
Tak sedetik pun Arsen lewatkan kecuali dengan memandangi Nadira. Memerhatikan secara seksama setiap gerakan perempuan itu saat mengatur ulang kamar keduanya. Membuka koper hingga meletakkan baju-baju dan segala peralatannya di lantai.
Cukup sederhana tapi jujur saja, Arsen merasa bahagia karena Nadira bersedia untuk kembali bersamanya malam ini. Senyum mengembang telah menghias wajahnya sedari sore.
Tak ada yang lebih membuat malamnya bahagia selain kehadiran Nadira di sini. Entah kapan Arsen merasa euforia atas kehadiran seseorang di hidupnya. Yang ia pahami sekarang hanyalah bahwa ia akan merasa kehilangan dan hampa jika Nadira tak berada di sisinya.
Mungkin benar kata Kakeknya bahwa Arsen telah jatuh cinta pada perempuan itu, perempuan yang ia paksa jadi istrinya. Perempuan yang tanpa sengaja ia temui di samping pelariannya.
Barangkali juga benar bahwa cinta bisa datang seiring waktu. Tak penting bagaimana dan kenapa perasaan cinta itu datang. Yang terpenting baginya sekarang adalah menjaga cinta itu agar tetap utuh.
"Pak bisa bantu gak?" tanya Nadira yang tampaknya sudah kelelahan, usai pulang dari kediaman utama, Nadira bersikeras menata ulang kamar mereka yang menurutnya, tidak estetik dan indah dipandang mata, padahal Arsen sudah memintanya untuk beristirahat.
Arsen yang semula hanya duduk menonton apapun yang dilakukan Nadira langsung mengangguk dan menghampiri Nadira cepat.
"Apa yang harus dibantu, Sayang?" tanya Arsen dengan nada menggoda seraya melipat lengan kemejanya hingga ke siku.
"Bantu saya geser meja ini dong, tangan saya rasanya kebas," pinta Nadira begitu Arsen menghampirinya. Tak memedulikan tatapan penuh perhatian yang Arsen berikan padanya. Atau lebih tepatnya, Nadira tidak — belum menyadarinya.
"Sudah kukatakan kamu istirahat saja, pergilah mandi, sisanya biar pelayan saja yang rapikan," kata Arsen mendorong Nadira untuk membersihkan diri. Sedangkan ia menggeser meja itu sesuai instruksi yang diberikan Nadira padanya.
Setelah selesai, Nadira tersenyum dan menurut saja, mengambil handuk di dalam lemari, Nadira melangkah menuju kamar mandi.
Tetapi kembali terhenti dan menatap Arsen kembali. "Jangan disentuh barang-barangnya, ya!" katanya memperingatkan Arsen untuk tidak menyentuh barang-barang miliknya.
Menjawab Nadira, Arsen hanya mengedikkan bahu ringan dan menggumam. "Entah barang atau orangnya, sama-sama tidak boleh disentuh begitu?"
Setelah memastikan Nadira tengah mandi, Arsen memanggil beberapa pelayan untuk merapikan wardrobe mereka. Sambil menunggu perempuan itu selesai, Arsen kembali sibuk dengan laptopnya, memeriksa beberapa file di surelnya.
"Tuan Muda, sudah selesai. Makan malam juga sudah disiapkan," kata kepala pelayan memberitahunya.
"Ya, bawakan kemari makanannya."
30 menit berlalu begitu saja sejak Nadira pergi mandi. Arsen bahkan sudah selesai membaca beberapa file tapi Nadira belum kunjung keluar. "Hanya mandi, kenapa begitu lama?" tanyanya heran.
"Nadira?" panggilnya sambil mengetuk pintu agak keras. "Kamu masih di dalam? Jangan terlalu lama di kamar mandi, nanti masuk angin," ujarnya khawatir. Senyap, tak ada suara apapun. Tidak dengan sahutan ataupun gemericik air.
"Pintunya dikunci? ... Buka pintunya, Nadira, atau kudobrak pintu ini!" teriaknya lalu membanting pintu dengan keras. Suara debamnya mengagetkan Nadira yang tengah berendam itu.
"Ada apa?!" kata Nadira tersentak. Menyembulkan kepalanya, Nadira segera menyambar handuk di tepi bathtub dan memakainya cepat.
"Kamu tidur di kamar mandi?!"
"Hah? Enggak, kok!"
__ADS_1
"Aku pikir ... Aku pikir kamu terluka," kata Arsen bergetar, lalu menghampiri Nadira dan membantunya keluar dari bathtub. Dari jarak sedekat itu, Nadira bisa melihat dengan jelas kekhawatiran Arsen padanya.
Mata Arsen tak lepas meraba lekuk tubuh Nadira yang hanya terbalut handuk putih. Menariknya, kekhawatiran Arsen yang semula muncul mendadak lenyap saat Nadira menyentuh wajahnya lembut.
"Berapa hari Pak Arsen gak cukur?" tanyanya memalingkan wajah Arsen ke kanan dan ke kiri.
"Sepertinya, sejak malam itu," katanya tercekat saat Nadira mengangkat dagunya dan secara tidak sengaja menyentuh lehernya.
Dia ini sedang menggodaku atau benar-benar tidak tahu?
Menarik jari Nadira, Arsen menelan salivanya susah payah dan memalingkan wajah ke arah lain asal tidak menangkap langsung bahu Nadira yang terbuka. Juga kaki jenjang Nadira yang putih terawat, membuat darah Arsen berdesir hangat. Ada sesuatu dorongan kuat di bawah sana yang membuatnya sesak.
"Katakan, kenapa kamu tidak menjawab tadi?"
"Oh, tadi lagi asyik berendam jadi gak dengar apa-apa. Kenapa? Pak Arsen manggil saya?" tanya Nadira sambil mengenakan bathrobe miliknya.
"Iya, makan malamnya sudah siap dari tadi. Kamu ... kamu keluarlah dulu."
"Kenapa?" tanyanya sedikit heran melihat wajah Arsen yang memerah. Juga, suhu tubuhnya yang menurut Nadira lebih panas.
"Aku rasa, aku harus mandi lagi."
***
Wajahnya berubah pias akibat berdiam terlalu lama di bawah shower. Dari pantulan cermin, ia bisa melihat Arsen beranjak ke wardrobe. Punggungnya yang tegap dan cara jalannya yang tegas jelas berhasil mencuri perhatian Nadira untuk sesaat.
Merasa tak cukup, Nadira menghampiri Arsen yang kelihatan bingung mencari baju tidurnya. "Pakai kaus yang ini aja," kata Nadira mengulurkan kaus yang diambil dari lemari mereka.
Tak berkomentar, Arsen langsung memakainya di hadapan Nadira. Membiarkan perempuan itu melihat semuanya dengan jelas. Dada bidangnya, otot di perutnya, juga tangan kekarnya adalah bukti bahwa pria itu jelas sering berolahraga dan merawat tubuhnya dengan baik.
Selama beberapa detik Nadira terpaku memandang Arsen yang berdiri tak jauh darinya, bahkan Nadira baru menyadari ada beberapa bekas luka di sekitar bahu dan perut Arsen. Kayaknya itu bekas luka yang waktu itu, I never know how much pain that ever he takes. Jadi dirinya gak pernah mudah...
"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Arsen menyentak lamunan Nadira soal bekas luka Arsen itu. Ia sudah selesai berpakaian.
"Gak ada, bukan apa-apa," jawab Nadira singkat.
Arsen menyeringai. "Apa yang kamu maksud 'bukan apa-apa' adalah sesuatu menurutku. Jangan bilang kamu sedang memikirkan sesuatu yang lain," kata Arsen sedikit menggoda. Menaikkan bajunya, Arsen menunjuk perutnya sendiri.
"You want this? Hm?"
Kening Nadira bertautan. Melihat itu, ia jadi tergerak untuk bertanya. "Sebenarnya ... Apa yang terjadi malam itu, Pak? Kenapa bisa luka-luka dan pingsan gitu aja?" tanyanya seraya mendekati Arsen dan memerhatikan dengan seksama bekas luka yang dimilikinya.
Jauh dari dugaan Arsen, ternyata Nadira hanya penasaran dengan bekas lukanya. Apa yang kamu pikirkan, Arsenio?! makinya pada diri sendiri.
__ADS_1
Mengangkat wajahnya, Nadira kembali menatap Arsen dengan tangan dilipat di dada. "Katakan, apa yang terjadi? Saya mau tahu semuanya!" pinta Nadira tegas dan menuntut.
Menopang dagu, Arsen pura-pura berpikir. "Biar aku ingat-ingat dulu, ya," katanya. Matanya berpencar, mencari alasan tepat untuk mengalihkan fokus Nadira.
"Jangan pura-pura!" seru Nadira merasa gemas dengan tingkah Arsen yang selalu mengalihkan pembicaraan mereka sejak siang.
Mendesah pasrah, Arsen menurunkan tatapannya. "Oke, maaf, aku kalah. Akan kuceritakan, tapi di kasur!" ujarnya langsung menggendong Nadira di bahunya.
"Put me down!" teriak Nadira. Arsen tak peduli dengan pukulan kecil pada punggungnya. Kemudian, Arsen membaringkan Nadira di tengah-tengah bed dan memenjarakan tubuh Nadira di antara kedua tangannya.
"What makes you so curious?" tanya Arsen. Menatap Nadira dalam, ia tak berniat melepaskan perempuan itu malam ini. Apapun yang terjadi.
Di bawah kungkungan Arsen, tak ada yang bisa Nadira lakukan selain menatap pria yang menjulang di atasnya. "Your past and everything about you," jawab Nadira sambil berusaha mendorong Arsen. Tapi nihil, Arsen semakin kuat menekannya.
"Kenapa?" geram Arsen hampir tak bisa menahan dorongannya.
"Kenapa?" ulang Nadira.
"Katakan, aku ingin tahu alasannya. Rasa ingin tahumu saja tidak cukup, Sayang. Aku ingin mengetahui alasannya dengan jelas baru kupertimbangkan untuk memberitahumu atau tidak," terang Arsen. Sebelah tangannya menelusuri pelipis hingga pipi Nadira. Tatapannya jatuh pada bibir ranum Nadira yang merekah.
Nadira mendesis marah. Membuat Arsen semakin ingin menggodanya. "Beautiful," bisik Arsen yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nadira. "Oh, very difficult to conquer."
Arsen bangkit dari posisinya dan menarik Nadira untuk duduk juga. Mengusak rambutnya, Arsen duduk tepat di hadapan Nadira. "Omong-omong, aku serius soal ingin tahu alasanmu," kata Arsen setelah beberapa detik mereka habiskan untuk saling menatap.
"Setiap orang menikah bertujuan untuk hidup bersama. Saya rasa, kita juga seharusnya begitu. Segala sesuatu yang terjadi di antara kita sangat terburu-buru sebelumnya, membuat kita tak ada waktu untuk saling memahami satu sama lain," jawab Nadira serius.
"Aku tahu, aku juga bilang dan memintamu untuk membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Tapi sepertinya, sekarang tidak bisa dibiarkan begitu, ya kan?" Nadira mengangguk singkat.
"We can start over if we want to," timpal Nadira. "Dan menurut saya, memulai kembali hubungan ini bisa dimulai dengan saling mengetahui satu sama lain."
"Termasuk masa lalu juga?"
"Saya rasa, seharusnya bisa dimulai dari sana," jawab Nadira singkat. Memerhatikan Arsen selama beberapa saat, Nadira tak dapat menemukan jawaban apakah pria itu berniat memberitahunya atau tidak.
Jika Arsen benar-benar tak ingin memberitahunya juga tak apa, Nadira tak akan memaksanya. Hanya saja, Nadira sangat ingin tahu apa saja yang terjadi pada Arsen dulu— atau paling tidak sebelum mereka bertemu, agar kelak ia bisa memprediksi, mempersiapkan diri dan mencoba untuk tenang atau bersikap baik-baik saja saat Arsen terluka seperti terakhir kali.
"Well, gak apa kalau memang Pak Arsen gak mau, saya gak akan memaksa lagi," kata Nadira setelah lelah menunggu Arsen membuka mulut. Ia beranjak turun dan hendak memakan makan malam yang sedari tadi terabaikan.
"Akan aku ceritakan, but I have 3 wishes," ujar Arsen menahan Nadira untuk diam di tempatnya.
"I can't take it anymore," timpal Nadira merasa lelah terus dipermainkan Arsen. Menghempas lengan Arsen, Nadira justru terjatuh telentang tepat di samping pria itu.
"Please ... " lirih Arsen sambil menempatkan Nadira ke dalam pelukannya yang hangat.
__ADS_1