
Arsen memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening, matanya terasa lelah menatap laptopnya seharian ini. Melirik arlojinya, Arsen tergerak untuk menghubungi Nadira terlebih dahulu.
Sudah jam 3 tapi perempuan itu belum kunjung kembali. Semenjak ia membaca surat dari Inggris itu ditambah lagi dengan beberapa pesan kaleng yang diterimanya akhir-akhir ini membuatnya lebih gusar dari biasanya.
Meski ia sudah mengirim penjagaan ketat untuk Nadira tapi tidak serta merta membuatnya duduk tenang. Dering pertama, sibuk. Dering kedua, sibuk. Dering ketiga, tak bisa dihubungi. "Kenapa ini? Kenapa tidak bisa dihubungi?" geraknya gusar.
"Arsen," panggil Areef pelan. Melihat Kakeknya terbangun, sebisa mungkin Arsen merapikan raut mukanya agar Kakeknya tak khawatir.
"Iya, Kakek. Kakek butuh sesuatu?" tanya Arsen di samping bed Areef.
Areef menggelengkan kepalanya lemah. "Di mana Nadira?" tanyanya saat tak mendapati keberadaan cucu menantunya yang paling cantik.
Arsen berdeham pelan. "Nadira belum pulang, Kakek. Dia sedang bertemu dengan temannya," jawab Arsen sebiasa mungkin. Padahal hatinya tengah dilanda gusar.
"Kamu sudah meminta maaf pada istrimu, kan, Arsen? Ingat! Jangan membiarkan istrimu marah padamu terlalu lama, itu tidak baik," petuahnya yang langsung dijawab anggukan cepat Arsen.
"Sudah, tapi Nadira masih butuh waktu katanya," jawab Arsen sendu. Melirik ponselnya, tak ada pesan ataupun panggilan dari perempuan itu padahal Arsen sudah mengingatkan Nadira untuk menghubunginya saat selesai.
Areef hanya ber 'oh' saja menanggapi jawaban Arsen. Memandang langit-langit ruang perawatannya, Areef terpikir sesuatu. Namun urung ia katakan saat melihat kerutan halus di kening Arsen.
"Arsen, urus prosedur rumah sakit Kakek secepatnya. Kakek ingin segera pulang," titah Areef kemudian.
"Tapi, Kakek. Kakek masih harus menjalani pemulihan di sini."
"Lakukan pemulihannya di rumah, pokoknya Kakek ingin pulang sesegera mungkin."
"Kakek ... "
"Jangan membantah!" seru Areef sedikit menaikkan kepalanya.
"Fine, Arsen urus sekarang. Jangan marah, oke? Kakek baru saja pulih, Arsen tidak mau Kakek ... "
"Cepat, Arsenio," galak Areef memerintah Arsen untuk segera mengurusnya. "Setelah mengurusnya kamu juga cepatlah pulang. Bujuk istrimu untuk kembali ke rumah kalian bagaimana pun caranya," katanya lagi memperingatkan Arsen.
"Iya, iya, iya. Arsen cari Anthony sekarang," katanya cepat, mengabaikan peringatan Areef untuk membujuk Nadira.
"Arsenio," panggil Areef lagi kini dengan penuh kelembutan. Arsen yang sudah beberapa langkah mendekati pintu kembali menghampiri Areef.
"Kakek mendapat surat dari Inggris, mereka meminta Kakek membujukmu, kamu sudah membaca suratnya, Nak?" tanyanya serendah mungkin. Takut kembali memoar luka lama sang cucu.
__ADS_1
Selama beberapa saat, Arsen hanya terdiam. Melihat keengganan dalam raut wajah cucu semata wayangnya, Areef menghela napas panjang. "Seburuk apapun perbuatan mereka, mereka tetaplah orangtuamu, Nak. Orangtua yang tetap wajib kamu hormati."
"Apakah setelah selama ini, mereka tetap tak bisa membiarkan Arsen hidup dengan baik? Kakek ingin Arsen meminta maaf dan menghormati mereka? Bukankah itu sedikit tidak adil?" kata Arsen menolak dengan tegas.
Areef terhenti sejenak, mengambil napas sebelum kembali berbicara, ia kembali memandangi wajah Arsen yang mengabu oleh kabut duka. Menghela napas lelah, Areef kembali membuka suara.
"Kakek tidak akan pernah memaksa Arsen, bagaimana pun Arsen sudah dewasa. Keputusan apapun yang Arsen ambil, Arsen yang paling tahu dengan jelas apa konsekuensinya," lanjutnya lagi.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Arsen. Ia hanya menunduk saat Areef memintanya berpikir ulang, lalu segera keluar untuk mencari Anthony, setelah bertemu dengan asisten Kakeknya, ia lantas meminta pria setengah baya itu untuk mengurus prosedur perawatan Areef.
Usai memastikan prosedurnya selesai, Arsen hanya terduduk diam di luar ruang perawatan Areef selama beberapa menit, memikirkan ucapan Kakeknya dengan baik. Apakah setelah banyak hal menyakitkan yang diterimanya, ia harus tetap memaafkan orang itu? Apakah adil baginya? Kesalahan dibalas maaf, bukankah sangat tidak adil?
Arsen berubah kesal saat kembali teringat perlakuan orangtuanya. Ia melampiaskan kekesalannya pada sekaleng soda kosong yang diremasnya hingga kaleng itu tak berbentuk dan melemparnya keras ke dalam tong sampah di depan.
Tepat pada saat itu, Nadira baru saja kembali. Melihat Arsen yang tampak kesal, Nadira menepuk bahunya pelan.
"Siapa?!" sentak Arsen marah diganggu. "Kamu ... Maaf, aku tidak tahu kalau itu kamu. Sejak kapan kamu kembali? Kamu sudah selesai?" tanyanya dengan nada rendah.
Mengangguk kecil Nadira menjawab, "Baru aja," lalu mengambil duduk tepat di samping Arsen, melihat garis wajah pria itu dari tepi tempat duduknya. Rahang Arsen tampak mengerat, tanda bahwa ia sedang memendam kesal. Nadira tahu itu.
"Are you okay?" tanyanya sambil meraih tangan Arsen. Buku jarinya memerah, tampaknya akibat meremat kaleng dengan kuat tadi.
He's cry? terkanya sedikit menundukkan kepalanya demi melihat keseluruhan wajah pria itu dengan jelas.
Namun, tak ingin Nadira mengetahui kekacauan pikirannya, Arsen mengusap wajahnya cepat lalu menengadah menatap Nadira dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu sudah makan?" tanyanya sambil melirik arlojinya. Nadira menggeleng pelan. "Sudah hampir lewat makan siang, kita ke kantin rumah sakit?"
Di kantin rumah sakit, Nadira sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai dan mudah dijamah banyak orang. Nadira berpikir bahwa pria di hadapannya paling tidak membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikirannya.
Tak banyak yang ia pesan, hanya dua piring nasi goreng biasa dan es teh manis sebagai minumannya. Arsen terus terdiam bahkan saat makanan keduanya disajikan di meja, yang ia lalukan hanyalah menatap dan mengaduk makanannya tanpa ingin memakannya.
"Kalau gak mau makan, makanannya jangan diaduk-aduk gitu, Pak," tegur Nadira seraya menarik piringnya menjauh. Sekilas Arsen dapat melihat kilat kemarahan Nadira padanya.
"Maaf, aku hanya merasa makanan itu tak seenak masakan buatanmu," komentarnya sambil menatap sedih nasi goreng yang ditarik menjauh. Ia lapar sebenarnya, tapi pikirannya yang kusut mencegahnya untuk menikmati makanan. Tak peduli seenak apapun makanannya, saat kecamuk pikiran merayu kepala, hanya hambar yang akan dirasa.
"Bukan karena makanannya, kan? Something wrong? Bagaimana keadaan Kakek?"
Arsen menggeleng pelan. Menangkup kedua tangannya di meja, ia merayapi wajah Nadira dengan netranya. "Kakek baik-baik saja, tadi Kakek bahkan meminta dirawat di rumah. Sangat keras kepala," jawabnya lirih, masih terus menatap Nadira menghabiskan nasi gorengnya.
__ADS_1
"Don't hide your sadness, Mr. Harrington. Istrimu masih berguna untuk dijadikan pendengar yang baik," cetus Nadira setelah menghabiskan suapan terakhirnya. Meneguk es teh manisnya, Nadira menyeka mulutnya dengan tisu.
"Saya ingat seseorang meminta saya berjanji untuk tidak menyembunyikan kesedihan dan rasa sakit yang saya terima. And I hope you are promise me too."
"I never hiding anything," sangkal Arsen.
"Are you try to lying to me? Fyi. Saya tidak suka berbohong, dibohongi, membohongi atau yang semisalnya ... " Nadira terhenti sejenak, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Arsen kepadanya.
Menelisik jauh ke kedalaman manik mata Arsen yang jernih, seolah dengan itu ia bisa menemukan sebuah kebenaran yang ia ingin.
"Sejauh ini, saya masih mencoba untuk menerima apapun yang terjadi di dalam hubungan kita. Saya akan menganggapnya sebagai sebuah cara untuk mendekatkan. Akan tetapi, seperti yang saya katakan sebelumnya, hal yang paling rentan dari hubungan kita adalah kepercayaan, Pak."
"Saya harap Pak Arsen gak lagi merusak benang kepercayaan itu dengan berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu dari saya. Percaya atau tidak, saya akan lebih marah dan lebih kecewa dari sebelumnya saat saya tahu kalau Pak Arsen menyembunyikan sesuatu," terang Nadira panjang dan serius.
Mendengar penuturan Nadira yang tampak seperti peringatan keras baginya itu, Arsen berusaha meneguk salivanya susah payah.
Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Arsen berusaha mencairkan suasana yang menurutnya berubah jadi lebih serius — dan menegangkan itu. Terlebih lagi, raut muka Nadira tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersahabat.
"Apakah begitu terlihat jelas? Aku tidak berniat membohongimu ataupun menyembunyikan sesuatu, aku hanya merasa, tempat ini tidak terlalu bagus untuk melakukan pembicaraan ini, bukan?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Menaikkan sebelah alisnya, Nadira menatap Arsen tajam. "Aku benar-benar serius, Sayang. Kantin rumah sakit bukan tempat yang nyaman. Bagaimana kalau kita membicarakannya di rumah?"
"Saya jenguk Kakek dulu," kata Nadira berikutnya. Meraih tasnya, ia bersiap untuk pergi dan membayar makanannya. Namun, Arsen menahan Nadira dan membawanya untuk duduk kembali.
"Let me pay the bill. Katakan dulu, kamu setuju untuk pulang bersamaku."
"Iya, setelah saya jenguk dan mengurus prosedur Kakek."
"Oke. Tapi bukan pulang ke apartemen, Sayang. Melainkan ke rumah, rumahmu, rumahku, rumah kita." Arsen memberikan tatapan memelasnya lagi pada Nadira. Seolah dengan cara itu, Nadira akan luluh dan menyetujuinya.
Selama beberapa detik, Nadira terdiam, berpikir dan menimbang ulang. "Kumohon, ya? Aku janji, akan menceritakan semuanya. Let's pick up where we left off?" pinta Arsen kembali, kali ini dengan meraih kedua tangan Nadira dan mencium kedua punggung tangannya lembut.
Nadira mengisi dadanya dengan udara. Ia tahu pasti apa maksud dari kalimat terakhir Arsen. Jika bukan karena ego mereka yang terlalu tinggi, hubungan mereka seharusnya baik-baik saja dan berjalan sebagaimana mestinya.
Meskipun hubungan mereka sekarang tidak terlalu buruk, tapi Nadira selalu merasa ada sebuah dinding tak kasat mata yang membatasi mereka untuk melakukan hal lebih.
Tersenyum lembut, Nadira mengangguk pada akhirnya. "Setelah saya mengurus dan mengawasi kesehatan, Kakek, saya janji akan pulang," jawabnya. Arsen sedikit kecewa dan tak puas, tapi cepat-cepat ia telan perasaan itu.
Untuk menempuh jalan yang baik, diperlukan kesabaran yang tinggi dan keindahan dalam menerima. Mungkin, ini juga sebuah awal yang bagus bagi hubungan kita. Barangkali, mencintaimu memang dibutuhkan banyak waktu, pikir Arsen panjang.
__ADS_1
Menarik diri, Arsen mengajak Nadira untuk kembali ke ruang perawatan Areef. Melupakan sejenak kesedihan dan beban pikirannya ke belakang. Their have many time to understanding each other.