Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 67


__ADS_3

Usai rapat membahas struktur perusahaan selesai, Arsen memilih langsung pulang dan menyerahkan segala urusannya kepada Galen.


Melonggarkan tautan dasinya, Arsen berjalan menuju carport dan mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat sebelum kembali pulang.


Arsen membeli satu buket bunga mawar merah untuk Nadira, kemudian mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sambil sesekali bersenandung nada-nada asal.


Sesampainya di rumah, Arsen menatap bangunan megah di hadapannya sebelum masuk. Sekali lagi, ia mengulas senyumnya tatkala mengingat di dalam sana ada seseorang yang menunggu kepulangannya.


Seorang pelayan menyambutnya di pintu utama, seperti biasa, menanyainya apakah Arsen memerlukan sesuatu. Arsen menggeleng kecil. Matanya menyisir ruang tamu, biasanya saat siang, Nadira akan berada di sofa, menonton drama kesukaannya ataupun membaca novel-novel yang biasa dibelinya.


Tetapi, siang itu, Arsen tak mendapati eksistensi Nadira di manapun. "Tuan mencari Nyonya?" seorang pelayan tampak menghampirinya.


"Iya, ke mana dia?"


"Nyonya tadi minta ijin untuk pergi periksa," jawab pelayan itu sambil menunduk.


Arsen mengernyit, "Periksa? Dia tidak mengatakan apapun padaku," timpal Arsen. "Dia tidak mengatakan apapun lagi?"


Pelayan itu menggeleng. "Kau kembalilah bekerja," titahnya yang membuat pelayan itu undur diri di hadapannya.


Arsen merogoh sakunya, mencari nama Nadira di ponselnya dan menekan tombol panggilan. Tak lama, panggilan itu dijawab. Suara seorang perempuan di seberang sukses membuat Arsen menarik napas lega.


Sudut bibirnya tertarik. "Kamu di mana? Rumah Kakek? Aku jemput, ya. Kamu tunggu di sana!"


Setelah itu, Arsen kembali mengendarai mobilnya menuju kediaman utama. Beruntung jalanan siang itu tak terlalu macet. Sesampainya di sana Arsen langsung disambut beberapa pelayan.


Begitu memasuki gerbang kediaman utama, Arsen dapat melihat keberadaan dua orang yang dikenalnya dari dalam mobil, tengah bercengkrama di taman depan.


Memarkirkan mobilnya sempurna, Arsen meraih buket bunga yang sebelumnya ia letakkan di kursi belakang dan menghampiri keduanya dengan langkah kecil. Kehadirannya jelas membuat Nadira terpekik kaget lantaran pria itu mengejutkannya dengan sebuket bunga mawar merah.


"Mas Arsen!" pekik Nadira girang saat melihat siapa sosok di balik buket bunga itu. Arsen tersenyum dan memberikan buket bunga itu kepada Nadira. Di tengah-tengah mereka, Areef merenda senyum bahagianya.


Melihat Arsen yang sudah berinisiatif memberikan istrinya bunga seperti itu jelas membuatnya bahagia. Areef berpikir setidaknya Arsen tidak sekaku dan sedingin dulu.

__ADS_1


"Banyak hal yang berubah," gumamnya, mengulang kata-katanya tadi pagi kepada Rossie.


"Sudah hampir senja, kalian pulanglah dan bersenang-senang," kata Areef dengan nada mengejek. Nadira yang mendengar kalimat tersirat dari Areef menjadi bersemu merah.


"Kakek membuatnya malu," cetus Arsen yang justru merasa lucu dengan tingkah Nadira.


Areef tertawa, "Baik, baik, cepatlah pulang," usirnya halus. Kemudian, Arsen melirik ke sampingnya, mencuri pandang.


"Iya, Kakek, kami pulang dulu. Kakek jangan lupa jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran," kata Arsen menekankan kata 'jangan banyak pikiran' di akhir kalimatnya.


Areef mengangguk. Keduanya menyalami Areef dengan hormat. "Kakek, jangan lupa, lho, ya!" bisik Nadira sebelum akhirnya menyusul Arsen.


Pria tua itu mengacungkan jempolnya tanda setuju yang membuat Nadira mengembangkan senyumnya. Untuk terakhir kalinya, Nadira melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil Arsen.


Saat mobil Arsen keluar melewati gerbang utama, Areef memanggil Anthony. "Siapkan semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal," titahnya yang langsung diangguki Anthony.


Mobil Arsen melaju dengan kecepatan sedang. Bagai remaja yang baru dimabuk cinta, Nadira berkali-kali mengulum senyumnya malu. Dan Arsen menyadari hal itu sepenuhnya.


"Kamu suka?" tanyanya. Nadira menoleh kemudian mengangguk kecil.


Arsen tertawa kecil. "Aku akan sering memberimu bunga jika kamu menyukainya."


"Eh? Mas, ini bukan arah pulang, kan?" tanya Nadira menyadari arah jalan yang berbeda. Arsen mengangguk sebagai jawaban.


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat, kita jarang jalan-jalan berdua, kan?" Nadira kembali mengangguk. Ia berpikir bahwa selain di rumah, mereka memang jarang bertemu. Selain kesibukan Arsen ditambah masalah Bara membuat mereka tidak bisa berlama-lama menikmati waktu berkualitas.


Nadira tak berkata apa-apa lagi. Kemudian, mobil Arsen memasuki sebuah taman yang dipenuhi dengan lampion-lampion gantung di sisi kanan dan kiri. Ada sebuah jalan setapak yang mengarah ke sebuah gazebo kecil, di tiap tepinya dihiasi rumput hijau dan juga bunga lily.


Nadira berdecak kagum dengan keindahan taman di depannya, ia berlari kecil melewati jalan setapak itu. Matanya menatap ke kanan dan ke kiri, meraih bunga-bunga itu ke dalam jangkauannya.


Di belakang, Arsen mengikutinya dengan tersenyum bahagia melihat pola tingkah Nadira. "Ini kayak di negeri dongeng!" puji Nadira sedikit berteriak lantaran jarak mereka yang jauh beberapa langkah.


"Dan kamu Tuan Putri di negeri dongeng itu," ujar Arsen saat jarak mereka telah dekat. Nadira mengangguk haru.

__ADS_1


Princess treatment comes naturally from a man who loves you.


Arsen tersenyum dan meraih Nadira, merengkuhnya dalam sebuah pelukan hangat. Hal yang pertama Nadira rasakan adalah rasa aman dan nyaman.


"Thanks ... Thanks for everything you do for me, Mr. Harrington," gumam Nadira pelan.


"Anything for you, My World," jawab Arsen lembut sambil sesekali mengusap pucuk kepala Nadira yang terbalut hijab.


Tanpa mereka sadari, dari balik jendela mobil, seseorang menatap keduanya dengan tajam. Mendesis penuh amarah, apalagi saat pandangannya tertuju kepada Arsen.


"Aku tidak rela kamu bahagia, Arsenio!" pekiknya seraya memukul dashboard mobil dengan cukup keras. "Aku akan membalasmu!" desisnya lagi lalu melajukan mobilnya meninggalkan taman itu.


Arsen mengajak Nadira ke sebuah gazebo di ujung jalan setapak itu. Nadira tampak terpukau saat melihatnya. Gazebo itu dikelilingi oleh lampion berbentuk bulat dengan taburan bunga di sisinya.


Tiap sisi gazebo dipasang tirai putih yang panjang hingga menyentuh tanah, saat angin bertiup, tirai itu berkibar-kibar indah. Arsen menuntun Nadira untuk menaiki sebuah undakan kayu.


Di sana terdapat sebuah meja, Arsen meminta Nadira untuk duduk di salah satu sudutnya, sedangkan Arsen duduk di sisi yang lain, saling berhadapan.


"Apa ini, Mas?" tanya Nadira.


Arsen tersenyum, "Entahlah, anggap saja sebuah hadiah kecil?"


"Kamu sudah merencanakannya?"


"Tidak, aku baru saja terpikir saat menjemputmu tadi."


Nadira tampak berkaca-kaca dan tak bisa berkata apapun selain menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Maaf jika terlalu sederhana," kata Arsen yang justru merasa bersalah. Nadira menggeleng pelan.


"Enggak, ini indah banget! Aku ... Aku cuma speechless. Kok kamu bisa terpikir untuk ajak aku ke taman seindah ini?"


"Itu karena ... Aku mencintaimu," kata Arsen lembut. Ia mendekat dan meraih tangan Nadira, membawanya tepat ke hadapan wajahnya dan menciumnya lembut. Kelembutan yang mampu meluluhkan hati Nadira.

__ADS_1


Dalam hati, Nadira berkali-kali ucap syukur sebab Tuhan telah menakdirkannya untuk menikah dengan seorang Arsen. Seorang pria yang semakin ia kenal, semakin dibuat terkejut dengan perlakuan lembutnya.


__ADS_2