
Sepulang dari Bandara, Arsen menuju rumah. Memandangi rumahnya dari gerbang masuk sebelum melajukan mobilnya ke dalam basement. Rumah itu tampak megah namun terlihat sepi. Dulu, Arsen jarang sekali pulang, tetapi kini Arsen selalu punya alasan untuk kembali memasuki tempat yang bernama rumah itu.
Menghela napas lelah, Arsen kembali melajukan Range Rover hitamnya ke dalam basement dan memasuki rumah dengan perasaan lelah. Hatinya lelah. Begitu juga dengan pikirannya.
Seorang asisten rumah tangga menghampirinya dan menawarkan minuman. "Di mana Nadira?" tanyanya begitu masuk ke dalam ruang tamu. Menatap ke arah lantai dua, kepada pintu kamar yang tertutup. "Masih tidur?" tanyanya lagi seolah tak percaya.
Asisten rumah tangga itu menunduk lalu menjawab. "Nyonya sejak kemarin tidak keluar kamar, kami juga tidak berani mengganggunya, Tuan."
Arsen menaikkan sebelah alisnya. Merasa ada sesuatu yang janggal, ia langsung menaiki tangga dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka beberapa kali, nihil, tetap tak ada sahutan.
"Tidak mungkin dia marah sampai tidak keluar kamar, kan? Dia bukan anak kecil lagi," gumam Arsen yang sedetik kemudian langsung mendobrak pintunya hingga terbanting keras ke depan.
"Nadira?" panggilnya sambil mencari-cari ke sana ke mari, tapi tetap saja, Arsen tak mampu menemukan perempuan itu di manapun. "Jangan-jangan kabur lagi?!"
"Kevin!" teriaknya dari lantai atas. Seseorang yang dipanggil Kevin langsung menyahut dan menunjukkan eksistensinya.
"Ya, Tuan. Ada perintah?"
Murka. Arsen melempar barang-barang di sekitarnya, meninggalkan bunyi pecahan yang nyaring. "Ke mana kau saat aku pergi?" tanya Arsen tajam.
Kevin menunduk. "Saya selalu di sini, Tuan." Arsen menatapnya dengan sorot tak terbaca.
"Bohong!" maki Arsen membuat Kevin tertunduk tak mengerti. "Jika kau melakukan pekerjaanmu dengan benar, bagaimana istriku bisa pergi?!" sentaknya lagi.
Kevin tercengang. "Ap-Apa, Tuan? Nyonya tidak ada di rumah? Tapi, tapi kemarin siang, Nyonya masih ada di sini," terang Kevin tergagap.
Arsen meninjunya keras yang membuat lelaki tinggi tegap itu mundur beberapa langkah ke belakang, tak bisa menahan serangan Arsen yang tiba-tiba.
"Tuan ... Maaf, saya yang lalai. Saya, saya akan segera mencari Nyonya," ujar Kevin sambil kembali berdiri tegak.
__ADS_1
Arsen memandangnya marah, kedua rahangnya mengetat. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat pergi!" titahnya tak sabar. Kevin langsung berlari menuruni tangga dan melakukan tugasnya.
Sepeninggal Kevin dari hadapannya, Arsen berjalan mondar-mandir di depan kamarnya, frustasi. "Aku seharusnya tidak pergi! Aku seharusnya tidak meninggalkannya dalam keadaan marah!" hardiknya pada diri sendiri.
***
Di waktu yang bersamaan, seseorang berjalan dengan menjinjing seember air dingin. Satu ... Dua ... Tiga ... Sepuluh langkah cukup baginya untuk mengikis jarak antara dirinya dengan dua orang perempuan yang terduduk dengan tangan dan kaki terikat kuat.
Tak perlu menghitung, satu, dua, tiga lagi, ia langsung menyiram air dingin yang dibawanya tepat ke atas kepala dua perempuan itu. Dua perempuan yang semula memejamkan mata langsung terbelalak dan terduduk tegak.
Bara menyunggingkan senyumnya, menatap sinis kepada dua perempuan di hadapannya. Selama beberapa detik Nadira dan Luna mengerjapkan mata, berusaha menetralkan penglihatan mereka.
Melenguh sakit, Nadira dan Luna secara bersamaan mengangkat kepalanya, menatap sosok Bara yang berdiri dengan angkuh dan tersenyum menakutkan.
"Selamat Pagi," sapanya singkat. Nadira dan Luna saling berpandangan, belum sepenuhnya mengerti atas apa yang sebenarnya terjadi. Nadira hanya mengingat bahwa semalam perutnya mual dan tertidur di jalan.
"Ah, Gue lupa kalau kalian gak bisa bicara," kata Bara sambil berjalan ke arah belakang mereka berdua dan membuka tautan kain yang menutup mulut keduanya.
"Damn you, Bara!" umpat Luna begitu kain penutup mulutnya dibuka. Bara menatapnya tajam, mendekati Luna, ia mencengkeram rahang Luna kuat. "Sakit!" pekik Luna.
"Lo tahu sakit sekarang?" tanyanya dengan gigi bergemeletuk. Di samping, Nadira hanya melihatnya tak percaya. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
Nadira menutup matanya kuat saat melihat Bara menampar Luna kuat hingga wajah perempuan itu menengok ke samping. Pipi Luna memerah, membuat Nadira tercekat.
"Bara," lirih Nadira lebih tak menyangka Bara sekejam itu. Kini sudah jelas baginya, mereka sedang ditawan!
"Stop it, Bara! You hurt her!" teriak Nadira lantang mengalihkan Bara dari Luna untuk seketika.
"Oh?" Bara sontak beralih, meninggalkan Luna yang mendesis kesakitan. Mata Bara berkilat penuh marah, Bara yang dilihat oleh Nadira dan Luna saat ini bukanlah Bara yang dikenalnya. Bukan Bara yang ramah dan baik. Bukan Bara yang selalu tersenyum pada mereka.
__ADS_1
Bara berdecak kecil, mengambil kursi dan duduk tepat di hadapan Nadira. Memiringkan kepalanya, Bara menatap Nadira intens.
"Ini bukan Lo, Bar. Ini bukan Bara yang Gue kenal," lirih Nadira ketakutan. Napasnya tercekat saat Bara mendekatkan wajahnya.
"Well, this another side that you don't know," katanya enteng. Berdiri, Bara kembali pada Luna yang sudah tertunduk menahan perih di pipinya.
"Lepasin kita, Bara!" teriak Nadira sambil berusaha menendang Bara dan agar pria itu tidak kembali melukai Luna.
Tapi tampaknya Bara tak menggubrisnya. Nadira dapat melihat Luna sudah terkulai lemah karena Bara mencengkeram lehernya kuat. Nadira hampir tak kuasa menahan tangisnya.
"Sia-sia," ejeknya sambil menggelengkan kepala. Kemudian, Bara berjalan ke arah sebuah meja usang di pojok ruangan. Lalu, tangannya terulur mengambil sebuah cutter dari atas meja yang tak jauh dari mereka.
Nadira menggunakan kesempatan itu untuk menelisik keadaan sekitar. Mungkin, mereka memiliki kesempatan untuk kabur, meskipun mereka tak tahu pasti apa alasan Bara mengikat mereka di gudang tua seperti ini.
Bara berbalik. Kali ini fokus pelampiasannya adalah Nadira. "Lo pasti bertanya-tanya kenapa kalian ada di sini, kan?" Bara mengambil duduk di kursi dan merapatkan jaraknya dengan Nadira. Ujung jarinya menelusuri pelipis hingga dagu Nadira.
Nadira menggelengkan kepalanya, merasa jijik berhadapan dengan Bara yang menurutnya berubah. Bukan, bukan berubah, tapi Nadira baru melihat sisi Bara yang lain.
"Lepasin kita, Bar. Apa salah kita sama Lo?" Nadira mulai terisak. Sayatan Bara terasa menyakitkan di bagian lututnya. "Bara! Sakit!" pekik Nadira, ia dapat merasakan cutter itu semakin menancap ke dalam kulitnya.
Nadira bahkan dapat merasakan cairan merah mengalir turun ke bawah kakinya. Bara mencabut cutter itu sekaligus, meninggalkan jerit kesakitan dari Nadira. Luruh, luluh lantak, Nadira tak mampu lagi menahan rasa sakitnya.
"Percayalah, Nad. Rasa sakit Lo sekarang gak sebanding dengan rasa sakit yang Gue alami karena Lo berkali-kali nolak Gue!" teriak Bara di akhir kalimat. Ia menendang kursi yang diduduki Nadira hingga perempuan itu terjungkal ke belakang.
Tidak hanya di situ, Bara kembali menarik hijab Nadira, memaksa kepalanya untuk menengadah ke arahnya. "Gue akan pastikan Lo akan merasakan rasa sakit dan penghinaan yang Gue terima, Nad!"
Nadira sudah tidak dapat merasakan sekujur tubuhnya, Bara berkali-kali menendangnya, menghantamkam kepalanya ke dinding juga menamparnya keras. Dalam kesakitan yang bertambah-tambah itu, Nadira hanya berharap bahwa ia bisa melihat Arsen untuk terakhir kalinya.
Sekali saja, hanya sekali saja. Ia ingin meminta maaf karena telah salah paham pada pria itu. Bara mendengus lalu tersenyum penuh kemenangan. Melihat dua tubuh yang terkulai di atas lantai dengan mengenaskan. Setelah itu, ia membersihkan tangannya menggunakan sapu tangan, menyumpah sebentar lalu pergi dari sana dengan perasaan bahagia.
__ADS_1