyak pasang mata yang melihatnya, ck.'


Setelah itu, Arsen tak mengatakan apapun lagi, ia pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri juga.


***


Nadira dan Luna tampak sibuk menyambut tamu yang datang bersama dengan Inaya dan Sisca. "Kenapa harus kita yang berdiri di sini, sih?" Nadira berdecak kesal.


"Karena tamu yang datang ini istimewa, Nad." Luna memberitahu.


"Siapa Lun? Pejabat, ya?" Inaya bertanya antusias. Di sampingnya, Sisca juga tampak penasaran.


"Pimpinan," jawab Bara singkat, yang entah kapan datang. Ia melambai dan tersenyum ramah, seperti biasanya.


"Kak Bara?!" pekik Sisca girang, wajahnya berubah sumringah. "Kak Bara mau menyambut tamu juga, ya?" Bara mengangguk.


Lelaki itu tersenyum kepada Nadira. "Nanti ada waktu gak, Nad?" tanyanya pelan. Ketiga perempuan itu seketika memerhatikan Nadira intens.

__ADS_1


Namun, belum sempat Nadira menjawab pertanyaan itu. Mobil Pimpinan mereka datang. Sedetik kemudian mereka langsung berdiri tegak menyambut tamu penting itu.


Areef berjalan masuk ke perusahaan yang telah disulap dengan megah itu dengan bangga. Di sisi kanan kirinya berjajar staff yang menunduk hormat menyambut kedatangannya, mereka menyapa Areef hangat. Di sisinya Arsen berdiri menjulang tanpa ekspresi. Sangat berbeda dengan Areef yang tampak ramah berwibawa.


"Selamat datang, Pimpinan. Selamat datang, Presdir. Mari, lewat sini, Anda sekalian sudah ditunggu." Salah seorang bodyguard langsung berdiri di sampingnya, menunjukkan jalan ke mana seharusnya Areef dan Arsen pergi.


"Selamat datang, Pimpinan ... Selamat datang, Presdir." Keempat gadis itu langsung menyambut keduanya dengan ramah. Areef tersenyum singkat. Arsen memicing tajam.


Mau apa lagi si batu bara itu? Apakah perlu begitu dekat dengan istriku? Ck! kesal Arsen. Raut wajahnya berubah masam. Untuk beberapa saat Arsen dan Nadira bersitatap.


Lalu, Arsen dan Areef pergi ke lobby utama. Di sana para staff, direksi dan mitra yang diundang telah menunggu kehadiran mereka. Sapaan-salam hormat menyanjung mereka. Areef terus tersenyum, merasa bahagia.


Sesuatu yang ia bangun bertahun-tahun telah mencapai puncak kejayaannya. "Terima kasih, terima kasih untuk kalian semua yang sudah datang meramaikan," ujarnya membalas penghormatan itu.


Meski ia sudah tak menduduki kursi jabatan itu, tetapi orang-orang masih sangat menghormatinya. Berbeda dengan Arsen, malam ini, ia lebih banyak diam. Menjawab pertanyaan seadanya, tersenyum juga seperlunya. Suasanya hatinya benar-benar buruk. Matanya mencari-cari keberadaan Nadira.


Di antara banyaknya staff, tak begitu sulit bagi Arsen untuk menemukan gadis itu. Nadira tampak tengah bercengkrama dengan Luna dan Bara. Membuat Arsen makin geram.


"Kakek, Arsen pergi dulu sebentar," pamitnya. Areef untuk sesaat memandang ke mana cucunya itu pergi. Saat ia melihat Arsen mendekati Nadira, Areef mengulum senyumnya.


Nadira mengangguk. "Baik, Pak." Ia langsung mengikuti langkah Arsen cepat. Kenapa ini Presdir mendadak suram gitu, deh? Nadira mulai bertanya-tanya.


"Kenapa Presdir kayak marah gitu, ya? Dan lagi kenapa manggil Nadira ke atas?" Bara tampak bingung. Di sampingnya, Luna juga berpikiran hal yang sama. Namun, Luna mencoba untuk berpikiran baik. Meski hatinya tak tenang dan diliputi banyak kecurigaan.


Sebenarnya, ia sangat mengkhawatirkan Nadira, tetapi tak ada yang bisa dilakukannya sekarang. "Paling juga urusan proyek," kata Luna mengalihkan pembicaraan.


Di sebuah ruangan. Arsen menghentak Nadira lalu memojokkannya ke ujung tembok. Di matanya tersorot kemarahan. Nadira mendesis sakit. Arsen mendorongnya cukup kuat. "Kamu mulai berani, ya, Nadira!" makinya langsung.


Nadira terperanjat, "Apa, Pak? Saya salah apalagi?" tanyanya bingung.


"Bagus! Kamu tak tahu apa salahmu?" Arsen mencengkram kuat bahu Nadira, membuat gadis itu terpekik kesakitan.

__ADS_1


"Aww! Sakit, Pak!" kata Nadira cukup kencang. Arsen melepaskan cengkeramannya, sorot matanya masih sama, mencari kebenaran.


Lelaki itu tak akan tenang sebelum mendapatkan kebenarannya. Ia benar-benar merasa marah saat melihat keakraban Nadira dan Bara. Kenapa? Kenapa saat di kantor mereka bisa bercengkrama? Bukankah mereka hanya rekan kerja? Mengapa Arsen tak bisa? Bukankah ia adalah suami Nadira yang sah?


Demi melampiaskan amarahnya, Arsen memukul dinding tepat di samping wajah Nadira. Dadanya kembang kempis menahan kekesalan yang memuncak.


"Pak Arsen udah gila, ya?!" pekik Nadira merasa tak terima diperlakukan seperti ini. Ia bisa menerima temperamen Arsen yang buruk tapi tidak dengan kekerasan!


"Ya! Aku sudah gila! Aku sudah gila melihatmu berduaan dengan sembarangan lelaki!" sentak Arsen keras. Beruntung keduanya berada di lantai atas. Jadi, pertengkaran mereka ini tak akan terdengar oleh orang lain.


"Kenapa dia mendekatimu? Apakah kamu menggodanya? Hm?" tuduh Arsen yang membuat air mata Nadira langsung luruh deras ke pipi.


"Kenapa kamu menangis? Tak ada gunanya kamu menangis, Nadira!"


"Jangan berteriak!"


"Jelaskan padaku apa hubunganmu dengannya!"


"Bukannya sudah saya katakan, saya dan Bara hanya teman!" tekan Nadira. Entah berapa kali ia harus mengatakan dengan jelas bahwa hubungannya dengan Bara hanyalah sebatas teman kerja saja, tak lebih. Kenapa lelaki di hadapannya ini begitu tak percaya?


"Aku tak percaya jika kalian hanya sebatas teman. Tidakkah kamu lihat bagaimana dia memandangmu tadi?" Arsen makin menjadi-jadi menuduh Nadira. Hatinya telah diliputi kecemburuan dan rasa tidak percaya yang membuatnya buta.


Nadira mengusap kasar air matanya yang jatuh. Meski sudah ia tahan tangis itu, air tetap mengalir deras ke pipi. Hatinya terasa sakit, diremas habis oleh kecurigaan suami sendiri. Tak ada yang lebih menyakitkan dari tidak dipercayai suami dan dituduh yang bukan-bukan.


"Kenapa kamu diam? Kamu jadi bisu sekarang?"


"Apa? Apa lagi yang harus saya katakan? Mau sebanyak apapun saya menjelaskan bukannya akan percuma? Karena Pak Arsen gak mungkin percaya!" geram Nadira mulai merasa lelah menghadapi gangguan paranoid Arsen.


"Kamu berani, Nadira?" desis Arsen kian marah. Tangannya terkepal kuat.


"Hentikan, Arsen!" Areef memandang keduanya dengan pandangan tak terbaca. Antara tak menyangka, kecewa, kesal, iba, marah, semuanya membaur jadi satu.

__ADS_1


Ia melangkah masuk mendekati Nadira, menarik gadis yang berwajah sembab itu ke belakang punggungnya. "Kembali ke rumahmu, tenangkan dirimu dan renungkan kesalahanmu," katanya tegas. Arsen membisu di tempat.


Kemarahan yang semula membumbung tinggi seketika lenyap tak bersisa di hadapan sang kakek tercinta. "Jangan temui Kakek dan Nadira sebelum kamu menyadari kesalahanmu," tutur Areef lalu berjalan pergi dengan membawa serta Nadira bersamanya.


__ADS_2