
Arsen mengemudikan mobilnya ke arah sebuah vila, tempat di mana ia sudah menentukan janji temu dengan Zack. Setelah memarkir mobilnya, Arsen berjalan masuk dengan agak tergesa.
Di dalam Zack dan beberapa anak buah yang lainnya sudah menunggu. Begitu melihat kedatangan Arsen, semuanya langsung berdiri. "Tuan," sapa Zack seraya menunduk hormat.
"Duduklah ... Bagaimana? Kalian sudah menemukan keberadaannya?" tanya Arsen begitu duduk di sofa. Seorang anak buahnya tampak memberinya sekaleng soda.
Zack menggeser posisi duduknya ke dekat Arsen dan menunjukkan layar laptopnya. "Ini, Tuan. Saya sudah memantaunya saat semalam Tuan menghubungi saya."
Arsen tampak memerhatikan layar itu dengan seksama. "Kau yakin, Zack?" tanyanya merasa aneh dengan posisi titik merah yang ditunjukkan Zack.
"Iya, Tuan. Tampaknya orang yang Tuan maksud sengaja menyembunyikan diri," kata Zack menebak-nebak.
Selama beberapa saat Arsen tampak menimbang, memikirkan rencana yang tepat untuk membuat Bara mengakui kesalahannya. Dengan sebelah tangan menopang dagu, Arsen mengetuk-ngetuk meja kaca pelan. Kemudian meminum soda kaleng di dekatnya dan berdiri.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Arsen lebih dulu berjalan disusul dengan Zack dan beberapa orang pria bertubuh kekar tinggi di belakangnya.
Mengenakan kacamata hitamnya, Arsen membuka pintu mobil dan mengambil kemudi, bersiap untuk pergi. Dengan diikuti beberapa mobil di belakangnya, Arsen melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Mengingat Bara, emosinya kembali memanas. "Badjingan kau, Bara!" teriaknya sambil memukul kemudinya keras. "Badjingan yang tak tahu diri," desisnya dengan gigi bergemeletuk.
"Aku bahkan tak pernah menyakiti Istriku tapi kau ... Berani-beraninya kau melukai Istriku sampai keguguran," desisnya penuh amarah.
Selama perjalanan ditempuh, Arsen tak henti-hentinya mengutuk Bara. Ia bahkan berjanji akan membuat Bara mendekam dan disiksa dalam waktu yang lama di penjara.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah bangunan villa yang nampak tua, Arsen dan beberapa anak buahnya tampak mengamati keadaan sekitar dengan seksama. Mereka sudah terlatih dalam pengintaian dan penyerangan.
Setelah dirasa cukup hening dan aman, Arsen bergerak keluar dari mobilnya. Memberi aba-aba pada anak buahnya untuk bersiap menyergap masuk.
Selama para anak buahnya mengendap-endap masuk ke dalam villa, Arsen merogoh ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang. Setelah itu, ia menyusul para anak buahnya dengan membawa serta amarah di hati.
Di dalam villa, Bara tampak terusik saat hot news terkait penculikan istri dari seorang pewaris keluarga besar mencuat jadi headline berita, baik di televisi ataupun media berita lainnya.
Kening Bara mengernyit dalam saat melihat foto dan namanya yang menjadi tersangka dipasang jelas di layar pipih besar itu. "Apa? Gak mungkin!" ucapnya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Bahkan gelas yang dipegangnya terjatuh dan hancur berkeping-keping.
"Gak mungkin! Ini gak mungkin! Gue udah cari tahu segalanya tentang Nadira." Bara menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi.
Tepat bersamaan dengan itu, Bara mendengar suara pintu diketuk. Bara makin was-was saat bunyi desing peluru merambati pintunya. "Polisi," gumamnya, tiba-tiba merasa tak berdaya.
Dalam satu kali tendangan, Arsen berhasil merobohkan pintu tersebut, meninggalkan debam yang memekak telinga. Bara menatap sosok yang menjulang di depannya. Tinggi tegap, berwibawa dan penuh kekuasaan.
"Angkat kepalamu, sialan!" maki Arsen. Dengan takut Bara mengangkat wajahnya, menatap Arsen yang berdiri di hadapannya dengan angkuh.
"Well, harus kuakui kau sangat pemberani," kata Arsen tajam sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku ingin tahu dari mana keberanianmu berasal dan apa yang membuatmu begitu berani menculik hingga menyiksanya, Bara."
Bara tertekan dengan setiap kata yang keluar dari lisan Arsen. Bara ingin kabur, tapi tak bisa karena para pria bertubuh tinggi tegap mengelilinginya dari tiap sisi. Seakan telah mempertimbangkan segalanya dengan baik.
Arsen menatap Bara tajam, memberinya sorot mata kemarahan yang sampai kapan pun tak akan bisa dilupakan olehnya. Tatapan kemarahan dari seorang suami yang istrinya dilukai hingga mengalami trauma psikologis dan tatapan sakit hati atas kematian calon anaknya yang bahkan tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Mengingat penderitaan Nadira selama dua hari di rumah sakit, Arsen tak bisa menahan diri. Ia menggunakan lutut kanannya untuk menghantam wajah Bara kuat hingga lelaki itu terjerembab ke belakang dengan hidung memerah.
Bara terpekik sakit. Memohon ampun dengan menangkupkan kedua tangan hingga berlutut. Tetapi, segalanya sudah terlambat. Arsen telah diselimuti amarah dan dendam.
"Kau baru meminta maaf sekarang? Bagaimana rasanya? Sakit, kan? Seperti ini juga rasa sakit yang dialami istriku, brengsekkk!" maki Arsen. Kakinya tak tahan untuk menendang perut Bara keras.
Pria itu telah meringkuk menahan sakit di bagian perutnya. Karena itu, Bara sampai terbatuk keras. Tak berhenti di situ, Arsen mengarahkan pistolnya ke bagian lutut Bara. Menarik pelatuknya dan bunyi peluru dengan jerit kesakitan Bara tampak bersahutan di telinganya.
Kemudian, Arsen melemparkan pistol itu dan membersihkan tangannya dengan sapu tangan. Menatap Bara yang merintih dan terpekik kesakitan. Hari ini, Arsen merasa puas telah memberi seorang Bara pelajaran. Paling tidak ia telah memberitahu pria itu rasa sakit yang dialami Nadira.
Arsen mengenakan kembali kacamata hitamnya lalu berjalan pergi. "Obati dia dan serahkan kepada polisi," kata Arsen mengingatkan Zack.
Zack mengangguk. "Baik, Tuan. Hati-hati di jalan," jawabnya sambil menunduk yang diikuti semua anak buahnya.
Setelah itu, Arsen melangkah pergi dan kembali mengendarai mobilnya menuju rumah sakit untuk kembali menemani Nadira. Perasaannya sedikit lega karena telah melampiaskan kekesalannya.
Kendati begitu, Arsen masih saja belum bisa menghapus duka akibat kehilangan calon bayinya. Anaknya dengan Nadira harus menerima kekejaman Bara. "Sial! Bara sialan!" umpatnya kembali merasa kesal.
"Anakku ... Buah hatiku, cintaku," cicit Arsen merasa sedih. Tak ia sangka bahwa kehilangan akan terasa begitu menyakitkan. Meremas dadanya yang tidak terasa sakit, Arsen merasa ada sesuatu yang hilang.
Matanya mengabur oleh air mata, merasa tak bisa mengemudi Arsen menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan menumpukan kepalanya di atas kemudi.
Arsen tergugu dalam diamnya. Terisak dalam, hatinya bagai dicabik-cabik. Janin itu bahkan belum berbentuk segumpal daging. Tapi Arsen sudah harus merasa kehilangan yang begitu berat.
__ADS_1
Arsen merasa Tuhan selalu mengujinya dengan kehilangan-kehilangan yang merontokkan selaksa jiwanya. Selama beberapa menit, Arsen masih tertunduk, seolah ingin menuntaskan tangis yang ia tahan sejak kemarin.
Salah jika orang-orang mengira dirinya kuat. Karena nyatanya, Arsen porak poranda dalam luka kehilangan yang sama. Seorang pria seperti Arsen mungkin tampak kuat dan berwibawa dari luar, tetapi yang sebenarnya adalah ia hanya tak menunjukkan kesedihannya pada dunia.