
Nadira tersentak, dengan panik ia menutup pintu apartemennya. Namun, kalah cepat, Arsen menahannya kuat. "Lepas, Pak!" sentak Nadira marah. Matanya nyalang menatap Arsen dari balik pintu.
Namun, semakin kuat Nadira mendorongnya, Arsen semakin kukuh menahan pintunya agar tak menutup. "Lemme talk, Nadira, please ... " mohonnya sambil meringis. Tangannya terjepit pintu. "Please, just a moment," pinta Arsen lagi dengan memelas.
Nadira akhirnya mengalah. Ia membuka pintu itu dengan terpaksa. "Hanya beberapa menit, tidak lebih." Nadira memberi isyarat agar Arsen cepat masuk.
Dengan senang hati, Arsen berjalan masuk dengan mengendurkan dasinya. Mengabsen seisi ruangan itu dengan jeli. Tak ada yang luput dari pandangannya, termasuk Nadira sendiri.
"Duduk di sini," katanya ketus mempersilahkan Arsen untuk duduk. Sedangkan Nadira sendiri pergi ke dapur untuk membuatkan Arsen minuman.
"Silahkan."
"Terima kasih," ucap Arsen gugup.
Nadira duduk di hadapannya, menatap Arsen dengan sorot tajam. Kali ini tak ada yang harus ditakutinya, Nadira sudah mengundurkan diri dan ia tak harus menaruh hormat pada lelaki di hadapannya. Hanya satu hal yang agaknya dilupakan Nadira. Nadira lupa bahwa lelaki yang berada di hadapannya ini adalah suaminya sendiri.
"Kakek yang kasih tahu Pak Arsen kalau saya di sini?" selidik Nadira. Arsen berdeham untuk menghilangkan kegugupannya.
Pria itu menggeleng cepat, kemudian memaksakan senyumnya. Meski sebenarnya ia tak suka dengan nada bicara Nadira padanya, tapi Arsen sudah bertekad untuk bersikap lunak terhadap Nadira sekarang.
"Tidak, meskipun aku memohon pada Kakek, tapi Kakek tetap saja tidak mau memberitahuku," jawabnya. Arsen mengubah panggilannya dengan kata 'aku' demi mengakrabkan dirinya.
"And then?"
"From this," Arsen menunjukkan account bank miliknya kepada Nadira. "Ada tagihan masuk dari kartu kreditku, aku rasa seseorang menggunakannya untuk membayar sewa apartemen ini," ucap Arsen tersenyum penuh arti.
Nadira terbelalak. Ah, sial, harusnya Gue minta Kakek aja yang bayar sewa dan lain-lainnya. Lo bodoh banget, sih, Nad? maki Nadira pada dirinya sendiri.
"Nadira ... I'm sorry," kata Arsen lemah, matanya tertunduk penuh penyesalan.
"For what? Can you give me an explain Mr. Harrington?" cebik Nadira.
"I will give the explained if you want to, Mrs. Harrington," jawab Arsen lembut. Tak ada keangkuhan, tak ada sikap memaksa ataupun nada memerintah. Arsen melepaskan semua itu, demi bicara pada Nadira malam ini.
__ADS_1
Untuk sesaat Nadira terpaku, Arsen yang sekarang berada di hadapannya tampak sangat berbeda. Hanya ada Arsen yang lemah lembut dan tak berdaya.
"Aku minta maaf untuk semuanya. Untuk semua hal yang kulakukan, atas sikap dan perkataan yang mungkin menyakitimu dan membuat hatimu terluka. Aku menyesalinya Nadira. Sangat menyesalinya," aku Arsen. Suaranya terdengar melemah, tidak sekeras biasanya. Netranya menatap Nadira lembut. Berharap dengan itu, Nadira dapat merasakan penyesalannya.
Nadira terdiam, mendengarkan penjelasan Arsen. Padahal banyak hal yang telah dilakukannya kemarin, tapi Nadira baru merasa tersentuh dengan pengakuan kecil seperti itu. Benarlah jika, yang dibutuhkan perempuan seperti Nadira bukanlah harta semata, melainkan ketulusan dari hati yang lebih berharga.
"Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari hal ini, Nadira. Dan saat kusadari, aku benar-benar membutuhkanmu di sisiku. Aku yang bersalah karena tak memercayaimu sepenuhnya, akulah yang bodoh, Nadira. Aku menundukkan diriku malam ini. Besar harapanku agar kamu bisa memaafkanku."
"Kumohon, maafkan aku. Aku bersalah padamu, Nadira, kuakui itu. Aku juga berjanji tak akan mengulanginya dan akan berusaha untuk memercayaimu. Kuharap tidak terlalu terlambat untukku mendapat maafmu," kata Arsen lirih.
Nadira menggeleng, tak tahu. Lebih tak menyangka kepada Arsen yang bisa mengatakan banyak hal baik seperti itu. Tetapi, walaupun Arsen sudah mengakui kesalahannya, masih ada secuil rasa sakit di hati Nadira.
"Hal yang paling riskan dari hubungan kita adalah kepercayaan itu, Pak. Pak Arsen gak akan tahu rasanya gak dipercayai oleh seseorang. Terlebih lagi jika orang itu adalah seseorang yang sudah terikat lahir dan batin," balas Nadira.
Nadira berpaling, enggan menatap Arsen atau jika tidak, ia akan merasa iba. Nadira berpikir bahwa Arsen yang menatapnya sekarang jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan Arsen yang menuduhnya tempo hari. Nadira takut ia akan jatuh ke dalam tatapan Arsen dan berakhir dengan mengasihaninya, lagi.
"Aku tahu, rasanya sangat sakit, aku lebih tahu dari siapapun rasa sakitnya," aku Arsen kembali, membenarkan ucapan Nadira.
Seketika Nadira teringat oleh cerita Areef. Betapa hancurnya Arsen saat orangtuanya berpisah dan ia kehilangan semua rasa percaya itu dalam sekejap mata. Nadira tak berani berkata-kata lagi. Arsen selalu bisa menyanggah semua ucapannya.
Nadira mendongak, mata keduanya bertemu tatap untuk beberapa detik. Entah sejak kapan Arsen mulai menangis. Nadira bisa melihat dengan jelas garis bekas air mata turun di pipinya.
Nadira menghela napas. "Itu benar, tapi dengan rasa percaya yang utuh, Pak. You can't give me that, I have no reason to fall in love again," jawab Nadira pelan.
Arsen makin tertunduk. Kepalanya mulai berdenyut sakit. "Sssh ... " desisnya. "Jangan mencintaiku kalau begitu. Biar aku saja yang jatuh, kamu jangan," kata Arsen, lalu sedetik kemudian pandangannya mengabur.
"Pak Arsen!" dengan panik Nadira bangkit dari duduknya dan langsung menyangga kepala Arsen cepat. Meletakkannya pelan ke sandaran sofa.
Arsen tersenyum penuh perasaan. "Kamu khawatir, padaku, kan? Itu sudah cukup bagiku," kata Arsen sambil berbaring.
Denyutan di kepalanya makin terasa berat. Sudah beberapa hari ini ia tak tidur nyenyak, wajar saja jika kepalanya berdenyut nyeri. Ditambah lagi ketidakinginannya pada makan, membuat wajahnya tambah pias.
Nadira tak mengindahkan racauan Arsen, ia segera mengambil bantal untuk Arsen merebahkan diri. Meski sedang pusing, mata Arsen tetap mengikuti pergerakan Nadira, membuat gadis itu risih terus diperhatikan.
__ADS_1
"Stop looking at me with those eyes, Mr. Harrington," ketus Nadira. Arsen terkekeh geli. Bukannya marah, ia justru semakin intens menatap Nadira.
"What eyes, Mrs. Harrington?" tanyanya semakin membuat Nadira jengkel.
"Tak tahu malu," gumam Nadira pelan. Ia membuka kotak obat mengambil satu butir paracetamol dan memberikannya pada Arsen.
"Cepat minum, jangan membuat orang khawatir!" Arsen mengambil obat itu lalu menelannya cepat.
Ia membenarkan posisi berbaringnya dan merebahkan kepalanya pada bantal yang diberikan Nadira. "Aku tidak ingat kapan terakhir kali ada orang yang mengkhawatirkanku seperti ini, Nadira. Kurasa hanya dirimu," kata Arsen lemah.
Nadira semakin mengiba. Pria di hadapannya itu sangat mudah untuk menarik simpati orang. "Semua orang pasti khawatir, bagaimana pun Pak Arsen adalah Presdir yang terhormat," ujar Nadira sambil meraih sebelah tangan Arsen yang memar.
Sebenarnya, berapa banyak luka yang udah diterimanya? Kalau Gue gak lihat luka ini tadi, Pak Arsen gak mungkin bilang, kan? Sama kayak sebelumnya, he never said how many pain he ever felt.
Dengan sabar Nadira mengoleskan cairan Iodine pada memar itu, meniupnya pelan dan menempelkan plester di punggung tangan Arsen. Dalam keadaan itu, Arsen dapat merasakan jemari Nadira yang hangat.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali seseorang menggenggam jemariku dengan hangat seperti yang ia lakukan padaku sekarang. Perasaan seperti ini benar-benar nyaman. Arsen memejamkan matanya, membiarkan Nadira mengobati lukanya seperti biasa.
"Mereka, hanya menghormatiku bukan kekhawatiran seperti yang kamu berikan padaku. Benar kata Kakek, ketulusan itu mahal," desis Arsen sambil menatap punggung tangannya yang sudah dibalut plester.
Nadira kembali merapikan kotak obatnya, menyimpannya kembali ke tempatnya. Ia terdiam di tempat, memejamkan matanya untuk beberapa saat.
Hatinya benar-benar tak kuat melihat Arsen yang terpuruk. Hatinya sakit, tapi lebih sakit melihat Arsen yang tak berdaya di hadapannya. Ia menyeka air matanya cepat. Tak ingin Arsen mengetahuinya.
"Nadira ... " panggil Arsen lagi. Wajah yang biasanya angkuh dan tampan itu berubah sayu. "Aku ... Bolehkah aku menginap di sini malam ini? Aku, aku tak bisa berkendara, lagipula ini sudah larut. Aku—" ucapan Arsen terpotong.
"Ya, hanya malam ini." Nadira berbalik. Hatinya kian diremas, meski ia tahu itu hanyalah alasan Arsen agar tetap bisa tinggal, tapi ia benar-benar tak bisa menolaknya.
Arsen tersenyum senang. "Terima kasih, tidur di sofa juga tak apa," katanya kembali merebahkan diri.
"Jangan di sofa, nanti punggung Pak Arsen sakit. Tidur di kamar saja," kata Nadira lalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Meskipun kamu tidak mengatakannya. Aku tahu bahwa sebenarnya kamu sangat peduli padaku, Nadira. Tidak tahu sejak kapan aku jadi begitu ketergantungan padamu. Love is simple but too hard to understanding it," katanya pelan sambil berjalan ke arah kamar Nadira dengan gontai.
__ADS_1
Kepalanya masih terasa pusing, tapi Arsen merasa rasa sakit yang diterimanya malam ini jadi sebanding dengan tinggal bersama istrinya walau untuk semalam. Paling tidak, ia yakin bisa tidur nyenyak malam ini.