Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 44


__ADS_3

Di lobby utama, derap langkah kaki Bara mengentak lantai marmer dengan cepat. Mengejar langkah Luna di depannya.


"Luna!" panggilnya membuat perempuan berpakaian semi formal itu menoleh.


"Bara?"


Bara tampak terengah, mengatur napasnya sebelum berbicara. "Lo kemarin habis dari apartemennya Nadira, kan? Tinggal di mana dia sekarang? Gue mau hubungi dia tapi kayaknya nomor Gue diblokir, deh," katanya setelah mengatur ritme napasnya.


"Iya, tapi sorry banget, deh, Bar." Luna menghela napasnya lemah, sejak kabar Nadira mengundurkan diri tersebar, Bara selalu menanyakan keberadaan Nadira. Membuat Luna pusing menjawabnya.


"Dia marah sama Gue, ya?" tanya Bara lagi sambil berjalan ke arah lift bersamaan.


"Kalau soal itu kayaknya nggak, sih. Tapi Nadira emang cerita kalau dia ada rencana or something gitu makanya milih resign."


Bara mendengus kecewa. Lift berdenting, keduanya langsung masuk diikuti beberapa staff lainnya. "Weekend nanti ajak dia ke Kafe deket kantor bisa, gak, Lun? Gue ada perlu, nih soal proyek baru itu," pinta Bara di sela saat mereka menuju lantai atas.


Luna tampak menimbang sesaat, memerhatikan angka di bagian monitor lift yang menunjukkan sudah sampai lantai mana mereka berada. "Jadi, Lo yang dipilih buat gantiin Nadira?"


Bara mengangguk singkat. "Iya, Gue juga cukup kaget sebenarnya. Gimana? Bisa, kan, Luna?" tanyanya lagi. Beberapa staff tampak keluar, pertanda bahwa lantai yang mereka tuju sudah sampai.


"Oke, tapi Gue gak janji, ya. Gue coba dulu."


Bara mengangguk senang. Lalu ia keluar dari lift. Melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada Luna sebelum akhirnya pintu lift kembali menutup.


***


Di ruangannya, Arsen mengetuk-ngetuk meja kacanya pelan. Merasa bosan. Komputer di depannya dibiarkan menyala, semua tugasnya sudah ia selesaikan lebih awal. Beranjak dari duduknya ia melangkah ke tepi jendela, memandangi padatnya Ibukota yang disiram panas menyengat matahari.


Kembali, Arsen menghela napasnya kasar. Ketiadaan Nadira di kantor membuatnya terasa jenuh sejenuh-jenuhnya, Arsen butuh hiburan di tengah hiruk-pikuk kehidupannya. Padahal biasanya, saat senggang seperti ini ia akan memanggil perempuan itu ke kantornya dan memintanya melakukan sesuatu agar Arsen bisa menatap Nadira sepuasnya.


Sekarang, jangankan menatap Nadira lama-lama, sebatas meneleponnya atau memanggilnya lewat interkom saja sudah tak bisa ia lakukan. Arsen berandai, jika saja Nadira berada di rumahnya, Arsen pasti masih memiliki harapan untuk pulang.

__ADS_1


Meski ia sudah memaksakan diri untuk tinggal bersama Nadira, masih saja ada ketidakpuasan di wajahnya. Ia ingin lebih dari sekadar tinggal bersama. Mengingat kejadian tadi pagi, sejenak Arsen dilingkupi rasa bersalah dan bingung bersamaan. Mendadak saja hatinya berubah gelisah.


Galen masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya, menyentak lamunan Arsen seketika. "Ada pekerjaan lagi?" tanya Arsen tajam.


Galen meletakkan berkas itu di meja. Arsen masih belum berniat untuk membukanya, suasana hatinya tak cukup baik sekarang.


Pria bertubuh tegap dengan potongan rambut rapi itu mundur beberapa langkah. Arsen berdecak, Galen terlalu bertele-tele menurutnya.


"Katakan," titahnya.


"Berkas yang Anda minta, Presdir. Daftar beberapa perusahaan yang mengalami pailit tahun ini karena tidak bisa melunasi utangnya kepada pihak kreditur. Beberapa di antaranya sudah mengalami delisting saham," jelas Galen panjang.


Arsen masih menatap berkas-berkas di hadapannya tanpa minat. "Lalu?" tanyanya dengan malas sambil menopang dagu. Tetiba saja matanya terasa berat.


Galen terdiam beberapa saat untuk memberikan alasan yang tepat pada atasannya itu. Arsen menunggu dengan gemas.


"Mereka berharap Tuan bisa membantu mereka untuk membalikkan keadaan dan memperbaiki reputasi perusahaan mereka." Galen menunduk, menatap sepatunya lebih menarik saat ini dibanding menatap wajah Presdir di hadapannya.


Ia mulai membuka berkas tersebut dan membacanya. "Kau tidak membaca dan memahami berkas ini dulu sebelumnya?" tanya Arsen serius.


"Bagaimana caramu bekerja sekarang, Galen? Kau bahkan tidak bisa membedakan mana pihak yang secara sengaja melakukan kesalahan dan melanggar aturan dengan pihak yang karena kondisi tertentu mengalami kerugian dan tak bisa menanganinya?"


Galen hanya tertunduk mendengar penuturan Arsen. Ia tidak berani melakukan sesuatu apalagi sampai memeriksa sedetail itu. Yang ia lakukan hanyalah mencari informasi dan mengumpulkannya dalam satu berkas utuh. Bukankah itu yang diminta Arsen?


Arsen terus membalik halaman itu satu persatu. Ada banyak nama perusahaan yang tidak ia ketahui di sana, keningnya mengernyit saat membaca kondisi keuangan dan catatan utang mereka yang membengkak. Nilai valuasi perusahaan mereka bahkan lebih rendah dari yang bisa dibayangkannya.


Arsen berdecak pelan. "Astaga, Galen. Kau benar-benar membuatku pusing. Aku minta daftar perusahaan yang hampir bangkrut dan membutuhkan investasi! Bukan daftar perusahaan yang sudah bangkrut sampai mengalami delisting seperti ini!" makinya sambil melempar berkas itu ke lantai.


"Maaf, Tuan. Saya yang kurang teliti," aku Galen merasa bersalah.


"Kau sudah mengikutiku sejak berapa lama, Galen? Sudah bertahun-tahun, kan? Kau mendapat pelatihan yang sama denganku, mendapat pendidikan bisnis yang hampir setara denganku. Tapi, hal sekecil ini saja tidak bisa kau lakukan?" sarkas Arsen.

__ADS_1


Hal sesederhana itu pun dapat memicu kemarahan Arsen. Galen sudah cukup sering menerimanya, ia jauh lebih mengetahui karakter Presdirnya itu lebih dari siapa pun.


Maka dari itu, saat Arsen melemparkan kekesalan dan sebab kejenuhannya pada Galen. Pria yang sudah mengikuti Arsen selama bertahun-tahun itu hanya diam menunduk.


"Tapi, Tuan. Bukankah sebelumnya Anda mengatakan ingin mengakuisisi perusahaan skala kecil untuk mengembangkan nama bisnis Anda di sini?" Galen mengutarakan alasan sebenarnya setelah ia merasa Arsen cukup lama terdiam.


Arsen mematung sesaat. Kembali berpikir. "Memang benar, tapi ... " Arsen tampak menimbang sesuatu. Ia baru saja berdiri di posisinya sekarang, langsung mengakuisisi beberapa perusahaan yang hampir bangkrut itu dan merombak ulang manajemennya tentu akan menjadi awal yang baik untuk perusahaan tersebut dan untung baginya juga.


Dengan begitu, ia bisa membuktikan kepada Kakeknya bahwa ia memiliki kemampuan besar untuk mengelola kerajaan bisnis Harrington di tangannya. Akan tetapi, Arsen berpikir bahwa mencari dan merekrut SDM yang mumpuni dan berkompeten cukup sulit sekarang ini.


"Akan kupertimbangkan kembali. Kau ambil kembali berkas itu dan susun ulang. Yang hampir bangkrut, Galen. Jangan sampai salah." Galen mengangguk, memunguti berkas yang berceceran itu lalu kembali ke ruangannya. Menjadi asisten Presdir tidaklah mudah.


Arsen kembali terduduk di kursi kebesarannya, memijit pelipisnya pelan. Tepat saat itu, ponselnya berdengung, menambah denyut di kepalanya.


Ia melihat sekilas nama Nadira di sana. Tanpa menunggu dering kedua ia langsung menerima panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya tepat di telinga kanannya.


"Halo, Sayang, bagaimana? Kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik?" katanya mesra begitu panggilannya tersambung.


"Pertimbangkan apa?! Cepat ke rumah sakit, Kakek kena serangan jantung!" jawab Nadira panik di ujung telepon. Sedetik kemudian, jantung Arsen terasa mencelos.


"Apa?! Bagaimana bisa? Aku ke sana sekarang, kirimkan alamatnya!" Arsen tak kalah panik. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ketakutan kembali merayapi hatinya. Tanpa memikirkan apapun lagi, ia langsung berlari ke luar dari kantor.


***


Hai, my dearest readers. Jangan lupa vote cerita CSSP, beri ulasan seberapa suka kamu saat membaca cerita ini. Like dan subscribe supaya gak ketinggalan info update, serta follow dan peluk jauh Author biar makin semangat nulisnya, ya.


Coba tebak, apa yang jadi sebab Kakek Areef kena serangan jantung?


Cung yang tahu apa itu Pailit dan Delisting? Kirim jawabannya di komentar!


With Love,

__ADS_1


— HK


__ADS_2