
Nadira mengetuk-ngetuk meja Kafe pelan, entah berapa lama ia sudah menunggu di sana. Tetapi seseorang yang ditunggunya belum kunjung tiba. Nadira berdecak sebal, ia tak suka menunggu. Namun, janji tetaplah janji yang harus ditunaikan.
Seorang pramusaji datang membawakan secangkir iced coffee. Nadira meminum kopi dingin itu pelan, menikmati rasanya. Tepat pada saat itu, Nadira melihat dua orang secara bersamaan dan berjalan sedikit tergesa menghampirinya.
"Kenapa? Kalian kok kayaknya capek banget?" tanya Nadira saat kedua orang itu mengambil duduk tepat di hadapannya.
"Ini nih si Bara, tadi udah setengah jalan malah balik lagi," tuduh Luna pada Bara yang tampak kusut itu. Rambutnya yang biasa rapi kini justru kusut masai.
"Maaf, deh, tadi Gue buru-buru, lupa bawa tab sama buku catatan Gue," jawab Bara enteng sambil merapikan kembali penampilannya, menyugar rambutnya ke belakang. "Lo udah lama nunggu di sini, Nad?"
Nadira melirik arlojinya. "Twenty-five minutes ago, maybe." Mengedikkan bahu, Nadira kembali meminum iced coffee lalu menatap Luna dan Bara bergantian.
Nadira meminta keduanya untuk memesan minuman barulah mereka akan mengobrol. "Gue, Americano. Lo apa Bu Sekre?" tanya Bara sambil menyerahkan buku menu kepada Luna.
"Macchiato ... Oh, ya, karena hari ini, Lo yang ngajak ketemu berarti Lo yang bayar ya, Bar."
Bara mengangguk. "Iya, tenang aja."
Nadira terkekeh memerhatikan kedua orang di hadapannya yang tampak tak akur padahal sebenarnya sangat akrab saat di kantor.
"Gue masih heran, Nad. Kenapa Lo milih resign, sih? Padahal kalau Lo stay minimal 2 tahunan lagi, Gue yakin Lo pasti bisa naik jabatan," ujar Bara sambil menatap Nadira dengan tatapan yang sedikit sulit diartikannya.
Mendengar itu, Nadira mengangkat bahunya ringan. "Bukan jabatan yang Gue kejar, Bar."
"Biar Gue kasih tahu, ya, Bar. She is working on three things right now. Herself, her happiness and her life. Kerja di perusahaan besar gak bikin Nadira bahagia, makanya dia resign."
"Gue tanya Nadira, kenapa Lo yang jawab?"
"Well, Gue mewakili dia."
"She tell ... Nad? Lo bengong!" sentak Bara mengagetkan Nadira.
"Eh, sorry. Tapi Gue dengar, kok, kalian ngomong apa. Benar kata Luna, Gue resign dari kantor karena merasa kurang puas dan mau cari pengalaman baru aja, sih," kata Nadira sambil tersenyum kaku.
Tepat pada saat itu, pramusaji datang membawakan pesanan mereka. "Sebenarnya, Gue mau lanjut pendidikan Gue yang sempat ketunda," kata Nadira kemudian.
__ADS_1
"Oh ... Tapi bukannya Lo bisa, ya, lanjut kuliah tapi tetap sambil kerja?" tanya Bara lagi, ingin menuntaskan semua tanda tanya di kepalanya.
Luna mendelik. Yah, Lo gak tahu aja, Bar. Suaminya itu Bos Lo, mana mungkin dia biarin istrinya kerja biar bisa Lo deketin. Luna menelengkan kepalanya ke samping, merasa bosan. Jika ia tidak khawatir Bara akan mengungkapkan perasaannya pada Nadira, ia lebih baik diam di rumah atau pergi jalan-jalan bersama Kakak sepupunya.
Nadira meminum kopinya lagi, lalu memainkan jarinya, enggan menatap Bara. Menatap Luna, ia memberi sinyal untuk membuat Bara berhenti bertanya tentang dirinya. Berdecak kecil, Luna menegakkan kembali kepalanya.
"Bar, Lo ke sini mau tanya-tanya soal proyek, kan? Cepetan bahas, gih! Nadira sama Gue habis ini mau nonton Mas-mas Korea," alibinya yang dibalas kerutan di dahi Bara.
"Mas-mas Korea?"
"Ah, Lo Om-om mana tahu!"
Bara mendecih, sudah biasa diejek demikian. Kata 'Om' seolah telah melekat kuat pada sosok Bara, Padahal usianya sekarang tak jauh berbeda dengan kedua perempuan itu. Hanya terpaut dua tahun lebih tua.
Bara tampak mengeluarkan tab dan juga buku catatan miliknya. Ia mulai menanyai Nadira berbagai hal tentang proyek pembangunan Harrington Group, mulai dari hal-hal penting hingga hal-hal kecil tak luput ia pertanyakan. Mencatatnya dengan baik tanpa terlewat satu hal pun.
"Cukup jelas, kan, Bar? Sebenarnya Lo gak harus ikut terjun, sih, lagipula bagian lapangan udah ada manajemennya sendiri," ujar Nadira setelah Bara mengakhiri sesi tanya jawabnya.
Bara mengangguk mengerti. "Gue tahu, tapi kalau Pak Arsen gak lihat Gue ada di lapangan buat mantau proyek, bisa habis Gue dimarahi," ungkap Bara. Ia memasukkan kembali tab dan buku catatan itu ke dalam tas tangan yang dibawanya.
"Siapa, Bar?" tanya Luna dan Nadira hampir bersamaan. Bara menoleh dan menunjukkan layar ponselnya.
"Presdir?"
Bara mengangguk, "Kayaknya bakal disuruh ke proyek lagi, deh." Bara beranjak dari duduknya. "Gue angkat dulu, ya."
Bara menjauh, melewati beberapa kursi kafe untuk menerima panggilan tersebut. Tak ingin kedua perempuan itu melihat atau pun mendengarnya dimarahi habis-habisan.
"Gue rasa sih, ya, bukan disuruh ke proyek, deh. Tapi biar si Bara gak nempel-nempel sama Lo, kan?" celetuk Luna sambil menebak.
Nadira meminum kopinya yang tinggal separuh. "Well, begitulah kira-kira. Bilangnya, sih iya, tapi coba Lo lihat sekeliling, Lun. Udah kayak apa tahu Gue dijagain banyak orang."
Menghela napas, Nadira menumpa wajahnya ke atas kedua tangan. Luna melirik ke sekeliling seperti permintaan Nadira. Matanya terbelalak, "Gila, Nad! Gue kira kenapa nih orang kekar-kekar amat, eh ternyata ... Seprotektif itu ya Bapak Presdir?" tanya Luna sedikit berbisik.
Mengangkat kepalanya, Nadira hanya bergumam lalu menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. "Habis ini Lo bilang sama Bara kalau kita mau nonton, Lun. Gue capek nih."
__ADS_1
"Sip."
Setelah menyelesaikan panggilannya, Bara kembali dan pamit tergesa-gesa. "Sorry, Luna, Nadira. Gue harus ke proyek, ada masalah!" pamit Bara sambil meraih tasnya.
"Oh, yaudah, Lo hati-hati, ya." Luna sudah melambaikan tangannya, "Eh, Bara! Lo kan janji yang mau bayar!" teriaknya saat Bara sudah beberapa langkah menjauh.
"Nanti Gue ganti di kantor!" teriak Bara, yang sedetik kemudian sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Luna berdecak sebal. "Dasar laki-laki! Omongannya gak ada yang bisa dipegang!" maki Luna merasa kesal dibohongi Bara.
Nadira menepuk-nepuk bahunya pelan. "Omongan kan emang gak bisa dipegang, Luna. Yang bisa dipegang tuh money."
Mencebik, Luna menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. "Yang sabar, ya. Gue aja yang ambil bill nanti."
"Bukan soal itu, Nad. Tapi ini adalah hal penting, hal yang harus ditepati si Bara," ujar Luna mendramatisir keadaan.
"Lebay, deh."
Keduanya tertawa lepas. Setelah itu, keduanya memilih untuk pergi berbelanja demi menghabiskan sisa waktu hari itu.
"Nad, Gue mau tanya sesuatu, deh." Luna meletakkan kembali buku yang tengah dipegangnya ke dalam rak. Kini keduanya berada di dalam toko buku.
Nadira menoleh, "Tanya apa?" Ia masih sibuk membolak-balikkan buku yang dipegangnya.
"Lo sebenarnya tahu gak sih kalau Bara suka sama Lo?" Nadira terhenti sejenak. Meletakkan buku tersebut, ia beralih menatap Luna.
"Tahu, tapi perasaan dia buat Gue gak akan berarti apa-apa, Lun. Lo juga tahu Gue udah nikah sama Pak Arsen."
Luna tampak berpikir. "Tapi dia kayaknya gak kelihatan bakal menyerah sama Lo, Nad."
"Kalau dia tahu Gue udah nikah, dia pasti bakal nyerah. Don't overthink, Luna. You can't handle everything."
"Iya, iya Bu Presdir. Gue harap juga gitu, sih. Udah nemu bukunya belum?"
Nadira mengangguk. "Udah, nih," jawabnya sambil menunjukkan tiga jenis buku yang berbeda.
__ADS_1
Setelah keluar dari toko buku itu, keduanya berpamitan. "Hati-hati di jalan, ya." Luna melambaikan tangannya dan masuk ke dalam taksi. Nadira sendiri pulang, kepalanya mendadak terasa pening saat mengingat Bara. Tak seharusnya Bara menyukai Nadira. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Arsen jika seandainya dia tahu bahwa Bara menyimpan rasa yang mendalam terhadap istrinya itu.