
Arsen sudah berdiri di depan pintu masuk, menunggui Nadira. Sudah jam 9 malam tapi gadis itu belum juga kelihatan batang hidungnya, membuat Arsen berpikiran yang tidak-tidak.
"Tuan, makan malam sudah siap," seorang pelayan datang mengingatkan Arsen. Lelaki itu mengibaskan tangannya, menyuruh pelayan itu pergi. Arsen tak akan mungkin bisa makan sebelum melihat istrinya.
"Ke mana sebenarnya dia pergi?! Kenapa sudah larut masih belum sampai?" Arsen terus menggerutu sambil berjalan mondar-mandir. "Jangan-jangan ... "
Tepat saat Arsen ingin menghubungi Galen, Nadira muncul di hadapannya. "Eh, Pak. Ngapain berdiri di sini?" tanya Nadira polos.
Arsen menatapnya dari atas sampai bawah. Memerhatikan penampilan Nadira yang tak kekurangan sesuatu apapun. "Dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Kenapa tidak mengabari saya? Kenapa tidak mengirim pesan?" tanya Arsen tanpa jeda.
"Bukannya Pak Arsen tadi yang,-" ucapan Nadira terpotong karena Arsen menutup mulutnya.
"Ya sudah! Kenapa kamu marah-marah." Arsen berjalan pergi dari pintu masuk dengan berjingkat. Entah mengapa ia merasa kesal saat mengingat Nadira mungkin menghabiskan sisa waktu kerjanya dengan lelaki bernama Bara itu.
"Bukannya dia ya yang marah-marah gak jelas?" Nadira tak terlalu menghiraukannya. Ia sudah mulai terbiasa dengan perubahan mood Arsen itu. Nadira memilih pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Usai mandi, masih dengan mengenakan bathrobe mandinya, Nadira merebahkan dirinya di kasur. Jujur saja, pinggangnya terasa sakit duduk seharian.
"Akhirnya, bisa rebahan juga," ucapnya bermonolog. Pelan ia memejamkan mata. Namun, tiba-tiba saja Arsen masuk dengan membanting pintu.
Nadira yang baru setengah terpejam itu sontak langsung terkejut. "Pak Arsen?!" kagetnya, ia langsung membungkus tubuhnya dengan selimut.
Arsen menatapnya garang. "Kenapa kamu masih di sini?! Saya menunggu kamu sejak tadi di bawah!" bentak Arsen yang membuat Nadira kian bingung. Nadira menarik dirinya hingga ke sudut dipan.
"Pak, bicara pelan-pelan, bisa kan? Gak usah nada tinggi gitu," kata Nadira sedikit takut. "Pak Arsen mau apa bilang baik-baik, saya pasti dengar, kok," katanya lagi. Bahunya sedikit bergetar karena rasa takut.
Apakah aku menakutinya? pikir Arsen pendek.
Melihat Nadira yang memeluk lutut, Arsen akhirnya mencoba untuk mengontrol emosinya sendiri dengan menarik napas beberapa kali. Ia akui ia kesulitan mengelola emosinya.
__ADS_1
Perlahan ia mendekati Nadira. Gadis itu tampak membuang muka, enggan menatap Arsen. "Pakai bajumu, saya tunggu di bawah," kata Arsen pada akhirnya. Ia hanya menatap Nadira sekilas, lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
Dengan cepat Nadira memakai gaun tidur dan hijabnya secara sembarang lalu turun ke bawah. Ia menyusuri dapur, tapi tak ada siapapun di sana.
"Nyonya mencari Tuan?" tanya seorang pelayan yang tengah membersihkan pantry. Nadira mengangguk sebagai jawaban. "Tuan ada di ruang baca, Nyonya."
"Dia sudah makan?"
"Belum, Nyonya. Tuan sejak tadi menunggu Nyonya." Setelah mengatakan hal itu, pelayan tadi pergi kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Nadira termangu di sana sendiri.
"Pak Arsen belum makan? Jadi, tadi dia nungguin Gue? Astaga, Nad, Lo keterlaluan!" maki Nadira pada dirinya sendiri.
Di ruang baca, Arsen terpekur di kursinya. Menghisap rokoknya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Saat beban pikiran menguasainya, merokok jadi salah satu pelampiasannya.
Pintu diketuk, Arsen hanya meliriknya sekilas tanpa berniat membukanya. "Masuk saja, pintunya tidak dikunci," katanya agak kencang.
Nadira menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Pak Arsen," panggil Nadira pelan. Arsen menggumam. Suasana hatinya sedang buruk sekarang.
"Kenapa kamu kemari? Bukannya kamu takut? Tidak mau melihat saya?" tanya Arsen sedikit ketus.
Eh benar-benar susah dibujuk! Nadira mengambil tempat duduk tepat di samping Arsen.
"Saya gak takut, saya cuma kaget. Saya gak bisa menerima bentakan, Pak. Saat dibentak, refleks alami saya adalah meringkuk seperti tadi, maaf kalau sikap saya menyinggung Pak Arsen," terang Nadira. Ia berusaha bersikap lembut. Konon katanya, menghadapi orang yang mengalami gangguan paranoid adalah dengan berkomunikasi yang baik.
Arsen mematikan rokoknya yang masih mengepul karena Nadira beberapa kali terbatuk. Jika dipikirkan lagi, Arsen memang bersalah. Tak seharusnya ia bereaksi berlebihan. Emosinya terlalu mudah meledak-ledak, padahal ia tahu masalah emosi adalah tanggung jawabnya sendiri.
Nadira tak tahu pasti mengapa Arsen bisa mengalami gangguan paranoid itu. Tapi Kakek pernah mengingatkannya. Menghadapi seorang Arsenio memang harus dengan kesabaran dan hati yang lapang.
Dibalik diam dan kecenderungan Arsen untuk marah, ia sebenarnya memiliki watak yang baik. Nadira sendiri sudah melihat dan merasakannya. Dibalik sifat serius dan dominannya, tersembunyi kelembutan juga.
__ADS_1
Nadira mengusap punggung tangan Arsen. Mencoba kembali membujuknya. Ada kalanya ia dan Arsen bersikap seperti musuh, beberapa waktu sangat pengertian dan mencoba saling memahami, dan kadang-kadang seperti anak kecil yang bertengkar dan berakhir saling membujuk.
"Sudah malam, Pak, dimakan dulu atau nanti gak bisa tidur, dan juga, Pak Arsen bukannya harus minum obat?" bujuk Nadira lagi.
"Apa pedulimu? Pentingkan saja pekerjaanmu dan si Bara itu," ketusnya tanpa mengalihkan pandangannya dari gelapnya malam. Gordyn di ruang baca tampak bergerak-gerak tertiup angin.
"Oh, jadi karena Om Bara. Pak Arsen ... lagi cemburu, ya?" terkanya diselingi canda. Ia menekankan kata 'Om Bara' di kalimatnya untuk memberi Arsen asumsi bahwa Bara bukanlah siapa-siapa baginya.
Arsen mendecih. "Untuk apa cemburu dengan orang sepertinya? Dia sama sekali tak bisa dibandingkan dengan saya." Arsen berucap sombong. Memang benar, dari sisi manapun Bara tak bisa dibandingkan dengannya.
"Pak Arsen mau dengar ceritanya gak?" pancing Nadira. Gadis itu sudah bisa menerka apa sebab Arsen marah-marah malam ini.
Arsen diam tak menjawab, tapi Nadira tahu bahwa lelaki itu penasaran. "Saya sama Luna kenal Bara sejak kita masuk ke perusahaan. Waktu itu senioritas di kantor masih tinggi, cuma Bara aja yang kelihatan lebih care sama saya dan Luna."
Nadira terhenti sejenak, ia mengambil makanan yang ada di baki. "Sambil saya cerita sambil Pak Arsen makan." Nadira mulai menyendok makanannya dan menyuapi Arsen.
Lalu melanjutkan ceritanya. "Seiring waktu, kita jadi akrab satu sama lain. Saya menganggap Bara cuma sebatas teman, gak pernah lebih dari itu."
Arsen tampak mencerna cerita Nadira dengan baik. "Tapi tatapannya padamu sangat berbeda," sanggah Arsen masih belum sepenuhnya percaya jika hubungan mereka hanya sebatas itu.
"Saya tahu. Saya perempuan, saya bisa bedain mana tatapan suka, kagum dan tidak pantas dari laki-laki," jawab Nadira.
"Sebenarnya ... Beberapa kali Bara ajak saya hangout, tapi gak pernah saya iyakan." Arsen hampir tersedak tak percaya. Nadira cepat-cepat memberinya minum.
Kali ini, ia merasa menang dari Bara. "Kenapa?" Arsen bertanya penasaran. Ia ingin tahu alasan Nadira menolaknya.
"Perlu alasan apa lagi? Saya gak suka kalau sampai punya hubungan asmara di kantor, bikin repot!"
Arsen tampak puas. Bara ... Bara ... Sungguh kasihan, sampai kapanpun kamu tak akan pernah menang.
__ADS_1
Nadira mulai menguap kantuk. "Saya udah jelasin, Pak Arsen habisin makanannya. Saya mau pergi tidur, udah ngantuk!" Nadira bangkit berdiri dan berjalan pergi menuju kamarnya.