
Arsen bersenandung bahagia, melantunkan nada-nada yang jika boleh ia akui, sama sekali tidak ia ketahui. Arsen jelas bukan seorang penyanyi, ia hanya seorang pria yang secara kebetulan memangku jabatan tinggi.
Arsen terus mendendangkan siulan dan nada-nada tak beraturan itu hingga memasuki perusahaannya, bahkan dalam langkahnya ia sempat menyapa beberapa staff yang tak sengaja bertemu dengannya. Mengundang tanda tanya besar di kepala karyawannya. Bahkan Galen pun tak bisa meninggalkan kerutan keningnya.
"Ada apa dengan Presdir hari ini?" Bara yang secara kebetulan berada di sana juga menangkap gelagat berbeda dari atasannya itu. Bara mengingat dengan jelas beberapa hari yang lalu ia dimarahi habis-habisan.
Melihat Absen yang tersenyum dan tampak bahagia jelas membuat Bara heran. Menatap Luna, Bara seolah bertanya 'Lo tahu gak?'
"Jangan tanya Gue, tanya Nadira sana!" sentak Luna sambil kembali berjalan. Tidak memedulikan bisikan-bisikan di belakangnya.
"Nadira? Kenapa Gue harus tanya sama Nadira? Apa hubungannya?" tanya Bara heran. Luna terhenti, berbalik menghadap Bara kembali.
"Ya karena Nadira kan is — orang kepercayaan! Orang kepercayaan Presdir akhir-akhir ini!" Hampir saja Luna membongkar rahasia besar Nadira di hadapan Bara.
Mendelik tak percaya, Bara menaikkan sebelah alisnya. "Tadi kayaknya Lo gak bilang orang kepercayaan, deh, Lun. Lo bilang is, kan? Is apa?" selidik Bara.
Luna mengibaskan sebelah tangannya. "Lo salah dengar, itu, Bar!" serunya singkat lalu meneruskan langkahnya menuju lift, meninggalkan Bara dengan kebingungannya.
Jika Luna tidak segera menghindari Bara, ia takut mulut cantiknya akan secara tanpa sengaja mengungkap status hubungan Nadira dan Arsen. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun.
***
Memperhatikan pergerakan nilai saham di layar laptopnya, Arsen kembali bersenandung ketika mengingat kembali hal semalam.
Suasana hati Arsen berada dalam tingkatan terbaiknya. Harus Arsen akui bahwa ia merasa puas dan bahagia dengan semua hal yang ia miliki sekarang. Dan yang terpenting adalah, Nadira bersedia menerimanya.
Hubungan mereka berjalan baik dua hari terakhir dengan tidak adanya penolakan Nadira dan kemarahan Arsen secara tiba-tiba. Hal semalam cukup bagi keduanya untuk memulai kembali hubungan mereka yang sempat retak. Arsen berjanji bahwa ke depannya mereka akan sama-sama belajar dan berusaha menerima satu sama lain.
Bagi Arsen sekarang, everything is perfect and going as it should be.
Ketukan pintu pada ruangannya menghentikan senandungnya. Arsen menyahut, mengizinkan siapapun yang berada di balik pintu untuk masuk. Menengadah, Arsen mendapati Galen telah berdiri di hadapan mejanya sambil membawa sebuah paper bag di genggamannya.
"Presdir, pesanan Anda sudah tiba," katanya lalu meletakkan paper bag itu ke atas meja. Menarik diri dari hadapan laptopnya, Arsen meraih paper bag itu dan mengeluarkan isinya, sebuah kotak beludru berwarna biru.
"Sangat cantik, secantik yang akan memilikinya nanti," pujinya begitu membuka kotak beludru itu dan mengeluarkan cincin berlian dari tempatnya.
"Kau boleh kembali," titahnya. Galen menunduk hormat dan menarik dirinya keluar dari ruangan Arsen.
Meletakkan kembali cincin berliannya ke dalam kotak, Arsen meraih ponselnya di atas meja kaca, hendak mengirimkan pesan. Namun,
__ADS_1
"Maaf, Tuan." Galen datang kembali mengusiknya. "Ada pesan dari Zack," katanya menunjukkan tab miliknya kepada Arsen.
Setelah membaca pesan itu, Arsen memijit tulang di antara keningnya. "Akan kupikirkan caranya, kau urus dulu yang lain, Galen."
"Oh, ya. Kosongkan jadwalku untuk siang sampai sore ini," pintanya sebelum Galen benar-benar keluar dari ruangan.
Nengangguk kecil sebagai jawaban, Galen menutup pintu dan membiarkan pintu menutup perlahan di balik punggungnya.
Arsen kembali mengecek ponselnya. Pesannya belum sempat ia kirimkan. Menimbang sebentar, ia urung untuk memberitahu Nadira, biarlah jadi kejutan, pikirnya.
***
Menatap pantulan dirinya di cermin, Nadira berkali-kali mengganti gaya hijabnya lantaran merasa gaya hijab yang ia pakai tidak terlalu cocok untuk kencan makan siangnya hari ini.
Beranjak dari depan cermin, Nadira kembali meraih hijab satin berwarna putih, memadu-padankan hijab dan setelan yang akan dikenakannya. Saat merasa menemukan warna yang cocok, Nadira segera bersiap.
Satu jam kemudian, Arsen sudah pulang untuk menjemputnya. Memandangi Nadira dari atas hingga ke bawah, Arsen merasa takjub.
"Kenapa?" tanya Nadira sambil melihat kembali penampilannya, barangkali ada sesuatu yang salah sampai Arsen menatapnya begitu serius.
Menggeleng kecil, Arsen meraih pinggang Nadira mendekat. "Tidak ada yang kurang dari dirimu. Semuanya indah, sangat cantik, dan selalu membuatku kagum," pujinya yang membawa rona merah pada kedua pipi Nadira.
"Kita berangkat sekarang?" Arsen menautkan jemari mereka, mengangguk kecil, Nadira mengikuti langkah Arsen dengan senyum tertahan. Antara merasa gemas dan lucu. Nadira berpikir bahwa mereka seperti dua orang remaja yang hendak berkencan, padahal usia mereka bisa dibilang dewasa.
Begitu turun, keduanya langsung disambut hangat oleh Management Restaurant.
Restoran itu tak terlalu ramai pengunjung seperti restoran pada umumnya. Nadira bahkan mendapati hanya ada segelintir orang dengan pakaian mewah tengah menikmati hidangan dan bercengkrama.
Arsen mengajak Nadira untuk masuk dengan menggandeng tangannya penuh kemesraan. Saat memasuki restoran yang menurut Nadira sangat mewah dan berkelas itu, Nadira berdecak kagum.
Tetapi, sedetik kemudian, ia meremat pelan ujung kelinan jas Arsen, gugup dengan segala kemewahan yang tak siap diterimanya. "Feel free," bisik Arsen menenangkan.
Meski begitu, kegugupan Nadira tidak serta merta menghilang. Ia berkali-kali berdeham kecil saat mereka menuju area private room yang sudah direservasi oleh Arsen.
Beberapa kali Arsen merasakan Nadira menginjak kakinya, beberapa kali juga Nadira menggumamkan maaf. "Santai saja, Sayang." Begitu sampai di area private room, Management Restaurant itu mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Arsen lalu menarik kursi untuk Nadira duduki. Setelah Arsen merasa Nadira lebih nyaman di posisi duduknya, ia memanggil seorang pramusaji.
Memesan makanan yang paling mahal dan mewah. Arsen ingin memberikan Nadira sebuah kencan makan siang yang berarti, mengingat bahwa ini adalah kencan makan siang resmi pertama mereka.
__ADS_1
"Boleh aku tanya kenapa Mas ajak aku ke sini?" tanya Nadira sedikit berbisik. "Private Room? Really?"
Arsen tersenyum, meraih punggung tangan Nadira dan mengecupnya singkat. "Cause you my universe. You're entitled to deserve all of my best," jawabnya dengan kerlingan.
Menarik tangannya, Nadira berdecak. "Gombal banget," celanya. Menurut Nadira, hal-hal semacam makan siang di restoran mewah adalah langkah sia-sia menghabiskan uang. Ia tak suka itu.
Tak lama dari itu, seorang pramusaji datang membawakan mereka appetizer. Setelah main course disajikan, baik Nadira ataupun Arsen tak ada yang membuka suara, keduanya hanya makan dalam diam. Barulah setelah dessert telah dihabiskan, Arsen membuka suara.
"Nadira, I have something for you," kata Arsen. Menatap Nadira yang tampak bingung, Arsen tersenyum hangat. Ia merogoh kotak beludru yang ada di dalam saku jasnya.
Meletakkan kotak itu ke atas meja, Arsen membukanya pelan, menunjukkan kepada Nadira isinya. Perempuan itu sontak saja terkejut begitu kilau berlian tertangkap oleh matanya.
Arsen mengambil cincin itu dari kotaknya lalu meraih jemari Nadira dan menyematkan cincinnya tepat di jari manis. Mengecup punggung tangannya sekilas Arsen kembali mengangkat kepalanya. Ekspresi terkejut Nadira belum hilang sama sekali.
Selama dua puluh detik, Nadira menatap jari manisnya. Kemudian menengadah menatap Arsen dalam-dalam, meminta penjelasan.
"Aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Tapi aku benar-benar ingin memberimu itu. Maybe as an engagement ring?"
Nadira tergelak. "Gak ada seorang pun laki-laki yang kasih cincin berlian sebagai lambang lamaran. It's crazy, you know?" komentarnya masih menatap cincin berlian di jari manisnya.
Mengedikkan bahu ringan, Arsen lalu tersenyum simpul. "I know, dan aku bisa mencintaimu lebih gila lagi."
"What? No! Aku gak mau memercayai ataupun menerima hal gila kayak gini lagi."
"Well, kamu harus melakukannya. Karena dimulai dari sekarang, aku akan membuktikan bahwa aku, juga bisa mencintai seseorang dengan hebat," kata Arsen bangga.
"Iya, aku memang ingin dicintai dengan hebat. Tapi mencintai seseorang bukan berarti memberi mereka barang-barang mahal dan mewah kayak gini, Mas."
"Itu caraku mencintaimu. Aku tahu ketulusan tidak bisa dinilai dari materi, tapi beginilah caraku mencintaimu, Nadira. Aku akan memberikan segala yang kumiliki padamu, jika kamu memintanya."
"I don't need this," timpal Nadira. Menunduk menatap meja.
Arsen meraih dagunya, meminta Nadira untuk menatapnya. "Kamu butuh. Kamu harus membutuhkannya. Jangan salah paham padaku. If I said I love you, that really means I love you," ucap Arsen penuh keseriusan.
"Should I say, I love you too?"
Menimpali pertanyaan Nadira, Arsen menggeleng pelan. "Well, kurasa tidak perlu. I know you to well."
"Since when?"
__ADS_1
"Last night," jawab Arsen sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Nadira dengan senyuman penuh arti.
Sisa hari itu, mereka habiskan dengan mengobrol banyak hal. Saling memahami satu sama lain, bergurau, juga berjalan-jalan santai di taman. Mencoba untuk saling mendekatkan diri.