Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 56


__ADS_3

"Kenapa, sih, Luna? Cerita dong, jangan diam kayak batu gitu."


Nadira memandangi Luna yang semenjak ia datang, raut wajah perempuan itu tak menunjukkan raut semangat seperti biasanya. Kentara sekali bahwa Luna tengah memendam sesuatu. Hanya saja, Nadira tak tahu apa itu.


"Gue pulang, deh kalau Lo gak mau ngomong," cetus Nadira seraya meraih tasnya di belakang kursi yang ia duduki.


Luna menegakkan punggungnya. "Jangan!" teriaknya, membuat beberapa pengunjung resto menoleh ke arah keduanya. "Gue lagi galau, butuh teman curhat," katanya setengah berbisik.


Nadira kembali meletakkan tasnya dan duduk dengan tegak. "Ya kalau gitu apa? Cerita, daritadi cemberut aja kerjaan Lo."


Luna mencebik, menopang dagunya dengan sebelah tangan. Sebelah tangannya yang lain mengaduk-aduk pasta tanpa niat memakannya. "Gue suka sama seseorang," aku Luna setelah beberapa detik diambilnya untuk menimbang.


"Siapa? Bara?" tebak Nadira yang langsung dibalas decak kecil perempuan itu.


"Segampang itu ditebak?"


"Siapa lagi kalau gitu? Akhir-akhir ini Gue lihat Lo sama dia berdua-dua terus."


Nadira meletakkan tangan di kedua sisi piringnya selama beberapa saat lalu menyeka mulutnya dengan tisu dan menopang dagu. Berdeham kecil, ia menatap Luna intens.


"Gue bisa jadi mak jomblang Lo berdua," kata Nadira berikutnya disertai protes dari Luna.


"Lo kira Gue anak SMA yang baru falling in love sampai butuh mak jomblang segala," ketus Luna. Meneguk cola miliknya, Luna kembali mengaduk-aduk pastanya, memasukkan satu suapan kecil dan mengunyahnya pelan.


"Then?"


"Nothing. Bara still loving you, Nad. Gue gak mau kayak perempuan gila yang ngejar-ngejar lelaki padahal Gue tahu dia suka sama orang," tutur Luna.


Nadira terbengong mendapat ujaran kejujuran dari Luna. "Bukannya Gue udah bilang sama Lo ya, Luna? Lagipula I was marriage."


"I know, but he don't."

__ADS_1


"Lo mau Gue kasih tahu Bara?"


Luna tampak mengedikkan bahunya. "Gue gak bilang gitu dan gak minta Lo to do something for me, I just tell you, Nad," jawab Luna. Ia mengambil tisu di meja dan menyeka mulutnya.


"Gue minta Lo ke sini bukan biar Lo merasa bersalah atau merasa simpati karena perasaan Gue ke dia yang gak berbalas. Gue ngajak Lo ke sini mau curhat aja, gak lebih," jelasnya karena melihat raut wajah Nadira yang memucat.


Selama beberapa detik keduanya hanya saling terdiam, meraba-raba isi pikiran mereka masing-masing. Mematung di tempatnya, Nadira melirik Luna yang kembali menopang dagu. Perempuan di hadapannya itu benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaannya sedikit pun.


"Gue harus apa kalau gitu, Lun?" tanya Nadira kemudian mencoba mencari cara untuk menghibur Luna.


Selama sepuluh detik pertama, Luna hanya memandangi Nadira dengan nanar. "Gue semenyedihkan itu, ya, Nad?" lirihnya.


Nadira menggeleng, "Well, sedikit ... You're so beautiful, talented and have value, Luna. Lo bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari Bara," terang Nadira mencoba menghibur perempuan yang tengah bertepuk sebelah tangan itu.


"I know. Tapi perasaan kan gak bisa dipaksa, Nad. Kalau yang Gue suka modelannya kayak Bara. Ganteng, cerdas dan red flag dikit, di mana pun gak akan bisa nemu," balasnya setengah berbisik yang membuat Nadira tak habis pikir.


"Hampir tak tertolong," gumam Nadira. Ia beranjak dari duduknya dan meraih tas, menyampirkannya ke bahu lalu menarik Luna untuk keluar dari resto tersebut.


"Duduk yang cantik aja, Gue mau bawa Lo ke suatu tempat biar otak Lo bisa berpikir jernih!" serunya antusias lalu melajukan mobilnya mengikuti navigasi yang diarahkan ponselnya.


"Lo yakin gak apa-apa? Ini udah sore, lho, Nad. Nanti Pak Arsen nyariin Lo gimana? Bisa mampus Gue gara-gara bikin Lo pulang telat," gerutu Luna saat keduanya sudah dalam perjalanan menuju suatu tempat.


"Santai aja, dia lagi ada urusan di Inggris," balasnya yang hanya diangguki singkat oleh Luna.


"Business, ya?" Nadira mengangguk saja dan tersenyum simpul.


Lalu, kembali fokus pada arah jalan, Nadira melajukan mobilnya ke luar Ibukota, menuju suatu tempat yang ia yakini akan disukai oleh Luna. Nadira sangat optimis bahwa ia bisa menghibur Luna.


***


"Pasar malam?" tanya Luna begitu mereka sampai di tempat rekreasi pasar malam yang menyajikan berbagai macam wahana hiburan.

__ADS_1


"Nad?" panggil Luna seakan tak percaya bahwa tempat yang Nadira maksud akan mereka kunjungi adalah pasar malam.


Nadira mengangguk mantap. "Kita gak pernah ke sini, kan? Gue kemarin gak sengaja lihat iklannya kayaknya seru, Lun." Mata Nadira berbinar antusias saat melihat wahana bermain di sana.


Melewati beberapa stand makanan khas pasar malam, Luna hanya bisa mengikuti Nadira pasrah. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh perempuan itu. Tetapi, harus Luna akui, ia juga merasa tempat itu menyenangkan meski menurutnya sedikit kumuh.


Berbelok ke salah satu stand makanan, Nadira mengajak Luna untuk menikmati jagung bakar. "Enak, lho, Luna!" serunya senang.


Luna tertawa. "Iya, enak. Harum lagi, bumbunya terasa banget, ya? Resto bintang lima juga kalah kayaknya," timpalnya sambil menikmati jagung bakar itu.


Setelah menikmati jagung bakar, Luna tertarik untuk menaiki wahana kapal terbang. Awalnya Nadira menolak karena merasa takut mendengar jerit histeris orang-orang yang menaikinya.


"Gila! Luna!" pekik Nadira saat wahana itu mulai naik dan terus naik lalu menghempas mereka ke bawah. Degup jantung Nadira berpacu kencang.


Lima belas menit menaiki wahana tersebut, Nadira jatuh lunglai. "Nad? Beneran gak apa-apa? Kita pulang aja, yuk," ajak Luna.


Nadira masih terduduk lemah, menetralkan rasa mual dan terkejutnya sehabis menaiki wahana ekstrem tersebut. Luna mengusap tengkuknya, merasa bersalah karena telah memaksa Nadira menaikinya.


"Pulang aja, yuk," ajaknya lagi. Menatap ke sekeliling, malam kian larut. Beberapa pengunjung pasar malam bahkan sudah terlihat menaiki kendaraannya untuk pulang.


Nadira mengangguk lemah, "Lo yang bawa mobilnya, ya." Nadira menyerahkan kunci mobilnya kepada Luna. Menggangguk singkat, Luna menerima kunci mobil dan memapah Nadira pelan.


Luna mulai menyalakan mobil melajukannya menjauhi pasar malam itu, malam ini berkat Nadira ia bisa sedikit bersenang-senang. Melirik ke sampingnya, Nadira bersandar lemah.


"Nad, sorry. Gara-gara Gue Lo jadi begini," kata Luna merasa tak enak hati. Nadira menoleh dan menggeleng pelan.


"Gak apa-apa yang penting Lo have fun."


"Gue have fun tapi Lo kayak orang sekarat!"


Nadira terkekeh, "Gue cuma kaget aja, Luna. Gue tidur sebentar, ya? Gak apa-apa, kan?"

__ADS_1


Luna mengangguk, "Iya, mending Lo istirahat dulu." Luna kembali fokus ke arah jalan yang kian gelap, hanya ada mobil Sedan hitam yang searah dengan mereka. Tampaknya sang pengemudi juga sama seperti mereka yang baru saja selesai mengunjungi pasar malam.


__ADS_2