Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 39


__ADS_3

Arsen terduduk lemah di kamarnya, entah mengapa Arsen merasa kamarnya kini kembali hampa, seperti sebelumnya. Padahal kehadiran Nadira membuat suasana kamar jadi lebih hangat dan menambah kesan feminim di kamar yang luas itu. Beberapa kali Arsen perhatikan kamarnya selalu rapi, gadis itu selalu memerhatikan detail-detail kecil.


Kini, kamar itu bahkan berantakan, tak terawat. Barang-barang bertebaran, cermin tempat Nadira merias diri bahkan hancur berkeping-keping, selimut dan bantal yang sudah tak berbentuk. Kacau, seperti Arsen.


Arsen menatap kosong ke arah tempat tidurnya. Biasanya, setiap malam ia akan memeluk Nadira erat. Pagi ini, jangankan memeluk Nadira, ingin tertidur pun Arsen kesulitan. Sejak pesta berakhir, Arsen belum memejamkan matanya semenit pun. Tanpa Nadira, ia tak mungkin bisa tidur dengan nyenyak.


Malam sudah beranjak pagi, sinar mentari pagi menyelusup ke jendela kamarnya. Arsen masih mengingatnya dengan jelas, setiap pagi saat ia mengerjapkan mata, hal yang pertama Arsen lihat pasti Nadira yang menyambut pagi, membuka tirai kamar lebar-lebar, lalu tanpa sengaja mengusik Arsen.


Usai perayaan berakhir, Kakek membawa serta Nadira pergi. Dan Arsen hanya bisa menerima fakta itu dengan getir. Baru semalam gadisnya pergi tapi ia sudah kacau.


Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya pelan. "Tuan Muda ... Ada Tuan Besar datang, beliau meminta Anda untuk turun ke bawah," katanya pelan.


"Kakek?"


"Ya, Tuan Muda."


Setelah itu Arsen bergegas mencuci wajah dan mengganti pakaiannya. Dengan harapan Nadira datang bersama Kakek.


Areef menatap cucu satu-satunya dengan pandangan mengiba. Cucunya tampak kacau sekali, padahal baru semalam ia membawa Nadira pergi dari sisinya.


Sepertinya, gadis itu sudah mulai mempengaruhi kehidupan cucuku. Hm, itu suatu hal yang bagus, tapi temperamennya benar-benar buruk, entah bagaimana cara mengobati paranoid akutnya itu, haish.


Areef menggelengkan kepalanya lemah. Ia sudah susah payah menyatukan mereka berdua, tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


"Kakek," panggil Arsen lemah. Wajahnya berubah pucat, lingkar matanya terlihat jelas. Arsen menyalami kakeknya hormat. Lalu duduk tepat di samping kakeknya.


Areef mengiba, mengusap lembut kepala Arsen. "Kamu tahu untuk apa Kakek datang kemari, Arsen?"

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk singkat, merebahkan kepalanya di lutut Areef. "Arsen tahu salah, Kakek. Maaf karena semalam Arsen terlalu marah. Arsen ... Arsen tak suka melihat Nadira dekat dengan pria lain."


"Lalu?


"Apakah salah jika Arsen ... Cemburu?" tanya Arsen sedikit ragu.


Areef tersenyum. Kembali mengusap kepala cucunya sayang. "Arsen, rasa cemburu itu tidak salah. Katanya, cemburu itu tanda cinta. Bagus kalau Arsen cemburu, itu artinya Arsen sudah mulai mencintai Nadira."


"Tetapi Arsen, yang harus kamu ingat dengan baik. Jangan sampai sikap cemburu itu menghancurkan dan berubah jadi pengekangan terhadap pasangan."


Arsen terlihat menyimak dengan baik. Kepalanya mengangguk-angguk kecil. Areef menghela napasnya pelan sebelum melanjutkan.


"Hubungan pernikahan berbeda dengan hubungan asmara remaja, Arsen. Hubungan pernikahan banyak sekali landasannya, salah satunya adalah kepercayaan. Sekarang, Kakek mau tanya. Apakah Nadira pernah menjelaskan tentang laki-laki bernama Bara itu kepadamu?"


Arsen terdiam sebentar lalu mengangguk. Nadira tentu saja sudah menjelaskannya, bahkan berkali-kali. Namun, entah mengapa saat Arsen melihat keduanya berdekatan, ada rasa tidak aman yang muncul di hatinya.


"Nadira mengatakan bahwa dia dan Bara hanyalah rekan kerja. Saat pertama ia masuk ke perusahaan, Bara adalah orang yang paling sering membantunya," jelas Arsen. Kakek tua itu mengangguk.


"Kalau seperti itu, maka benarlah apa yang dikatakan Nadira. Kamu marah padanya sampai seperti itu menandakan bahwa kamu tidak memercayai istrimu sepenuhnya."


Arsen kembali bungkam. Sedikit banyak sudah memahami inti pembicaraan dengan Kakeknya hari ini. Arsen mengubah posisi duduknya jadi bersandar di sofa. Matanya mulai terasa berat.


Areef memerhatikan cucunya sejenak, membiarkan Arsen mencerna nasihatnya dengan baik. "Kamu sudah mendapatkan intinya, Nak?" tanyanya beberapa menit kemudian.


Lelaki itu terlihat membenarkan posisi duduknya kembali, sesaat ia meminum air putih yang tersaji di meja, dan meneguknya hingga tandas.


"Arsen ... Arsen sudah mengerti Kakek," jawabnya lemah dan parau. Keangkuhan yang sering ia tunjukkan kepada orang lain seakan tak berarti apapun di hadapan sang Kakek.

__ADS_1


Areef tersenyum bijaksana. "Hal yang paling dibutuhkan wanita dalam pernikahan, bukan hanya cinta dan harta, Arsen. Dibanding dua hal itu, Kakek yakin Nadira lebih ingin dan membutuhkan rasa percaya darimu," Areef kembali memulai ceramahnya.


"Setelah cinta, kepercayaan adalah hal yang paling mudah didapat tetapi juga paling mudah hancur. Saat pernikahan kehilangan pondasi kepercayaan, maka pernikahan akan mudah retak. Sama seperti Arsen, bukan? Kamu tidak sepenuhnya memercayai Nadira, apa yang terjadi?"


"Aku menyakitinya. Nadira ... Nadira pasti sangat terluka dengan sikapku, kan, Kek?"


Areef mengangguk, mengiyakan. "Itu sudah pasti, Nak. Perempuan dan istri mana pun akan terluka saat suaminya sendirian meragukan dirinya," sindir Areef halus. Arsen kian diliputi rasa bersalah. Ia terlalu gegabah semalam. Ia terlalu emosi.


"Kakek, apa yang harus Arsen lakukan sekarang? Apakah Nadira mau memaafkan Arsen?" tanyanya pelan. Nadanya terdengar putus asa dan tak berdaya.


"Setiap orang pasti melakukan kesalahan, Nak. Dan kesalahan masih bisa diperbaiki. Sekarang tinggal bagaimana Arsen berusaha mendapatkan pengampunan dan maaf dari istrimu. Minta maaf-lah dengan tulus," jawab Areef panjang.


Arsen terpekur dalam duduknya. "Meminta maaf dengan tulus? Apakah Nadira akan memaafkan Arsen?" Arsen mengulang pertanyaannya.


"Minta maaf saja belum tentu cukup. Minta maaf dan tunjukkan ketulusanmu padanya. Tunjukkan bahwa kamu benar-benar merasa bersalah dan tak akan mengulangi kesalahanmu. Ingat, perempuan suka diperjuangkan," saran Areef mendorong Arsen untuk lebih aktif.


Selama ini ia perhatikan, cucunya hanya bisa memberikan uang, menunjukkan kekuasaan dan menggoda tanpa menunjukkan lebih banyak keseriusannya. Kali ini, Areef akan membiarkan Arsen berusaha sendiri.


Seorang lelaki harus berani memperjuangkan perempuan. Namun dalam pandangan Arsen, jika ia menginginkan seorang perempuan, cukup mengikatnya dengan status dan uang. Hal itulah yang hendak Areef ubah.


Arsen sudah larut dalam pikirannya. Hal apa kiranya uang harus ia lakukan agar Nadira bisa memaafkannya? Menunjukkan ketulusan, bagaimana caranya?


Areef sedikit terkekeh melihat kening Arsen mengerut dalam. Bisa-bisanya cucuku yang angkuh dan tampan berpikir begitu serius hanya karena seorang wanita.


"Arsen," panggil Areef. Lelaki yang semula tampak serius berpikir itu sontak menoleh.


"Kakek tahu betapa traumanya kamu dengan masa lalu dan betapa tidak mudahnya kamu memercayai orang, tapi mulai sekarang. Cobalah untuk sepenuh hati memercayai Nadira. Dia istrimu, Kakek sudah cukup melihat ketulusannya padamu."

__ADS_1


Arsen kembali mengangguk. "Baik, Kakek. Arsen mengerti. Arsen akan berusaha," jawabnya sungguh-sungguh.


__ADS_2