Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 45


__ADS_3

Jarum jam bergerak lambat menurut Arsen. Sudah 3 jam berlalu sejak operasi Bypass Jantung Kakeknya dilakukan, namun belum ada tanda-tanda operasi akan selesai dalam waktu dekat.


Ia bergerak gelisah, meremat kedua tangannya kuat, berjalan bolak-balik di depan ruang operasi. Kecemasan hebat menggelayuti dadanya, hingga lelaki tinggi tegap itu tak bisa diam.


"Kenapa belum selesai juga?!" tanyanya entah pada siapa. Menunjuk tembok sebagai bentuk kekesalan dan sasaran kegelisahannya. Takut kehilangan meremas hatinya kuat, bulir-bulir peluh meluncur dari dahinya dengan bebas.


Melirik ke dalam ruang operasi, belum ada tanda-tanda lampu kecemasan berubah hijau. Membuatnya kian gusar menanti. 3 jam terasa menyiksa baginya. Sedangkan dari kursi tunggu, Nadira memerhatikan Arsen dengan pandangan sedih.


Sejenak menghela napas, Nadira menarik Arsen untuk duduk diam, mengusap bahunya pelan mencoba menyalurkan sedikit kekuatan untuk pria itu. Bagaimana pun, Nadira tahu rasanya bertaruh antara hidup dan mati. Berpacu dengan waktu, dokter juga pasti sedang mengusahakan yang terbaik, sesuai kemampuan mereka.


"Saya tahu Pak Arsen khawatir, tapi cobalah untuk bersikap tenang. Kakek pasti baik-baik aja, dokter udah bilang tadi, kan? Kalau operasi ini berhasil, Kakek memiliki peluang besar untuk kembali sehat," tutur Nadira panjang, seolah dengan kalimat itu kekhawatiran dan ketakutan Arsen bisa hilang.


Anthony yang sedari awal mengetahui kondisi Areef hanya terdiam, membisu, berdiri memikul kecemasan yang sama. Sambil menyaksikan interaksi keduanya dengan senyum tersungging. Diam-diam merasa bahagia karena tampaknya kedua sejoli itu sudah berbaikan. Setidaknya, Anthony merasa sedikit lega sekarang.


"Anthony," panggil Arsen pelan. Pria tua itu mendongak menatap Arsen.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" katanya mengajukan diri. Arsen menggeleng pelan, beranjak dari duduknya mendekati Anthony.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Kakek? Bukankah dua hari lalu Kakek masih baik-baik saja? Atau ada sesuatu hal terjadi di kediaman utama? Kenapa Kakek bisa tiba-tiba terkena shock?" cecar Arsen menatap tajam ke arah Anthony dengan melipat kedua tangan di dada.


"Pak Arsen, sopan sedikit," Nadira mengingatkan. Ia kembali menarik Arsen untuk duduk. Dari nada bicara Arsen pada Anthony tadi, Nadira mengira Arsen akan melakukan hal nekat. Paranoid-nya membuatnya mencurigai siapapun.


Arsen terduduk kembali di kursinya tanpa melepaskan pandangannya dari Anthony. Nadira kembali mengusap lembut punggung tangan Arsen, mengingatkan pria itu untuk mengawal emosinya. "Jawablah, Anthony!" makinya keras, membuat tubuh Anthony seketika menegang.


Nadira meringis mendengar gertakan itu. Mengalihkan pandangannya ke berbagai arah asal tidak menatap Arsen ataupun Anthony, jujur saja, Nadira tak tega melihat seorang pria tua bergetar bahunya.


Anthony sedikit menunduk lalu berkata. "Kesehatan Tuan Besar memang menurun beberapa hari terakhir, Tuan Muda. Saya sudah mengingatkan beliau untuk dirawat intensif di rumah sakit tetapi beliau bersikeras menolak dan hanya meminta dokter datang untuk memeriksa," jawabnya dengan ketenangan seorang pria bijaksana.


Nadira melirik Anthony sekilas, ketenangan dari jawaban yang diberikannya kepada Arsen membuat Nadira takjub. Padahal Arsen menggertaknya tadi, tapi ekspresi yang ditunjukkannya hanya ekspresi biasa. Jelas bahwa Anthony memiliki EQ tinggi! pikir Nadira.

__ADS_1


"Apa kata dokter? Sejak kapan pastinya kesehatan Kakek menurun? Kenapa kau tidak memberitahuku? Lalu, kenapa Kakek tiba-tiba merasa shock? Pasti ada sesuatu yang terjadi bukan?" cecar Arsen lagi. Tak puas dengan jawaban Anthony. Lebih tepatnya, ia ingin tahu secara detail dan menyeluruh. Jawaban Anthony lebih terkesan seperti alasan baginya.


"Dokter juga menyarankan hal yang sama, tapi Tuan Besar ingin semua pemeriksaan dilakukan di rumah, katanya agar Tuan Muda tidak khawatir. Dan soal shock hebatnya, pagi ini, Tuan Besar menerima sebuah surat dari Inggris." Arsen terperanjat. Membelalakkan matanya, terkejut. Sudah ia duga, pasti ada sesuati yang terjadi!


"Surat dari Inggris?" tanyanya lagi seolah tak percaya. Nadira yang tak memahami arah pembicaraan mereka hanya bisa mendengarkan untuk sementara waktu.


Anthony kembali mengangguk, lalu merogoh sebuah kertas yang sengaja disimpannya di dalam saku. Lalu memberikan secarik kertas itu kepada Arsen. Membacanya cepat, kening Arsen berkerut dalam, ada kemarahan tergaris di sana. Tangannya mengepal, meremat kertas itu kuat hingga kertas itu berubah jadi gumpalan kertas di tangannya, giginya bergemeletuk. Rahangnya menegang.


"Mereka lagi!" desis Arsen pelan, membuang kertas itu ke dalam tempat sampah.


"Tuan Besar langsung merasa dadanya sesak. Tepat saat Tuan Besar merasa shock, kebetulan Nyonya muda datang lalu kami membawanya ke sini secepat mungkin."


Arsen kembali terduduk dengan perasaan marah dan menerka-nerka. Nadira mendiamkannya, tak tahu harus merespon bagaimana atau berkata apa seharusnya.


Tak lama, lampu berubah hijau bersamaan dengan dokter yang keluar. Raut wajahnya tampak kelelahan namun ada rasa bahagia dan bangga di sana. Arsen langsung menghampirinya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Arsen tak sabar. Begitu juga dengan Anthony dan Nadira.


Saking senangnya Arsen memeluk Nadira erat. Membagi perasaan lega dan senangnya bersama gadis itu. Tanpa sadar, Nadira juga membalas pelukan itu. Derai haru menghias keduanya. "Terima kasih, Nadira," gumam Arsen.


Setelah itu, Areef mulai dipindahkan ke recovery room — ruang pemulihan pasca operasi. Arsen menatap Kakeknya yang terbaring tenang dengan seperangkat alat penunjang untuk mengetahui kondisi tubuhnya.


Meski Areef telah dipindahkan, kekhawatirannya tidak serta merta menghilang begitu saja. Dokter berkata, pasca operasi, selama 48 jam pertama, pasien harus diawasi secara ketat, segala kemungkinan dapat terjadi pada Areef.


Mengusap pundak Arsen, Nadira mencoba tersenyum hangat. "Kakek masih dalam pengaruh bius total, beberapa jam kemudian mungkin baru akan sadar. Pak Arsen istirahat dan makan dulu yuk," ajaknya pada Arsen yang semenjak Areef dipindahkan, tak sedikitpun beranjak dari tepi bed.


Nadira menunjuk ke arah meja, tadi Anthony mengantarkan makanan untuk mereka. "Belum makan dari siang, kan?" tanya Nadira lagi, sangat tahu kondisi Arsen.


Pria itu mengangguk, melepaskan pegangannya pada bed. Memijit tulang di antara kedua matanya, Arsen memejamkan mata dan menghela napas pelan. Ia lelah, sangat lelah, perutnya bahkan terasa perih akibat telat makan.

__ADS_1


Nadira membuka wadah makanan itu, uap harum dari sup jamur tampak menggugah selera. Jika saja mereka tidak dalam kondisi bersedih, sup jamur itu pasti akan meningkatkan nafsu makan mereka.


Arsen hanya menatap makanan di depannya, tak berniat untuk makan. Kakeknya masih terbaring lemah, bagaimana bisa ia makan? Nadira menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil sebuah sendok dan mengambil satu suapan besar.


Arsen menatap sendok makanan itu dan Nadira bergantian. "Makanlah, Pak. Saya gak bisa merawat dua orang sakit sekaligus," bujuk Nadira sedikit memelas. Mau tak mau, Arsen memakan suapan itu dan menelannya.


"Rasanya enak, tapi aku benar-benar tak bisa makan lagi Nadira," ungkap Arsen saat Nadira kembali menyuapinya.


Nadira menghela napas lelah, meletakkan kembali mangkuk dan sendok itu ke meja. Kemudian menatap Arsen lekat. Ia sama lelahnya dengan lelaki itu. Siapa yang tak lelah saat diuji berkali-kali?


Tetapi, apakah manusia bisa berbalik pergi saat ujian datang mendera? Jawabannya, tidak, begitu pula dengan Arsen dan Nadira. Menyerah bukanlah suatu pilihan.


"Baiklah, saya gak akan maksa. Tapi saya harap kalau Pak Arsen sakit nanti, jangan manggil-manggil nama saya, karena — "


"Fine! Aku makan sekarang," kata Arsen memotong ucapan Nadira. Perempuan itu tersenyum. Arsen dengan lahap memakan makanannya, tak ingin membuat gadis itu mengabaikannya kembali untuk kesekian kali.


"Tadinya, saya mau menjenguk Kakek, tapi malah ada kejadian seperti ini ... Sebenarnya, apa yang terjadi, Pak?" tanya Nadira setelah beberapa saat, seraya menangkup mangkuknya kuat, ia menatap Arsen dari samping. Jujur saja, mendengar percakapan Arsen dan Anthony tadi, rasa ingin tahunya cukup terusik.


Arsen seketika menghentikan makannya. Menyeka mulutnya dengan tisu lalu berkata. "Kakek memang memiliki riwayat penyakit jantung. Hal seperti shock tadi kadang memang kerap terjadi. Dokter juga sudah menjelaskannya tadi, kan? Jangan terlalu khawatir, Nadira."


Bukan jawaban itu yang Nadira ingin. Tetapi, ia tahu, ia tak bisa memaksakan lebih jauh. Dalam sebuah keluarga besar dan ternama seperti Harrington, ada banyak sekali rahasia yang sengaja disembunyikan. Barangkali Arsen juga sengaja menyembunyikannya demi suatu kebaikan.


Meski sedikit kecewa, Nadira mencoba memakluminya. Meletakkan mangkuk, Nadira beranjak dari duduknya. "Baiklah. Habis ini saya mau pulang dulu buat ambil baju dan keperluan lain."


"Dengan siapa? Sebaiknya jangan sendiri. Biar aku antar, ya?" tawar Arsen.


"Terus Kakek?"


"Ada Anthony. Nanti akan kupanggil beberapa pengawal untuk berjaga di sini."

__ADS_1


Nadira tampak menimbang sesuatu. Melirik ke arah bed tempat Areef terbaring. "Oke, tapi saya harus ke suatu tempat dulu nanti."


__ADS_2