Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 58


__ADS_3

Di ambang batas kesadarannya, sayup-sayup Nadira dapat mendengar suara yang memanggil namanya. Ia bisa merasakan seseorang mendekatinya sambil terpekik dan berteriak keras karena terkejut melihat kondisinya yang penuh lebam dan luka. Seseorang itu menepuk-nepuk pipinya pelan sambil terus memanggil namanya. Nadira ... Nadira ... Sadarlah!


Nadira ingin menjawab panggilan itu, Nadira mengenalinya sebagai suara Arsen. Ia ingin melihat laki-laki itu, memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Namun, ia tak bisa, sekujur tubuhnya terasa sakit dan ngilu. Nadira dapat merasakan seseorang itu mengangkat tubuhnya dengan berteriak kencang meminta Ambulance dan lakukan pertolongan pertama.


"Masih ada seorang lagi di sana! Cepat bawa ia ke dalam Ambulance, lakukan pertolongan pertama dulu, lalu segera ke rumah sakit!" titah Kevin pada beberapa anak buahnya. Beberapa polisi juga datang untuk mengadakan penyelidikan.


"Maaf, Tuan. Saya akan di sini untuk melakukan investigasi dan mencari tahu siapa yang menculik dan melukai Nyonya," ujar Kevin memberitahunya.


Arsen hanya menggumam, lebih tepatnya tak ingin bicara. Kepalanya tengah memikirkan suatu kemungkinan sedangkan matanya masih terfokus pada Nadira yang sedang diobati. Melihat itu, Kevin memilih kembali untuk membantu polisi.


Mobil Ambulance mulai melaju ke arah rumah sakit. Setia dengan duduknya, Arsen tak sedetik pun melepaskan tautan jemarinya pada tangan Nadira yang tampak membengkak. Mengangkat tangan itu, Arsen mengecupnya singkat.


"Maaf, maafkan aku yang tidak menjagamu dengan baik," lirihnya penuh sesal. "Aku akan mencari siapa pelakunya dan membuatnya menyadari apa kesalahannya!" janjinya pada diri sendiri.


"Kamu pasti marah padaku makanya memutuskan untuk pergi dari rumah, ya kan? Maaf, aku minta maaf untuk itu," lirihnya kembali meminta maaf. Bahu Arsen bergetar hebat, jemarinya semakin erat menggenggam. Pipinya mulai basah, entah karena apa ia menangis. Yang jelas, ia merasa harus membasuh luka itu dengan air mata.


Setibanya di rumah sakit, Nadira dan Luna langsung ditangani oleh tenaga medis profesional. Sama seperti saat Nadira terluka sebelumnya, Arsen tak meninggalkan ruangan tempat Nadira dirawat selangkah pun.


Tepat pada saat itu, Areef juga Anthony datang saat Arsen menghubunginya sebelum ia sampai di rumah sakit. "Arsen, apa yang terjadi?" tanya Areef panik begitu ia tiba di hadapan cucu satu-satunya itu. Di belakang Areef, Anthony juga menunjukkan raut wajah yang sama.


Arsen menggeleng pelan dan mengambil duduk tepat di kursi tunggu. Meremas ujung kelinan kemejanya Arsen tertunduk lemah.


"Semuanya salah Arsen, Kakek. Arsen tidak menjaganya dengan baik. Arsen tidak bisa melindunginya. Arsen selalu menyakitinya," aku Arsen menyalahkan dirinya atas kejadian penculikan dan penyiksaan yang dialami Nadira.


Areef mengusap bahu Arsen pelan. "Bukan salahmu, Nak. Ini kecelakaan," ucap Areef mencoba menenangkan. "Sekarang lebih baik kamu fokus mencari pelakunya," terangnya lagi.


Arsen tampak mengusap pipinya lalu berdiri. "Kakek benar, aku akan menemui Kevin dan mencari tahu. Kakek tolong jaga Nadira di sini, ya. Arsen pergi dulu."


Tanpa menunggu jawaban Kakeknya, Arsen langsung pergi dengan setengah berlari. "Tuan Muda sudah lebih banyak berubah, Tuan." Anthony berkomentar. Areef mengangguk, menyetujui perkataan Anthony.

__ADS_1


"Anak-anak akan dewasa dan bijaksana pada waktunya, Anthony. Tugas kita hanya membimbing dan mengarahkan mereka."


"Benar, Tuan."


***


Keesokan harinya, di ruang rawat VVIP. Nadira mengerjapkan matanya perlahan. Hal yang pertama ia dapati adalah bau desinfektan yang menyengat dan cahaya putih yang menyilaukan. Sepuluh detik pertama, ia mendengar pekikan bahagia dari seorang Luna.


Beberapa orang langsung masuk. Orang pertama yang Nadira lihat memasuki ruang rawatnya adalah Arsen, disusul dengan Luna, Areef, Anthony juga pihak kepolisian.


Nadira masih berusaha menetralkan pandangannya yang sedikit mengabur. Arsen menghampirinya dan bertanya dengan cemas. "Jangan terlalu banyak bergerak, berbaring saja. Katakan padaku, di mana yang terasa sakit?" tanyanya cemas.


Selama beberapa detik, Nadira menelusuri garis wajah Arsen. Merekamnya baik-baik dengan matanya. Ia takut, ia sungguh takut. Matanya mulai menggenang. Melihat segaris ketakutan dari mata istrinya, Arsen langsung menggenggam jemari Nadira kuat.


"Jangan takut, aku bersamamu. Aku akan selalu bersamamu. Jangan takut, ya?" bujuknya. Lalu Nadira berpaling pada Areef, Anthony, dan Luna.


"Luna," panggilnya hampir tak terdengar. Jika Nadira tak menunjuk ke arahnya, Luna pasti tak akan tahu bahwa perempuan dengan banyak perban di tubuhnya itu sedang memanggilnya.


Nadira mengangguk dan meringis sakit saat tak sengaja menggeser tubuhnya. "Pelan-pelan, Sayang," kata Arsen lembut. Ia membantu Nadira mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit.


"Kamu baru saja sadar, Nak, jangan terlalu banyak bergerak." Areef mengingatkan sambil tersenyum hangat. Tangan keriputnya mengusap punggung tangan Nadira yang terpasang infus.


Areef lalu memandang ke arah pihak kepolisian dan berujar. "Lakukan penyelidikannya nanti saja, cucu menantuku baru saja siuman, harus banyak istirahat."


Pihak kepolisian itu tampak ingin menolak, tapi dengan sigap menganggukan kepalanya. "Baiklah, Tuan Besar, kalau begitu, kami pamit undur di—"


"Tunggu," kata Nadira lemah. "Aku, aku bisa melakukannya," tambahnya lagi sambil memandang Arsen sesaat.


"Are you sure? Penyelidikan masih bisa dilakukan besok setelah kamu merasa lebih baik," timpal Arsen sedikit merasa tak setuju.

__ADS_1


Nadira menggeleng pelan, "Aku mau Bara secepatnya ditangkap," jujur Nadira. Arsen, Areef dan juga Anthony tampak terkejut.


"Bara?" tanya Areef dan Arsen hampir bersamaan. Nadira dan Luna mengangguk.


"Begini ceritanya, Pak." Luna mengambil duduk dan memulai ceritanya. "Sore itu saya minta Nadira datang untuk menemani saya di Resto. Melihat saya sedih dan galau karena Bara, Nadira mengajak saya ke pasar malam—"


"Pasar malam?" potong Arsen. Luna mengangguk. "Kalian ke pasar malam? Hanya berdua? Kalian tahu tidak kalau itu berbahaya?" tanya Arsen sedikit menggertak.


"Arsen, biarkan Luna menyelesaikan ceritanya." Arsen mendengus tetapi memberi isyarat kepada Luna agar melanjutkan ceritanya.


"Malam itu, setelah bermain, kami pun pulang. Saat perjalanan pulang, semuanya baik-baik saja, tetapi saat saya berbelok ke arah Ibukota tiba-tiba sebuah mobil menghadang mobil kami." Luna memandangi Nadira, tangannya sedikit gemetar mengingat bagaimana nanti Arsen akan meminta pertanggung jawabannya.


Nadira tersenyum lembut dan mengangguk, memberi Luna keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Lalu setelah itu apa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa mengalami penyiksaan yang begitu mengerikan? Dengan siapa Bara sialan itu melakukannya? Apa saja yang dia lakukan?" tanya Arsen tak sabar.


Luna menarik napasnya sesaat sebelum membuka suaranya. "Saya panik saat mobil dihadang, saya bahkan tak sempat berteriak karena dua orang memakai topeng langsung membekap saya. Saat terbangun, kami sudah dalam keadaan terikat," tandas Luna mengakhiri ceritanya.


Pihak kepolisian tampak mencatat detail kejadian penculikan itu dan bertanya hal-hal lain yang bisa diingat Luna. Di mana kejadian itu berlangsung, mobil apa yang mereka gunakan dan tak lupa meminta hasil visum dari rumah sakit juga kesaksian Luna dan Nadira sebagai bukti untuk menangkap pelaku.


Setelah itu, Luna dijemput keluarganya dan hari itu juga ia diijinkan untuk pulang. Sedangkan Nadira masih memerlukan waktu beberapa hari untuk observasi dan perawatan lebih lanjut. Areef dan Anthony juga telah pergi untuk mengurus kasusnya ke pengadilan.


Hanya tinggal Arsen dan Nadira. Perempuan itu nyalang menatap langit-langit kamar rumah sakit. Kejadian kemarin masih terekam dengan jelas, Nadira bahkan masih bisa merasakan bagaimana cutter itu menancap di kulitnya dan bagaimana seorang Bara menyiksanya habis-habisan.


Air matanya luruh lagi. "Takut, aku takut," gumamnya.


Arsen dengan sigap memegang jemarinya. "Nadira, My Dear. I'm here," katanya mencoba menenangkan. Ia mengecup pucuk kepalanya penuh kasih dan mengusap pipinya yang basah dengan lembut.


"Wanna tell me? How kiss or hug?" tawarnya mencoba membuat Nadira tenang dan tak ketakutan lagi. Nadira mengangguk dan dalam waktu singkat Arsen merengkuhnya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Sorry. I'm sorry," gumam Arsen sambil mengusap kepala Nadira yang tertutup hijab. Ia membiarkan Nadira menumpahkan tangisnya dalam peluk. Ia tahu pasti sulit bagi Nadira menerima kejadian mengerikan itu.


__ADS_2