Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 50


__ADS_3

Semakin Nadira meronta meminta dilepaskan, semakin kuat pula Arsen memeluknya. Membawa Nadira dalam pusaran panas tubuhnya. Membuat Nadira merasakan betapa Arsen menginginkannya.


Nadira tergelitik saat Arsen secara sengaja menekan tengkuknya. Menyiksa Nadira dengan sentuhan-sentuhan yang menurut Nadira bagai sengatan listrik itu.


"Katakan dulu bahwa kamu akan mendengarkan 3 permintaanku baru aku akan melepasmu," kata Arsen akhirnya, sedikit mengendurkan pelukannya agar Nadira bisa bernapas dengan leluasa. Saat Nadira mengangguk barulah Arsen melepaskan kungkungannya.


Menarik napas dalam-dalam, Nadira menyentuh dadanya yang berdebar tak beraturan. "Cepat katakan," kata Nadira setelah merapikan kembali gaun tidurnya. Terduduk di tepi kasur, Nadira melihat Arsen yang membawa troli makanan ke hadapannya.


Tanpa perlu Arsen katakan, Nadira juga sudah tahu bahwa ia harus memakan makan malam itu, atau jika tidak ia tak akan bisa tidur. "Seharusnya Pak Arsen yang makan, dari tadi siang gak makan apa-apa," ucapnya.


"Permintaanku yang pertama — "


"Saya merasa jadi lampu ajaib yang bisa mengabulkan permintaan seseorang," kata Nadira menghentikan ucapan Arsen.


"Trust me, you can. Aku lanjut?"


"Ya, katakan." Nadira mengambil sendok dan mulai menyuapkan sesendok nasi dan ayam kari ke dalam mulutnya. Sudah dingin tapi masih tetap terasa enak di mulutnya.


Melihat Nadira makan, Arsen tersenyum simpul. "Jangan panggil aku dengan sebutan Pak, aku belum menjadi Bapak-bapak, Nadira. Panggil aku dengan sebutan yang lebih akrab dan manja," pintanya sungguh-sungguh.


Tangannya dengan leluasa bergerak mengambil air minum dan meletakkannya tepat di atas table di hadapan Nadira.


"Misalnya?" tanya Nadira kemudian.


"Misalnya? Kamu masih bertanya tentang itu? Oh c'mon, Dear," protes Arsen. Ia memandang Nadira dengan kening bertautan.


"Oke, apa yang kedua? Jangan cemberut begitu, jelek tahu!"


Arsen meletakkan sendoknya ke sisi kanan piring lalu mengunci Nadira dalam tatapannya. Ia membawa tubuhnya maju dan mempersempit jarak di antara mereka. "I want you," bisiknya yang membuat Nadira langsung meremang sempurna.


Arsen menyuapkan sesendok kari ayam itu dan menelannya cepat. "Aku tahu kamu mengerti maksudku, tapi kamu bisa menolaknya jika kamu belum siap. Aku tidak akan memaksamu, kamu tahu itu."


Tersenyum kaku, Nadira mengangguk. "Karena perjanjian itu, ya? Apa karena itu juga Mas menahan diri?"

__ADS_1


Arsen menahan senyumnya saat Nadira menyebutnya dengan sebutan 'Mas' jujur saja, Arsen merasa lucu dengan itu. Tak ada seorang pun yang memanggilnya dengan sebutan itu sebelumnya, sepertinya hanya Nadira satu-satunya. Arsen akan menganggapnya sebagai panggilan sayang.


"Kalau masih ketawa kayak gitu, aku pasti panggil Pak lagi." Tawa Arsen pecah, tak bisa menahan gelak tawanya melihat Nadira yang protes dengan mengacungkan sendoknya.


Gelak tawanya terdengar nyaring di telinga Nadira, membuatnya kian gemas sendiri dengan tingkahnya.


"Oke, oke, maaf. Lanjut permintaan yang ketiga," ujar Arsen setelah berusaha menghentikan tawanya. Kembali ke posisi duduknya semula, Arsen meminum air putihnya lalu menatap Nadira lekat.


Kali ini dengan tatapan sayang dan penuh cinta, Arsen menuntun Nadira untuk meletakkan sendoknya sebentar. Lalu meletakkan kedua tangannya di pipi Nadira, Arsen menarik kepala perempuan itu dan nenempelkan keningnya, selama beberapa detik Arsen menghela napasnya teratur, menyusun kata demi kata yang hendak ia ucap.


Menutup mata selama beberapa detik itu, Nadira dapat merasakan deru napas Arsen menerpa wajahnya. Wangi mint mengisi indra penciumannya. "Jangan tinggalkan aku, Nadira," katanya singkat. Sederhana, tapi sangat cukup bagi Nadira memahami keinginan pria di hadapannya itu.


Nadira menaikkan pandangannya dan tatapan mereka bertemu. Dengan jarak wajah yang sedekat itu, Nadira dapat melihat pantulan dirinya dalam sepasang mata Arsen. Meraba-raba di manakah pastinya letak ketulusan dan kehangatan itu?


Haruskah ia menyerah pada kelembutan yang dimiliki Arsen dan mengabaikan fakta yang sampai sekarang belum diketahuinya itu? Dan bagaimana jika Nadira tak pernah mendapatkan kepercayaan yang ia harapkan?


Tetapi, pada akhirnya, Nadira meninggalkan logikanya di balik kelembutan yang Arsen beri. Mengangguk kecil sebagai jawaban, Nadira menangkup kedua pipi Arsen dengan tangannya. "Gak akan lagi. Gak peduli apapun yang terjadi nanti, aku gak akan pergi."


Pernyataan itu sangat cukup bagi Arsen untuk memberanikan diri meraih tengkuk Nadira dan memberinya sebuah kecupan tanda cinta. Seharusnya hanya sebuah kecupan singkat dan mereka bisa kembali melanjutkan kegiatan makan mereka. Tapi tidak, sejak awal, Arsen tidak berniat untuk melepaskan perempuan itu. Tidak untuk malam ini.


"Say if you want it, Mrs. Harrington," bisik Arsen di tengah-tengah cumbuannya. Malam ini, ia bertekad mengerahkan segala kemampuannya dalam menggoda dan merayu.


Di bawah kuasanya, Nadira mengerang, memalingkan wajahnya gugup. Mengangkat tangannya untuk menghalangi Arsen memandanginya lebih jauh. "Just do," katanya singkat.


Tanpa menunggu, Arsen mengambil alih semuanya. Malam itu, Nadira memberikan segala yang ia miliki — hati, jiwa, raga juga pikirannya. Dan dengan senang hati, Arsen menerimanya. Bagi Arsen, memiliki Nadira adalah sesuatu paling berharga yang seharusnya ia miliki.


Milikku. Hanya milikku seutuhnya.


Memberi tanda, Arsen tak berniat menukar Nadira dan cinta yang dimilikinya dengan apapun. Tidak dengan berlian atau permata paling mahal sekalipun. Nadira adalah hartanya, harta yang tak ternilai harganya.


"Undoubtedly mine only," katanya lagi dengan menarik selimut. Membawa Nadira melambung tinggi, berenang di antara bintang-bintang. Mereguk rasa yang tak pernah mereka tuntas cicipi sebelumnya. Dan pada akhirnya, Arsen berhasil melengkapi sebagian dari dirinya yang kosong.


***

__ADS_1


Menggeliatkan tubuh, Nadira mendapati sebuah lengan kekar yang melingkari tubuhnya, ia urung untuk bangkit. Tak perlu ditebak siapa, Nadira sudah tahu dengan jelas bersama siapa ia menghabiskan waktu semalaman.


Untuk sesaat, yang Nadira lakukan hanyalah menatap lengan tersebut sambil mengerjapkan mata, tersenyum malu saat mengingat betapa tidak terkendalinya Arsen semalam. Dari sana Nadira tahu betapa mengerikannya batasan seorang pria.


Memutar arah pandangnya, Nadira mendapati Arsen sudah bangun dan tersenyum ke arahnya. Sebelah sikunya tertekuk menopang kepala, menatap Nadira penuh kemenangan.


"Morning," sapanya sambil mengedipkan sebelah matanya, kembali menggoda Nadira.


Bergumam kecil, Nadira berbalik memunggungi Arsen. Meraih kembali jubah tidurnya yang berserakan di lantai. Namun urung sebab Arsen kembali menariknya.


"How's your feeling?" tanya Arsen lembut seraya mendaratkan sebuah kecupan-kecupan kecil di bahu Nadira.


Nadira menggelang, "Very bad, my waist hurts!" jawabnya sambil mendorong kepala Arsen menjauh. Terkekeh kecil, Arsen mengusap pelan punggung Nadira lalu berguling menjauh meninggalkan posisi berbaringnya yang nyaman.


Melihat Arsen yang menjauh, Nadira kembali mendaratkan punggungnya ke atas kasur. Mencari posisi yang nyaman untuk kembali terlelap.


"My bad, hari ini istirahatlah, jangan kemana-mana. Aku akan kembali siang ini dan mengajakmu makan siang, bagaimana?" tanya Arsen sambil mengenakan bathrobe miliknya.


"Hmm, aku mau tidur lagi," jawab Nadira kembali menarik selimutnya. Melihat tingkah Nadira, Arsen tergelak. Sebelum ke kamar mandi, Arsen menyempatkan diri mendaratkan sebuah kecupan ringan pada rambut Nadira yang tergerai.


"Aku akan langsung ke kantor setelah ini, kamu jangan lupa sarapan nanti, oke?" tanyanya sebelum membuka pintu kamar mandi.


Membuka sebelah matanya, Nadira menjawab. "Iya, Mas."


Pagi berganti terang saat Nadira terbangun dari tidurnya. Menyibak selimutnya, Nadira melirik jam di atas nakas, pukul sepuluh. Sebuah sticky note dan troli berisi sarapan menghadangnya. Nadira membacanya pelan.


Don't forget to eat your breakfast, I've asked the chef to cook healthy food.


PS.Get ready at 12pm. I will pick up you for our first date Mrs. Harrington.


— Your beloved husband


Nadira tersenyum malu saat membaca kata first date. "Kencan pertama apanya, kita ini bukan remaja yang baru jatuh cinta," cetusnya seraya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Melipat kertas itu, Nadira lalu memakan sarapannya pagi itu dengan perasaan membuncah bahagia.


__ADS_2