
Perasaan Nadira sudah tak beraturan sejak pagi. Ia terus teringat kejadian kemarin malam saat Luna secara tak sengaja memergokinya dengan Arsen. Atau lebih tepatnya, mengetahui secara tak langsung fakta mengejutkan itu. Kalimat mana pun yang digunakan tetap tak bisa membuat pikirannya tenang.
"Sesuatu mengganggumu, Nak?" tanya Areef melihat Nadira yang semenjak masuk ke ruang perawatannya terus terdiam.
Memaksakan senyum, Nadira berkata, "Gak ada, kok, Kakek. Cuma ingat sesuatu aja," alibinya, tidak mau membuat Areef yang baru siuman itu khawatir.
Areef menaikan dan menurunkan kepalanya kecil. "Jika Arsen mengganggu atau menyusahkanmu, beritahu Kakek, ya."
"Kakek, jangan bahas soal itu dulu, ya. Kita fokus untuk kesembuhan Kakek, oke? Nadira tuh kangen tahu berkebun sama Kakek," ujar Nadira mengalihkan pembicaraan.
Areef mengusap pucuk kepala Nadira sayang. Ia menganggap Nadira seperti cucunya. "Anak baik," pujinya.
Nadira tersenyum, kembali menyendok bubur di tangannya lalu menyuapi Areef layaknya Kakek sendiri. Pelupuk mata Areef tampak berair melihat Nadira yang begitu memerhatikannya.
Membuatnya teringat akan anak perempuannya yang sudah pergi sepuluh tahun lamanya.
"Lagi, Kek. Setelah ini minum obat dan istirahat lagi, oke?" Areef mengangguk. Menerima semua ketulusan itu dengan senang. Areef berpikir, ia mungkin tidak memiliki banyak waktu lagi untuk mendapatkan perlakuan istimewa seperti sekarang.
Beberapa menit kemudian, Arsen masuk dengan menyelusupkan satu tangan ke dalam saku celananya. "Kakek sudah tidur?" tanyanya melihat Areef yang sudah berbaring.
"Iya, baru aja minum obat."
"Oke, thanks, Honey. You have promise, right?" tanyanya lebih kepada mengingatkan Nadira akan janjinya pada Luna.
Nadira menggumam sebagai jawaban. Mengambil tasnya, ia melangkah keluar. "Saya akan kembali setelah menyelesaikan ini," katanya.
"Nadira," panggil Arsen lagi menghentikan gerakan Nadira. "I'm sorry, Dear. I couldn't handle it yesterday. My bad, sorry cause I broke your rules," aku Arsen. Mengingat semalam perempuan itu begitu gelisah dibuatnya.
Sebagai jawaban Nadira mengangguk singkat. "I know, Mr. Harrington. Do I blame you?" Menaikkan sebelah alisnya, Nadira melihat Arsen mengedikkan bahunya ringan.
__ADS_1
"No, tapi aku merasa tetap saja ada yang salah. Should I apologize to her myself?"
"Don't, please. Percayalah, saya bisa melakukannya sendiri. This just a misunderstanding antara saya sama Luna aja, kok. Kalau dijelasin, saya yakin Luna juga bakal ngerti."
"Okay, kalau itu maumu, call me when you finished, hm?" Nadira mengangguk lalu menggeser pintu kaca tersebut dan berlalu dari ruangan.
***
Nadira menggerak-gerakkan kakinya, bingung memulai dari mana seharusnya ia menjelaskan segalanya. "I still waiting, Nadira Ghauthiah," sentak Luna membuyarkan isi pikiran Nadira.
"Luna ... " kata Nadira lemah. Luna berdecak karena itu, ia paling tak bisa diberi tatapan memelas.
Berdecak pelan, Luna berkata. "Let make it easy. Gue tanya, Lo jawab. Oke?"
Nadira mengangguk menyetujui lalu membenarkan posisi duduknya. Bersiap menerima pertanyaan dan menjawab apapun pertanyaan yang hendak ditanyakan oleh perempuan di hadapannya itu.
Luna menyesap macchiato-nya sebelum membuka suara. "Lo tahu Gue marah, semarah-marahnya, Gue marah banget sama Lo tahu? Tapi, berhubung Gue sangat baik dan pengertian, Gue kasih kesempatan buat Lo jelasin ... semuanya," ujarnya menekankan kata 'semuanya' seolah menegaskan kepada Nadira bahwa ia ingin tahu segalanya.
"Why you didn't tell me, uh?" tanya Luna tanpa basa-basi.
"Lo gak mau tahu soal misalnya kapan dan kenapa Gue can marriage with him?" ada nada sedikit tak percaya dalam bicaranya.
Luna mengangkat bahunya ringan. "Well, Gue yakin Lo bakal kasih tahu Gue kalau Lo mau. Answer me, Nadira. Why you didn't tell me?" ulangnya sambil meminum kembali macchiato-nya.
Menghela napas, Nadira menumpukan wajahnya di kedua tangan. "Gue ... Gue takut, Luna. Everything between me and him it very complicated. Gue gak bermaksud nyembunyiin fakta ini dari Lo, tapi ... " Nadira tak melanjutkan ucapannya, memerhatikan Luna sesaat.
"You never been trust me, right?"
"Bukan! Bukan itu maksud Gue, Luna."
__ADS_1
"Terus apa?!" kata Luna sedikit berteriak.
"It's just an agreement, dan Gue takut kalau ada yang tahu, semuanya bakal jadi lebih sulit buat Gue," jawab Nadira dalam satu tarikan napas.
"Maksud Lo?"
Kemudian, Nadira menjelaskan semuanya secara mendetail. Mulai saat dimana ia berjanji dengan perempuan itu untuk bertemu di suatu sore, dikejar pembunuh, beberapa kejadian mencekam yang mengancam nyawanya hingga saat ia terpaksa menikahi Arsenio demi menyelamatkan hidupnya.
Hingga akhir cerita, Luna tak bisa melepaskan tatapannya dari Nadira. "Oh My God! it's crazy, Nadira! How you take it?!" pekiknya tak percaya dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Perasaan marah dan curiga yang sebelumnya ia tuduhkan seketika menghilang, berganti perasaan yang Luna sendiri tak bisa mendeskripsikannya dengan jelas.
"Ya, awalnya juga susah buat Gue terima, tapi lambat laun, ya mau gimana lagi? I have no choice, Luna. Kalau Gue bisa, Gue juga mau kehidupan yang normal! But how to be normal again?" Pelupuk mata Nadira mengabu saat ia menyelesaikan kalimatnya. Begitu pula Luna. Tapi keduanya menolak untuk menangis sekarang. Bukan waktunya.
"Terus sekarang? Maksud Gue, Pak Presdir itu paling nggak, treat you better, right? Dia gak ngapa-ngapain Lo, kan? I mean, abuse or something?" tanyanya penasaran dengan bagaimana Arsen memperlakukan sahabatnya itu.
Nadira menggeleng keras, "He's kind. Very kind. And he really treat me like a Queen. Tapi, yah, masih gak ada hal berarti yang terjadi menurut Gue. Sejauh ini, kita masih mencoba, Lo tahu, kan, semacam PDKT gitu."
"Seriously? Presdir kita yang galak, paranoid dan lempeng muka itu bisa PDKT ala-ala ABG?" bola mata Luna membola. Membayangkan bagaimana Arsen menggoda Nadira, membuatnya tergelak menahan tawa.
"Enggak kayak gitu juga, Luna. Gimana, ya, Gue jelasinnya?"
"Oke, oke, gak usah diceritain detailnya." Luna melirik arlojinya sekilas. "Nad, sebenarnya masih banyak yang mau Gue tanyain sama Lo, tapi kayaknya Gue harus balik kantor sekarang, deh." Luna meraih tasnya.
Nadira mengangguk, ia juga harus kembali ke rumah sakit segera. Beranjak dari duduknya, Luna mengecup pipi Nadira bergantian. "Be careful, Lun."
"Oh, ya, minggu ini Lo ada waktu gak? Si Bara kayaknya masih penasaran sama Lo, deh, Nad. Dia minta Gue buat bujuk Lo datang. Kalau bisa sih Lo luangin waktu Lo terus jelasin ke dia," kata Luna hampir lupa dengan permintaan Bara. Seharusnya kemarin ia katakan tapi tak sempat.
"Nanti Gue kabarin," jawab Nadira singkat. Setelah itu, Luna pergi menjauh bersama mobilnya, kembali ke kantor.
__ADS_1
Duduk kembali, Nadira menyesap pelan kopinya yang tinggal setengah sambil menunggu sopirnya datang menjemput. Tadinya ia berniat membawa mobil atau naik taksi tapi Arsen bersikeras memintanya diantar sopir, bahkan di sekitarnya ada dua pengawal yang menjaganya diam-diam. Entah karena apa, Nadira juga tak mengerti.
Tak lama, sopirnya datang menjemput. Ia segera masuk dan meninggalkan Kafe tersebut. Bersamaan dengan itu, seseorang terus memerhatikan Nadira dari kejauhan, sorot matanya menatap Nadira tajam. Hingga keberadaan Nadira tak lagi terlihat, ia baru pergi dari tempatnya berada sejak tadi.