
Usai membiarkan Nadira menangis puas. Arsen meraih kedua pipinya lembut. Menatap jauh ke dalam manik matanya yang indah. Lalu menempelkan keningnya, Arsen memejamkan mata. Begitu pula Nadira. Seolah dengan hal itu, mereka bisa saling meluapkan perasaan yang mereka pendam.
Nadira dapat merasakan deru napas Arsen yang menerpa wajahnya. Jemari Arsen berpindah ke tengkuk dan menautkan bibirnya, membawa Nadira pada sentuhan lembut yang memanjakan.
Menjauhkan wajahnya, Arsen tersenyum lembut dan membantu Nadira membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Ia mengambil minum di atas nakas dan memberikannya.
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak membawa pengawal bersamamu? Kenapa pergi diam-diam?" tanyanya begitu Nadira menghabiskan air minumnya.
"Aku, aku merasa tidak nyaman," jawabnya sedikit tercekat.
Mendapati nada tercekat dari istrinya, Arsen kembali meraih jemari lentik Nadira dan meletakkannya tepat di atas telapak tangannya sendiri. Mengecupnya singkat dan kembali menengadah.
"Aku tahu rasanya tak nyaman, tapi semua kulakukan demi keselamatanmu, Sayang. Kelak jangan pergi diam-diam lagi," tutur Arsen lembut. Sebagai jawaban, Nadira hanya mengangguk singkat.
Tepat pada saat itu, seorang suster datang membawakan makan siang dan obat untuk Nadira konsumsi. Ia hanya meminta ijin untuk masuk, meletakkan makan siang itu lalu kembali ke luar.
"Makan siang dulu, biar aku suapi kamu, ya." Arsen mengambil mangkuk berisi bubur ayam, membuka bungkusnya lalu menyendok sesuap bubur. Nadira tak banyak berkomentar, menerima dengan senang hati perlakuan manis dari Arsen untuknya.
"Kemarin aku ke Inggris," kata Arsen membuka percakapan. Nadira menatapnya bingung. "Aku menemui seseorang," tambahnya lagi.
Menunggu reaksi Nadira, Arsen kembali menyuapinya. Namun, seperti kehabisan kata, Nadira tetap bungkam. Yang dilakukan mulutnya hanyalah makan.
"Kamu marah padaku karena aku tak memberitahumu alasan aku ke Inggris, kan? Trust me, aku punya alasan yang masuk akal kenapa aku tak memberitahumu segalanya."
Arsen tertunduk, tak berani menatap wajah Nadira yang ada sedikit lebam di bagian dahi, pelipis dan dagu. Melihat itu, rasanya Arsen ingin melenyapkan Bara sekarang juga.
"Look at me," pinta Nadira membuka suaranya. Arsen mendongak. "Aku tahu, aku yang telah salah paham sebelumnya. Maybe, something will be a secret jika menurut Mas akan melukaiku," ujarnya sambil tersenyum lembut.
Untuk sesaat, Arsen termangu. Mencerna dengan baik kalimat yang diucap Nadira. "Maksud kamu?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya, sehari setelah Mas pergi aku mulai paham satu hal itu dengan baik. Gak semua hal bagus untuk diceritakan, kadang dibiarkan jadi rahasia lebih baik dibanding menceritakannya tapi justru kita sendiri yang terluka."
__ADS_1
Arsen tersenyum lega jika akhirnya Nadira mau mengerti. Tak mudah bagi Arsen untuk lupa akan kejadian sepuluh tahun lalu di hidupnya. Terlebih lagi, jika ia menceritakannya, Arsen tak yakin bahwa Nadira akan menerimanya.
Juga satu rahasia itu, Arsen berangan, jika Nadira mengetahui rahasia kelamnya, apakah istrinya masih tetap bisa menoleransinya atau tidak.
"Lagipula, di masa depan ada banyak hal yang harus kita rangkai. Aku gak mau kita hanya terfokus pada masa lalu dan berujung saling menyakiti seperti sebelumnya," kata Nadira lagi.
Senyum Arsen kian melebar, antara bahagia dan lega. Akhirnya, mereka mencapai kesepakatan itu setelah beberapa kali berdebat.
Mengusap pucuk kepala Nadira, Arsen berjanji. "Selama kamu tetap membersamaiku, aku akan membuatmu bahagia, tak peduli apapun itu yang kamu minta, aku akan berusaha mewujudkannya. Cause you're my destiny."
Nadira turut tersenyum. "Well, we have many times to understanding each other."
Nadira kembali melanjutkan makannya, sedangkan Arsen keluar ruangan untuk menjawab sebuah panggilan. Tepat saat Arsen menelepon, Nadira merasa perutnya bergolak nyeri.
Tangan kanannya mencoba menjangkau nakas guna memencet bel darurat dan meminta pertolongan. Namun, tangannya tak cukup sampai untuk menjangkaunya yang berujung terjatuhnya Nadira dari atas bed.
Nadira merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, bahkan beberapa perban putih tampak merubah warnanya jadi merah. Mengerang kesakitan, Nadira mencoba untuk bangun.
"Bagaimana kamu bisa jatuh?" tanyanya panik. Nadira tak menjawab, ia terus merintih kesakitan. Dengan cepat Arsen memanggil dokter untuk memeriksanya.
Bersamaan dengan dokter yang datang, Areef dan Anthony juga tampak memasuki ruangan rawat Nadira. Melihat dokter dan perawat yang mengerumuni cucunya, Areef berubah panik.
"Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya panik dan cemas. Arsen menoleh.
"Nadira tadi terjatuh, Kakek," jawab Arsen lemah.
"Apa? Bagaiamana bisa?"
Arsen menggeleng, ia juga tak tahu pastinya. "Tadi Arsen sedang menjawab panggilan dari Galen, saat kembali Nadira sudah di lantai," jawab Arsen sedikit gemetar.
Tak lama dari itu, dokter baru saja selesai memeriksa Nadira dan memberinya obat tidur beserta pereda nyeri. "Maaf, Tuan-tuan, kami turut berduka atas kehilangan calon bayi Nyonya Nadira," kata dokter itu sambil melepaskan sarung tangan dan meletakkan kembali stetoskopnya ke dalam saku jas dokter miliknya.
__ADS_1
Baik Arsen, Areef dan Anthony sama terkejutnya. "Apa?!" pekik ketiganya hampir bersamaan.
Dokter perempuan itu mengangguk. "Usia janinnya masih sangat muda, sehingga benturan sekecil apa pun bisa memengaruhinya. Kami turut berduka, Tuan," jelasnya sambil menunduk, merasa iba dan kasihan.
Arsen langsung terduduk mendengar kabar itu. Tubuhnya tak kuasa menopang berat tubuhnya sendiri. "Arsen, kendalikan dirimu!" teriak Areef terkejut.
"Tuan Muda." Anthony tampak membantu Arsen untuk duduk di kursi tunggu. Tatapan matanya nanar, menatap sedih ke arah bed tempat Nadira berbaring. Dokter dan beberapa perawat sudah undur diri. Seolah memberi ruang bagi mereka bertiga untuk bersedih.
Areef mengambil duduk tepat di samping cucunya. Jujur, Areef juga merasa sedih dan terpukul mendengar kabar itu. Tangannya bergerak mengusap bahu Arsen naik turun, seolah dengan usapan itu, kesedihannya akan menghilang.
"Kenapa, Kek? Kenapa Arsen dan Nadira terus diuji berkali-kali seperti ini?"
"Arsen, yang namanya hidup tak pernah lepas dari ujian. Ujian itu sendiri datang bukan tanpa alasan. Melainkan Tuhan ingin tahu sampai batas mana kamu bersabar," kata Areef bijak.
Arsen menggeleng, skeptis. "Sampai kapan ujian itu, Kek?" tanyanya seraya menyeka pipinya. Areef tersenyum, sedangkan Anthony masih berdiri setia mendengarkan.
"Ujian hidup tak akan pernah berhenti, Arsen. Selama kita hidup, selama itu juga kita diuji," jawabnya. Matanya memandang bed Nadira sekilas lalu berbalik kembali pada Arsen.
"Bagi Arsen itu terdengar seperti derita tanpa akhir," timpalnya lemah. Matanya sayu, kepalanya tertunduk ke bawah. Menatap lantai rumah sakit yang dingin.
"Itu karena kamu menganggap ujian sebagai rintangan hidup, padahal jika ditelaah lebih jauh, ujian-ujian itu sebenarnya akan menguatkan jiwamu."
Kepala Arsen mencoba menerima nasihat kakeknya dengan baik. Mencerna lebih jauh kata ujian itu dengan sungguh-sungguh.
"Beginilah adanya kehidupan, Arsen. Kamu harus terus belajar dan belajar untuk bisa mengerti," tandas Areef, ia lalu beranjak dari duduknya dengan dibantu Anthony.
"Kamu jaga Nadira baik-baik, jangan bicarakan soal jabang bayinya, Kakek takut dia akan tertekan nanti. Kita harus memikirkan dan memerhatikan dengan baik psikologisnya," ceramah Areef panjang.
Arsen hanya mengangguk singkat. Ia juga berpikir untuk tidak memberitahu Nadira apa pun. Arsen berpikir jika ia saja sangat shock apalagi Nadira. Perempuan itu pasti akan sangat terpukul.
"Oh, ya, Kakek hampir lupa, Arsen. Polisi sudah menangkap dua pelaku penculikan itu. Soal Bara sepertinya harus kamu sendiri yang turun tangan."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Areef berjalan keluar bersama Anthony di belakangnya. Meninggalkan Arsen dengan segala beban pikirannya.