Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 62


__ADS_3

Dua hari kemudian, Nadira cukup sehat untuk dikatakan bisa ikut dalam persidangan Bara. Arsen menggenggam jemari Nadira yang terasa dingin. Nadira tampak gugup saat harus melangkahkan kakinya ke dalam ruang sidang.


"Keep calm, Dear. You're stronger woman. Kamu bisa menghadapi ini, kamu harus berani." Nadira mengangguk sambil menarik napas beberapa kali.


Keduanya masuk ke ruang sidang dengan diikuti dua kuasa hukumnya. Areef dan Anthony juga tampak di belakangnya beserta Luna dan orangtuanya.


Nadira, Arsen dan Luna duduk di kursi paling depan sebagai pihak yang mengajukan perkara. Kemudian, tak lama dari itu, Hakim Ketua masuk dengan diikuti dua Hakim anggota yang sontak membuat semua orang berdiri tegak memberi hormat.


Detak jantung Nadira berdetak lebih cepat, gugup, takut dan marah melingkupi hatinya. Hatinya bergetar hebat saat Hakim Ketua menyatakan persidangan dibuka. Melirik Nadira yang sedikit lebih pucat, Arsen refleks menggenggam jemarinya.


"Kamu harus berani! Trust me, you are woman that braves who I ever seen," kata Arsen berusaha memenangkan rasa percaya dirinya. Lalu Nadira menoleh ke samping, tempat di mana Luna berada. Ia juga turut menggenggam jemarinya, seolah dengan begitu mereka saling berbagi kekuatan.


Luna tersenyum dan menggumamkan terima kasih. Setelah itu, yang Nadira dengar adalah Penuntut Umum yang memanggil terdakwa untuk tampil di muka umum dalam keadaan bebas.


Nadira mengalihkan pandangannya saat Bara memasuki ruang sidang dengan kaki pincang. Berbeda dengan Nadira, Luna justru menatap Bara dengan tajam dan sorot kebencian yang memuncak. Sesekali merutuki dirinya yang pernah menyukai pria itu.


Arsen mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menunjukkan rasa angkuhnya pada Bara. Mencoba membuat pria itu mengerti bahwa tiada seorang pun yang boleh melukai istrinya.


Lalu, Bara dengan dua orang lainnya ditanya tentang apakah mereka sehat dan siap disidang. Bara tampak pasrah saat ditanya apakah ia didampingi kuasa hukum atau tidak. Bara menunduk dalam. Kemudian, surat dakwaan dibacakan dan dilanjutkan dengan pemeriksaan pokok-pokok perkara.


Hari itu juga, Majelis Hakim memutuskan bahwa Bara Gunawan dan kedua orang lainnya bersalah atas dakwaan penculikan dan penyiksaan secara sengaja. Palu diketuk dan Bara harus menghabiskan tujuh belas tahun masa hidupnya dalam jeruji besi.


Merutuki dirinya, Bara menatap Nadira dan Luna bergantian, raut mukanya jelas menunjukkan penyesalan yang dalam. Obsesi membutakan mata dan hatinya. Luna naik pitam saat pria itu menggumamkan maaf berkali-kali. Jika saja Nadira tidak menahannya, Luna pasti sudah melayangkan tamparan keras untuk pria itu.

__ADS_1


"Jangan mengotori tangan Lo, Luna!" Nadira mengingatkan Luna. Perempuan itu membuang muka sedang Bara sudah digiring untuk menikmati masa hukumannya.


"Dia sudah mendapatkan balasannya, Nak. Dia sudah membayar mahal untuk perbuatannya," Areef berkomentar sambil tersenyum dengan bijaksana seperti biasanya. Nadira dan Luna mengangguk.


Setelah persidangan itu berakhir, Areef dan Anthony memilih kembali ke kediaman utama. Arsen sendiri sangat sibuk dan kembali ke kantornya, membiarkan Nadira untuk mengambil jeda bagi dirinya sendiri untuk memahami.


Kini, Nadira dan Luna terduduk di sebuah kafe. Kedua mata Luna mengabur, begitu juga Nadira. Keduanya sama-sama larut dalam uraian kejadian yang tak pernah mereka sangka.


"Gue pasti perempuan paling bodoh karena pernah suka sama si Bara sialan itu!" maki Luna. Bulir bening berjatuhan dari pipinya. Nadira mengusap-usap bahunya pelan.


Jika Nadira pikirkan lagi, ia juga masih tak menyangka. Tetapi Arsen pernah memberitahunya bahwa hati manusia tak selalu berada di antara hitam dan putih. Orang yang tampak baik, belum tentu baik. Dan orang jahat tak selalu berada dalam kejahatan.


Di dunia yang luas ini, beberapa hal tampak abu-abu dan samar. Dan hati manusia seperti teka-teki tanpa jawaban, sulit diterka. Sehingga ada anjuran untuk tidak menilai seseorang dari tampilan luar.


Selama beberapa menit, Nadira membiarkan Luna memuntahkan tangisnya dengan puas. Soal hati memang terlalu sulit ditebak, Nadira bahkan tak bisa mengatur perasaannya sendiri. Mengingat Arsen, Nadira juga tak pernah menyangka akan ada dalam posisinya sekarang.


Mimpi Nadira sederhana, jatuh cinta dengan orang yang tepat dan cara yang tepat pula. Bukan jatuh seperti ia jatuh cinta pada Arsen sekarang. Ia ingin dicintai dengan sederhana, tapi yang Arsen beri, lebih dari itu.


Pria itu, selalu memberinya dan berusaha memberinya apapun yang ia miliki. Dicintai dengan luar biasa oleh seorang Arsen yang hebat tak pernah ada dalam jangkauan kepala Nadira. Nadira kemudian meraba-raba kenyataan, tentang kutipan yang pernah ia dengar.


Bahwa sesuatu yang tampak mustahil bagimu adalah hal yang mungkin bagi Tuhan. Entah apa kiranya kebaikan yang dilakukannya sampai Tuhan menempatkannya di posisi sekarang. Hidupnya seakan berubah seratus delapan puluh derajat.


Luna tampak menyeka pipinya, setelah puas menangis, ia meminum Frappuchino miliknya hingga tinggal setengah. "Udah baikan?" tanya Nadira seraya menyodorkan selembar tisu dari meja.

__ADS_1


Luna mengangguk singkat, "Mau Gue antar pulang gak?" tanya Nadira lagi.


"Gak perlu, kondisi Lo kan masih belum pulih banget, Nad. Lo harus balik ke rumah sakit."


"Tapi, Luna."


"Ck! Gak ada tapi-tapi. Gue gak apa-apa, kok, Nad. I'm fine, I'm good. Gue cuma butuh waktu aja buat mencerna," jelasnya agar Nadira tak khawatir.


Sejenak Nadira tampak berpikir. "Oke, deh, Gue duduk sebentar lagi, ya. Cuacanya lagi enak, nih."


Keduanya hanya duduk-duduk diam sambil memandang ke luar kafe. Lalu-lalang kendaraan jadi penghias mata mereka siang itu. Teriknya matahari tak menyurutkan asa orang-orang yang berpeluh di luar sana.


"Nad," panggil Luna pelan. Nadira menoleh, menatap Luna yang kembali ke posisi duduknya semula.


"Gue mau tanya, kenapa rasa sakit ada? Gue kok rasanya masih gak bisa nerima, ya?"


Selama sepuluh detik pertama Nadira memandangi Luna dengan tersenyum. "Rasa sakit ada untuk mengajari kita lebih kuat, Luna. Gak akan ada besi kalau gak ditempa dengan keras. Manusia juga sama, supaya lebih kuat, kita ditempa dengan ujian, rasa sakit dan kesedihan," jelas Nadira.


Luna tampak mengangguk, mencoba memahaminya dengan baik. "Gitu, ya?"


"Kalau kita gak sanggup menerima itu, gimana? Manusia punya batas sanggup, kan, Nad?"


Nadira terdiam sejenak, menyentuh cangkirnya, ia melihat kopi beriak kecil akibat sentuhannya. "Kita mungkin punya batas sanggup, tapi kita juga punya Tuhan untuk berserah."

__ADS_1


__ADS_2