
Di ruang kerja Arsen, Nadira duduk tegak dengan memegang pena di antara kedua jarinya. Sedang Arsen duduk di hadapannya. Keduanya tengah membicarakan business plan yang akan dibangun Nadira.
"Nah, pertama-tama kamu buat executive summary terlebih dahulu," kata Arsen sambil menunjukkan layar di laptopnya. "Mulai dulu dari target pasar, kemudian produk apa yang akan kamu pasarkan."
Nadira tampak mengangguk kemudian mulai menulis ringkasan perusahaan yang hendak dibangunnya. Ia sebenarnya tidak berniat membangun perusahaan, tetapi Arsen mengatakan lebih baik langsung mendirikan sebuah perusahaan.
Nantinya, perusahaan tersebut akan berdiri di bawah naungan nama Harrington Group sebagai lini bisnis baru, agar alokasi sumber daya dan orientasi lebih tertata. Atau lebih tepatnya, Nadira secara khusus mengelola bisnis tersebut tanpa perlu repot mencari investor dan detail-detail lainnya.
"Lalu, apa lagi?"
"Deskripsi perusahaan," jawab Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dibacanya.
"Deskripsi perusahaan itu mencakup apa saja, Mas? Aku gak tahu, can you tell me or give an example?" tanya Nadira memandang Arsen yang tampak lebih tampan saat sedang bekerja.
Arsen melepaskan kacamatanya, lalu beralih dari kursinya dan mendekat ke samping Nadira. Arsen menuliskan beberapa poin dan di sebuah kertas.
"Deskripsi perusahaan mencakup identitas perusahaan, visi dan misinya. Setelah itu, kamu buat konsep dan peluangnya di sini, contohnya seperti ini," jelas Arsen sembari memberi Nadira gambaran sebagai contoh yang bisa diikutinya.
Nadira kembali mengangguk dan melanjutkan kegiatan menulisnya. Ia menulis semua yang dijelaskan oleh Arsen, termasuk tentang analisis aspek pasar, rencana dan strategi pemasaran, manajemen perusahaan hingga ke bagian finansial, semuanya tak luput ia pikirkan dengan matang.
"Seperti itu? Apakah sudah benar?" tanya Nadira seraya menyerahkan catatan dan hasil perinciannya kepada Arsen. Pria itu mendongak dan meraih kertas yang diulurkan Nadira dan membacanya seksama.
Kemudian, Arsen mengangguk puas. "Sangat bagus, tapi masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki," kata Arsen.
"Benarkah? Aku perbaiki lagi?"
"Tidak perlu, biar aku saja yang perbaiki nanti. Kamu pergilah istirahat sekarang, ini sudah larut," titah Arsen yang diangguki Nadira.
__ADS_1
Bersamaan dengan Nadira yang hendak keluar kamar, seorang kepala pelayan datang mengetuk pintu. Nadira membukanya.
"Ada apa?" tanyanya menghampiri kepala pelayan cepat. Nadira tampak sedikit terkejut.
"Kamu kembalilah," kata Arsen pada Nadira. Melihat raut wajah Arsen yang sedikit tertekuk, Nadira cepat-cepat berjalan meninggalkan ruang kerja Arsen.
Setelah memastikan Nadira kembali ke kamar, Arsen menyuruh kepala pelayan itu untuk masuk. "Lain kali hubungi aku lewat interkom!" maki Arsen merasa marah dengan tindakan kepala pelayannya itu.
Sang kepala pelayan hanya menunduk dan meminta maaf. Arsen kembali duduk di kursinya.
"Hasil pemeriksaannya sudah keluar, Tuan Muda." kepala pelayan itu memberikan sebuah amplop putih dengan stempel rumah sakit di kanan atasnya kepada Arsen. Pria itu mengambilnya dan meminta kepala pelayan untuk keluar dari ruangannya.
Di kamar, Nadira tak bisa memejamkan mata. Padahal sudah satu jam berlalu, tapi kantuk belum juga menyapanya. Selama satu jam itu pula ia menanti Arsen.
Merasa tak bisa tertidur, Nadira memilih bangkit dan pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Tepat di meja makan, sesosok pria tertunduk. Nadira dapat melihat dua cangkir kosong tergeletak begitu saja.
Selama beberapa detik, Arsen mencoba menetralkan penglihatannya yang kabur oleh kabut duka. Dan, ha itu tak luput dari pengamatan Nadira.
Wajahnya seringkali berubah dalam beberapa waktu, membuatku sulit menerka apa isi hatinya sebenarnya? Tidak bisakah ia mengatakkannya agar aku mengerti dan tidak membuatku salah paham dengan sikapnya itu?
Nadira mengambil duduk tepat di samping Arsen. Menyadari sepenuhnya kehadiran Nadira, Arsen mengusap wajahnya kasar. "Kamu terbangun?" tanya Arsen seraya menegakkan punggung.
Nadira menggeleng pelan, "Gak bisa tidur," jawab Nadira singkat. Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap dalam bisu, seolah dengan itu, mereka bisa saling mengerti isi hati dan pikiran masing-masing.
"Baiklah, ini sudah larut. Ayo kira tidur," ajak Arsen memutus tatapan mereka lebih dulu. Namun, perempuan itu bergeming di tempat duduknya.
Instingnya mengatakan ada sesuatu yang janggal dan aneh, ia merasa bahwa Arsen kembali menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arsen yang sudah beberapa langkah menjauh dari meja makan. "Sayang," panggil Arsen lembut lantaran Nadira tak kunjung menjawabnya.
Pria itu kembali ke meja makan dan duduk kembali kursinya. Menatap Nadira lekat-lekat lalu meraih tangannya, menggenggamnya lembut.
"Aku belum mengantuk," jawab Nadira, menatap Arsen sesaat. "Kalau Mas mengantuk, Mas ke kamar dulu aja," saran Nadira yang dibalas gelengan kepala.
"You still here, how can I sleep?"
Memberikan tatapan bingung, Nadira kemudian beranjak dari duduknya dan bergerak untuk membuat kopi. Melihat Nadira mendekati coffee maker, Arsen tergugah untuk meminum secangkir lagi.
"Aku juga mau," katanya. Nadira menoleh dan memberinya tatapan tak setuju. Arah mata Nadira tertuju pada dua cangkir kopi di dekat Arsen.
"Gak bisa, itu di sana udah ada dua cangkir," tunjuk Nadira, melirik ke meja, Arsen menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Baru dua, kok. Satu lagi boleh, Sayang." Nadira mendengus kecil namun tetap saja ia membuat dua cangkir kopi, untuknya dan untuk Arsen.
Tak lama, Nadira membawa dua cangkir itu ke hadapan Arsen. Bau harum kopi menggelitik indra penciumannya. "Harum banget, beda sama yang tadi aku buat," pujinya.
"Jadi, kenapa kamu di sini, Mas? Kenapa gak ke kamar?" tanya Nadira masih penasaran kenapa Arsen terduduk di meja makan dengan dua cangkir kopi. Ia kira, Arsen sedang bekerja, tetapi ternyata bukan.
Arsen tampak berpikir sejenak, sambil mengangkat pandangannya sedikit ke atas. "Aku tadi habis baca detail proyeknya sama baca surel dari Galen, terus aku rasa mengantuk dan ke dapur," jawabnya jujur.
"Setelahnya kamu tahu, aku ketiduran di sini," kata Arsen lagi disertai dengan kekehan kecil. Nadira bernapas lega, sepertinya kekhawatirannya pada Arsen kali ini tak berdasar.
Kemudian, mereka menghabiskan malam itu dengan bercengkrama dan mendiskusikan banyak hal hingga dini hari. Tak ada sesuatu yang aneh, selain kemelut di hati Arsen yang masih teringat akan kematian calon bayi mereka.
Ia akan menutup kebenaran itu rapat-rapat. Dan tak akan membiarkan Nadira merasa sedih ataupun terpukul karena kematian calon bayi mereka. Arsen masih berpikir bahwa menyembunyikan sesuatu kebenaran masih terasa lebih baik dibanding mengungkapkan tapi terasa menyakiti.
__ADS_1
Arsen merasa tak akan sanggup melihat Nadira terluka. Biarlah rahasia itu menjadi rahasianya dan Areef. Tetapi, sampai kapan seharusnya ia menyembunyikan kebenaran itu?